SEPULUH TAHUN IA MEMILIH TIDAK PULANG, BAHKAN KETIKA IBUNYA MENINGGAL DAN ANAKNYA MEMOHON AGAR IA DATANG. SEMUA UANG YANG BISA IA SISAKAN DIKIRIM KE INDONESIA, SAMPAI IA SENDIRI TAK PUNYA TABUNGAN UNTUK MASA TUANYA. KETIKA AKHIRNYA IA PULANG, TAK SEORANG PUN MENJEMPUTNYA DI BANDARA. DAN BEBERAPA JAM KEMUDIAN, SEBUAH NAMA YANG TERDENGAR DARI PENGERAS SUARA MEMBUAT LUTUTNYA MENDADAK LEMAS.

Pria berseragam itu berhenti beberapa meter dari kursi 12A.

Marni menatapnya tanpa berkedip.

Untuk beberapa detik, suara mesin pesawat seolah menghilang. Yang terdengar hanya detak jantungnya sendiri, begitu keras sampai telinganya berdenging.

Pria itu mengenakan seragam pilot. Tubuhnya tinggi dan tegap. Rambutnya dipotong pendek, wajahnya jauh lebih dewasa daripada sosok terakhir yang tersimpan dalam ingatan Marni.

Namun mata itu tidak mungkin salah.

Mata yang dahulu selalu menunduk setiap kali ketahuan berbohong.

Mata yang pernah menangis di pinggangnya sepuluh tahun lalu.

“Dimas?”

Nama itu keluar begitu pelan.

Pria tersebut tersenyum, tetapi matanya langsung berkaca-kaca.

“Iya, Bu.”

Kedua tangan Marni gemetar.

“Dimas…”

Beberapa penumpang mulai menoleh. Tak seorang pun berbicara.

Dimas menarik napas.

“Maaf aku tidak menjemput Ibu di bandara.”

Marni berdiri begitu cepat hingga foto di tangannya jatuh ke lantai.

Ia tidak peduli.

Ia berjalan ke arah putranya, lalu berhenti tepat di hadapannya seperti masih belum yakin bahwa laki-laki berseragam pilot itu benar-benar anak yang selama sepuluh tahun hanya dikenalnya melalui layar telepon.

Tangannya terangkat perlahan.

Telapak tangannya menyentuh pipi Dimas.

“Kamu… pilot?”

Dimas tertawa kecil sambil menangis.

“Sudah tiga tahun, Bu.”

Marni langsung memukul pelan dada anaknya.

“Tiga tahun?”

Dimas mengangguk.

“Kamu bohong sama Ibu selama tiga tahun?”

“Bukan bohong.”

“Lalu apa?”

“Aku cuma ingin Ibu melihatnya sendiri.”

Marni memukul dadanya sekali lagi, tetapi kali ini tangannya tidak pernah turun.

Ia justru menarik tubuh Dimas ke dalam pelukannya.

Tangisnya pecah.

Sepuluh tahun kerinduan yang selama ini ditahan melalui panggilan video, pesan singkat, dan foto akhirnya runtuh dalam beberapa detik.

Dimas memeluk ibunya erat.

“Maaf, Bu.”

Marni menangis di bahunya.

“Kamu jahat.”

“Iya.”

“Ibu kira kamu sudah lupa.”

“Nggak mungkin.”

“Ibu pikir kamu malu punya ibu seperti Ibu.”

Dimas langsung melepaskan pelukannya.

“Jangan pernah bilang begitu lagi.”

Suasana kabin begitu sunyi sehingga kalimat itu terdengar sampai beberapa baris belakang.

Dimas mengambil foto yang jatuh, lalu menyerahkannya kembali kepada ibunya.

“Sepuluh tahun lalu, Ibu pergi karena ingin aku punya masa depan. Hari ini aku ingin orang pertama yang aku bawa pulang sebagai pilot dalam penerbangan ini adalah Ibu sendiri.”

Beberapa penumpang mulai bertepuk tangan.

Marni menutup mulut dengan tangan.

Seorang pramugari yang berdiri di dekat pintu ikut mengusap matanya.

Namun kebahagiaan itu segera bercampur dengan kebingungan.

Marni menatap seragam putranya.

“Tapi biaya sekolah pilot mahal sekali. Uang yang Ibu kirim tidak mungkin cukup.”

Senyum Dimas perlahan menghilang.

“Ada banyak hal yang belum Ibu tahu.”

“Apa?”

Dimas melirik jam.

“Nanti setelah kita mendarat, aku ceritakan.”

Marni ingin bertanya lagi, tetapi Dimas harus kembali ke kokpit.

Sebelum pergi, ia menggenggam tangan ibunya.

“Satu hal dulu.”

“Apa?”

“Terima kasih sudah pulang.”

Pesawat mulai bergerak.

Marni kembali duduk di kursi 12A dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Untuk pertama kalinya selama sepuluh tahun, ia tidak merasa sedang meninggalkan sesuatu.

Ia sedang pulang.

Sepanjang penerbangan, Marni berkali-kali memandang keluar jendela. Di balik awan yang memutih, pikirannya kembali pada semua tahun yang telah berlalu.

Ia teringat saat Dimas menelepon mengatakan ingin masuk sekolah penerbangan.

Marni sempat menentangnya.

“Kita bukan orang kaya, Mas.”

“Aku coba dulu, Bu.”

Beberapa bulan kemudian Dimas mengatakan rencananya gagal dan memilih kuliah di bidang lain.

Ternyata itu tidak benar.

Saat pesawat akhirnya mendarat di Surabaya, Marni hampir berdiri sebelum lampu sabuk pengaman dimatikan.

Namun ketika pintu pesawat terbuka, Dimas belum muncul.

Seorang pramugari menghampirinya.

“Ibu Marni, boleh menunggu sebentar?”

Marni mengangguk.

Penumpang satu per satu turun.

Ketika kabin hampir kosong, Dimas akhirnya keluar dari kokpit.

“Ayo, Bu.”

“Ke mana?”

“Pulang.”

Marni mengikuti anaknya melewati lorong bandara.

Tetapi semakin jauh mereka berjalan, semakin aneh perasaannya.

Dimas terlihat gugup.

“Mas.”

“Hm?”

“Kamu menyembunyikan apa lagi?”

Dimas tersenyum kaku.

“Sedikit.”

“Jangan bikin jantung Ibu copot.”

Mereka keluar dari terminal.

Marni sudah membayangkan akan melihat sepeda motor atau mobil sederhana milik Dimas.

Sebaliknya, seorang perempuan muda berdiri di dekat sebuah mobil sambil menggendong anak perempuan berusia sekitar tiga tahun.

Begitu melihat Dimas, anak kecil itu langsung berteriak.

“Ayah!”

Marni berhenti.

Wajahnya berubah.

Dimas memejamkan mata sesaat.

“Nah, ini bagian yang paling susah.”

Perempuan itu mendekat dengan gugup.

Dimas berdiri di antara mereka.

“Bu, kenalkan. Ini Rani.”

Perempuan itu mencium tangan Marni.

“Assalamualaikum, Bu.”

Marni menjawab salam dengan terbata.

Kemudian matanya turun kepada anak kecil yang bersembunyi di balik kaki Rani.

“Dan ini…” Dimas berjongkok. “Nara.”

Anak kecil itu menatap Marni dengan mata bulat.

Dimas berbisik kepadanya.

“Yang selama ini Ayah ceritakan.”

Nara langsung tersenyum.

“Nenek?”

Satu kata itu menghantam Marni lebih keras daripada kejutan di pesawat.

Ia menatap Dimas.

“Kamu sudah menikah?”

Dimas mengangguk pelan.

“Empat tahun.”

“Empat tahun?”

Marni mundur selangkah.

“Kamu punya anak dan tidak pernah bilang kepada Ibu?”

“Bu, dengar dulu.”

“Kenapa?”

Suara Marni meninggi.

“Kenapa semua orang merasa berhak menyembunyikan hidupnya dari Ibu?”

Rani langsung menunduk.

Dimas mencoba memegang lengan ibunya, tetapi Marni menepisnya.

“Ibu kerja sepuluh tahun di rumah orang. Ibu tidak pulang ketika nenekmu meninggal. Ibu tidak pulang waktu kamu sakit. Semua karena Ibu pikir uang itu yang kamu butuhkan.”

Air matanya jatuh.

“Ternyata Ibu bahkan tidak tahu anak Ibu sudah jadi ayah.”

Dimas terdiam.

Lalu ia berkata pelan.

“Karena aku takut Ibu tidak akan pernah pulang.”

Marni menatapnya.

“Apa maksudmu?”

“Setiap kali aku punya masalah, Ibu kirim uang. Setiap kali aku bilang biaya hidup naik, Ibu tambah kiriman. Kalau aku bilang sudah menikah dan punya anak, Ibu pasti berpikir harus mengirim lebih banyak.”

Marni membuka mulut, tetapi tidak mampu membantah.

Dimas melanjutkan.

“Bu, aku tidak mau hidup Ibu habis untuk membiayai hidupku.”

Marni terdiam.

Dimas mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi perbankan, lalu menunjukkan sesuatu.

Marni mengernyit.

“Itu apa?”

“Rekening Ibu.”

Marni melihat angka di layar.

Ia membacanya sekali.

Lalu sekali lagi.

Lebih dari satu miliar rupiah.

Marni menggeleng cepat.

“Bukan.”

“Itu punya Ibu.”

“Nggak mungkin.”

“Sebagian besar uang yang Ibu kirim selama enam tahun terakhir tidak pernah aku pakai.”

Marni menatap putranya seperti kehilangan kemampuan memahami bahasa.

“Lalu kuliahmu?”

“Aku dapat beasiswa.”

“Sekolah pilot?”

“Program beasiswa dan pembiayaan pendidikan. Aku juga kerja sambilan sebelum masuk pelatihan.”

“Tapi kamu selalu bilang butuh uang.”

Dimas menunduk.

“Awalnya memang iya. Tapi setelah kondisiku membaik, aku takut kalau bilang sudah tidak butuh, Ibu malah memberikan uang kepada orang lain atau memutuskan tetap bekerja karena merasa belum cukup.”

Marni hampir marah lagi.

Namun Dimas menggenggam kedua tangannya.

“Aku simpan semuanya atas nama Ibu.”

“Kenapa?”

“Karena aku tahu satu hal.”

Dimas memandang tangan ibunya yang kasar.

“Ibu selalu memikirkan masa depanku, tapi tidak pernah memikirkan masa tua Ibu sendiri.”

Marni menangis lagi.

Rani ikut mengusap air mata.

Nara yang tidak memahami percakapan orang dewasa tiba-tiba mendekati Marni dan menyodorkan boneka kecil.

“Jangan nangis, Nek.”

Marni berjongkok.

Untuk pertama kalinya ia memeluk cucunya.

Tubuh kecil itu terasa hangat.

Saat itulah ia menyadari sesuatu yang menyakitkan.

Sepuluh tahun mengejar masa depan telah membuatnya kehilangan begitu banyak masa kini.

Namun kejutan belum selesai.

Dalam perjalanan, Dimas tidak membawa mereka menuju apartemen.

Mobil justru memasuki sebuah kawasan perumahan sederhana di pinggiran kota.

Mereka berhenti di depan rumah satu lantai bercat putih.

Di teras terdapat pohon mangga muda.

Marni menatap rumah itu.

“Rumah siapa?”

Dimas menyerahkan sebuah kunci.

“Rumah Ibu.”

Marni tidak mengambilnya.

“Jangan bercanda.”

“Aku serius.”

Dimas menjelaskan bahwa rumah tersebut dibeli dua tahun lalu menggunakan sebagian tabungannya sendiri, bukan uang kiriman Marni.

“Kenapa atas nama Ibu?”

Dimas tersenyum.

“Karena dulu Ibu pernah bilang ingin punya rumah yang kalau hujan tidak perlu taruh ember di ruang tengah.”

Marni langsung teringat kontrakan lama mereka.

Atap bocor.

Dinding lembap.

Setiap musim hujan, mereka tidur sambil mendengarkan tetesan air jatuh ke baskom.

Marni mengambil kunci itu dengan tangan gemetar.

Namun saat pintu dibuka, ia kembali berhenti.

Di ruang tamu terdapat sebuah foto besar.

Bukan foto Dimas sebagai pilot.

Bukan foto pernikahannya.

Melainkan foto Marni ketika masih muda, mengenakan seragam pabrik dan menggendong Dimas yang masih bayi.

Di bawahnya terdapat sebuah bingkai kecil berisi tulisan.

Rumah Marni.

Tempat Ibu tidak perlu bekerja untuk siapa pun lagi.

Marni tidak mampu berdiri.

Ia duduk di lantai dan menangis.

Dimas ikut duduk di sampingnya.

Beberapa saat mereka tidak berbicara.

Kemudian Marni teringat sesuatu.

“Mas.”

“Iya?”

“Waktu Mbah meninggal…”

Dimas langsung terdiam.

Itulah luka terbesar Marni.

Tiga tahun sebelumnya, ibunya meninggal dunia.

Dimas menelepon dari Indonesia.

“Ibu pulang saja. Mbah selalu tanya Ibu.”

Namun saat itu Marni baru saja memperpanjang kontrak. Biaya tiket sangat mahal. Majikannya juga sedang sakit.

Marni memilih tidak pulang.

Sampai sekarang ia masih menyesal.

“Apa Mbah marah sama Ibu?”

Dimas menggeleng.

“Kalimat terakhir Mbah tentang Ibu bukan kemarahan.”

Marni menatapnya.

Dimas berdiri, mengambil sebuah kotak kayu dari lemari, lalu mengeluarkan ponsel lama.

“Aku belum pernah mengirim ini karena aku tahu Ibu akan langsung pulang dan menyalahkan diri sendiri.”

Ia membuka sebuah rekaman suara.

Suara perempuan tua terdengar lemah.

“Marni…”

Marni langsung menutup mulut.

Itu suara ibunya.

“Kalau kamu dengar ini, jangan merasa berdosa karena tidak pulang. Ibu tahu kamu di sana bukan karena tidak sayang. Tapi dengarkan Ibu. Anak tidak hanya butuh uang. Orang tua juga tidak hanya butuh uang. Kita semua butuh waktu.”

Marni menangis tanpa suara.

Rekaman berlanjut.

“Jangan tunggu sampai Dimas punya rambut putih baru kamu pulang.”

Rekaman berhenti.

Ruangan sunyi.

Marni memeluk ponsel itu ke dadanya.

Dimas duduk di sampingnya.

“Maaf aku menyimpannya terlalu lama.”

Marni menggeleng.

“Bukan kamu yang salah.”

Malam itu mereka makan bersama di lantai ruang tamu karena meja makan belum datang.

Rani memasak sayur asem dan ayam goreng. Nara duduk di pangkuan Marni sambil terus bertanya tentang pesawat.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Marni tidak memikirkan jam kerja.

Tidak ada obat majikan yang harus disiapkan.

Tidak ada lantai yang harus dipel.

Tidak ada alarm pukul empat pagi.

Hanya keluarganya.

Menjelang tidur, Dimas mengetuk pintu kamar.

“Bu.”

Marni menoleh.

“Ada satu pertanyaan.”

“Apa lagi? Masih ada rahasia?”

Dimas tertawa.

“Nggak.”

Ia duduk di tepi ranjang.

“Kontrak Ibu di Jeddah sudah selesai, kan?”

“Sudah.”

“Jangan balik lagi.”

Marni terdiam.

Selama sepuluh tahun, bekerja adalah satu-satunya cara ia memahami dirinya sendiri sebagai ibu.

Kalau tidak mengirim uang, lalu apa gunanya dirinya?

Seolah membaca pikirannya, Dimas berkata pelan.

“Selama ini Ibu mengira tugas seorang ibu adalah memastikan anaknya tidak kekurangan.”

Marni menatapnya.

“Memang.”

Dimas tersenyum.

“Sekarang tugas Ibu cuma satu.”

“Apa?”

“Hidup.”

Marni tertawa kecil sambil menangis.

Enam bulan kemudian, Marni tidak kembali ke Jeddah.

Ia membuka warung sarapan kecil di depan rumah, bukan karena membutuhkan uang, melainkan karena tidak betah diam.

Setiap pagi Nara sering datang sebelum sekolah dan berteriak dari pagar.

“Nenek!”

Kadang Dimas pulang dengan seragam pilotnya dan sengaja membeli nasi pecel dari warung ibunya meski makanannya gratis.

Marni selalu memaksanya membayar.

“Bisnis ya bisnis.”

Suatu pagi, ketika sedang membersihkan meja, Marni menemukan amplop cokelat di bawah piring Dimas.

Bentuknya persis seperti amplop di kursi 12A.

Di dalamnya ada tiket pesawat.

Marni langsung menelepon putranya.

“Dimas! Ini apa lagi?”

Suara Dimas tertawa dari seberang.

“Liburan.”

“Ke mana?”

“Jeddah.”

Marni terdiam.

“Untuk apa Ibu kembali ke sana?”

“Bukan kembali untuk bekerja.”

Dimas menjawab pelan.

“Kali ini Ibu pergi sebagai tamu. Aku mau Ibu melihat kota tempat Ibu menghabiskan sepuluh tahun hidup tanpa harus membersihkan rumah siapa pun.”

Marni menatap tiket itu lama.

Nama penumpangnya tertulis jelas.

Marni.

Untuk pertama kalinya, tiket perjalanan yang ada di tangannya tidak dibeli untuk meninggalkan keluarga demi mencari uang.

Tiket itu dibeli oleh seorang anak yang akhirnya memahami pengorbanan ibunya, untuk mengembalikan sesuatu yang tidak pernah bisa disimpan di rekening mana pun.

Waktu.

Marni menatap foto lama dirinya dan Dimas yang kini dipajang di dinding warung.

Ia akhirnya memahami pesan terakhir ibunya.

Selama bertahun-tahun ia mengira cinta terbesar adalah memberikan sebanyak mungkin.

Ternyata cinta juga berarti mengetahui kapan harus berhenti berkorban.

Sebab uang yang hilang masih bisa dicari.

Rumah yang rusak masih bisa dibangun.

Tabungan yang habis masih bisa dikumpulkan kembali.

Tetapi ada satu hal yang bahkan seorang anak yang telah menjadi pilot dan mampu terbang menembus ribuan kilometer tidak akan pernah bisa membawa pulang.

Waktu yang sudah berlalu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang