Aku menatap pesan itu lama sekali sampai layar ponselku perlahan meredup.
Rp740 juta.
Tujuh ratus empat puluh juta rupiah.
Jumlah yang bahkan tidak pernah kubayangkan bisa menjadi tanggung jawabku, apalagi tanpa sepengetahuanku.

Tanganku gemetar saat membuka kembali semua dokumen di dalam map plastik itu. Setiap lembar terasa seperti pukulan baru yang menghantam kepalaku.
Ada salinan perjanjian kredit. Ada surat penjaminan. Ada fotokopi kartu keluarga. Bahkan ada bukti transfer uang muka rumah senilai puluhan juta rupiah yang berasal dari rekening tempat seluruh gajiku masuk setiap bulan.
Rekening yang selama lima tahun terakhir tidak pernah benar-benar kukendalikan.
Rekening yang selalu kukira aman karena dipegang oleh ibuku sendiri.
Aku berjalan menuju kamar, tetapi langkahku berhenti di depan pintu yang masih terkunci.
“Maya.”
Tidak ada jawaban.
“Maya, buka pintunya.”
Beberapa detik kemudian terdengar suara pelan dari dalam.
“Ada apa?”
Aku menelan ludah.
“Aku menemukan sesuatu.”
“Kalau tentang uang, besok saja. Aku sudah terlalu lelah malam ini.”
Suaranya tidak marah. Justru terdengar seperti seseorang yang sudah terlalu lama kecewa hingga tidak punya tenaga untuk bertengkar.
“Maya, aku menemukan dokumen rumah Nisa.”
Hening.
Beberapa saat kemudian kunci pintu berputar.
Maya berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat. Matanya terlihat lelah, tetapi ketika melihat map di tanganku, ekspresinya berubah.
“Kamu sudah tahu?”
Aku mengangguk perlahan.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”
Maya tersenyum pahit.
“Karena aku ingin kamu melihat sendiri.”
Aku masuk ke kamar dan duduk di tepi ranjang.
“Berapa lama kamu tahu?”
“Sekitar dua minggu.”
“Dua minggu?”
“Iya.”
“Dan kamu diam saja?”
Maya menatapku.
“Arga, selama lima tahun aku hidup di rumah yang semua keputusan pentingnya dibuat oleh orang lain. Aku tidak tahu berapa gajimu yang sebenarnya tersisa. Aku tidak tahu berapa tabungan kita. Aku bahkan harus meminta izin untuk membeli obat ketika sakit.”
Air matanya mulai jatuh.
“Aku sudah mencoba memperingatkanmu berkali-kali. Tapi setiap kali aku bicara tentang Ibu, kamu selalu menganggap aku menyerang keluargamu.”
Aku menunduk.
Karena untuk pertama kalinya, aku tidak punya alasan untuk membantah.
Sejak kecil, aku memang selalu percaya bahwa ibuku adalah orang yang paling mengerti hidupku.
Ayah meninggal ketika aku baru masuk kuliah. Ibuku membesarkanku sendirian. Dia yang menjual perhiasannya agar aku bisa menyelesaikan pendidikan. Dia yang selalu berkata bahwa keluarga harus saling membantu.
Ketika aku mulai bekerja dan menikah dengan Maya, Ibu menawarkan diri untuk mengatur keuangan kami.
“Biar Ibu yang pegang. Kamu masih muda, sering tergoda membeli barang. Ibu simpan untuk masa depan kalian.”
Aku percaya.
Maya awalnya juga setuju.
Tapi perlahan, semua berubah.
Setiap kali kami ingin membeli sesuatu untuk rumah, harus bertanya.
Setiap kali Maya sakit, harus menghitung uang.
Namun aku selalu berpikir itu hanya bagian dari perjuangan membangun rumah tangga.
Aku tidak pernah menyadari bahwa selama ini aku menyerahkan kendali hidupku kepada orang lain.
Pagi berikutnya, aku langsung pergi ke rumah ibuku di Surabaya Barat.
Rumah itu berbeda jauh dari kontrakan kecilku bersama Maya.
Halaman luas. Garasi penuh kendaraan. Perabotan baru. Bahkan ada kolam kecil di belakang rumah.
Aku berdiri di depan pintu sambil menggenggam dokumen kredit.
Ibuku membuka pintu dengan senyum seperti biasa.
“Arga? Tumben pagi-pagi datang.”
Aku tidak menjawab salamnya.
“Ibu beli rumah untuk Nisa?”
Senyum ibu perlahan menghilang.
“Apa maksudmu?”
Aku mengangkat dokumen itu.
“Dengan uangku.”
Wajahnya berubah.
“Siapa yang memberikan dokumen itu kepadamu?”
“Jadi benar?”
Ibu menarik napas panjang.
“Arga, dengarkan Ibu dulu.”
“Lima tahun, Bu.”
Suaraku mulai bergetar.
“Lima tahun aku bekerja. Lima tahun aku percaya uangku disimpan untuk masa depanku. Tapi ternyata uang itu dipakai membeli rumah untuk Nisa?”
“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”
“Lalu seperti apa?”
Ibu terdiam.
Dari ruang tengah, Nisa keluar sambil membawa secangkir kopi.
“Kak?”
Dia melihat dokumen di tanganku dan langsung pucat.
“Kak Arga sudah tahu?”
Kalimat itu membuat dadaku semakin sesak.
Jadi mereka memang sudah menungguku mengetahui semuanya.
“Nisa, jelaskan.”
Adikku menunduk.
“Aku tidak pernah meminta Kakak membayar semuanya.”
“Tidak?”
Aku tertawa kecil tanpa humor.
“Rumah Rp685 juta itu dibeli menggunakan rekeningku. Kredit Rp740 juta memakai namaku sebagai penjamin. Kamu bilang tidak meminta?”
Nisa mulai menangis.
“Ibu yang mengurus semuanya.”
Aku menatap ibu.
“Kenapa?”
Ibuku duduk perlahan.
“Karena Nisa lebih membutuhkan bantuan.”
Aku tidak percaya apa yang kudengar.
“Lebih membutuhkan?”
“Ia punya anak kecil. Suaminya tidak stabil pekerjaannya.”
“Dan istriku yang sakit tumor tidak membutuhkan?”
Ibuku terdiam.
“Maya hampir kehilangan kesempatan operasi karena uangku dipakai untuk orang lain.”
“Jangan bicara seolah Nisa mencuri.”
“Aku tidak bilang dia mencuri. Aku bilang Ibu mengambil hakku tanpa izin.”
Suasana ruang tamu menjadi sunyi.
Kemudian ibu mengucapkan kalimat yang tidak pernah kusangka akan kudengar.
“Kamu harus mengerti, Arga. Laki-laki itu bukan hanya bertanggung jawab pada istri. Kamu juga punya kewajiban terhadap keluarga asalmu.”
Aku menatapnya.
“Apakah kewajiban itu berarti menghancurkan keluargaku sendiri?”
Tidak ada jawaban.
Hari itu aku mengambil langkah yang seharusnya kulakukan sejak lama.
Aku pergi ke bank.
Setelah menunjukkan dokumen yang kubawa, petugas bank memeriksa seluruh riwayat transaksi.
Hasilnya membuatku semakin hancur.
Selama tiga tahun terakhir, ada beberapa transfer besar dari rekeningku.
Bukan hanya untuk rumah Nisa.
Ada pembayaran mobil baru. Ada renovasi rumah ibu. Ada investasi kecil atas nama adikku.
Total uang yang keluar hampir mencapai satu miliar rupiah.
Dan semuanya terjadi tanpa persetujuanku.
Aku pulang sore hari dengan membawa laporan transaksi.
Maya sedang duduk di ruang makan. Di depannya ada obat-obatan dan dokumen rumah sakit.
“Apa yang terjadi?”
Aku duduk di hadapannya.
“Aku salah.”
Itu satu-satunya kalimat yang bisa keluar.
Maya menatapku lama.
“Aku tidak butuh kamu menyalahkan diri sendiri, Arga.”
“Aku membiarkan kamu berjuang sendirian.”
“Kamu tidak tahu.”
“Aku seharusnya tahu.”
Air mataku jatuh.
“Aku suamimu. Seharusnya aku yang menjaga kamu.”
Maya diam.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, dia menggenggam tanganku.
“Yang aku butuhkan bukan uangmu, Arga.”
“Lalu apa?”
“Kejujuran.”
Kalimat itu membuatku semakin merasa bersalah.
Aku kemudian mengurus pembatalan seluruh tanggung jawab kredit yang bisa dibatalkan, berkonsultasi dengan pihak hukum, dan meminta penjelasan resmi dari bank.
Hubunganku dengan ibu berubah total.
Bukan karena aku membencinya.
Tetapi karena aku akhirnya belajar bahwa mencintai keluarga tidak berarti membiarkan mereka mengambil semua yang kita miliki.
Beberapa minggu kemudian, Maya menjalani operasi.
Hari itu aku duduk di depan ruang operasi sambil menggenggam tangannya sebelum dokter membawanya masuk.
“Aku takut,” bisiknya.
“Aku juga.”
Dia tersenyum kecil.
“Tapi kali ini kamu ada di sini.”
Aku mengangguk.
“Iya. Dan aku tidak akan pergi lagi.”
Operasi berjalan selama beberapa jam.
Ketika dokter keluar dan mengatakan operasi berhasil, aku hampir tidak mampu berdiri karena lega.
Beberapa bulan kemudian, Maya mulai pulih.
Aku juga mengambil keputusan besar.
Aku memindahkan seluruh sistem keuanganku. Tidak ada lagi orang lain yang memegang kendali penuh atas penghasilanku. Aku tetap membantu ibu, tetapi dengan batas yang sehat.
Tentang Nisa, masalah kredit itu akhirnya selesai melalui proses panjang. Rumah tersebut dijual, sebagian utang dilunasi, dan Nisa harus belajar bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.
Suatu malam, hampir setahun setelah kejadian itu, aku dan Maya makan malam sederhana di rumah kontrakan yang sama.
Rumah itu masih kecil.
Atapnya masih kadang bocor.
Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar pulang.
Maya melihatku tersenyum.
“Kenapa?”
Aku melihat meja makan kami.
Dulu meja ini menjadi tempat aku marah karena tidak ada makanan.
Sekarang meja ini menjadi tempat kami berbagi cerita.
“Aku baru sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Rumah bukan tentang siapa yang punya bangunan paling besar.”
Maya tersenyum.
“Lalu?”
“Rumah adalah tempat di mana orang yang kita cintai merasa aman.”
Maya menggenggam tanganku.
Di luar, hujan turun perlahan membasahi jalanan Rungkut.
Dulu aku berpikir pengkhianatan terbesar adalah ketika seseorang mengambil uangku.
Ternyata bukan.
Pengkhianatan terbesar adalah ketika aku terlalu sibuk percaya pada orang lain sampai lupa menjaga orang yang selalu berdiri di sampingku.
