SUAMIKU MELUPAKAN EMPAT TAHUN PERNIKAHAN KAMI DAN MEMINTA CERAI. AKU JUSTRU DATANG KE PENGADILAN DENGAN GAUN MERAH—NAMUN SEHARI SETELAH RP18 MILIAR MASUK KE REKENINGKU, MOBIL HITAMNYA MUNCUL DI BAWAH APARTEMEN, DAN SATU PESAN DARINYA LANGSUNG MENGHAPUS SENYUM DI WAJAHKU

Aku tidak tidur malam itu.

Setiap suara lift berhenti di lantai dua puluh tiga membuatku menoleh ke pintu. Setiap lampu mobil yang melintas di jalan bawah apartemen membuatku berdiri dari sofa dan mengintip dari balik tirai.

Yang membuatku paling takut bukan kemungkinan Arga datang.

Melainkan kenyataan bahwa semua ini terasa terlalu familiar.

Dulu aku selalu tahu kapan dia mulai cemas.

Pesannya bertambah.

Pertanyaannya semakin detail.

Lalu seseorang muncul untuk memastikan aku baik-baik saja.

Hanya saja sekarang dia bahkan tidak mengingat empat tahun pernikahan kami.

Seharusnya pola itu ikut hilang bersama ingatannya.

Pukul satu lewat dua belas menit, ponselku berbunyi lagi.

Arga.

Kali ini bukan pesan.

Telepon.

Aku menatap layar beberapa detik sebelum mengangkatnya.

“Apa?”

“Saya ingin bicara.”

“Besok.”

“Sekarang.”

Aku tertawa pendek tanpa humor.

“Lihat? Itu. Nada seperti itu.”

“Apa?”

“Nada yang menganggap semua orang harus mengikuti jadwalmu.”

Dia diam.

Aku melanjutkan.

“Kamu meminta rekaman CCTV apartemenku tanpa izin. Kita bahkan sudah menandatangani perceraian.”

“Saya tidak bermaksud mengganggumu.”

“Kalau begitu berhenti mengawasiku.”

“Saya hanya ingin memastikan sesuatu.”

“Memastikan apa?”

Sunyi.

Lalu Arga berkata pelan.

“Kenapa saya merasa mengenal caramu tersenyum pada pria itu?”

Aku membeku.

“Apa maksudmu?”

“Saya tidak tahu.”

Suara Arga terdengar berbeda.

Tidak sedingin biasanya.

Ada kebingungan di sana.

“Waktu saya melihat rekaman CCTV, kamu sedang tertawa. Pria itu mengatakan sesuatu, lalu kamu menyentuh lengannya. Tiba-tiba saya merasa marah.”

“Dan menurutmu itu alasan yang cukup untuk memata-mataiku?”

“Tidak.”

Jawabannya cepat.

Untuk pertama kalinya, dia tidak membela diri.

“Itu justru yang membuat saya takut.”

Aku menelan ludah.

“Takut?”

“Saya tidak ingat kamu. Tapi tubuh saya bereaksi seolah saya mengenalmu.”

Aku menutup mata.

“Arga, itu bukan urusanku lagi.”

“Saya tahu.”

“Kalau tahu, berhenti.”

Dia menarik napas panjang.

“Saya akan berhenti.”

Aku hampir menutup telepon ketika dia berkata lagi.

“Maya.”

“Apa?”

“Dulu saya pernah melakukan hal seperti ini?”

Aku tidak langsung menjawab.

“Lebih buruk.”

Sambungan hening cukup lama.

“Apa saya pernah menyakitimu secara fisik?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa saya mendengar ketakutan di suaramu?”

Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada yang kuduga.

Aku berjalan ke balkon.

Jakarta malam itu masih ramai, tetapi dari lantai tinggi semuanya terdengar jauh.

“Karena dulu setiap kali kamu bilang khawatir, hidupku jadi sedikit lebih sempit.”

Arga tidak mengatakan apa-apa.

Aku menutup telepon.

Keesokan paginya aku pergi langsung ke pengelola apartemen.

Aku mencabut nama Arga dari seluruh kontak darurat, membatalkan semua otorisasi lama, mengganti kartu akses, bahkan meminta daftar siapa saja yang melihat rekaman CCTV kemarin.

Manajer gedung berkali-kali meminta maaf.

Aku tidak marah.

Aku hanya tidak mau ada celah lagi.

Setelah itu, aku pergi menemui Nadine.

Begitu melihat wajahku, dia langsung meletakkan laptop.

“Dia mulai lagi?”

Aku duduk di seberangnya.

“Dia bilang tidak ingat aku, tapi merasa cemburu.”

Nadine menatapku lama.

“Menurutku itu lebih menyeramkan.”

“Terima kasih. Sangat membantu.”

“Aku serius.”

Dia merendahkan suara.

“Bagaimana kalau dia sebenarnya sudah mulai ingat?”

Pikiran itu sebenarnya sudah muncul sejak semalam.

Aku hanya tidak mau mengakuinya.

“Dokter bilang ingatan bisa kembali sebagian.”

“Kalau kembali?”

Aku menatap kopi yang belum kusentuh.

“Kalau kembali, dia tetap bukan suamiku lagi.”

Nadine mengangguk.

“Bagus.”

Aku berharap semuanya sesederhana itu.

Ternyata tidak.

Dua hari kemudian, Fajar datang ke studio sementara yang kusewa di Kemang.

Kami sedang membahas pilihan kayu untuk meja kerja ketika pintu kaca terbuka.

Arga masuk.

Sendirian.

Tidak ada Dimas.

Tidak ada sopir.

Kemeja putih, celana hitam, wajah kelelahan.

Aku langsung berdiri.

“Sedang apa kamu di sini?”

Fajar menoleh bingung.

Arga melihatnya sebentar, lalu kembali menatapku.

“Saya ingin bicara.”

“Telepon.”

“Kamu memblokir nomor saya.”

“Karena kamu mengawasiku.”

“Saya tidak melakukannya lagi.”

Fajar berdiri.

“Mbak Maya, saya bisa kembali besok.”

“Tidak perlu.”

Aku menunjuk Arga.

“Dia yang pergi.”

Mata Arga beralih ke tanganku.

Lebih tepatnya ke tangan Fajar yang tadi menyerahkan sampel material dan masih berada dekat jemariku.

Ekspresinya langsung berubah.

Sangat halus.

Tapi aku mengenalnya.

Empat tahun membuatku ahli membaca perubahan sekecil apa pun di wajahnya.

Rahang mengencang.

Bahu kaku.

Tatapan turun.

Dulu setelah ekspresi seperti itu, dia akan menunggu sampai kami sendirian lalu bertanya dengan suara tenang, “Kamu dekat sama dia?”

Aku menatap tajam.

“Jangan.”

Arga terdiam.

“Jangan apa?”

“Jangan mulai lagi.”

Untuk beberapa detik, wajahnya benar-benar kosong.

Lalu dia mundur setengah langkah.

“Maaf.”

Itu membuatku lebih terkejut daripada kemunculannya.

Arga yang dulu hampir tidak pernah meminta maaf tanpa penjelasan panjang.

Fajar akhirnya pergi karena suasana terlalu canggung.

Setelah pintu tertutup, aku menyilangkan tangan.

“Lima menit.”

Arga mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.

Sebuah flashdisk kecil.

“Saya menemukan ini di laci meja kerja saya.”

“Apa isinya?”

“Video.”

“Video apa?”

Dia menatapku.

“Kita.”

Aku tidak menyentuh flashdisk itu.

“Aku tidak mau melihat.”

“Saya sudah melihat semuanya.”

Nada suaranya bergetar sangat tipis.

“Saya punya kebiasaan merekam video pribadi rupanya.”

Aku langsung tahu video apa yang dia maksud.

Arga memang sering merekam momen sederhana.

Aku sedang memasak.

Aku tertidur di mobil.

Aku marah karena tanaman hiasnya mati.

Dulu aku menganggapnya romantis.

Sampai aku sadar ada terlalu banyak rekaman diriku yang bahkan tidak kutahu sedang direkam.

“Apa kamu ingat sesuatu?”

“Sedikit.”

Dadaku mengencang.

“Apa?”

“Bukan gambar utuh.”

Dia menekan pelipisnya.

“Saya ingat aroma sampomu. Lagu yang kamu putar saat memasak. Ada toko buku kecil di Bandung. Saya ingat kamu berdiri di antara rak dan mengatakan kalau saya mengikuti kamu satu langkah lagi, kamu akan melempar buku ke kepala saya.”

Aku tidak bisa menahan diri.

“Itu benar.”

Hampir muncul senyum di wajahnya.

Lalu menghilang lagi.

“Saya juga menemukan catatan dari psikiater.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Saya pernah datang ke psikiater.”

Sekarang aku benar-benar terdiam.

Selama empat tahun, Arga selalu menolak ketika kuajak konseling.

“Apa maksudmu?”

“Enam minggu sebelum kecelakaan.”

Dia mengeluarkan beberapa lembar kertas terlipat.

“Saya datang tiga kali.”

Tanganku perlahan turun.

“Kenapa?”

“Karena saya takut kehilangan kamu.”

Aku tertawa pahit.

“Jadi kamu pergi diam-diam?”

“Sepertinya.”

Dia menyerahkan satu lembar.

Aku membacanya.

Bukan catatan medis lengkap, hanya salinan jadwal konsultasi dan beberapa tulisan tangan Arga sendiri.

Aku mengenali tulisannya.

Saya tahu perilaku saya membuat Maya menjauh.

Saya sulit membedakan antara menjaga dan mengendalikan.

Saya selalu merasa jika saya tidak tahu dia berada di mana, sesuatu buruk akan terjadi.

Saya tahu ini tidak masuk akal.

Saya ingin berubah sebelum dia benar-benar pergi.

Aku membaca kalimat terakhir dua kali.

Ada sesuatu seperti simpul terbentuk di dadaku.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Saya tidak tahu.”

“Tentu. Kamu tidak ingat.”

Arga menatap lantai.

“Mungkin saya malu.”

Aku mengembalikan kertas itu.

“Ini tidak mengubah apa pun.”

“Saya tahu.”

“Tidak, kamu tidak tahu. Ini masalahmu sejak dulu. Kamu melakukan sesuatu lalu berharap niat baikmu membuat semuanya bisa dimaafkan.”

“Saya tidak meminta dimaafkan.”

“Lalu kenapa kamu datang?”

Dia menatapku lurus.

“Karena ada satu hal lain.”

Aku merasa udara di ruangan berubah.

“Apa?”

Arga mengeluarkan ponsel.

“Saya menemukan rekaman suara yang dibuat malam sebelum kecelakaan.”

Dia menekan layar.

Suara yang keluar adalah suara Arga sendiri.

Suara Arga lama.

Lebih hangat.

Lebih hidup.

Aku langsung mengenalinya.

“Maya mungkin tidak akan pernah mendengar ini.”

Jantungku berhenti sesaat.

“Aku sudah bicara dengan dokter hari ini. Aku tahu aku harus berhenti mencari alasan. Aku pikir menjaga berarti memastikan dia selalu dekat. Ternyata aku hanya membuat dia takut pergi karena tahu aku akan mengejarnya.”

Aku memalingkan wajah.

Rekaman itu berlanjut.

“Besok setelah pulang dari Bandung, aku akan bicara dengannya. Aku akan bilang dia boleh mengambil proyek apa pun. Pergi sendiri. Mematikan lokasi. Aku akan pindah sementara kalau itu yang dia butuhkan. Aku tidak tahu apakah pernikahan kami masih bisa diselamatkan.”

Suara di rekaman berhenti sebentar.

Lalu terdengar helaan napas.

“Tapi kalau Maya memilih pergi, aku harus belajar membiarkannya pergi.”

Aku menggigit bagian dalam bibir.

Ironi itu hampir kejam.

Malam sebelum kecelakaan, Arga mungkin akhirnya memutuskan melakukan hal yang selama bertahun-tahun kuminta.

Lalu kecelakaan menghapus semua itu.

Aku mematikan rekaman.

“Cukup.”

Arga mengambil kembali ponselnya.

“Saya tidak datang untuk meminta kamu kembali.”

Aku menatapnya.

“Bagus.”

“Saya datang untuk meminta maaf atas kemarin.”

Aku menunggu.

“Meminta CCTV. Datang ke apartemen. Menanyakan pria itu.”

Dia menarik napas.

“Itu salah.”

Kalimat sederhana.

Tidak ada karena.

Tidak ada tetapi.

Tidak ada aku hanya khawatir.

Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, Arga meminta maaf tanpa membela dirinya.

Dan itu justru membuatku ingin menangis.

Aku membenci betapa terlambatnya semuanya.

“Tolong pergi.”

Dia mengangguk.

Sebelum keluar, dia meletakkan flashdisk di meja.

“Kalau kamu tidak mau melihatnya, buang saja.”

Kemudian dia benar-benar pergi.

Tidak menunggu.

Tidak berbalik.

Tidak bertanya kapan kami bisa bertemu lagi.

Malam itu aku duduk sendirian di studio sampai hampir pukul sebelas.

Flashdisk itu tetap di meja.

Akhirnya rasa penasaran menang.

Aku membukanya.

Ada puluhan video.

Aku memilih satu secara acak.

Arga sedang merekamku dari meja makan.

Aku terlihat kesal.

“Jangan rekam.”

“Kenapa?”

“Karena aku sedang jelek.”

“Kamu tidak pernah jelek.”

“Arga.”

“Oke.”

Video mati.

Aku membuka video lain.

Kami sedang di mobil.

Aku tidur dengan kepala miring ke jendela.

Arga berbisik pelan dari balik kamera.

“Kalau dia tahu aku merekam, dia pasti marah.”

Kemudian video lain.

Hari ulang tahunku dua tahun lalu.

Aku sedang meniup lilin.

Video lain.

Aku berdiri di balkon sambil menangis.

Aku tidak ingat kejadian itu.

Di video, suara Arga terdengar.

“Maya?”

“Jangan dekat-dekat.”

“Aku cuma mau bicara.”

“Aku capek.”

“Karena apa?”

“Karena kamu membuat aku merasa bersalah setiap kali aku punya hidup yang tidak melibatkan kamu.”

Aku membeku.

Aku ingat sekarang.

Malam setelah aku membatalkan reuni kampus karena Arga sakit kepala dan memintaku tinggal.

Dalam video itu, Arga lama terdiam sangat lama.

Lalu berkata,

“Aku takut kalau kamu punya hidup sendiri, suatu hari kamu sadar hidupmu lebih baik tanpa aku.”

Air mataku jatuh.

Bukan karena kalimat itu romantis.

Justru karena untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang dulu tidak pernah bisa kulihat.

Ketakutannya.

Bukan cinta yang terlalu besar.

Ketakutan yang terlalu besar.

Namun ketakutannya tetap bukan tanggung jawabku.

Aku menutup laptop.

Tiga minggu berlalu.

Arga tidak menghubungiku lagi.

Tidak ada mobil hitam.

Tidak ada pesan.

Tidak ada bunga.

Tidak ada permintaan bertemu.

Aku mulai mengerjakan proyek studio.

Merekrut dua desainer muda.

Mengecat satu dinding warna biru tua karena dulu Arga selalu bilang warna gelap membuat ruangan terasa sempit.

Sekarang aku menyukainya.

Suatu sore, Dimas datang membawa satu kotak.

“Pak Arga pindah dari rumah lama.”

Aku mengernyit.

“Kenapa kamu bilang padaku?”

“Karena ada barang Mbak Maya.”

Di dalam kotak ada buku, foto lama, beberapa aksesori, dan satu kunci kecil.

Kunci koper.

Aku mengenalinya.

Koper yang pernah dia kunci supaya aku tidak pergi ke Yogyakarta.

Aku memegangnya lama.

Ada selembar kertas di bawahnya.

Tulisan tangan Arga.

Saya ingat kejadian koper itu.

Ingatan itu kembali dua hari lalu.

Saya tidak meminta kamu melupakan.

Saya hanya ingin kamu tahu saya akhirnya mengerti kenapa malam itu kamu menangis.

Saya pikir saya takut kamu pergi.

Ternyata cara saya menahanmu justru membuat kamu pergi lebih jauh.

Tidak ada tanda tangan.

Tidak ada permintaan bertemu.

Aku memasukkan kertas itu kembali.

“Dia di mana sekarang?”

Dimas ragu.

“Singapura.”

“Bisnis?”

“Terapi.”

Aku menatapnya.

“Terapi?”

Dimas mengangguk.

“Pak Arga mengambil cuti tiga bulan. Untuk pertama kalinya sejak saya kerja sama beliau.”

Aku tidak menjawab.

Enam bulan kemudian, studio kecilku sudah menangani belasan proyek.

Aku bepergian ke Bali, Surabaya, dan Makassar sendiri.

Kadang lupa memberi tahu siapa pun aku sudah sampai hotel.

Dan tidak ada dunia yang runtuh.

Suatu malam aku menerima undangan pembukaan hotel baru di Jakarta Selatan.

Aku datang bersama Nadine.

Di tengah ruangan, aku melihat Arga.

Tubuhku otomatis menegang.

Namun dia hanya berdiri jauh.

Berbicara dengan beberapa investor.

Ketika mata kami bertemu, dia tersenyum tipis.

Tidak mendekat.

Tidak menghampiri.

Tidak mengirim pesan.

Aku hampir kecewa.

Perasaan itu membuatku kesal pada diri sendiri.

Setengah jam kemudian kami tidak sengaja bertemu dekat meja minuman.

“Hai,” katanya.

“Hai.”

“Kamu terlihat sehat.”

“Kalimat yang aneh.”

Dia tertawa kecil.

“Aku sedang belajar berbicara normal.”

Aku memperhatikan wajahnya.

Ada sesuatu yang berubah.

Bukan penampilan.

Cara berdirinya.

Dulu Arga selalu mengambil ruang.

Sekarang dia terlihat lebih tenang berada di dalamnya.

“Apa ingatanmu sudah kembali?”

“Sebagian besar.”

Aku menahan napas.

“Termasuk semuanya?”

“Yang baik dan yang buruk.”

Dia tidak mengalihkan pandangan.

“Terutama yang buruk.”

Aku mengangguk.

Dia mengambil segelas air.

“Studio kamu bagus.”

“Kamu pernah ke sana?”

“Tidak.”

Tatapanku langsung tajam.

Dia tersenyum.

“Saya lihat dari majalah desain. Saya tidak menguntit.”

Aku tertawa sebelum sempat menahannya.

Arga ikut tersenyum.

Untuk beberapa detik, rasanya seperti dulu.

Tapi tidak sama.

Lebih ringan.

Dia kemudian berkata,

“Aku harus pergi.”

Aku terkejut.

Arga lama tidak pernah meninggalkan percakapan lebih dulu.

“Baik.”

Dia melangkah dua langkah.

Aku memanggilnya.

“Arga.”

Dia berhenti.

“Apa?”

Aku sendiri tidak tahu kenapa bertanya.

“Kalau waktu bisa diulang, kamu masih akan menikah denganku?”

Dia terdiam.

Kupikir dia akan mengatakan iya.

Arga lama pasti menjawab iya tanpa berpikir.

Namun kali ini dia menggeleng pelan.

“Tidak.”

Senyumku hilang.

Lalu dia melanjutkan.

“Aku akan mengenalmu lebih lama. Belajar mencintaimu tanpa merasa harus memiliki setiap bagian hidupmu. Kalau setelah itu kamu masih mau menikah denganku, baru aku akan bertanya.”

Dadaku terasa sesak.

Bukan sesak seperti dulu.

Berbeda.

Arga tersenyum.

“Selamat malam, Maya.”

Dia pergi.

Tidak menoleh.

Aku berdiri lama memandang punggungnya menghilang di antara para tamu.

Nadine muncul di sampingku.

“Kamu mau mengejarnya?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“Yakin?”

Aku menatap pintu tempat Arga baru saja pergi.

Lalu tersenyum.

“Kalau dia benar-benar berubah, dia tahu jalan kembali bukan sesuatu yang boleh dipaksakan.”

Nadine merangkul bahuku.

Kami kembali ke pesta.

Aku tidak tahu apakah aku dan Arga suatu hari akan bersama lagi.

Mungkin iya.

Mungkin tidak.

Namun untuk pertama kalinya, kemungkinan itu tidak menakutkan.

Karena sekarang aku tahu satu hal yang dulu tidak kupahami.

Cinta bukan seseorang yang berdiri di depan pintu agar kita tidak pergi.

Cinta adalah seseorang yang berani membuka pintu, membiarkan kita memilih, lalu tetap menghormati keputusan kita bahkan ketika pilihan itu bukan dirinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang