SAYA MEMBELI MANSION SEHARGA $800.000 SECARA TUNAI

Darahku terasa mendidih, mengalir deras ke ubun-ubun. Kalimat Mateo barusan bukan lagi sekadar bentuk ketidakpedulian—itu adalah deklarasi perang dan penghinaan paling rendah yang pernah kuterima seumur hidupku.

“Kamu… memindahkan kasurku ke gudang?” suaraku bergetar, bukan karena ingin menangis, tapi karena menahan amarah yang siap meledak.

“Astaga, Andrea, jangan berlebihan!” Mateo mendengus, melambaikan tangan dengan acuh tak acuh. “Itu cuma untuk sementara. Kamar ini terlalu bagus untuk ditinggali kita berdua saja sementara Ibu, adik-adikku, dan keponakanku harus berdesakan di kamar tamu. Sebagai istri, kamu harusnya mengalah dan menghormati ibuku!”

“Menghormati?” Aku tertawa hambar, tawa yang terdengar dingin dan mengerikan, bahkan di telingaku sendiri. “Di atas tanah yang kubeli dengan uangku sendiri? Di dalam rumah yang kubayar tunai saat kamu bahkan tidak punya saldo yang cukup untuk membayar cicilan motormu?”

Wajah Mateo langsung memerah, harga diri lelakinya yang rapuh merasa terluka. “Jaga bicaramu, Andrea! Aku ini suamimu! Kepala keluarga di rumah ini! Semua yang menjadi milikmu adalah milikku juga setelah kita menikah!”

Aku tidak membalas lagi. Berdebat dengan parasit bodoh yang delusi seperti dia hanya akan membuang energiku. Aku berbalik, melangkah lebar-lebar menuju gudang di halaman belakang untuk melihat sendiri sejauh mana mereka menginjak-injak harga diriku.

Kenyataan Pahit di Gudang Belakang

Ketika aku membuka pintu kayu gudang taman yang berdebu, dadaku terasa sesak. Di sana, di antara tumpukan karung pupuk, mesin pemotong rumput yang berbau bensin, dan jaring laba-laba, tergeletak kasur custom king-size milikku yang berharga ribuan dolar. Kain sutranya kini bernoda debu hitam. Di atasnya, beberapa potong pakaian kerjaku dicampakkan begitu saja seperti kain lap.

Mereka benar-benar memperlakukanku seperti pembantu di istanaku sendiri.

Aku menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata selama lima detik. Saat aku membuka mata kembali, kesedihanku telah menguap sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah kalkulasi dingin seorang CEO. Aku mengeluarkan ponsel dari saku mantelku dan langsung menghubungi tiga nomor berturut-turut: pengacaraku, manajer firma keamanan swasta yang biasa disewa perusahaanku, dan seorang detektif swasta.

“Halo, Lucas?” kataku pada pengacaraku. “Siapkan dokumen perceraian secepatnya. Dan bawa sertifikat kepemilikan villa atas namaku ke sini sekarang juga. Aku butuh eksekusi pengosongan rumah hari ini.”

Setelah itu, aku menelepon pihak keamanan. “Bawa sepuluh personel berbadan besar ke Garden Villa-ku dalam waktu tiga puluh menit. Ada penyusup yang harus dikeluarkan paksa.”

Terakhir, aku menghubungi detektif swasta untuk mengumpulkan semua bukti penyelewengan dana yang diam-diam dilakukan Mateo dari rekening bersama kami selama aku berada di Eropa.

Permainan dimulai.

Badai di Ruang Tamu

Dua puluh menit kemudian, aku kembali ke dalam rumah utama. Di ruang tamu, Nyonya Carmen sedang asyik bernyanyi karaoke dengan suara cemprengnya, dikelilingi oleh anak-anak saudaranya yang mengunyah camilan mahal dari pantry-ku dan mengotori sofa beludru impor.

Aku berjalan langsung ke arah televisi, mencabut kabel dayanya dengan satu sentakan kasar. Keheningan mendadak merayap di ruangan itu.

“Heh! Apa-apaan kamu ini, Andrea?! Tidak punya sopan santun sekali pada orang tua!” jerit Carmen, berdiri dari sofanya dengan wajah merah padam.

Mateo yang mendengar keributan itu langsung berlari turun dari lantai dua. “Andrea! Ada apa lagi sekarang?! Bisakah kamu tidak membuat drama sehari saja?!”

“Drama?” Aku tersenyum tipis, melipat kedua tanganku di dada. “Kalian yang memulai sirkus ini di rumahku, dan sekarang akulah yang akan membubarkannya.”

Tepat saat itu, pintu depan mahoniku terbuka. Lucas, pengacaraku, masuk bersama dengan kapten tim keamanan swasta berkemeja hitam, diikuti oleh delapan pria berbadan tegap di belakangnya. Di tangan Lucas, ada sebuah map jinjing hitam.

Wajah Mateo dan ibunya seketika berubah pucat melihat kawalan pria-pria kekar tersebut.

“Andrea… apa maksudnya ini?” suara Mateo mulai bergetar, kehilangan keberaniannya yang tadi.

“Ini adalah Lucas, pengacaraku,” kataku dengan nada sedatar es. “Dan orang-orang ini adalah tim keamanan yang akan memastikan bahwa setiap dari kalian meninggalkan properti ini dalam waktu sepuluh menit.”

Menendang Mereka ke Jalanan

Nyonya Carmen mencoba menggertak, melangkah maju sambil menunjuk wajahku dengan jarinya yang gemetar. “Kamu tidak bisa mengusir kami! Anakku adalah suamimu! Dia punya hak atas rumah ini!”

Lucas melangkah maju, membuka map hitamnya, dan menunjukkan selembar dokumen resmi yang dilaminasi. “Nyonya, properti ini dibeli secara tunai penuh oleh Klien saya, Ibu Andrea, enam bulan sebelum pernikahan mereka tercatat secara hukum. Berdasarkan perjanjian pra-nikah yang ditandatangani oleh Saudara Mateo, aset yang dibawa sebelum pernikahan mutlak menjadi milik pribadi masing-masing. Saudara Mateo tidak memiliki hak satu persen pun atas rumah ini.”

Mateo menatapku dengan mata terbelalak, tidak menyangka aku akan membawa dokumen pra-nikah yang hampir dia lupakan itu. “Andrea, tolong… kita bisa bicarakan ini baik-baik. Aku suamimu!”

“Kamu hampir menjadi mantanku, Mateo,” jawabku dingin. Aku menoleh ke arah tim keamanan. “Keluarkan mereka. Semuanya. Jangan biarkan mereka membawa satu barang pun dari rumah ini kecuali pakaian yang melekat di tubuh mereka. Kantong sampah hitam di atas? Buang saja ke luar pagar.”

“Baik, Bu,” jawab sang kapten tegas.

Seketika itu juga, suasana berubah menjadi kekacauan total yang memuaskan hatiku. Pria-pria keamanan mulai menggiring saudara-saudara Mateo ke luar pintu. Anak-anak mereka mulai menangis. Nyonya Carmen menjerit-jerit histeris seperti orang gila, memaki-makiku dengan kata-kata kasar saat dua penjaga mengawalnya keluar dengan tegas tanpa menyakitinya, melucuti jubah sutra mahalku dari bahunya dan mencampakkannya ke lantai.

Mateo mencoba berlutut di depanku, memegang kakiku. “Andrea, maafkan aku! Aku salah! Aku akan memindahkan kembali kasurmu! Aku akan menyuruh ibuku pulang!”

Aku menarik kakiku dengan jijik. “Sudah terlambat, Mateo. Kamu sudah memindahkan kasurku ke gudang, jadi sekarang, giliran tempatmu di jalanan.”

Dua penjaga dengan sigap mengangkat Mateo dari lantai dan menyeretnya keluar melewati pintu depan.

Tempat yang Semestinya

Aku berjalan ke luar, berdiri di teras villa mewahku, menyilangkan tangan sambil menyaksikan pemandangan paling indah tahun ini.

Seluruh keluarga besar yang sombong itu kini terduduk di trotoar luar pagar gerbang besi villaku. Barang-barang mereka—termasuk tas-tas pakaian murah mereka—dilemparkan ke luar pagar. Tetangga-tetangga di kompleks perumahan elite ini mulai keluar rumah, berbisik-bisik dan mengambil foto serta video ke arah keluarga Mateo yang terduduk malu di pinggir jalan, menangis dan meratapi nasib mereka yang terusir dalam sekejap.

Nyonya Carmen menatapku dari kejauhan dengan tatapan penuh dendam, namun dia tidak lagi memiliki keberanian untuk berteriak. Mateo hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya di antara lututnya, menyadari bahwa kehidupan mewahnya yang parasit telah berakhir selamanya.

Lucas mendekatiku, memberikan sebuah dokumen baru pena untuk kutandatangani. “Ini gugatan cerai resminya, Andrea. Besok pagi akan langsung didaftarkan ke pengadilan.”

Aku menerima pena itu dan membubuhkan tanda tanganku dengan mantap.

“Terima kasih, Lucas,” kataku. Aku melihat ke arah halaman belakāng, di mana para pelayan baruku sudah mulai membersihkan rumah, dan sebuah tim kebersihan khusus sedang memindahkan kasur king-size milikku kembali ke kamar utama yang semestinya.

Aku menghela napas lega. Rumah $800.000 ini akhirnya kembali bersih dari benalu. Kesabaranku mungkin telah habis hari ini, tetapi masa depan baruku yang mandiri dan tenang baru saja dimulai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang