Empat bulan jauh dari rumah adalah waktu terpanjang dalam hidupku.
Dulu aku berpikir hal terburuk saat menjalankan tugas di wilayah perbatasan Kalimantan adalah tidur di tengah hutan, menghadapi hujan dingin yang menembus seragam, atau berdiri di hadapan bahaya tanpa tahu apakah aku masih bisa melihat matahari esok hari.
Ternyata aku salah.

Hal paling menyakitkan bukanlah apa yang terjadi di luar sana.
Melainkan saat aku pulang dan menemukan bahwa wanita yang paling kucintai telah disakiti oleh orang-orang yang seharusnya menjadi keluarganya sendiri.
Namaku Arga Pratama.
Aku seorang prajurit.
Dan pada hari kepulanganku, bukannya melihat senyum istriku yang selalu kurindukan, aku justru berdiri di depan ruang ICU, mendengar dokter mengucapkan kalimat yang membuat duniaku runtuh.
“Ada 31 bagian tulang istri Bapak yang mengalami retak dan patah. Saat dibawa ke sini, beliau sedang dalam kondisi hamil.”
Aku masih mengingat jelas perasaan saat itu.
Aku tidak menangis.
Bukan karena aku kuat.
Tetapi karena pikiranku tidak mampu menerima kenyataan.
Nadia.
Istriku.
Wanita yang selalu tersenyum setiap kali aku pulang dari tugas.
Wanita yang sering berdiri di depan pintu rumah sambil menyilangkan tangan, berpura-pura marah lalu berkata,
“Mas Arga, masih ingat jalan pulang ke rumah?”
Sepanjang perjalanan pulang, aku terus membayangkan momen itu.
Aku membayangkan Nadia akan memarahiku karena pulang tanpa memberi kabar.
Aku membayangkan dia berlari memelukku, meskipun tetap mengeluh bahwa aku selalu membuatnya khawatir.
Namun ketika aku membuka pintu rumah kami di Bintaro, yang menyambutku hanyalah kesunyian.
Pintu rumah terbuka.
Ruang tamu berantakan.
Satu kursi meja makan patah menjadi dua.
Lantai rumah masih memiliki bau cairan pembersih yang sangat kuat, seolah seseorang berusaha menghapus jejak dari sesuatu yang telah terjadi.
Nadia tidak ada di sana.
Seorang tetangga mengatakan ambulans baru saja membawa Nadia ke rumah sakit kurang dari satu jam sebelumnya.
Aku langsung pergi ke rumah sakit tanpa sempat mengganti sepatu dinas yang masih penuh debu perjalanan.
Dan di sanalah aku mengetahui kenyataan itu.
Nadia sedang hamil.
Aku berdiri di depan pintu ICU, menggenggam tangan sendiri begitu kuat hingga kuku jariku menekan kulit.
“Bagaimana dengan bayinya, Dok?”
Dokter diam beberapa detik sebelum menjawab.
“Detak jantung bayi masih ada. Tapi kondisi istri Bapak sangat serius. Kami harus melakukan pemantauan ketat.”
Aku menundukkan kepala.
Dua tahun.
Dua tahun Nadia dan aku mencoba memiliki seorang anak.
Setiap bulan ketika hasil pemeriksaan kembali mengecewakan, dia selalu berusaha terlihat baik-baik saja.
Dia tidak pernah menyalahkanku.
Tidak pernah mengeluh.
Dia hanya memelukku dan berkata,
“Mungkin Tuhan sedang menyiapkan waktu terbaik untuk kita.”
Dan sekarang, aku mengetahui bahwa aku akan menjadi seorang ayah dalam keadaan yang paling menyakitkan.
Aku menoleh ke lorong rumah sakit.
Keluarga Nadia berdiri di sana.
Ayahnya, Hendra Wijaya.
Dan tujuh saudara laki-lakinya.
Bima.
Dimas.
Reza.
Fajar.
Bayu.
Raka.
Ilham.
Keluarga Wijaya adalah salah satu keluarga terpandang di Jakarta.
Mereka memiliki perusahaan konstruksi besar, beberapa SPBU, gudang logistik, dan berbagai proyek properti.
Namun yang membuatku memperhatikan mereka bukanlah kekayaan atau nama besar mereka.
Melainkan sikap mereka.
Bima sibuk melihat ponselnya.
Reza berbicara sambil tersenyum dengan seorang pria berjas.
Pak Hendra duduk sambil menikmati kopi, seolah dia hanya sedang menunggu rapat bisnis.
Tidak ada yang menangis.
Tidak ada yang panik.
Tidak ada yang terlihat seperti seseorang yang baru saja mengetahui putrinya hampir kehilangan nyawa.
Hanya Ilham.
Anak paling muda di keluarga itu.
Dia berdiri di sudut lorong dengan kedua tangan gemetar.
Ketika mata kami bertemu, dia langsung mengalihkan pandangan.
Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku curiga.
Seorang penyidik mendekatiku.
“Pak Arga, sementara ini kami menduga kasus ini adalah pencurian dengan kekerasan.”
“Apa yang hilang?”
Dia membuka catatan.
“Kami masih melakukan pemeriksaan.”
“Mobil masih ada. Televisi masih ada. Laptop Nadia masih ada. Perhiasannya juga tidak hilang.”
Penyidik itu terdiam.
Aku menatapnya.
“Nadia bisa bela diri.”
Dia mengangkat kepala.
“Kalau orang asing masuk sendirian, dia pasti akan melawan.”
“Kami belum bisa mengambil kesimpulan.”
“Tangan Nadia tidak memiliki luka gores.”
Dia kembali diam.
“Artinya dia tidak sempat melawan. Atau orang yang menyerangnya lebih dari satu orang.”
Tatapan penyidik itu tanpa sadar bergerak ke arah keluarga Wijaya.
Hanya satu detik.
Tetapi aku melihatnya.
Malam itu aku kembali ke rumah.
Aku tidak mengatakan apa pun kepada siapa pun.
Aku berdiri di ruang makan, menatap meja lama yang dulu kupilih bersama Nadia.
Setahun lalu, ketika kami merenovasi rumah, Nadia pernah tertawa sambil menunjuk bagian bawah meja.
“Kalau suatu hari aku hilang, cari di sini dulu.”
Saat itu aku tertawa.
“Kamu terlalu banyak menonton film.”
Namun malam ini, aku berlutut.
Tanganku meraba bagian bawah meja.
Dan aku menemukan sebuah benda kecil yang ditempel dengan lakban hitam.
Sebuah alat perekam.
Jantungku langsung berdegup keras.
Aku menyalakannya.
Awalnya hanya terdengar suara langkah kaki.
Kemudian suara ayah Nadia terdengar.
“Tanda tangani saja, Nadia.”
Suara istriku menjawab.
“Tidak.”
“Kamu anak saya.”
“Justru karena saya anak Bapak, saya tahu apa yang Bapak lakukan.”
Aku menggenggam alat itu semakin erat.
Terdengar suara kertas diletakkan di atas meja.
Bima berbicara.
“Jangan membuat semuanya lebih sulit.”
Nadia menjawab.
“Kalian menggunakan nama Arga untuk transaksi yang bahkan dia tidak pernah tahu. Kalau penyelidikan itu masuk, kariernya bisa hancur.”
Tubuhku terasa dingin.
Pak Hendra berkata,
“Kalau kamu tanda tangan, semua masalah ini bisa selesai.”
“Tidak.”
Beberapa detik hening.
Lalu suara Nadia terdengar.
“Saya sudah hamil. Saya tidak mau anak saya tumbuh dari uang yang berasal dari sesuatu yang salah.”
Suasana dalam rekaman berubah.
Dimas bertanya,
“Jadi benar?”
Pak Hendra menjawab dengan tenang.
“Itu membuat semuanya menjadi lebih rumit.”
Aku berhenti bernapas.
Lalu suara Nadia terdengar lagi.
“Ilham, tolong kakak.”
Ada suara benda jatuh.
Suara orang-orang berdebat.
Suara langkah kaki.
Aku mendengarkan rekaman itu sampai selesai.
Hampir dua puluh menit.
Di bagian akhir, muncul satu nama.
Dokter Surya Pranata.
Dokter pribadi keluarga Wijaya.
“Detak jantung janin masih ada.”
Lalu suara Pak Hendra terdengar.
“Jangan sampai masalah ini sampai ke rumah sakit.”
Dokter Surya menjawab,
“Saya tidak bisa melakukan itu di sini.”
Pak Hendra berkata dingin,
“Saya tidak bertanya apakah Anda bisa atau tidak.”
Rekaman berhenti.
Aku duduk diam di lantai.
Aku ingin langsung membawa bukti itu ke polisi.
Namun ponselku bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Pesannya hanya satu.
“Kalau Mas ingin Nadia dan bayinya tetap aman, jangan serahkan rekaman itu kepada penyidik yang berjaga malam ini. Mereka sedang menunggu Mas melakukan itu.”
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Kemudian pesan kedua masuk.
“Dan jangan percaya semua orang yang tadi tersenyum di depan ICU.”
Aku menatap layar ponsel.
Dalam pikiranku muncul wajah-wajah mereka.
Bima.
Dimas.
Reza.
Fajar.
Bayu.
Raka.
Pak Hendra.
Dan Ilham.
Namun satu pertanyaan terus menggangguku.
Jika Ilham yang mengirim pesan itu…
Kenapa dia tidak mengatakan kebenarannya sejak awal?
Pagi berikutnya aku kembali ke rumah sakit.
Nadia masih belum sadar.
Aku duduk di luar ICU, menatapnya melalui kaca.
Wanita itu menanggung semuanya sendirian.
Bukan karena dia lemah.
Tetapi karena dia berusaha melindungiku.
Beberapa saat kemudian Ilham datang.
Dia berdiri di depanku cukup lama.
Akhirnya dia menundukkan kepala.
“Mas Arga.”
“Kenapa?”
Hanya satu kata.
Namun wajah Ilham langsung berubah.
“Kenapa kamu tahu semuanya tapi tidak menyelamatkan kakakmu lebih cepat?”
Air mata mulai jatuh dari matanya.
“Karena saya pengecut.”
Aku diam.
“Saya sudah lama tahu tentang apa yang dilakukan ayah dan kakak-kakak saya. Tapi saya takut. Saya pikir kalau saya melawan mereka, saya akan kehilangan semuanya.”
Dia mengeluarkan ponselnya.
“Saya punya salinan semua dokumen.”
Aku melihat layar.
Transaksi.
Kontrak palsu.
Aliran uang melalui perusahaan-perusahaan perantara.
Dan satu hal yang membuatku membeku.
Namaku.
Tanda tanganku.
Tetapi itu bukan tanda tanganku.
“Mereka ingin menjadikan Mas sebagai korban,” kata Ilham.
“Kenapa?”
“Karena Mas adalah satu-satunya orang di luar keluarga yang dipercaya Nadia. Dan mereka pikir seorang prajurit tidak akan pernah mencurigai keluarga istrinya sendiri.”
Aku melihat kembali ke ruang ICU.
Tanganku mengepal.
Aku pernah bertarung di perbatasan.
Pernah menghadapi musuh bersenjata.
Namun aku tidak pernah membayangkan bahwa pertarungan tersulit dalam hidupku justru dimulai dari dalam keluarga sendiri.
Tiga hari kemudian, Nadia sadar.
Hal pertama yang dia tanyakan bukan tentang dirinya.
Tetapi tentang aku.
“Arga… kamu sudah tahu?”
Aku menggenggam tangannya.
“Aku sudah tahu semuanya.”
Air matanya langsung jatuh.
“Maaf.”
“Untuk apa?”
“Karena aku menyembunyikannya darimu.”
Aku menggeleng.
“Tidak. Kamu sedang melindungiku.”
Nadia terdiam.
Kemudian dia berkata pelan,
“Aku takut kalau kamu tahu, kamu akan kembali melawan mereka. Aku takut kehilangan kamu.”
Aku menatap wanita di depanku.
Wanita yang terluka, tetapi masih memikirkan keselamatanku.
Aku menunduk dan mencium tangannya.
“Kali ini, biarkan aku yang melindungimu.”
Dua minggu kemudian, seluruh kebenaran akhirnya terbuka.
Namun hal yang paling mengejutkan bukanlah dokumen keuangan atau bukti penipuan.
Melainkan orang pertama yang datang untuk mengaku.
Bukan aku.
Bukan polisi.
Melainkan Hendra Wijaya.
Dia datang sendiri ke kantor penyidik.
Dia mengakui semua perbuatannya.
Karena malam sebelumnya, Nadia mengirim pesan kepadanya.
Hanya satu kalimat.
“Ayah bisa kehilangan uang, perusahaan, dan nama baik. Tapi kalau Ayah tetap diam, Ayah akan kehilangan hak untuk disebut seorang ayah.”
Saat itu aku baru memahami sesuatu.
Ada orang yang tidak berubah karena takut pada hukum.
Mereka berubah ketika harus berhadapan dengan orang yang pernah mereka sakiti.
Beberapa bulan kemudian, Nadia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat.
Saat pertama kali aku menggendong anak kami, aku teringat hari ketika aku berdiri di depan ICU.
Hari ketika aku merasa kehilangan segalanya.
Ternyata di saat paling gelap dalam hidupku, aku masih memiliki dua hal paling berharga.
Seorang istri yang luar biasa kuat.
Dan seorang anak yang memulai hidupnya dengan sebuah kisah tentang keberanian dan kebenaran.
Dulu aku berpikir kemenangan terbesar seorang prajurit adalah mengalahkan musuh.
Namun setelah semua yang terjadi, aku mengerti.
Kemenangan terbesar adalah tetap menjaga kepercayaan dari orang yang kita cintai, bahkan ketika seluruh dunia berbalik melawan mereka.
