Darah di tubuh saya terasa dingin ketika membaca lembar terakhir itu.
Di bagian atas tertulis sebuah alamat lama di Sidoarjo. Di bawahnya ada nama Harun Prasetyo sebagai kepala keluarga. Dua nama anak tercantum jelas. Bima Harun Prasetyo dan Lestari Harun Prasetyo.
Saya mengangkat kepala.
“Mbak Maya kenal mereka?”
Perempuan itu menarik napas panjang.
“Bima mantan suami saya.”

Saya membeku.
Maya kemudian menunjuk salah satu foto di dalam amplop. Foto itu diambil sekitar tiga tahun lalu. Pak Harun duduk di sebuah ruang tamu bersama seorang lelaki muda, seorang perempuan, dan dua anak kecil.
Dia tidak pernah tidak punya keluarga.
Dia hanya memilih berpura-pura tidak punya.
“Pak Harun memang duda,” kata Maya. “Tapi bukan duda yang ditinggalkan semua orang. Anak-anaknya masih hidup. Mereka cuma sudah tidak mau berurusan terlalu dekat dengannya.”
“Kenapa?”
Maya terdiam beberapa detik.
“Karena uang.”
Saya kembali melihat dokumen di tangan.
Maya menjelaskan bahwa dulu Pak Harun tinggal bersama anak lelakinya. Setelah pensiun, dia menjual rumah peninggalan istrinya dengan alasan biaya pengobatan. Sebagian uang masuk ke sebuah investasi yang tidak jelas. Sisanya habis.
Setelah itu dia mulai berpindah-pindah.
Kadang tinggal di rumah anak laki-lakinya.
Kadang di rumah anak perempuannya.
Masalah selalu muncul ketika dia mulai mencampuri urusan finansial.
“Awalnya kecil,” ujar Maya. “Pinjam uang untuk obat. Lalu minta dibantu cicilan. Setelah itu mulai bilang rumah sebaiknya dijual, tanah sebaiknya diagunkan, tabungan harus diputar.”
Saya menatapnya tajam.
“Dia pernah menikah lagi?”
Maya mengangguk pelan.
“Dua tahun lalu hampir.”
“Hampir?”
“Perempuan itu membatalkan tiga hari sebelum akad.”
“Kenapa?”
“Karena anaknya tahu Pak Harun minta namanya dimasukkan ke sertifikat rumah setelah menikah.”
Jari saya mencengkeram amplop.
“Kenapa semua ini tidak pernah sampai ke tetangga?”
Maya tertawa hambar.
“Karena orang seperti dia tahu bagaimana membangun cerita baru di tempat baru.”
Suara klakson terdengar dari depan minimarket.
Saya menoleh.
Mobil kami masih menunggu.
Saya memasukkan seluruh dokumen ke dalam tas.
“Terima kasih sudah datang.”
Maya memegang pergelangan tangan saya sebelum saya pergi.
“Mbak Nadira.”
Saya menoleh.
“Jangan langsung menuduh di depan ibu Mbak kalau belum siap. Orang yang kesepian sering kali mempertahankan orang yang memberinya perhatian, bahkan ketika bukti sudah ada di depan mata.”
Kalimat itu mengikuti saya sampai kembali ke mobil.
Pak Harun terlihat kesal.
“Beli air kok lama sekali?”
Saya masuk tanpa menjawab.
Ibu menatap saya.
“Airnya mana?”
“Tidak jadi beli.”
Pak Harun mendengus pelan.
Sepanjang sisa perjalanan, saya diam.
Saya bukan takut menghadapi Pak Harun.
Saya takut menghadapi Ibu.
Karena Maya benar.
Masalah terbesar bukan membuktikan bahwa Pak Harun berbohong.
Masalah terbesar adalah membuat Ibu bersedia melihat kebohongan itu.
Mobil berhenti di depan kantor urusan agama.
Ibu memegang map di dadanya seperti seseorang yang sedang memegang tiket menuju kehidupan baru.
Pak Harun turun lebih dulu.
“Pelan-pelan, Ratna.”
Dia mengulurkan tangan.
Ibu menerimanya.
Saya melihat pemandangan itu dan, untuk sepersekian detik, hampir merasa bersalah.
Ibu tampak bahagia.
Benar-benar bahagia.
Lalu saya teringat isi amplop.
Kami masuk ke ruang tunggu.
Pagi itu tidak terlalu ramai. Ada pasangan muda bersama kedua orang tua mereka. Ada seorang pria yang sibuk mengisi formulir. Kipas angin berputar lambat di langit-langit.
Pak Harun duduk di sebelah Ibu.
Tangannya menepuk punggung tangan Ibu dengan lembut.
“Setelah ini kita makan soto, ya.”
Ibu tersenyum.
“Boleh.”
Kemudian dia menatap saya.
“Nadira, nanti kamu ikut makan.”
Saya mengangguk.
“Bu.”
“Hm?”
“Sebelum Ibu tanda tangan apa pun, saya mau tanya satu hal.”
Pak Harun langsung memotong.
“Kalau urusan pribadi, nanti saja. Kita sudah sampai sini.”
Saya memandangnya.
“Justru karena sudah sampai sini.”
Ibu menegang.
“Nadira, jangan bikin ribut.”
“Saya tidak mau bikin ribut.”
Saya membuka tas.
Pak Harun melihat amplop cokelat itu.
Wajahnya berubah sangat sedikit.
Namun cukup.
Saya menangkapnya.
Saya mengeluarkan fotokopi kartu keluarga, tetapi belum menyerahkannya.
Saya hanya menatap Ibu.
Lalu saya mengatakan satu kalimat.
“Bu, sebelum menikah dengan lelaki yang katanya tidak punya keluarga, Ibu mau bertemu dulu dengan dua anak kandungnya yang masih hidup?”
Tangan Ibu langsung gemetar.
Map biru di pangkuannya bergeser.
Pak Harun memucat.
Bukan pucat karena kaget.
Pucat karena tahu semuanya sudah terbongkar.
Ibu menatap saya seolah tidak memahami bahasa yang saya gunakan.
“Anak?”
Saya mengangguk.
“Anak laki-laki dan anak perempuan.”
Dia menoleh kepada Pak Harun.
“Harun?”
Pak Harun membuka mulut.
Tidak ada suara.
“Harun,” ulang Ibu, lebih keras. “Kamu bilang tidak punya siapa-siapa.”
Beberapa orang mulai melirik.
Pak Harun menarik napas.
“Saya memang punya anak. Tapi hubungan kami sudah putus.”
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
“Karena mereka bukan keluarga saya lagi.”
Saya mengeluarkan foto.
“Kalau bukan keluarga, kenapa tiga tahun lalu Bapak masih berfoto bersama mereka?”
Pak Harun menatap saya dengan kebencian yang akhirnya tidak bisa disembunyikan.
“Kamu menyelidiki saya?”
“Saya memastikan siapa orang yang mau menikahi ibu saya.”
Ibu mengambil foto itu.
Tangannya bergetar semakin hebat.
“Ini siapa?”
“Bima,” jawab saya. “Anak Pak Harun.”
Pak Harun berdiri.
“Ratna, kita bisa jelaskan nanti. Nadira sengaja mau merusak hubungan kita.”
Saya ikut berdiri.
“Kalau hubungan ini rusak hanya karena fakta, berarti yang rusak bukan saya.”
“Diam kamu!”
Suara Pak Harun meledak.
Semua orang di ruang tunggu menoleh.
Ibu tersentak.
Selama lima bulan, Pak Harun selalu berbicara pelan.
Selalu sabar.
Selalu menggunakan nada lembut.
Itulah pertama kalinya topengnya jatuh.
Dia sadar, lalu segera merendahkan suara.
“Maaf. Saya emosi.”
Tapi terlambat.
Ibu sudah melihatnya.
Saya meletakkan satu lembar percakapan WhatsApp di atas meja.
Pesan itu berasal dari percakapan Pak Harun dengan Bima beberapa bulan sebelumnya.
Dalam salah satu bagian, Pak Harun menulis bahwa dia sedang tinggal di tempat baru dan mengenal seorang janda yang memiliki apartemen.
Di bawahnya ada kalimat lain.
Kalau cocok dan cepat menikah, setidaknya saya tidak perlu mikir kontrakan lagi.
Ibu membaca kalimat itu dua kali.
Lalu tiga kali.
Wajahnya perlahan kehilangan warna.
Pak Harun langsung menunjuk saya.
“Itu bisa diedit!”
Saya menjawab tenang.
“Saya sudah bertemu mantan menantu Bapak. Kalau perlu, Bima juga bisa datang.”
Mata Pak Harun membesar.
“Ratna, jangan dengarkan anakmu. Dia dari awal memang tidak suka saya.”
Ibu masih menatap kertas.
“Saya pernah tanya apakah kamu punya anak.”
Pak Harun diam.
“Kamu bilang istrimu meninggal dan setelah itu kamu hidup sendirian.”
“Saya memang hidup sendiri.”
“Itu bukan jawaban!”
Suara Ibu pecah.
Saya belum pernah melihatnya marah seperti itu sejak Ayah meninggal.
Pak Harun mencoba meraih tangannya.
Ibu menarik tangan.
“Jangan pegang saya.”
Dia membeku.
Ibu kemudian menatap saya.
“Ada lagi?”
Saya ragu.
Tapi akhirnya mengeluarkan lembar terakhir.
Tentang perempuan yang hampir dinikahi Pak Harun dua tahun lalu.
Tentang permintaan namanya dicantumkan dalam kepemilikan rumah.
Ibu membaca tanpa suara.
Matanya mulai basah.
Pak Harun duduk kembali.
“Ratna, saya bisa jelaskan.”
“Jelaskan.”
Pak Harun tampak terkejut.
Ibu menatap lurus.
“Sekarang.”
Dia mengusap wajah.
“Waktu itu saya hanya ingin ada kepastian. Kalau saya menikah dan merawat seseorang, masa saya tidak punya hak apa-apa?”
Saya hampir tertawa mendengar kata merawat.
Ibu rupanya berpikir hal yang sama.
“Merawat?”
Suaranya pelan.
“Selama lima bulan ini siapa yang merawat siapa?”
Pak Harun diam.
“Saya yang memasak untukmu.”
Tidak ada jawaban.
“Saya mencuci bajumu.”
Diam.
“Saya membersihkan kamar mandimu.”
Diam.
“Saya membuang sampahmu. Membelikan obatmu. Membawakan makananmu.”
Pak Harun menghela napas.
“Karena kamu melakukannya dengan ikhlas.”
Ibu tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Tawa itu terdengar seperti sesuatu dalam dirinya baru saja patah.
“Jadi karena saya ikhlas, kamu merasa berhak menerimanya terus?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Pak Harun mulai kehilangan kesabaran.
“Kita ini sudah tua, Ratna. Jangan dibikin rumit. Kamu butuh teman, saya butuh teman. Kita bisa saling membantu.”
Ibu menatapnya lama.
“Saya pikir kamu mencintai saya.”
Pak Harun tidak langsung menjawab.
Kesalahan terbesar seseorang sering kali bukan mengatakan hal yang salah.
Melainkan terlambat mengatakan hal yang seharusnya.
Dan jeda Pak Harun terlalu panjang.
Mata Ibu berkaca-kaca.
Dia mengangguk kecil.
“Saya sudah mengerti.”
Pak Harun panik.
“Ratna.”
Ibu berdiri.
“Pulang, Nadira.”
Pak Harun ikut berdiri.
“Jangan begini. Kita sudah sampai sini.”
Ibu menoleh.
Untuk pertama kalinya, saya melihat ketenangan yang berbeda di wajahnya.
“Justru karena sudah sampai sini, saya berhenti.”
Kami berjalan keluar.
Pak Harun mengikuti hingga ke halaman.
“Ratna!”
Ibu tidak menoleh.
“Kalau kamu pergi sekarang, orang-orang akan bicara!”
Ibu berhenti.
Kalimat itu berhasil membuatnya menoleh.
Tetapi bukan dengan wajah takut.
“Selama ini saya pikir saya ingin menikah supaya tidak kesepian.”
Dia menatap Pak Harun.
“Ternyata saya hampir menikah karena terlalu takut pada kesepian.”
Lalu Ibu masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan pulang, dia tidak bicara.
Saya juga tidak.
Sesampainya di apartemen, Bu Yanti langsung keluar dari unitnya.
“Eh, sudah selesai? Kapan akadnya?”
Ibu menatapnya.
“Tidak jadi.”
Mulut Bu Yanti terbuka.
“Kenapa?”
Ibu berjalan melewatinya.
“Karena saya mau menikah dengan suami, bukan mengambil pasien baru.”
Saya hampir tersenyum.
Bu Yanti berdiri terpaku.
Hari itu Ibu masuk kamar dan tidak keluar sampai sore.
Saya membuat teh, meletakkannya di depan pintu.
Menjelang magrib, pintu terbuka.
Ibu duduk di meja makan.
Lipstiknya sudah hilang.
Syal merah marun terlipat di tangannya.
Saya duduk di seberang.
“Bu.”
“Jangan bilang Ibu bodoh.”
“Saya tidak pernah berpikir begitu.”
Air matanya jatuh.
“Saya hampir menyerahkan hidup saya ke orang yang bahkan tidak jujur tentang anaknya sendiri.”
Saya diam.
Ibu mengusap pipi.
“Yang paling memalukan bukan dia menipu Ibu.”
Saya menunggu.
“Yang paling memalukan adalah sebenarnya sejak awal Ibu melihat banyak hal yang aneh.”
Saya menatapnya.
“Tapi Ibu pura-pura tidak lihat.”
“Kenapa?”
Dia tersenyum pahit.
“Karena ada orang yang menunggu Ibu membuka pintu.”
Kalimat itu sederhana, tapi menghantam saya.
Selama ini saya hanya melihat pekerjaan yang Pak Harun bebankan kepada Ibu.
Saya tidak melihat bahwa setiap kali Pak Harun mengetuk pintu, Ibu merasa dibutuhkan.
Setiap kali dia memuji masakan Ibu, Ibu merasa masih berarti.
Setiap kali dia bertanya apakah Ibu sudah makan, Ibu merasa masih ada seseorang yang memikirkan dirinya.
Kesepian memang tidak selalu membuat orang lemah.
Tapi kadang membuat seseorang menerima perhatian sekecil apa pun sebagai cinta.
Saya menggenggam tangan Ibu.
“Bu, saya minta maaf.”
Dia mengangkat kepala.
“Untuk apa?”
“Selama ini saya kira kalau kebutuhan Ibu sudah saya bayar, berarti saya sudah menjaga Ibu.”
Ibu terdiam.
“Saya bayar listrik. Belanja. Obat. Apartemen. Tapi saya sering pulang dan langsung masuk kamar. Kadang Ibu cerita, saya jawab sambil lihat ponsel.”
Mata Ibu kembali basah.
“Saya tidak tahu Ibu sesepi itu.”
Dia menggenggam tangan saya balik.
“Kamu juga punya hidup sendiri.”
“Tapi Ibu bagian dari hidup saya.”
Malam itu kami makan mi rebus berdua.
Tidak ada lauk kesukaan Pak Harun.
Tidak ada obat yang harus diingatkan.
Tidak ada pakaian tetangga yang harus dijemur.
Tiga hari kemudian, Pak Harun pindah dari apartemen.
Menurut satpam, seorang pria datang menjemputnya.
Bima.
Anaknya sendiri.
Bu Yanti sempat bergosip bahwa saya terlalu ikut campur dalam kehidupan Ibu.
Anehnya, Ibu yang menjawab.
“Anak saya bukan menghalangi saya menikah. Dia hanya meminta saya membuka mata sebelum menutup pintu rumah untuk orang yang salah.”
Setelah itu tidak ada yang berani membahasnya di depan kami.
Beberapa minggu berlalu.
Saya mulai berusaha pulang lebih awal dua kali seminggu.
Saya mengajak Ibu berjalan pagi.
Kadang kami makan di luar.
Kadang hanya duduk di balkon sambil membicarakan hal-hal kecil.
Suatu Minggu, Ibu bilang ingin ikut komunitas berkebun di taman kota.
Saya langsung setuju.
Dua bulan kemudian dia mulai punya banyak teman.
Ada Bu Sri yang suka membuat kue.
Ada Pak Hendra, pensiunan guru.
Ada pasangan lansia yang selalu membawa termos kopi.
Suatu malam saya pulang dan melihat Ibu di depan cermin lagi.
Lipstik merah muda yang sama.
Syal merah marun yang sama.
Saya berhenti di pintu.
Jantung saya spontan berdebar.
Ibu melihat wajah saya dari pantulan cermin lalu tertawa.
“Tenang. Bukan mau menikah.”
Saya ikut tertawa.
“Mau ke mana?”
“Teman-teman kebun mau makan malam.”
Dia mengambil tas kecil.
Sebelum keluar, Ibu menatap saya.
“Nadira.”
“Ya?”
“Kalau suatu hari Ibu suka seseorang lagi, jangan langsung curiga.”
Saya tersenyum.
“Boleh.”
“Tapi tetap selidiki.”
Saya tertawa keras.
Ibu ikut tertawa.
Lalu dia membuka pintu.
Sebelum melangkah keluar, dia menoleh sekali lagi.
“Nadira.”
“Hmm?”
“Waktu hari itu di kantor, kamu tahu apa yang paling membuat tangan Ibu gemetar?”
“Saya pikir karena tahu Pak Harun punya anak.”
Ibu menggeleng.
“Bukan.”
Saya menunggu.
“Karena ketika kamu bilang dia punya keluarga, Ibu sadar satu hal.”
“Apa?”
Ibu tersenyum kecil.
“Saya juga punya.”
Dia menunjuk saya.
“Dan saya hampir mempertaruhkan rumah, uang, tenaga, bahkan hubungan dengan anak saya demi seseorang hanya karena takut tidur sendirian.”
Saya tidak bisa menjawab.
Ibu lalu merapikan syalnya.
“Sendiri ternyata tidak selalu berarti kesepian.”
Dia membuka pintu.
“Dan ditemani seseorang juga belum tentu berarti dicintai.”
Pintu tertutup perlahan.
Saya berdiri di ruang tamu yang mendadak sunyi.
Namun untuk pertama kalinya, kesunyian itu tidak terasa menyedihkan.
Karena saya tahu Ibu tidak sedang menunggu seseorang datang menyelamatkannya.
Dia sedang keluar untuk menjalani hidupnya sendiri.
