Saya melangkah keluar dari balik tirai dengan langkah kaki yang berat dan menggelegar. Atmosfer di lorong itu seketika mendingin.
“Apa yang baru saja kamu katakan pada anak saya?” suara saya rendah, namun sarat dengan ancaman yang mematikan.
Ms. Agatha terlonjak kaget. Dia berbalik dan menatap saya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Melihat kemeja polo lama dan celana jins pudar saya, seringai meremehkan langsung muncul di wajahnya.
“Oh, jadi kamu ayahnya?” ketus Ms. Agatha, sambil berkacak pinggang. “Baguslah kamu di sini. Bawa anakmu pulang! Dia hanya merusak pemandangan di panggung megah ini. Kostum mahal ini tidak pantas dipakai oleh anak dari keluarga miskin seperti kalian!”

“Papa…” Leo mendongak dengan mata sembap. Dia langsung berlari ke pelukan saya, tubuh kecilnya gemetar hebat.
Saya berlutut, memeluknya erat, dan mengusap air matanya. “Leo, jagoan Papa. Kamu berlatih dengan sangat keras, bukan? Kamu adalah pangeran terbaik di dunia. Tunggu Papa di sini sebentar, oke?”
Setelah memastikan Leo aman di belakang saya, saya berdiri tegak. Tinggi badan saya yang hampir 190 cm mengintimidasi Ms. Agatha, membuatnya mundur satu langkah.
“Kamu akan menyesali setiap kata yang keluar dari mulut sampahmu itu,” kata saya, dingin dan tajam.
“Hah! Menyesal? Kamu pikir kamu siapa, hah?! Hanya buruh miskin! Saya bisa membuat anakmu dikeluarkan dari sekolah ini dalam satu jentikan jari!” tantang Ms. Agatha arogan. Dia kemudian menggandeng seorang anak laki-laki lain yang berpakaian mewah—anak Walikota—dan berjalan pergi menuju panggung, meninggalkan kami begitu saja.
Saya merengkuh ponsel di saku saya. Kemarahan saya sudah meluap. Saatnya menghancurkan topeng kesombongan wanita itu.
Panggilan Telepon yang Mengubah Segalanya
Saya menekan satu tombol cepat ke jalur pribadi Kepala Sekolah Cresta International Academy, Mr. Edward.
“Valderama di sini. Bawa seluruh jajaran direksi, komite sekolah, dan pengacara utama yayasan ke auditorium SEKARANG JUGA. Jika kalian terlambat satu menit, anggap sekolah ini sejarah.”
Saya menutup telepon tanpa menunggu jawaban. Saya kemudian menelepon kepala divisi hukum Valderama Education Empire. “Cari tahu semua aset, rekening, dan rekam jejak seorang guru bernama Agatha di Cresta Academy. Blokir seluruh aksesnya di dunia pendidikan Asia pasifik dalam waktu sepuluh menit.”
Panggung Sandiwara yang Sesungguhnya
Sepuluh menit kemudian, auditorium dipadati oleh orang tua murid kelas atas. Di barisan paling depan, duduk Walikota dengan angkuh bersama istrinya. Ms. Agatha berdiri di tepi panggung, tersenyum lebar saat tirai mulai terbuka. Anak Walikota berdiri di tengah panggung memegang pedang milik Leo.
Namun, sebelum pertunjukan dimulai, lampu panggung mendadak mati. Layar proyektor besar di belakang panggung menyala.
Bukan latar belakang cerita dongeng yang muncul, melainkan sebuah rekaman video CCTV berkualitas tinggi yang baru saja diambil dari koridor belakang panggung beberapa menit lalu.
Suara lengkingan Ms. Agatha menggema di seluruh pengeras suara auditorium:
“Aku tidak peduli dengan latihanmu! Kamu hanyalah seorang penerima beasiswa rendahan di sini! Kamu bau miskin… Anak seperti kamu tidak layak berada di atas panggung! Kamu di belakang saja jadi pohon!”
Seluruh auditorium senyap seketika. Ratusan pasang mata menatap layar dengan syok. Wajah Ms. Agatha langsung pucat pasi, matanya membelalak horor.
Belum sempat penonton mencerna apa yang terjadi, lampu sorot (spotlight) utama auditorium bergeser, langsung menembak ke arah pintu masuk, di mana saya berdiri mengandeng tangan Leo. Namun kali ini, saya tidak lagi sendiri.
Di belakang saya, berbaris sepuluh pria berjas hitam—tim pengacara terbaik negara—diikuti oleh Mr. Edward, Kepala Sekolah, yang berjalan dengan membungkuk khidmat dan berkeringat dingin.
Kehancuran Total Sang Guru Arogant
“A-Apa-apaan ini?!” teriak Ms. Agatha panik dari atas panggung. “Mr. Edward! Kenapa video palsu itu diputar?! Dan kenapa pengemis itu diizinkan masuk ke sini?!”
Mr. Edward berlari ke atas panggung, merebut mikrofon, dan berteriak dengan suara gemetar, “Diam kamu, Agatha!!! Kamu tahu siapa pria yang baru saja kamu hina?!”
Mr. Edward berlutut di tepi panggung menghadap ke arah saya. “Selamat datang, Tuan Besar Gabriel Valderama. Pemilik tunggal Valderama Education Empire.”
Mendengar nama itu, seluruh ruangan ricuh. Walikota yang tadinya duduk angkuh langsung berdiri, wajahnya memucat. Valderama adalah penyumbang dana terbesar bagi kampanye politiknya, sekaligus pemilik tanah tempat berdirinya gedung-gedung pemerintahan kota.
Ms. Agatha membeku. “T-Tidak mungkin… Dia hanya ayah dari anak beasiswa yang miskin…”
Saya berjalan perlahan mendekati panggung, menuntun Leo. Pengacara utama saya maju ke depan dan membuka dokumen resmi.
“Ms. Agatha,” suara pengacara saya menggema. “Berdasarkan bukti kekerasan verbal dan fisik terhadap anak di bawah umur yang terekam CCTV, Valderama Empire secara resmi memecat Anda tidak dengan hormat hari ini. Detik ini juga, sertifikasi mengajar Anda dicabut secara permanen di seluruh Asia.”
“Tidak… Tolong…” Ms. Agatha mulai menangis, kakinya lemas hingga bersimpuh di panggung.
“Tidak hanya itu,” lanjut pengacara saya dengan senyum dingin. “Kami menemukan bahwa Anda menerima suap sebesar 50.000 dolar dari istri Walikota untuk mengganti peran utama. Kasus suap, pencemaran nama baik, dan kekerasan anak telah kami daftarkan ke kepolisian. Polisi sudah menunggu Anda di luar.”
Ms. Agatha menatap saya dengan tatapan memohon yang menjijikkan. “Tuan Valderama… Saya mohon maaf… Saya tidak tahu… Saya khilaf!”
Saya menatapnya dingin dari bawah panggung. “Kamu bilang anak saya bau miskin dan tidak layak di atas panggung? Asal kamu tahu, panggung tempatmu berdiri, sekolah ini, bahkan jalanan yang kamu lewati untuk pulang, semuanya adalah milik saya. Dan kamu telah menyentuh satu-satunya harta berharga milik saya.”
Dua petugas polisi masuk ke auditorium dan langsung memborgol Ms. Agatha yang menangis histeris. Dia diseret keluar di hadapan seluruh orang tua murid yang menatapnya dengan jijik.
Walikota yang ketakutan langsung menghampiri saya, membungkuk berkali-kali. “Tuan Valderama, saya benar-benar minta maaf atas kelakuan istri dan anak saya, saya tidak tahu—”
“Urusan kita belum selesai, Pak Walikota,” potong saya dingin. “Besok, audit investasi saya di kota Anda akan dimulai. Bersiaplah.” Walikota itu hampir pingsan di tempat.
Pangeran yang Sesungguhnya
Saya mengabaikan kekacauan di sekitar saya dan menatap Leo. Saya melepaskan jubah beludru mewah yang dibawa oleh asisten saya, lalu memasangkannya ke bahu kecil Leo. Saya juga menaruh mahkota emas murni di kepalanya.
“Sekarang, pertunjukan yang sebenarnya dimulai,” kata saya lembut, sambil tersenyum. “Pangeranku, panggung ini milikmu.”
Seluruh auditorium bertepuk tangan dengan gemuruh. Hari itu, semua orang belajar satu hal dengan cara yang paling keras: Jangan pernah menilai buku dari sampulnya, dan jangan pernah berani mengusik singa yang sedang menyamar demi anaknya.
