Bagian 2: Sisi Gelap Sang Arsitek
Darahku mendidih seketika. Pria yang selama ini membungkuk sopan di depan orang tua kami, pria yang selalu memesankan kursi terbaik di restoran untuk keluarga kami, ternyata adalah seorang monster.
“Sudah berapa lama, Maya?” tanyaku, mencoba menahan getaran hebat di suaraku agar tidak semakin menakutinya.
“Sejak… sejak kami bertunangan enam bulan lalu,” bisik Maya di sela tangisnya. Ia mencengkeram lengan gaun pengantinnya yang mewah, seolah kain mahal itu bisa melindunginya. “Awalnya dia hanya membentak jika aku terlambat membalas pesannya. Lalu dia mulai mencengkeram lenganku kuat-kuat. Dan sebulan yang lalu, saat aku menolak ikut ke acaranya karena sakit… dia menggunakan sabuknya.”

Aku memejamkan mata, merasakan sakit yang luar biasa di dadaku. “Kenapa kamu tidak bilang pada Kakak? Kenapa tidak bilang pada Ibu dan Ayah?”
“Aku takut, Kak!” Maya mendongak, matanya merah dan bengkak. “Dia mengancam akan menghancurkan bisnis Ayah. Dia punya rekaman video… dia bilang kalau aku pergi, dia akan menyebarkannya dan memastikan keluarga kita malu seumur hidup. Dia bilang tidak akan ada yang percaya padaku karena semua orang mengira dia adalah pria sempurna.”
Aku menarik Maya ke dalam pelukanku lagi, mengusap rambutnya yang halus. “Dengarkan Kakak, Maya. Pernikahan ini batal. Detik ini juga, pernikahan ini tidak akan pernah terjadi.”
Maya menggeleng panik. “Tidak bisa, Kak. Undangan sudah disebar, gaun ini sudah dibayar, dan Ayah sangat bangga pada Mateo. Bagaimana kalau Mateo nekat?”
“Biarkan dia mencoba,” kataku dengan nada dingin yang belum pernah kukeluarkan seumur hidupku. “Kakak yang akan menghadapinya.”
Bagian 3: Topeng yang Retak
Sore itu juga, aku menyuruh Maya menyembunyikan memarnya kembali dan pulang ke rumah dengan taksi secara diam-diam. Sementara itu, aku langsung berkendara menuju kantor arsitektur megah milik Mateo di pusat kota.
Aku berjalan melewati sekretarisnya tanpa memedulikan panggilannya, lalu menendang pintu ruang kerja Mateo hingga terbuka lebar.
Mateo sedang duduk di balik meja eksekutifnya yang besar, menatap layar komputer. Ia terkejut, namun dalam sekejap, ekspresi wajahnya kembali tenang dan ramah seperti biasanya.
“Ah, Kakak Ipar,” sapanya dengan senyum menawan yang kini terlihat menjijikkan di mataku. “Ada apa ini? Datang tanpa mengetuk pintu?”
Aku berjalan mendekat, lalu menghantamkan kedua telapak tanganku ke meja kayunya yang mahal.
“Aku tahu semuanya, Mateo. Aku tahu apa yang kamu lakukan pada punggung adikku.”
Senyum di wajah Mateo tidak langsung hilang, melainkan perlahan membeku. Matanya yang hangat berubah menjadi sedingin es. Ia bersandar pada kursinya, menautkan jari-jemarinya, dan menatapku dengan tatapan meremehkan.
“Oh, jadi jalang kecil itu akhirnya mengadu?” ucapnya. Suaranya tidak lagi lembut dan sopan. Nadanya datar, penuh arogansi. “Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Mengadu pada orang tua kalian? Ayahmu sedang mengincar proyek pemerintah, dan perusahaankulah yang memegang kunci kemenangan baginya. Satu kataku, dan ayahmu bangkrut.”
Ia berdiri, merapikan setelan jasnya, lalu berjalan mendekatiku hingga jarak kami hanya beberapa sentimeter.
“Maya adalah milikku. Dia menandatangani perjanjian itu saat menerima cincinku. Pergilah dari sini sebelum aku menghancurkan keluargamu.”
Bagian 4: Rencana Pembalasan
Aku tidak membalas ancamannya dengan makian. Aku justru mundur satu langkah, lalu tersenyum tipis. Perubahan ekspresiku membuat Mateo mengerutkan kening, tampak bingung.
“Kamu benar, Mateo. Kamu kaya, berkuasa, dan punya pengaruh besar,” kataku sambil merogoh saku jasku.
Aku mengeluarkan ponselku yang layarnya masih menyala. Di sana, sebuah aplikasi perekam suara sedang berjalan, merekam setiap kata yang baru saja diucapkannya—termasuk pengakuannya tentang Maya dan ancamannya pada keluarga kami.
“Tapi kamu lupa satu hal,” lanjutku, menatapnya lurus. “Aku tidak sebodoh adikku yang ketakutan.”
Wajah Mateo langsung pucat pasi. Ia bergerak maju untuk merebut ponselku, namun aku dengan cepat melangkah mundur ke arah pintu.
“Jangan bergerak,” ancamku. “Jika kamu mengambil satu langkah lagi, rekaman ini akan langsung terkirim ke seluruh media, klien-klien besarmu, dan tentu saja, pihak kepolisian. Oh, dan penjahit di butik tadi? Dia bersedia menjadi saksi mata atas kondisi tubuh Maya.”
Mateo mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu, persis seperti monster yang sudut jaringnya sendiri mulai robek. “Kamu tidak akan berani.”
“Coba saja aku,” tantangku. “Ini syaratku: kamu akan membatalkan pernikahan ini secara sepihak dengan alasan spekulasi publik bahwa kamu tidak pantas untuk Maya. Kamu akan mengembalikan seluruh aset atau uang yang pernah melibatkan ayahku. Dan yang paling penting… jika aku melihatmu berada dalam radius seratus meter dari Maya atau keluarga kami, rekaman ini dan laporan visum dokter akan langsung mendarat di meja kapolres.”
Bagian 5: Kebebasan Baru
Satu bulan kemudian.
Hari yang seharusnya menjadi hari pernikahan Maya dan Mateo berganti menjadi hari yang tenang. Di media massa, beredar berita mengejutkan bahwa arsitek ternama Mateo tiba-tiba mengundurkan diri dari beberapa proyek besar dan memilih pergi ke luar negeri untuk waktu yang tidak ditentukan karena “alasan pribadi”. Publik berspekulasi, namun kami tahu kebenarannya: dia melarikan diri seperti pengecut untuk menyelamatkan sisa-sisa reputasinya.
Di halaman belakang rumah kami, suasana terasa damai. Ayah dan Ibu memang sempat syok, namun setelah melihat foto-foto bukti dan rekaman suara itu, Ayah bahkan hampir menghajar Mateo jika tidak kuhentikan. Bagi keluarga kami, kehormatan dan keselamatan Maya jauh lebih berharga daripada proyek bisnis mana pun.
Aku duduk di bangku taman, menikmati secangkir teh, ketika Maya berjalan menghampiriku.
Hari ini, cuaca sangat panas. Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Maya tidak lagi memakai sweter tebal. Ia mengenakan gaun musim panas berpotongan longgar tanpa lengan, memperlihatkan kulit lengannya yang bersih.
Memar di punggungnya mungkin butuh waktu lama untuk benar-benar hilang, begitu pula dengan trauma di hatinya. Namun siang itu, saat ia duduk di sampingku dan menatap langit biru, aku melihat sesuatu yang sudah lama hilang dari matanya.
Sebuah senyuman yang tulus. Dan napas yang akhirnya bisa berembus bebas.
