Pada hari pemakaman ayahku, kakak laki-lakiku berdiri di depan semua pelayat dan menuduhku sebagai anak durhaka

Teriakan itu menggema di seluruh sudut ruang tamu yang berbau bunga kamboja dan minyak kayu putih. Seseorang berteriak, “Suruh dia berlutut di depan peti mati!” Dalam sekejap, puluhan pasang mata menatapku dengan tatapan tajam yang dipenuhi kebencian. Bibi Nita, adik dari ayahku, melangkah maju dan mencengkeram lenganku dengan kasar. Matanya menyipit, menumpahkan segala prasangka yang selama ini tertanam akibat cerita-cerita manis yang disebarkan Arman.

Sambil menahan napas, aku merasakan dorongan keras di bahuku. Mereka memaksaku menekuk lutut di lantai ubin yang dingin, persis di hadapan peti kayu jati tempat jasad Ayah bersemayam. Di atas sana, Arman berdiri tegak dengan микроfon di tangan kanan dan selendang hitam melingkar di lehernya. Wajahnya menunjukkan ekspresi kesedihan yang dipaksakan, namun di balik matanya, aku melihat kilatan kepuasan yang dingin. Ia merasa berhasil memegang kendali penuh atas panggung ini.

Selama belasan tahun, Arman adalah pahlawan di mata keluarga besar. Media sosialnya dipenuhi foto-foto kebersamaan dengan Ayah—di klinik, di meja makan, hingga saat jalan-jalan pagi di taman kota. Setiap unggahan selalu dibanjiri pujian dari kerabat yang mengagumi kebaikannya. Namun, mereka tidak pernah tahu bahwa setiap bulan, hampir separuh gajiku sebagai staf administrasi di kota sebelah selalu kutransfer ke rekening Arman. Lima juta rupiah setiap bulan, sebuah angka yang tidak pernah sedikit bagiku. Aku rela menahan lapar dan hidup sangat hemat di kontrakan kecil, bermimpi uang itu bisa menjamin masa tua Ayah yang nyaman dan penuh perawatan medis terbaik.

Suara cemoohan makin riuh di sekelilingku. Paman Budi, orang yang paling dihormati di keluarga kami, melangkah mendekat sambil menunjuk mukaku. Dia berkata bahwa anak perempuan yang tidak tahu diri seperti diriku tidak pantas mendapatkan hak waris atau bahkan sekadar menaburkan bunga di atas pusara Ayah.

Aku tidak menangis. Rasa sakit di hatiku telah berubah menjadi dingin yang membeku. Pelan-pelan, aku berdiri. Dorongan tangan Bibi Nita aku tepis dengan perlahan namun tegas. Seluruh ruangan mendadak hening, terkejut melihat keberanianku yang tidak biasa.

Arman membelalakkan mata, suaranya meninggi melalui speaker masjid yang tersambung ke rumah, “Mau apa kamu, Sinta? Kamu bahkan tidak mau berlutut meminta maaf pada jasad Ayah?”

Aku meraih ponsel pintar di dalam tas kecilku. Tanganku bergetar bukan karena takut, melainkan karena menahan gelombang emosi yang akhirnya menemukan jalannya. Seminggu sebelum Ayah berpulang, Ayah meneleponku secara sembunyi-sembunyi di tengah malam. Suaranya yang serak dan terbata-bata masih terngiang jelas di telingaku. Malam itu, sambungan telepon terputus tiba-tiba, namun pesan singkat yang dikirimkan Ayah setelahnya menyertakan sebuah berkas rekaman suara otomatis dari aplikasi di ponsel tuanya, yang tersimpan di ruang penyimpanan awan milikku.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada para pelayat, aku berjalan menuju speaker aktif di sudut ruangan. Tempat itu biasa digunakan untuk memutar ayat-ayat suci selama rumah duka berlangsung. Aku mencabut kabel audio dan menyambungkan Bluetooth ponselku ke sistem suara tersebut.

Arman mulai panik. Wajahnya yang semula pucat karena akting sedih kini berubah menjadi cemas yang nyata. “Sinta! Jangan buat keributan di hari pemakaman Ayah! Matikan itu!” serunya sambil mencoba merebut ponsel dari tanganku.

Namun Paman Budi menahan lengan Arman. Rasa penasaran kerabat jauh lebih besar daripada rasa hormat mereka pada kepura-puraan Arman.

Aku menekan tombol putar.

Suara kresek-kresek khas mikrofon ponsel lama terdengar mengalun dari pengeras suara, mengisi setiap sudut rumah yang hening. Lalu, suara berat dan lemah milik Ayah terdengar jelas.

“Arman… Ayah mohon, kembalikan uang Sinta. Itu uang hasil kerja keras adiknya…”

Suara Ayah terputus oleh batuk yang menyakitkan. Lalu terdengar benturan keras, seperti pintu yang dibanting, diikuti oleh suara bentakan Arman yang sangat asing bagi semua orang di ruangan itu.

“Diamlah, Tua Bangkai! Uang dari Sinta itu milikku! Memangnya siapa yang merawatmu tiap hari di sini? Uang lima juta itu bahkan tidak cukup untuk mengganti waktuku yang terbuang! Kamu pikir aku sudi membelikan obat mahal ini kalau Sinta tidak kirim uang?”

Suara Arman di rekaman itu terdengar begitu dingin, kasar, dan penuh ketamakan.

“Foto dulu senyumnya! Jangan cemberut begitu! Kalau mukamu cemberut, bagaimana aku bisa pamer di Facebook kalau aku anak berbakti? Ayo cepat senyum!” terdengar bunyi jepretan kamera ponsel di dalam rekaman tersebut, diikuti suara helaan napas Ayah yang tertahan penuh penderitaan.

“Arman… obat jantung Ayah sudah habis tiga hari… dada Ayah sakit sekali…” bisik Ayah pasrah.

“Biar saja! Nanti kalau ada uang sisa belanja istriku baru kubeli! Jangan banyak menuntut!”

Rekaman itu berhenti.

Keheningan yang mencekam menyelimuti seluruh ruangan. Tidak ada lagi suara tangisan dari para bibi. Tidak ada lagi cemoohan dari para sepupu. Semua mata yang tadinya memandangku dengan hinaan, kini beralih menatap Arman dengan tatapan tidak percaya dan kemarahan yang meluap.

Paman Budi melangkah mundur, matanya membelalak menatap keponakannya itu. Bibi Nita menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya menetes bukan lagi karena kepergian Ayah, melainkan karena rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam atas perlakuan buruk mereka padaku.

Aku menatap Arman yang kini berdiri terpaku. Kakinya gemetar hebat. Mikrofon di tangannya jatuh terhempas ke lantai ubin, menimbulkan bunyi dengung nyaring yang memecah kesunyian.

“Jadi… selama ini uang kiriman Sinta kamu pakai untuk dirimu sendiri?” suara Paman Budi terdengar berat dan penuh kemarahan. “Kamu biarkan Ayahmu menahan sakit tanpa obat demi citramu di media sosial?”

Arman tidak sanggup menjawab. Wajahnya benar-benar pucat pasi. Ia mencoba mencari dukungan dari sepupu-sepupunya, namun mereka semua memalingkan wajah dengan rasa jijik. Kebenaran yang terungkap secara telanjang di depan puluhan pelayat itu menghancurkan seluruh kebohongan yang telah ia bangun dengan rapi selama bertahun-tahun.

Lutut Arman akhirnya lemas. Tubuhnya tersungkur ke lantai, persis di tempat ia memaksaku berlutut tadi. Ia merangkak mendekati kakiku, menangkupkan kedua tangannya sambil berderai air mata. Kali ini, tangisannya nyata—tangisan seorang pengecut yang ketakutan karena kejahatannya telah terbongkar.

“Sinta… maafkan Mas… Mas khilaf, Sinta… Tolong ampunkan Mas…” ratapnya sambil mencoba memegang ujung celanaku.

Aku melangkah mundur satu tapak, menarik kakiku dari jangkauannya. Aku tidak membalas ratapannya dengan kemarahan atau makian. Aku hanya menatapnya dengan rasa kasihan yang mendalam—kasihan pada seorang manusia yang mengorbankan nyawa ayahnya sendiri demi sebuah pengakuan semu dari orang lain.

Aku melangkah mendekati peti jenazah Ayah. Aku berlutut dengan tenang di sana, bukan karena paksaan orang lain, melainkan karena rasa rinduku yang teramat dalam. Aku meletakkan telapak tanganku di atas kayu peti yang dingin, membisikkan doa paling tulus untuk kedamaian jiwa Ayah yang kini telah bebas dari penderitaan.

Di belakangku, heboh kebingungan dan kemarahan keluarga besar meledak menyerang Arman. Namun bagiku, semua kebisingan itu tak lagi berarti. Hari ini aku menyadari satu hal: kebaikan tidak pernah membutuhkan panggung untuk terlihat nyata, dan kebenaran selalu menemukan caranya sendiri untuk mengetuk pintu keadilan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang