MA… JEMPUT AKU SEKARANG! MEREKA MENYAKITIKU!” SAAT SEORANG LADY COLONEL

KLIK!

Suara telepon diputus secara paksa di seberang sana. Nada sambung yang monoton berbunyi di telingaku, tetapi di dalam kepalaku, sebuah bom atom baru saja meledak.

Darahku mendidih. Seluruh ruangan kantorku yang tadinya sunyi kini terasa mencekam, seolah atmosfer di sekitarnya tersedot habis oleh kemarahanku. Selama bertahun-tahun di medan perang, aku telah menghadapi teroris paling kejam dan pemberontak paling sadis tanpa berkedip. Namun mendengar putri tunggalku—darah dagingku yang selalu kujaga bagai permata—menangis ketakutan karena disiksa, itu membangunkan iblis dalam diriku.

Aku berdiri, perlahan tapi pasti. Kutatap seragam dinas upacara lengkapku (PDU) yang tergantung di dinding. Bintang dan medali keberanian yang menghiasinya berkilau di bawah lampu temaram.

“Keluarga Cárdenas,” desisiku, suaraku rendah namun sarat dengan ancaman kematian. “Kalian mengira uang dan kekuasaan kalian bisa membeli hukum? Kalian salah memilih lawan.”

Aku meraih ponsel komandoku, menekan satu tombol cepat yang langsung terhubung ke jalur darurat batalyon elitku.

“Ini Komandan Victoria,” kataku, dingin tanpa emosi. “Aktifkan Protokol Alpha Red. Siapkan tiga helikopter tempur Black Hawk dan dua regu penuh Pasukan Operasi Taktis Khusus. Lengkap dengan persenjataan serbu.”

“Siap, Kolonel! Apa target kita? Apakah ada infiltrasi teroris?” suara kapten di seberang sana terdengar tegang.

“Bukan teroris,” jawabku sambil mengancingkan kerah seragam militorku dengan presisi yang mematikan. “Hanya beberapa tikus kaya yang mengira mereka berada di atas hukum. Kita menuju ke Kediaman Cárdenas. Sekarang.”

Malam itu, langit Manila yang tenang dirobek oleh suara gemuruh baling-baling helikopter militer. Tiga helikopter tanpa lampu pengenal melesat membelah malam, menuju ke kawasan elit Forbes Park, tempat di mana mansion megah Keluarga Cárdenas berdiri.

Di dalam helikopter utama, aku berdiri sambil memegang senapan serbu otomatis. Di sampingku, dua puluh prajurit terbaikku berdiri tegak dengan tatapan tajam, siap mati demi perintahku.

“Dengarkan,” kataku melalui radio interkom. “Target adalah kediaman Cárdenas. Dobrak gerbangnya. Lumpuhkan semua penjaga pribadi mereka. Jika ada yang mengangkat senjata, kalian tahu apa yang harus dilakukan. Amankan putriku. Jangan ada belas kasihan.”

“Siap, Komandan!” jawab mereka serentak.

Sementara itu, di dalam ruang tamu megah mansion Cárdenas, suasananya sangat kontras. Doña Roberta Cárdenas, sang matriark keluarga, sedang menyesap tehnya dengan anggun, sementara putranya, Mateo, duduk di sofa sambil memegang segelas wiski. Wajah Mateo tampak gusar, tangannya sedikit gemetar.

“Ibu, apakah kita tidak keterlaluan?” tanya Mateo ragu. “Isabella tampak sangat terluka. Dan… dia sempat menelepon ibunya tadi sebelum aku merebut ponselnya.”

Doña Roberta mendengus remeh, senyum sinis tersungging di bibirnya yang dilapisi gincu merah tua. “Ibunya? Maksudmu wanita paruh baya miskin yang bekerja sebagai pegawai kantoran rendahan itu? Memangnya apa yang bisa dilakukan wanita tua itu? Menangis di depan gerbang kita? Mateo, sadarlah! Bisnis Isabella sangat menguntungkan. Begitu dia menandatangani surat itu, asetnya jadi milik kita. Di negara ini, uang Cárdenas bisa membungkam siapa saja, termasuk polisi.”

Blarrr!!!

Belum sempat Mateo membalas, sebuah ledakan dahsyat mengguncang seluruh mansion. Pintu gerbang besi setinggi empat meter yang super kokoh itu hancur berkeping-keping, hancur dihantam oleh kendaraan taktis lapis baja militer yang menerobos masuk.

Lampu sorot berkekuatan tinggi dari helikopter tempur langsung menembus kaca-kaca jendela mansion, membuat ruang tamu yang mewah itu terang benderang seperti siang hari. Suara tembakan peringatan yang memekakkan telinga terdengar di halaman luar, diikuti oleh teriakan histeris dari para penjaga pribadi keluarga Cárdenas yang langsung tiarap, tak berkutik di bawah todongan laras senapan pasukan elit.

“Apa yang terjadi?! Siapa yang berani?!” teriak Doña Roberta, wajahnya yang tadinya angkuh seketika pucat pasi. Teh di tangannya tumpah, mengotori gaun mahalnya.

Mateo berlari ke jendela, dan lututnya langsung lemas. Di halaman rumahnya, puluhan prajurit berpakaian taktis hitam-hitam dengan lambang Special Tactical Operations Group telah mengepung seluruh area. Dan di tengah-tengah pasukan itu, berjalan seorang wanita dengan langkah tegap, seragam militernya yang penuh bintang berkilau di bawah lampu sorot.

“I-Ibu…” bisik Mateo dengan suara tercekat, wajahnya memutih seperti mayat. “Itu… itu ibu Isabella…”

“Apa?!” Doña Roberta terbelalak, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. “Pegawai negeri miskin itu?!”

Brak!

Pintu depan mansion didobrak paksa dari luar. Dua prajurit masuk terlebih dahulu, mengamankan ruangan dengan senjata siap tembak, sebelum aku melangkah masuk. Tatapan mataku dingin, setajam silet, menembus langsung ke arah Mateo dan ibunya.

“Di mana putriku?” tanyaku, suaraku begitu tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat bulu kuduk mereka merinding.

Doña Roberta, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keangkuhannya, berdiri dengan gemetar. “K-Kolonel? Anda… Anda tidak bisa melakukan ini! Ini properti pribadi! Kami memiliki koneksi dengan jenderal-jenderal tinggi dan menteri pertahanan! Saya akan memastikan Anda dipecat!”

Aku berjalan mendekatinya, setiap ketukan sepatu bot militorku terdengar seperti lonceng kematian di keheningan ruangan itu. Ketika aku berdiri tepat di hadapannya, aku menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan muak.

“Jenderal mana yang kamu maksud? Jenderal Santos? Atau Jenderal Ramos?” tanyaku dengan nada meremehkan. Aku mengeluarkan ponselku dan melemparkannya ke meja. “Silakan telepon mereka. Beritahu mereka bahwa Kolonel Victoria de Leon, Komandan Pasukan Khusus, sedang berada di rumahmu. Mari kita lihat apakah mereka berani mengangkat teleponmu setelah mendengar namaku.”

Doña Roberta membeku. Nama Victoria de Leon adalah legenda hidup di kalangan militer dan politik—seorang komandan tanpa ampun yang dikenal sebagai “The Iron Lady”, wanita yang membasmi jaringan kartel terbesar dalam satu malam. Dan wanita itu sekarang berdiri di rumahnya, sebagai seorang ibu yang murka.

“M-Mateo… apa yang telah kita lakukan…?” bisik Doña Roberta, seluruh tubuhnya kini bergetar hebat. Rasa sombongnya menguap, digantikan oleh ketakutan yang mutlak.

Tiba-tiba, dari arah tangga atas, terdengar suara isakan. Dua prajuritku turun sambil membimbing Isabella. Wajah putriku lebam, dan ada bekas darah di sudut bibirnya. Gaunnya robek di beberapa bagian.

Melihat kondisi putriku, pertahananku runtuh sebagai seorang ibu, digantikan oleh amarah yang tak terkendali. Aku berlari menghampirinya, memeluknya dengan erat. “Isabella… Maafkan Mama. Mama terlambat.”

“Ma…” Isabella menangis sejadi-jadinya di dadaku. “Aku takut…”

Aku melepaskan pelukan itu dengan lembut, menyerahkan Isabella kepada tim medis militer yang sudah bersiap di belakang. Setelah putriku aman, aku berbalik kembali menghadap Mateo dan ibunya. Kali ini, auraku benar-benar mematikan.

Aku berjalan ke arah Mateo. Pria yang tadinya tampak gagah itu kini berlutut di lantai, menangis ketakutan sambil memegangi kaki ibunya.

“Kau menyentuhnya dengan tangan yang mana, Mateo?” tanyaku sambil menarik pistol dari sarungnya dan mengarahkannya tepat ke kepala Mateo.

“A-Ampun, Kolonel! Ampun! Aku khilaf! Aku dipaksa Ibuku!” teriak Mateo histeris, mengompol di celana karena ketakutan yang luar biasa.

Doña Roberta ikut berlutut, menangis histeris. “Tolong, jangan bunuh putraku! Kami akan memberikan semua uang kami! Tolong kasihanilah kami!”

Aku menurunkan pistolku perlahan, tersenyum sinis. “Membunuh kalian di sini terlalu mudah. Dan aku tidak akan mengotori lantai ini dengan darah tikus seperti kalian.”

Aku berbalik memunggungi mereka dan memberi komando kepada kapten pasukanku. “Bawa mereka berdua. Segel seluruh aset keluarga Cárdenas atas dugaan pencucian uang, penganiayaan berat, dan keterlibatan dengan jaringan ilegal. Pastikan mereka tidak pernah melihat matahari dari balik jeruji besi seumur hidup mereka. Jika ada pengacara atau pejabat yang mencoba membantu mereka… seret mereka juga ke markas kita.”

“Siap, Komandan!”

Malam itu, keluarga Cárdenas yang begitu berkuasa hancur dalam sekejap mata. Mereka baru menyadari, di hadapan kekuasaan sejati yang lahir dari keberanian dan pengabdian, tumpukan uang dan kesombongan mereka tidak lebih dari sekadar debu yang mudah tertiup angin. Dan mereka telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidup mereka: mengusik putri dari sang Komandan paling kejam di Angkatan Bersenjata.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang