Tangan kiriku masih gemetar saat menekan tombol jeda di tablet milik Bu Mirna. Aku berharap apa yang kulihat hanyalah kesalahpahaman. Aku berharap suara Bagas dalam rekaman itu bukan suara suamiku. Aku berharap senyum Nadine hanyalah kebetulan.
Namun kenyataan terlalu jelas untuk disangkal.
Selama beberapa detik, aku hanya menatap layar tanpa mampu mengeluarkan suara.
Pria yang selama dua belas tahun kupanggil suami baru saja merencanakan kehancuranku bersama kakak perempuanku sendiri.
Dan yang paling menyakitkan bukan hanya pengkhianatan itu.
Melainkan kenyataan bahwa aku hampir mempercayai mereka.
“Bu Laras?”

Suara Bu Mirna membuatku tersadar.
Aku mengangkat wajah. “Bu, tolong jangan beri tahu siapa pun dulu tentang rekaman ini.”
Perawat itu tampak ragu. “Tapi, Bu… ini bukti bahwa kejadian tadi bukan kecelakaan.”
“Aku tahu.”
Air mataku jatuh perlahan, tetapi aku menahannya.
“Aku tidak mau mereka tahu bahwa aku sudah melihat semuanya.”
Bu Mirna menggenggam tanganku dengan lembut. “Ibu yakin?”
Aku menatap bayi kecilku yang masih tertidur di ranjang sebelah. Kirana. Putri yang kutunggu selama delapan tahun. Anak yang hampir kehilangan ibunya sendiri beberapa jam setelah lahir.
“Aku ingin tahu seberapa jauh mereka sudah merencanakan semuanya.”
Aku meminta Bu Mirna menyimpan salinan rekaman itu. Setelah itu aku memejamkan mata dan berusaha mengatur napas.
Selama ini aku selalu berpikir musuh terbesar dalam rumah tangga adalah orang ketiga.
Aku salah.
Kadang orang yang paling berbahaya adalah mereka yang duduk di meja makan yang sama dengan kita.
Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka.
Bagas masuk dengan wajah kesal.
“Laras, kenapa kamu membuat Nadine ditahan seperti seorang kriminal?”
Aku menatapnya tanpa ekspresi.
“Karena aku belum tahu apakah dia benar-benar melakukan kesalahan atau tidak.”
Bagas langsung menghela napas.
“Masih saja keras kepala. Kamu baru melahirkan, emosimu belum stabil. Jangan membuat keputusan besar sekarang.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun aku tahu maksud sebenarnya.
Dia ingin membuatku terlihat tidak rasional.
Seperti yang mereka rencanakan.
Aku tersenyum kecil.
“Bagas, menurutmu kalau seorang ibu baru saja disiram air mendidih, apakah dia harus diam dan tersenyum?”
Wajahnya berubah sedikit.
“Kamu membesar-besarkan masalah.”
Aku menatapnya lama.
Lelaki di depanku adalah orang yang dulu rela berjalan kaki belasan kilometer untuk menjemputku saat hujan. Orang yang pernah berkata bahwa aku adalah alasan dia tidak menyerah ketika bisnisnya hampir bangkrut.
Tetapi sekarang dia berdiri di depanku, membela perempuan yang baru saja mencoba menyakitiku.
“Kenapa kamu begitu yakin Nadine tidak sengaja?” tanyaku.
“Karena dia kakakmu.”
“Bukan itu jawabannya.”
Bagas terdiam.
Aku melanjutkan dengan suara pelan.
“Atau karena kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi?”
Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah panik.
Hanya sesaat.
Tetapi cukup untuk meyakinkanku.
Malam itu, setelah dokter mengizinkanku beristirahat, aku pura-pura tidur.
Bagas duduk di kursi dekat jendela sambil memainkan ponselnya. Sekitar pukul dua pagi, dia keluar dari kamar.
Aku membuka mata.
Tubuhku masih sakit, tetapi pikiranku jauh lebih kuat dibanding beberapa jam sebelumnya.
Aku meminta bantuan seorang perawat untuk menjaga Kirana sebentar, lalu mengikuti Bagas dengan perlahan.
Di ujung koridor rumah sakit, aku melihatnya bertemu Nadine.
Mereka berbicara dengan suara pelan.
Aku berdiri di balik dinding dan mendengarkan.
“Kenapa kamu terlalu ceroboh?” suara Bagas terdengar marah.
Nadine membalas dengan nada kesal.
“Aku sudah melakukan semuanya sesuai rencana. Siapa sangka dia memasang kamera?”
“Kamu seharusnya memastikan dulu.”
“Dan kamu seharusnya membuat dia percaya padamu!”
Dadaku terasa sesak.
Mereka bahkan tidak merasa bersalah.
“Aku sudah bilang, setelah surat kuasa itu ditandatangani, semuanya selesai,” kata Bagas. “Perusahaan tetap aman. Rumah tetap atas nama keluarga kita.”
Nadine tertawa kecil.
“Bukan hanya itu. Dengan kondisi Laras sekarang, kita bisa membuat semua orang percaya dia mengalami gangguan setelah melahirkan.”
Aku menutup mulut agar tidak bersuara.
Jadi itu rencana mereka.
Mereka tidak hanya ingin mengambil perusahaan.
Mereka ingin mengambil bayiku.
Aku kembali ke kamar sebelum mereka menyadari keberadaanku.
Pagi harinya, aku membuat keputusan.
Aku tidak akan melawan dengan emosi.
Aku akan melawan dengan bukti.
Aku menghubungi Raka, pengacara perusahaan yang selama ini menangani dokumen hukum PT Samudra Rasa Nusantara. Raka adalah salah satu orang yang paling dipercaya Bagas, tetapi dia juga tahu siapa yang sebenarnya membangun perusahaan itu.
“Laras? Kamu baik-baik saja?” tanyanya saat mendengar suaraku.
“Aku butuh bantuanmu.”
“Apa terjadi sesuatu?”
Aku diam beberapa detik.
“Bagas dan Nadine mencoba mengambil perusahaan dan anakku.”
Hening.
Lalu suara Raka berubah serius.
“Kamu punya bukti?”
“Aku punya rekaman.”
Dua hari kemudian, semuanya mulai bergerak.
Aku tidak langsung pulang ke rumah.
Aku tetap berada di klinik sampai luka membaik. Selama itu, Bagas semakin sering datang membawa bunga dan wajah penuh penyesalan.
Dia berubah menjadi suami yang sangat perhatian.
Terlalu sempurna.
“Laras, aku tahu kamu marah. Tapi aku ingin kita melupakan kejadian ini.”
Aku menatapnya.
“Melupakan?”
“Iya. Nadine sudah minta maaf.”
Aku hampir tertawa.
“Bagas, kamu tahu apa yang paling menyakitkan?”
Dia menatapku.
“Bukan air panas itu.”
Wajahnya perlahan berubah.
“Yang paling menyakitkan adalah saat aku melihat suamiku lebih takut kehilangan kakakku daripada kehilangan aku.”
Bagas tidak menjawab.
Dia hanya pergi.
Mungkin dia mulai menyadari bahwa aku tidak lagi menjadi perempuan yang mudah dia yakinkan.
Seminggu kemudian, aku kembali ke rumah.
Tetapi kali ini aku tidak pulang sebagai istri yang terluka.
Aku pulang sebagai pemilik setengah dari perusahaan yang mereka coba curi.
Di ruang keluarga, sudah ada Bagas, Nadine, ibu Bagas, dan beberapa anggota keluarga lainnya.
Mereka tampak terkejut melihat Raka ikut masuk bersamaku.
“Ada apa ini?” tanya ibu Bagas.
Aku duduk dengan tenang.
“Aku ingin membicarakan sesuatu.”
Bagas berdiri.
“Laras, jangan membuat drama di depan keluarga.”
Aku menatapnya.
“Drama?”
Aku mengeluarkan tablet dan meletakkannya di meja.
“Kalau ini drama, mungkin kalian bisa menjelaskannya.”
Aku menekan tombol putar.
Suara mereka memenuhi ruang keluarga.
Tidak ada yang berbicara.
Wajah Nadine langsung pucat.
Bagas berdiri membeku.
Ibu Bagas menutup mulutnya.
Setelah rekaman selesai, tidak ada lagi alasan yang tersisa.
“Kamu memasang kamera?” bisik Bagas.
“Tidak.”
Aku menatapnya.
“Kamu yang menunjukkan wajah aslimu.”
Nadine tiba-tiba menangis.
“Laras, aku salah. Aku hanya takut. Aku kehilangan semuanya setelah perceraian. Aku tidak punya siapa-siapa.”
Aku menatap kakakku sendiri.
“Aku memberimu rumah.”
Dia menangis semakin keras.
“Aku memberimu pekerjaan.”
Air mataku mulai jatuh.
“Aku bahkan membela kamu ketika banyak orang mengatakan kamu hanya datang karena membutuhkan uang.”
Nadine menunduk.
“Tapi kamu membalasnya dengan mencoba mengambil hidupku.”
Bagas maju satu langkah.
“Laras, dengarkan aku. Aku memang salah, tapi kita masih bisa memperbaiki semuanya.”
Aku menatap cincin pernikahan di jariku.
Dua belas tahun.
Semua kenangan.
Semua perjuangan.
Semua pengorbanan.
“Tidak semua hal yang rusak bisa diperbaiki, Bagas.”
Dia terdiam.
“Ada benda yang kalau pecah masih bisa direkatkan. Tapi kepercayaan yang dihancurkan dengan sengaja tidak akan pernah kembali seperti semula.”
Hari itu, Raka menyerahkan bukti tambahan.
Ternyata selama berbulan-bulan, Nadine diam-diam memindahkan sebagian uang perusahaan ke rekening pribadi melalui transaksi palsu. Bagas membantu menutupi laporan tersebut.
Keluarga Bagas yang awalnya datang untuk menyalahkanku akhirnya hanya bisa diam.
Beberapa minggu kemudian, proses hukum berjalan.
Aku mengajukan gugatan cerai.
Bukan karena aku membenci Bagas.
Tetapi karena aku akhirnya belajar mencintai diriku sendiri.
Enam bulan berlalu.
PT Samudra Rasa Nusantara tetap berjalan.
Aku kembali memimpin perusahaan bersama tim lama yang dulu membantuku membangunnya.
Kirana tumbuh sehat.
Setiap pagi, aku melihat senyumnya dan selalu teringat bahwa pada malam ketika semua orang berusaha mengambil sesuatu dariku, Tuhan justru memberiku kekuatan untuk membuka mata.
Suatu sore, aku menerima sebuah surat.
Dari Bagas.
Aku membukanya perlahan.
Isinya hanya beberapa kalimat.
“Aku kehilangan wanita yang paling percaya kepadaku karena aku sendiri menghancurkan kepercayaan itu. Aku baru sadar, selama ini aku mengejar keberhasilan yang sudah kamu bangun sejak awal, tetapi aku kehilangan orang yang membuat semua keberhasilan itu mungkin.”
Aku melipat surat itu.
Tidak ada rasa ingin kembali.
Tidak ada kebencian.
Hanya ada rasa lega.
Karena terkadang akhir sebuah pernikahan bukanlah akhir dari hidup seseorang.
Kadang itu adalah awal ketika seseorang akhirnya menemukan dirinya sendiri.
Aku memandang Kirana yang sedang bermain di ruang keluarga.
Delapan tahun aku menunggu kehadirannya.
Aku tidak tahu bahwa hadiah terbesar dari kelahirannya bukan hanya seorang anak.
Tetapi juga kebenaran yang akhirnya membuka mataku.
Dan sejak hari itu, aku berjanji satu hal.
Aku tidak akan pernah lagi membiarkan siapa pun membuatku merasa kecil hanya karena aku pernah mencintai mereka.
