Setiap kali ibu mertuaku hendak memberiku obat setelah melahirkan, kucing putih peliharaanku selalu melompat dan menjatuhkan gelas air itu ke lantai.

Setiap kali ibu mertuaku hendak memberiku obat setelah melahirkan, kucing putih peliharaanku selalu melompat dan menjatuhkan gelas air itu ke lantai. Awalnya aku mengira Luna hanya cemburu karena ada orang baru di rumah. Sampai suatu pagi, aku melihat ibu mertuaku berlutut di hadapanku sambil menangis dan memohon agar pil yang jatuh itu tidak kubawa ke laboratorium.

Namaku Livia.

Anakku baru berusia tujuh hari.

Semua orang mengatakan aku perempuan paling beruntung karena memiliki suami seperti Arga dan ibu mertua seperti Bu Rina.

Arga tampak sangat perhatian sejak aku pulang dari rumah sakit. Ia menyiapkan kamar, mengganti popok bayi ketika malam, bahkan mengambil cuti beberapa hari.

Bu Rina juga pindah sementara ke rumah kami.

Katanya, seorang ibu yang baru melahirkan tidak boleh terlalu lelah.

Tetangga sampai memujinya.

“Jarang ada mertua sebaik Bu Rina.”

Aku juga sempat berpikir begitu.

Sampai Luna berubah.

Kucing putih itu sudah bersamaku hampir sembilan tahun. Ia jinak, penakut, dan tidak pernah merusak apa pun.

Namun sejak Bu Rina datang, Luna selalu mengikuti langkahnya.

Bukan seperti kucing yang meminta makanan.

Lebih seperti penjaga yang sedang mencurigai seseorang.

Pagi pertama setelah aku pulang dari rumah sakit, Bu Rina membawa segelas air hangat dan beberapa pil.

“Ini vitamin dari dokter. Kamu harus minum supaya cepat pulih.”

Aku hendak memasukkan pil ke mulut.

Tiba-tiba Luna melompat.

Brak.

Gelas jatuh.

Air tumpah dan pil tercecer.

“Kucing sialan!” teriak Bu Rina.

Aku terkejut. Belum pernah kulihat wajahnya semarah itu.

“Luna tidak biasanya begini, Bu.”

“Justru karena kamu terlalu memanjakannya. Ada bayi di rumah. Hewan seperti itu membawa kotoran.”

Malamnya, aku mendengar Bu Rina meminta Arga membuang Luna.

Untung Arga menolak.

“Livia sudah memeliharanya sejak kuliah, Bu. Kalau Luna tiba-tiba hilang, Livia pasti stres.”

Aku lega mendengarnya.

Tetapi keesokan harinya kejadian serupa terulang.

Bu Rina membawa obat setelah sarapan.

Luna kembali menjatuhkannya.

Hari ketiga, Bu Rina mengganti cara.

Ia memberiku pil langsung di tangan, lalu menyodorkan botol air mineral yang baru dibuka.

Aneh sekali.

Luna tidak bereaksi.

Ia hanya duduk di samping ranjang.

Aku mulai memperhatikan sesuatu.

Luna bukan menolak pilnya.

Ia selalu bereaksi terhadap air yang dibawa Bu Rina dari dapur.

Hari berikutnya aku sengaja melakukan percobaan kecil.

Ketika Bu Rina memberiku obat dan segelas air, aku pura-pura hendak meminumnya.

Luna langsung mengeong keras dan mencoba naik ke tempat tidur.

“Turun!” bentak Bu Rina.

Aku menaruh gelas itu.

Kemudian aku mengambil air mineral dari meja dan menelan obat dengan air tersebut.

Luna langsung tenang.

Jantungku mulai berdegup tidak nyaman.

Malam itu aku bertanya kepada Arga.

“Obat yang diberikan ibumu sebenarnya dari dokter mana?”

Arga yang sedang menggendong bayi menatapku.

“Ya dari rumah sakit, kan?”

“Aku tidak pernah melihat kemasannya.”

“Vitamin biasa mungkin.”

“Kamu tidak tahu?”

Arga terdiam.

Saat itulah rasa takut mulai tumbuh.

Aku masih menyimpan resep dari dokter kandungku. Setelah Arga tidur, aku memeriksa satu per satu nama obat yang diresepkan.

Tidak ada satu pun yang bentuknya sama dengan pil dari Bu Rina.

Keesokan paginya aku memutuskan untuk tidak menelan apa pun.

Bu Rina datang seperti biasa.

“Minum dulu.”

Aku mengambil pil itu.

Luna muncul dari bawah meja.

Begitu gelas diletakkan di dekatku, Luna melompat.

Gelas pecah.

Salah satu pil jatuh ke genangan air dan mulai larut.

Bu Rina mengumpat.

Aku membungkuk dan mengambil pil yang setengah larut itu menggunakan tisu.

“Livia, buang saja.”

Aku memandangnya.

“Tidak.”

Wajah Bu Rina berubah.

“Aku mau membawanya ke laboratorium.”

Untuk beberapa detik rumah terasa benar-benar sunyi.

Kemudian sesuatu yang tidak pernah kubayangkan terjadi.

Bu Rina berlutut.

Tangannya mencengkeram ujung bajuku.

“Jangan.”

Aku membeku.

“Bu?”

Air matanya jatuh.

“Tolong jangan bawa pil itu ke mana-mana.”

Tubuhku terasa dingin.

“Kenapa?”

Ia terus menangis.

“Aku bisa jelaskan.”

Aku mundur.

“Jelaskan sekarang.”

Bu Rina melihat ke arah kamar tempat cucunya tidur, lalu berbisik, “Aku tidak bermaksud mencelakaimu.”

Kalimat itu justru membuatku semakin takut.

Aku segera menelepon Arga dan memintanya pulang.

Sebelum Arga tiba, aku memasukkan sisa pil ke kantong plastik kecil.

Bu Rina tidak mencoba merebutnya lagi.

Ia hanya duduk sambil menangis.

Setengah jam kemudian Arga masuk dengan wajah panik.

“Ada apa?”

Aku melemparkan kantong plastik itu ke meja.

“Tanya ibumu.”

Arga menatap Bu Rina.

“Ibu ngasih Livia apa?”

Bu Rina menggeleng.

“Ibu cuma mau membantu.”

“Dengan obat yang bahkan tidak ada di resep dokter?”

Arga mengambil kantong plastik tersebut.

Wajah Bu Rina semakin pucat.

Akhirnya ia mengaku.

Pil itu memang bukan dari rumah sakit.

Ia membelinya dari seseorang yang menawarkan ramuan pelangsing dan pemulihan pascamelahirkan. Menurut orang tersebut, pil itu bisa membantu mengurangi pembengkakan dan mempercepat tubuh kembali seperti sebelum hamil.

Aku menatapnya tak percaya.

“Hanya itu?”

Bu Rina mengangguk terlalu cepat.

Aku langsung tahu ia masih berbohong.

“Kalau cuma suplemen, kenapa Ibu sampai berlutut supaya aku tidak memeriksanya?”

Bu Rina tak mampu menjawab.

Aku mengambil tas bayi.

“Aku akan ke rumah sakit.”

“Livia.”

“Jangan sentuh aku.”

Arga mengantarku ke rumah sakit sambil membawa bayi kami. Pil itu kemudian diserahkan untuk diperiksa.

Dokter juga meminta sampel darahku karena selama beberapa hari terakhir aku memang sering merasa pusing dan sangat mengantuk.

Aku mengira itu akibat kurang tidur setelah melahirkan.

Ternyata bukan.

Dokter mengatakan ada zat sedatif dalam tubuhku yang tidak termasuk obat yang diresepkan setelah persalinan.

Aku menatap Arga.

“Sedatif?”

Dokter mengangguk.

Jumlahnya belum sampai tingkat yang menyebabkan kondisi berat, tetapi cukup untuk membuat seseorang mengantuk, lemah, dan kurang waspada.

Tanganku gemetar.

Aku langsung teringat sesuatu.

Beberapa malam terakhir aku memang tidur luar biasa lelap setelah minum obat dari Bu Rina.

Bahkan pernah sekali aku tidak mendengar bayi menangis.

Ketika bangun, Bu Rina berkata ia sudah mengurus semuanya.

Lalu untuk apa ia membuatku tertidur?

Kami pulang menjelang sore.

Bu Rina masih berada di rumah.

Begitu melihat kami, ia langsung tahu rahasianya sudah terbongkar.

Arga meletakkan hasil pemeriksaan di meja.

“Kenapa, Bu?”

Bu Rina menangis.

Namun kali ini Arga tidak melunak.

“Kenapa Ibu membuat istri saya tidur?”

Bu Rina menutup wajah.

“Aku takut kehilangan cucuku.”

Aku terpaku.

“Apa maksud Ibu?”

Perlahan, cerita sebenarnya keluar.

Beberapa bulan sebelum aku melahirkan, adik perempuan Arga, Maya, mengalami keguguran untuk kedua kalinya. Kondisinya membuatnya sangat terpukul.

Bu Rina merasa bersalah karena sejak kecil ia selalu membandingkan Maya dengan Arga.

Ketika aku hamil, obsesi Bu Rina terhadap cucu semakin besar.

Ia mulai memiliki keyakinan aneh bahwa bayi kami akan lebih aman jika diasuh olehnya.

Setelah aku melahirkan, ia berniat mengambil alih sebanyak mungkin perawatan bayi selama aku tidur.

“Itu tetap tidak menjelaskan obat ini,” kataku.

Bu Rina menunduk.

“Aku cuma ingin kamu tidur lebih lama.”

Aku hampir tidak percaya.

“Supaya Ibu bisa membawa bayiku?”

“Tidak membawa pergi. Hanya merawat.”

“Tanpa izinku.”

Ia tidak menjawab.

Kemudian Arga bertanya sesuatu yang membuat suasana berubah.

“Maya tahu?”

Bu Rina langsung mengangkat kepala.

Aku melihat kepanikan di matanya.

Arga mengulang pertanyaannya.

“Maya tahu soal ini?”

Bu Rina akhirnya menggeleng.

“Maya tidak tahu apa-apa.”

Saat itu terdengar suara dari pintu.

“Aku memang tidak tahu.”

Kami menoleh.

Maya berdiri di sana.

Rupanya Arga telah menghubunginya sebelum kami pulang.

Mata Maya merah.

“Ibu bilang aku yang membutuhkan bayi itu?”

Bu Rina berdiri.

“Maya, Ibu cuma…”

“Jangan pakai aku sebagai alasan.”

Suara Maya pecah.

“Aku kehilangan anakku. Aku sedih. Tapi itu tidak berarti aku ingin mengambil anak Kak Livia.”

Bu Rina menangis semakin keras.

Maya mendekatiku.

“Kak, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu.”

Aku percaya padanya.

Karena wajah seseorang yang terluka berbeda dengan wajah seseorang yang ketahuan berbohong.

Malam itu Arga meminta ibunya meninggalkan rumah.

Aku tidak melarangnya.

Aku juga tidak memaafkan.

Setidaknya belum.

Beberapa hari kemudian hasil pemeriksaan lengkap pil itu keluar.

Ternyata kandungannya tidak sama persis dengan cerita Bu Rina.

Pil tersebut memang mengandung bahan yang dapat menyebabkan kantuk, tetapi laboratorium menemukan sesuatu yang membuat dokter menyarankan kami memeriksa sumber obat itu lebih jauh karena kemasannya tidak jelas dan tidak memiliki informasi yang dapat dipercaya.

Arga menyerahkan persoalan itu kepada pihak berwenang.

Aku sendiri hanya ingin memastikan satu hal.

Anakku aman.

Sebulan kemudian hidup kami perlahan kembali normal.

Bu Rina tidak lagi tinggal bersama kami.

Arga mengganti kunci rumah dan berjanji tidak akan pernah memberikan akses kepada siapa pun tanpa persetujuanku.

Maya beberapa kali datang.

Ia tidak pernah mencoba menggendong bayi sebelum bertanya kepadaku.

Suatu sore ia duduk di ruang tamu sambil memandangi Luna yang tidur di dekat keranjang bayi.

“Aneh ya,” katanya.

“Apa?”

“Kita semua punya akal. Tapi yang pertama sadar ada sesuatu yang salah malah kucing.”

Aku tersenyum kecil.

Aku juga sering memikirkan hal itu.

Sampai akhirnya aku menemukan jawabannya.

Suatu pagi aku sedang membersihkan dapur ketika Luna mendekati lemari bawah wastafel dan mengeong.

Di dalamnya ada sebuah kantong plastik lama milik Bu Rina yang belum sempat dibuang.

Aku membukanya.

Ada wadah kecil yang masih menyisakan aroma tajam.

Saat itulah aku mengerti.

Luna tidak memiliki kemampuan ajaib.

Ia hanya memiliki indra penciuman yang jauh lebih peka daripada manusia.

Kemungkinan besar ia mencium sesuatu yang asing setiap kali Bu Rina menyiapkan air atau obat untukku.

Baginya, bau itu berarti bahaya.

Bagiku, Luna hanya seekor kucing tua yang selama sembilan tahun tidur di ujung kakiku.

Namun selama tujuh hari paling rapuh dalam hidupku, ketika aku terlalu lelah untuk mencurigai siapa pun dan terlalu percaya kepada orang-orang yang menyebut diri mereka keluarga, Luna melakukan sesuatu yang tidak mampu kulakukan.

Ia waspada.

Beberapa bulan kemudian Bu Rina datang meminta maaf.

Kali ini ia tidak membawa makanan, hadiah, ataupun alasan.

Ia berdiri di depan pintu dan berkata, “Ibu salah. Ibu pikir karena aku neneknya, aku berhak menentukan apa yang terbaik untuk cucuku.”

Aku menatapnya cukup lama.

“Lalu sekarang?”

“Sekarang Ibu mengerti. Menyayangi seseorang tidak membuat kita berhak mengendalikan hidupnya.”

Aku tidak langsung memeluknya.

Tidak semua luka harus ditutup dengan pelukan agar disebut selesai.

Aku hanya berkata, “Kalau Ibu benar-benar mengerti, buktikan dengan waktu.”

Ia mengangguk.

Sebelum pergi, Bu Rina melihat Luna yang duduk di balik kakiku.

Anehnya, ia tidak marah.

Ia justru berjongkok dari kejauhan.

“Maaf juga, Luna.”

Luna menatapnya beberapa detik.

Kemudian berjalan pergi dengan ekor terangkat tinggi.

Aku hampir tertawa.

Malamnya, setelah bayi kami tertidur, Luna naik ke ranjang dan meringkuk di sampingku seperti dulu.

Aku mengusap kepalanya.

Arga duduk di sebelahku dan berkata pelan, “Sepertinya kita berutang banyak sama dia.”

Aku memandang anakku yang tidur dengan tenang.

“Lebih dari yang kita tahu.”

Sejak kejadian itu aku belajar bahwa bahaya tidak selalu datang dalam bentuk orang asing yang mengetuk pintu.

Kadang ia datang membawa makanan hangat, menawarkan bantuan, dan mengatakan semua yang ingin kita dengar.

Dan kasih sayang yang tidak menghormati batas bukanlah perlindungan.

Ia adalah kendali yang menyamar sebagai perhatian.

Aku juga belajar bahwa keluarga bukan hanya mereka yang memiliki hubungan darah dengan kita.

Kadang keluarga adalah makhluk kecil berbulu putih yang tidak bisa berbicara, tidak mengerti hasil laboratorium, dan tidak tahu bagaimana menjelaskan kecurigaannya.

Ia hanya tahu satu hal.

Ada sesuatu yang tidak beres.

Dan ketika semua manusia di rumah itu terlambat menyadarinya, Luna sudah lebih dulu berdiri di antara aku dan bahaya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang