Aku menolak menerima kembali anak yang telah kucari selama lima belas tahun. Bukan karena rasa sayangku telah habis, melainkan karena ada satu janji yang tak mungkin kulanggar.

Aku menolak menerima kembali anak yang telah kucari selama lima belas tahun. Bukan karena rasa sayangku telah habis, melainkan karena ada satu janji yang tak mungkin kulanggar.

Cahaya neon merah dari minimarket di seberang jalan menembus kaca jendelaku yang berdebu. Sinarnya membelah ruang tamu menjadi dua bagian yang kontras. Separuh terang, separuh lagi tenggelam dalam bayangan.

Persis seperti sisa hidupku.

Ketukan di pintu terdengar pelan.

Sangat pelan, tetapi cukup untuk membuat jantungku seperti berhenti berdetak.

Aku memutar kenop pintu. Udara malam yang lembap langsung menerpa wajahku.

Di sana dia berdiri.

Seorang remaja laki-laki jangkung mengenakan seragam sekolah swasta elit. Kemejanya sedikit kebesaran, ujung celananya basah terkena gerimis. Tangannya gemetar menggenggam sebuah foto kusam.

Mata itu.

Mata cokelat terang yang persis seperti mata almarhum ayahnya.

“Ibu?”

Suaranya parau.

Duniaku berhenti.

Lima belas tahun aku mencarinya. Mendatangi panti asuhan, membayar detektif swasta, menyusuri rumah sakit dan kantor catatan sipil hanya untuk mengetahui apakah anakku masih hidup.

Sekarang dia berdiri kurang dari satu meter dariku.

“Siapa kamu?”

Entah dari mana aku mendapatkan kekuatan untuk mengucapkannya sedingin itu.

“Ini aku, Bu. Arya.”

Dia melangkah maju.

“Aku nyari Ibu ke mana-mana. Bertahun-tahun aku diam-diam bayar orang buat melacak alamat di belakang foto ini. Ibu… kenapa Ibu ninggalin aku?”

Tangannya terulur hendak menyentuh lenganku.

Aku mundur.

“Kamu salah alamat, Anak Muda.”

“Nggak mungkin!”

Arya menyodorkan foto itu.

“Ini Ibu, kan? Pihak rumah sakit kasih foto ini ke aku waktu umurku delapan belas bulan!”

Aku menatap foto tersebut.

Foto yang selama lima belas tahun menghantuiku.

Aku sedang duduk di ranjang rumah sakit dengan Arya kecil dalam pelukanku. Di sebelahku berdiri suamiku, Bima, tersenyum lebar.

Foto keluarga terakhir kami.

“Dari mana kamu dapat alamat rumah ini?”

“Dari seseorang bernama Pak Surya.”

Darah di wajahku seperti menghilang.

“Siapa?”

“Surya Adinata.”

Aku mencengkeram sisi pintu.

Nama itu seharusnya sudah terkubur bersama masa laluku.

Arya menatapku bingung.

“Dia bilang kalau aku mau tahu siapa orang tua kandungku, aku harus cari Ibu.”

Aku ingin menutup pintu.

Namun Arya menahannya.

“Tolong, Bu.”

Suaranya melemah.

“Aku cuma pengin tahu kenapa.”

Aku menatap wajah anakku lama sekali.

Ada luka di sana yang sangat kukenal. Luka seorang anak yang tumbuh dengan pertanyaan mengapa dirinya tidak diinginkan.

Aku pernah membayangkan pertemuan kami ribuan kali.

Dalam semua bayanganku, aku selalu memeluknya.

Malam ini, aku justru berkata, “Pulanglah.”

Wajahnya runtuh.

“Jadi benar Ibu ibuku?”

Aku tidak menjawab.

Air mata jatuh di pipinya.

“Kalau Ibu benci aku, bilang aja.”

“Aku tidak membencimu.”

Kalimat itu lolos sebelum sempat kutahan.

Arya terdiam.

Aku pun sadar telah melakukan kesalahan.

“Berarti Ibu memang kenal aku.”

Aku menutup mata.

Lima belas tahun menyimpan rahasia, hancur hanya dalam empat kata.

Akhirnya aku membuka pintu lebih lebar.

“Masuk.”

Arya duduk di sofa kecil ruang tamuku. Matanya berkeliling melihat rumah kontrakan sederhana yang hanya berisi televisi lama, rak buku, dan beberapa perabot murah.

Aku membuat teh meskipun tanganku gemetar.

“Kenapa Ibu hidup seperti ini?”

Aku meletakkan gelas di depannya.

“Memangnya aku harus hidup bagaimana?”

Arya menunduk.

“Aku pikir…”

“Kamu pikir ibu kandungmu pasti kaya karena bisa menyekolahkanmu di tempat semahal itu?”

Dia langsung menggeleng.

“Bukan begitu.”

“Lalu siapa yang membesarkanmu?”

Arya diam beberapa detik.

“Keluarga Adinata.”

Jantungku berdegup keras.

“Pak Surya?”

“Bukan. Kakaknya. Pak Hendra dan Bu Laras.”

Aku mengenal kedua nama itu.

Mereka adalah keluarga yang mengambil anakku dariku.

Atau setidaknya, itulah yang selama ini kupercaya.

Arya mulai bercerita. Hendra dan Laras mengadopsinya secara resmi ketika dia berusia dua tahun. Mereka membesarkannya di Jakarta Selatan, memberinya pendidikan terbaik dan tidak pernah menyembunyikan fakta bahwa dia anak angkat.

“Papa sama Mama baik,” katanya. “Aku sayang mereka. Tapi sejak kecil aku selalu penasaran sama satu hal.”

“Apa?”

“Kenapa ibu kandungku nggak pernah datang?”

Pertanyaan itu menusuk tepat ke luka yang tak pernah sembuh.

Aku berdiri dan berjalan menuju lemari.

Dari laci paling bawah, aku mengeluarkan kotak kayu.

Di dalamnya ada lima belas lilin ulang tahun yang belum pernah dinyalakan.

Satu untuk setiap ulang tahunnya yang kulewatkan.

Ada pula guntingan koran, fotokopi dokumen, kuitansi pembayaran detektif, dan puluhan surat yang tak pernah terkirim.

Aku meletakkan semuanya di meja.

Arya menatapnya.

Tangannya mengambil sebuah surat.

Pada amplop tertulis namanya.

Untuk Arya, ulang tahun ke-7.

Lalu surat lain.

Untuk Arya, ulang tahun ke-12.

Kemudian satu lagi.

Untuk Arya, kalau suatu hari kamu menemukan Ibu.

Bibirnya bergetar.

“Ibu nyari aku?”

“Setiap hari.”

“Terus kenapa sekarang Ibu nyuruh aku pergi?”

Aku duduk di hadapannya.

“Karena ayahmu.”

Arya membeku.

“Ayah kandungku?”

“Namanya Bima Prasetyo.”

Aku mengambil foto lain.

Bima sedang menggendong Arya yang baru lahir.

“Dia meninggal waktu kamu delapan belas bulan.”

Arya menatap foto itu lama.

“Karena apa?”

“Kecelakaan mobil.”

Itulah jawaban yang selama ini dipercaya semua orang.

Namun bukan seluruh kebenarannya.

Malam sebelum kecelakaan, Bima pulang dengan wajah pucat. Saat itu dia bekerja sebagai auditor internal perusahaan milik keluarga Adinata.

Dia menemukan transaksi ilegal bernilai puluhan miliar rupiah.

Uang perusahaan dialihkan melalui perusahaan fiktif.

Bima berniat melaporkannya.

Seseorang mengetahuinya.

Malam itu dia memberiku sebuah flashdisk.

“Kalau terjadi sesuatu sama aku, jangan percaya siapa pun dari keluarga Adinata.”

Dua hari kemudian mobilnya jatuh ke jurang di kawasan Puncak.

Polisi menyebutnya kecelakaan.

Seminggu setelah pemakaman, rumah kami dibobol.

Tidak ada barang berharga yang hilang.

Hanya flashdisk itu.

Lalu Arya menghilang.

Saat itu aku sedang dirawat di rumah sakit karena pingsan akibat kelelahan dan trauma. Ketika sadar, ranjang bayi di sampingku kosong.

Pihak rumah sakit mengatakan seorang kerabat telah membawanya.

Aku tidak pernah memberikan izin.

“Aku cari kamu sampai hampir gila,” kataku. “Tapi semua dokumenmu berubah. Nama lengkapmu diganti. Data kelahiranmu dipindahkan.”

Arya berdiri.

“Nggak mungkin Papa Hendra melakukan itu.”

“Aku tidak bilang dia pelakunya.”

“Tapi Ibu nuduh keluarganya!”

“Aku hanya mengatakan apa yang terjadi.”

Arya menggeleng keras.

“Aku kenal Papa. Dia nggak mungkin menculik anak orang.”

“Arya.”

“Nggak!”

Dia mengambil tasnya.

“Aku datang ke sini karena kupikir akhirnya aku punya jawaban. Ternyata Ibu cuma mau bikin aku benci keluarga yang membesarkanku.”

Dia menuju pintu.

Lalu ponselnya berdering.

Nama di layar membuatku terpaku.

Papa.

Arya mengangkatnya.

“Halo, Pa?”

Suara laki-laki terdengar samar.

“Kamu di mana?”

Arya melirikku.

“Di rumah teman.”

“Arya, jangan bohong. Papa tahu kamu menemui Ratih.”

Tubuhku menegang.

Arya juga membeku.

Hendra melanjutkan.

“Jangan pergi ke mana-mana. Papa jemput.”

Telepon terputus.

Kurang dari dua puluh menit kemudian sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.

Hendra turun.

Usianya sudah hampir enam puluh tahun. Rambutnya memutih, tetapi wajah itu masih sama seperti yang kulihat lima belas tahun lalu di kantor polisi.

Dia masuk tanpa banyak bicara.

Tatapannya jatuh kepadaku.

“Ratih.”

“Hendra.”

Arya berdiri di antara kami.

“Papa kenal Ibu?”

Hendra tidak menjawab.

“Pa?”

Akhirnya dia menghela napas.

“Kenal.”

Arya mundur selangkah.

“Jadi semua ini benar?”

“Tidak semuanya.”

Hendra menatapku.

“Ratih tidak tahu seluruh kejadiannya.”

Aku tertawa getir.

“Anakku hilang setelah suamiku mati. Apa lagi yang perlu kuketahui?”

“Bahwa Bima sendiri yang meminta kami mengambil Arya.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Aku menatapnya.

“Kamu bohong.”

Hendra membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah amplop plastik.

Di dalamnya terdapat selembar surat.

Tulisan tangan Bima.

Aku mengenali setiap lengkung hurufnya.

Ratih, kalau kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah gagal pulang.

Tanganku mulai gemetar.

Aku terus membaca.

Jika mereka mengetahui bukti yang kusimpan, kamu dan Arya akan menjadi sasaran berikutnya. Hendra satu-satunya orang di keluarga Adinata yang membantuku. Kalau aku mati, biarkan dia membawa Arya. Jangan cari anak kita sampai orang yang bertanggung jawab benar-benar tidak bisa menyentuh kalian lagi.

Aku menjatuhkan surat itu.

“Tidak.”

Hendra menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Bima membuatku berjanji.”

Aku menggeleng.

“Kenapa tidak pernah memberitahuku?”

“Karena orang yang membunuh Bima masih mengawasimu.”

“Siapa?”

Hendra tidak sempat menjawab.

Arya tiba-tiba berkata, “Pak Surya.”

Kami menoleh kepadanya.

Wajah Arya pucat.

“Dia yang kasih alamat Ibu.”

Hendra langsung mengeluarkan ponsel.

“Kapan kamu ketemu dia?”

“Tiga hari lalu.”

“Apa dia tahu kamu datang ke sini?”

Arya tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Hendra menarik tirai jendela.

“Matikan lampu.”

Aku merasa kembali ke lima belas tahun lalu.

Namun sebelum siapa pun bergerak, suara mobil terdengar berhenti di luar.

Hendra melihat melalui celah tirai.

Wajahnya berubah.

“Dia datang.”

Surya mengetuk pintu.

Tidak keras.

Tiga kali.

Hendra menyuruh kami tetap diam, lalu membuka pintu.

Surya berdiri sendirian.

Usianya lebih dari enam puluh, mengenakan kemeja mahal dan membawa payung hitam.

“Akhirnya keluarga kecil ini berkumpul.”

Aku menatapnya.

“Kamu yang membunuh Bima?”

Surya tersenyum tipis.

“Bima terlalu idealis.”

Arya menatapnya tak percaya.

“Om yang bilang aku harus mencari Ibu.”

“Benar.”

“Kenapa?”

Surya memandang Hendra.

“Karena selama lima belas tahun kakakku menyimpan sesuatu yang seharusnya menjadi milikku.”

Hendra mengepalkan tangan.

“Perusahaan?”

“Bukti.”

Surya tersenyum.

“Bima tidak hanya punya satu salinan.”

Aku terdiam.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Malam sebelum meninggal, Bima memasang kalung kecil di leher Arya.

Liontin berbentuk kompas.

Aku selalu menganggapnya hadiah.

Mataku berpindah ke leher Arya.

Kalung itu masih ada.

Hendra juga menyadarinya.

“Arya, kalungmu.”

Arya memegang liontin tersebut.

Surya melangkah maju.

“Berikan.”

Hendra menghadangnya.

Surya mengeluarkan pistol kecil dari balik jaket.

Aku membeku.

“Jangan buat semuanya lebih sulit.”

Arya mundur.

Lalu suara sirene terdengar dari kejauhan.

Surya menoleh panik.

Hendra tersenyum.

“Aku menelepon polisi sebelum masuk rumah.”

Wajah Surya berubah.

Dia mencoba kabur, tetapi dua mobil polisi sudah berhenti di depan gang.

Malam itu rahasia lima belas tahun akhirnya terbuka.

Di dalam liontin Arya terdapat kartu memori kecil yang dibungkus plastik kedap air. Isinya salinan laporan transaksi, rekaman percakapan, serta bukti bahwa Surya memerintahkan sabotase mobil Bima.

Hendra selama bertahun-tahun sebenarnya mengumpulkan bukti tambahan, menunggu sampai kasus itu cukup kuat untuk dibuka kembali.

Beberapa bulan kemudian Surya ditahan.

Kasus kematian Bima kembali diselidiki.

Dan untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, aku berdiri di makam suamiku bersama Arya.

Gerimis turun tipis.

Arya meletakkan bunga di atas batu nisan.

“Jadi Ayah yang minta Ibu nggak nyari aku?”

Aku menggeleng.

“Tidak. Dia meminta aku membiarkanmu pergi kalau Hendra datang.”

Aku menatap nama Bima yang terukir di batu.

“Tapi aku melanggar permintaan itu selama lima belas tahun. Aku tetap mencarimu.”

Arya menatapku.

“Lalu janji apa yang Ibu bilang nggak mungkin dilanggar?”

Aku terdiam.

Kemudian kukeluarkan sebuah surat lain.

Surat terakhir Bima yang ditemukan Hendra bersama dokumen lama.

Di bagian paling bawah terdapat satu kalimat yang membuatku akhirnya mengerti.

Ratih, kalau suatu hari Arya kembali kepadamu, jangan pernah memintanya memilih antara kamu dan orang tua yang telah membesarkannya. Cintai dia tanpa mengambil keluarga yang sudah dia miliki.

Aku menyerahkan surat itu kepada Arya.

“Makanya malam itu aku menolakmu.”

Air mataku jatuh.

“Aku takut kalau aku menerimamu sebagai anakku, kamu merasa harus meninggalkan mereka. Aku sudah kehilangan lima belas tahun bersamamu. Aku tidak mau merebut lima belas tahun hidupmu bersama orang lain hanya untuk mengganti kehilangan itu.”

Arya membaca kalimat tersebut berkali-kali.

Kemudian dia memelukku.

Untuk pertama kalinya.

Aku mencium aroma rambutnya, merasakan tubuh anak kecil yang selama bertahun-tahun hanya bisa kupeluk dalam mimpi kini benar-benar berada dalam pelukanku.

“Aku nggak perlu memilih, Bu.”

Aku menangis di bahunya.

Arya melepaskan pelukan dan tersenyum kecil.

“Aku punya Mama Laras yang membesarkanku.”

Dia menggenggam tanganku.

“Dan aku punya Ibu yang nggak pernah berhenti mencariku.”

Di belakang kami terdengar langkah kaki.

Hendra dan Laras datang membawa payung.

Laras berhenti beberapa meter dariku. Matanya sembap. Selama bertahun-tahun aku membenci perempuan itu karena kukira dia telah mencuri anakku.

Kini aku tahu dia justru mempertaruhkan hidupnya untuk membesarkan Arya.

Kami saling menatap.

Tidak ada yang tahu harus berkata apa.

Akhirnya Laras mendekat.

“Arya selalu suka rendang,” katanya pelan. “Tapi dia benci kalau terlalu pedas.”

Aku tertawa di tengah tangis.

“Waktu bayi dia juga begitu. Buburnya kena sedikit merica saja langsung menangis.”

Arya mengusap wajahnya.

“Kenapa malah ngomongin aku?”

Kami tertawa.

Untuk pertama kalinya, makam Bima tidak terasa seperti tempat yang hanya menyimpan kematian.

Aku memandang foto suamiku pada batu nisan.

Lima belas tahun lalu aku mengira janji adalah sesuatu yang memisahkan seorang ibu dari anaknya.

Ternyata aku salah.

Janji terakhir Bima bukan meminta kami hidup berjauhan.

Dia hanya ingin memastikan bahwa ketika kebenaran akhirnya ditemukan, tidak ada cinta yang harus dihancurkan untuk memberi tempat bagi cinta yang lain.

Aku tidak mendapatkan kembali lima belas tahun yang hilang.

Tidak ada seorang pun yang bisa mengembalikannya.

Aku juga tidak mendapatkan kembali anak kecil yang dulu direnggut dari pelukanku.

Yang berdiri di sampingku sekarang adalah seorang pemuda dengan kehidupan, keluarga, kenangan, dan luka miliknya sendiri.

Dan akhirnya aku mengerti.

Menjadi ibu bukan berarti memiliki seluruh hidup seorang anak.

Kadang-kadang menjadi ibu berarti tetap mencintainya bahkan ketika kita hanya diberi tempat kecil di dalam hidupnya.

Arya menggenggam tanganku lebih erat.

“Ayo pulang, Bu.”

Aku menatapnya.

“Pulang ke mana?”

Dia tersenyum sambil melihat Hendra dan Laras, kemudian kembali menatapku.

“Ke rumah kita.”

Saat itulah aku sadar bahwa selama lima belas tahun aku selalu mengira rumah adalah tempat seseorang kembali.

Padahal rumah bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Tempat di mana tidak ada seorang pun lagi yang harus memilih siapa yang boleh mereka cintai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang