DELAPAN HARI AKU MENYEMBUNYIKAN JAMU PAHIT ITU DI TAS SUAMIKU, SAMPAI IA PINGSAN DI DEPAN KANTOR DAN DOKTER MENEMUKAN SATU ZAT BERBAHAYA YANG TERNYATA SENGAJA DICAMPURKAN OLEH ORANG YANG PALING KAMI PERCAYAI SEJAK BAYI KAMI LAHIR DAN RAHASIA KELUARGA MULAI TERBUKA

Aku menatap map biru di tangan Kak Farah dengan dada yang terasa sesak. Di lorong rumah sakit yang dingin, suara monitor dari ruang observasi tempat Fajar dirawat terdengar seperti detakan waktu yang semakin mendekat.

Delapan hari terakhir terasa seperti mimpi buruk yang tidak pernah kubayangkan.

Orang yang setiap pagi tersenyum sambil menyuapiku ramuan pahit ternyata mungkin sedang menunggu aku jatuh. Orang yang selama bertahun-tahun kuanggap keluarga sendiri mungkin menyimpan niat yang jauh lebih gelap daripada yang terlihat.

Namun yang paling membuatku takut bukan hanya kemungkinan bahwa Kak Farah berbohong.

Melainkan kenyataan bahwa seseorang di rumahku, seseorang yang dipercaya Fajar dan aku, telah merencanakan semuanya dengan sangat rapi.

“Kamu dengar aku, Salsa?” suara Kak Farah terdengar pelan, hampir seperti bisikan.

“Kalau kamu tidak tanda tangan sekarang, percetakanmu bisa disita. Rendra sudah mengurus semuanya. Kamu sedang tidak dalam kondisi berpikir jernih.”

Aku menatap wajahnya.

Dulu, wajah itu adalah wajah yang kupandang ketika masih kecil. Wajah seorang kakak yang kupikir akan melindungiku setelah Ayah meninggal. Wajah yang membuatku percaya bahwa perbedaan darah tidak akan pernah menjadi masalah.

Tapi malam itu, di lorong rumah sakit, aku melihat sesuatu yang berbeda.

Aku melihat seseorang yang panik karena rencananya mulai terbongkar.

“Kak,” kataku perlahan.

“Apa?”

“Kenapa Kakak tidak bertanya tentang Fajar?”

Ekspresinya berubah sesaat.

Hanya sepersekian detik.

Tapi aku melihatnya.

“Ya ampun, Salsa. Tentu saja Kakak khawatir. Tapi sekarang yang penting adalah menyelamatkan aset keluarga.”

“Suamiku hampir meninggal, Kak.”

Kak Farah terdiam.

Aku melanjutkan dengan suara bergetar.

“Dan yang Kakak pikirkan pertama kali adalah surat kuasa?”

Wajahnya mulai mengeras.

“Kamu jangan menuduh Kakak sembarangan. Kakak sudah mengurus kamu selama delapan belas hari. Kakak yang memasak, menjaga bayi kamu, membersihkan rumah.”

Kalimat itu membuat kepalaku terasa berat.

Benar.

Dia memang melakukan semua itu.

Dan justru karena itulah aku merasa sangat hancur.

Pengkhianatan dari orang asing mungkin menyakitkan.

Tapi pengkhianatan dari seseorang yang setiap hari memegang tanganmu jauh lebih menghancurkan.

“Aku akan tanda tangan,” kataku tiba-tiba.

Kak Farah langsung tersenyum lega.

“Tapi bukan sekarang.”

Senyumnya menghilang.

“Aku akan tanda tangan setelah pengacaraku datang.”

“Kamu tidak punya pengacara.”

“Aku punya.”

Aku tidak tahu kenapa aku mengatakan itu. Mungkin karena aku mengingat pesan Fajar.

Jangan percaya siapa pun yang memaksamu menandatangani surat.

Kak Farah menatapku lama, lalu mengambil kembali map biru itu.

“Kamu berubah, Salsa.”

Aku menahan air mata.

“Mungkin karena aku hampir kehilangan suamiku.”

Setelah dia pergi, aku kembali duduk di depan ruang observasi. Beberapa menit kemudian, seorang polisi datang bersama dokter rumah sakit.

“Mbak Salsabila?”

Aku berdiri.

“Iya.”

“Kami perlu meminta keterangan. Sampel minuman yang dibawa dokter sudah dikirim ke laboratorium. Kami juga menemukan kartu memori yang disimpan suami Anda.”

Tanganku langsung gemetar.

“Apakah Fajar sempat sadar?”

Dokter menggeleng pelan.

“Kondisinya masih stabil, tapi kami harus menunggu efek obat benar-benar turun.”

Polisi menyerahkan kartu memori kecil itu.

“Kami menemukan rekaman dari kamera kecil yang dipasang di rumah Anda.”

Aku menatap benda kecil itu.

Jadi Fajar berhasil memasangnya.

Dengan tangan gemetar, aku membuka rekaman tersebut di komputer rumah sakit.

Waktu menunjukkan pukul 04.17 pagi.

Dapur rumahku terlihat gelap.

Lalu seseorang masuk.

Aku langsung mengenali langkahnya.

Kak Farah.

Dia membawa sesuatu di tangannya.

Sebuah wadah kecil.

Jantungku berdetak semakin cepat.

Dalam rekaman itu, Kak Farah membuka botol ramuan yang setiap pagi dia berikan kepadaku.

Lalu dia menuangkan bubuk putih dari wadah kecil tersebut.

Aku menutup mulut agar tidak berteriak.

Beberapa detik kemudian, seseorang masuk dari pintu belakang.

Rendra.

Manajer keuanganku.

“Sudah dicampur?” tanya Rendra.

Kak Farah mengangguk.

“Besok terakhir. Setelah dia tanda tangan surat kuasa, semuanya selesai.”

Aku merasa dunia berhenti berputar.

Rendra.

Orang yang selama lima tahun kupercayai mengurus uang perusahaan.

Orang yang mengetahui semua aset percetakanku.

“Kamu yakin dosisnya aman?” tanya Rendra.

Kak Farah tersenyum kecil.

“Dia yang akan minum, bukan aku.”

Tanganku mengepal.

Selama ini aku berpikir ramuan itu ditujukan untukku.

Ternyata Fajar yang menjadi korban karena dia melindungiku.

Rekaman berlanjut.

Rendra membuka sebuah map.

“Kapan kita pindahkan sertifikat ruko?”

“Setelah Salsa tanda tangan. Dia sedang lemah setelah melahirkan. Dia tidak akan curiga.”

Aku menahan tangis.

Bukan hanya percetakan.

Mereka mengincar rumah peninggalan Ibu.

Rumah yang menjadi satu-satunya kenangan terakhir yang tersisa.

Polisi meminta rekaman itu sebagai barang bukti.

Malam itu juga, mereka mengamankan Rendra dan mencari Kak Farah yang ternyata sudah meninggalkan rumah sakit.

Namun sebelum polisi menemukan dia, aku mendapat sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.

Isinya hanya satu kalimat.

Kalau ingin tahu kenapa semua ini terjadi, datang ke gudang lama percetakan.

Aku tahu itu jebakan.

Tapi ada sesuatu dalam pesan itu yang membuatku tidak bisa mengabaikannya.

Keesokan paginya, dengan izin dokter, aku pergi bersama polisi ke gudang lama di belakang percetakan.

Tempat itu sudah bertahun-tahun tidak digunakan.

Saat pintu dibuka, debu memenuhi udara.

Di dalam, kami menemukan banyak dokumen lama.

Termasuk sebuah kotak kayu kecil milik Ayah.

Aku mengenali tulisan tangannya.

Untuk Salsa.

Tanganku bergetar saat membuka kotak itu.

Di dalamnya ada surat.

“Salsa, kalau kamu membaca surat ini, berarti mungkin ada sesuatu yang membuatmu mencari kebenaran tentang keluargamu.”

Aku membaca perlahan.

Ayah menulis bahwa sebelum menikah dengan Ibu, dia pernah memiliki masalah bisnis besar. Saat itu, Kak Farah dan ibunya mengalami masa sulit. Ayah kemudian menikah lagi dengan Ibu dan membangun usaha baru.

Namun ada satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan.

Percetakan itu sebenarnya bukan hanya warisan untukku.

Ayah sengaja meninggalkan sebagian saham perusahaan atas nama Kak Farah karena dia merasa bersalah telah membuat anak pertamanya merasa kehilangan perhatian.

Tetapi syaratnya adalah Kak Farah tidak boleh mengambil alih perusahaan selama aku masih mampu menjalankannya.

Aku terdiam.

Selama ini aku tidak pernah tahu.

Aku bukan hanya adik yang lebih muda.

Aku juga menjadi pengingat bagi Kak Farah tentang kehidupan yang menurutnya tidak adil.

Polisi menemukan dokumen lain.

Ternyata Rendra diam-diam memalsukan laporan keuangan selama dua tahun terakhir. Dia bekerja sama dengan Kak Farah untuk membuat perusahaan terlihat hampir bangkrut, lalu membeli aset dengan harga murah.

Semua sudah direncanakan.

Namun ada satu hal yang tidak mereka perhitungkan.

Fajar.

Beberapa hari kemudian, Fajar akhirnya sadar.

Orang pertama yang dia cari adalah aku.

“Kamu baik-baik saja?” bisiknya.

Aku langsung menangis.

“Kamu yang hampir mati, masih tanya aku?”

Dia tersenyum lemah.

“Aku cuma takut kamu sendirian.”

Aku menggenggam tangannya erat.

“Aku minta maaf.”

“Untuk apa?”

“Karena aku percaya orang yang salah.”

Fajar menggeleng.

“Kamu percaya karena kamu punya hati baik. Jangan biarkan orang yang salah mengubah itu.”

Kasus Kak Farah dan Rendra berjalan selama berbulan-bulan. Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.

Namun bagian paling mengejutkan datang saat persidangan.

Kak Farah meminta bertemu denganku.

Aku hampir menolak.

Tapi akhirnya aku datang.

Dia duduk di ruang tahanan dengan wajah yang jauh lebih tua dibanding beberapa bulan sebelumnya.

“Salsa.”

Aku diam.

“Aku tahu aku tidak pantas meminta maaf.”

Aku tetap diam.

“Aku iri padamu.”

Kalimat itu membuatku menatapnya.

“Kamu selalu mendapatkan sesuatu yang tidak pernah aku punya. Ibu yang menyayangimu. Ayah yang selalu bangga padamu. Dan ketika kamu punya semuanya, aku merasa seperti orang yang dibuang.”

Air matanya jatuh.

“Tapi aku salah. Aku membiarkan luka masa lalu membuatku menghancurkan orang yang tidak pernah menyakitiku.”

Aku tidak langsung memaafkannya.

Karena luka tidak hilang hanya dengan satu permintaan maaf.

Namun aku juga tidak ingin membawa kebencian itu selamanya.

“Aku berharap suatu hari Kakak mengerti,” kataku pelan. “Keluarga bukan tentang siapa yang mendapat lebih banyak. Keluarga adalah tentang siapa yang tetap memilih menjaga ketika punya kesempatan untuk menghancurkan.”

Beberapa bulan kemudian, aku kembali menjalankan percetakan.

Fajar sudah kembali bekerja.

Kirana tumbuh menjadi bayi yang sehat dan ceria.

Aku masih menyimpan botol hitam tempat Fajar dulu menampung ramuan pahit itu.

Bukan sebagai kenangan buruk.

Tapi sebagai pengingat.

Kadang orang yang paling dekat dengan kita bisa menyimpan rahasia paling besar.

Dan kadang, kebaikan kecil yang dilakukan seseorang dalam diam bisa menjadi alasan kita selamat.

Karena malam ketika Fajar meminum ramuan itu untuk melindungiku, dia tidak hanya menyelamatkan istrinya.

Dia membuktikan bahwa keluarga sejati bukan selalu tentang hubungan darah.

Tapi tentang seseorang yang memilih berdiri di sampingmu ketika seluruh dunia mencoba menjatuhkanmu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang