SAAT DUA GARIS MERAH MUNCUL, AKU DATANG KE RUMAH SAKIT MEMBAWA SUP HANGAT UNTUK SUAMIKU—NAMUN SEORANG WANITA SEDANG MERAPIKAN KERAHNYA DAN MENYURUHNYA PULANG KE JAKARTA. MALAM ITU AKU MEMILIH MEMBAWA ANAKKU PERGI, TANPA TAHU SIAPA SEBENARNYA PRIA YANG KUNIKAHI

Suara mesin mobil di depan rumah terdengar seperti sesuatu yang sedang menghitung mundur.

Aku duduk di ruang keluarga dengan layar ponsel masih menyala di tanganku. Foto Arga dalam laporan tahunan perusahaan terpampang jelas di sana. Jas hitam, tatapan dingin, nama lengkap yang selama hampir dua tahun tidak pernah sekali pun dia ucapkan kepadaku.

Arga Bima Wicaksana.

Calon penerus Wicaksana Group.

Bukan sekadar dokter bedah jantung yang kukenal.

Aku mendengar pintu pagar terbuka.

Lalu langkah kaki.

Kunci berputar di pintu utama.

Arga masuk dengan napas terburu-buru. Kemejanya kusut, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya terlihat jauh lebih pucat daripada ketika menghadapi operasi berjam-jam.

Dia melihatku.

Lalu melihat foto di layar ponselku.

Rahangnya menegang.

“Nadine.”

Aku mengangkat wajah.

“Jadi itu namamu?”

Dia tidak menjawab.

Aku berdiri.

“Arga Bima Wicaksana?”

“Nadine, aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan apa dulu?”

Aku tertawa pendek.

“Nama palsu? Keluarga yang kamu sembunyikan? Mantan tunangan? Saham? Kursi direksi? Atau fakta bahwa pernikahan ini mungkin cuma cara paling nyaman buatmu bersembunyi dari semuanya?”

“Itu tidak benar.”

“Bagian mana?”

Dia melangkah mendekat.

Aku langsung mengangkat tangan.

“Jangan sentuh aku.”

Arga berhenti.

Untuk beberapa detik, kami hanya saling menatap.

Rumah yang biasanya terasa tenang mendadak seperti ruang interogasi.

Akhirnya Arga berkata pelan, “Nama Arga Bima bukan palsu. Itu tetap namaku. Wicaksana adalah nama keluarga ibuku. Setelah aku pergi dari Jakarta, aku berhenti menggunakannya.”

“Kenapa?”

Dia menarik napas panjang.

“Karena aku tidak mau hidup sebagai pewaris keluarga itu.”

“Apa sulitnya mengatakan itu sebelum menikah?”

Dia terdiam.

“Itu yang aku tidak bisa maafkan.”

Mataku mulai panas lagi.

“Aku tidak peduli kamu anak konglomerat atau tukang parkir. Aku marah karena kamu memilih membuatku hidup dalam kebohongan.”

“Aku tidak pernah berbohong tentang perasaanku.”

“Tapi kamu berbohong tentang hidupmu.”

Arga menunduk sesaat.

“Aku tahu.”

Dua kata itu justru membuat dadaku semakin sesak.

Aku mengambil amplop dari meja dan melemparkannya kepadanya.

Foto lama bersama Keisya jatuh di lantai.

“Dia mengirim ini?”

“Aku tidak tahu.”

Arga membungkuk mengambil foto tersebut.

Wajahnya berubah.

Bukan malu.

Bukan panik.

Melainkan marah.

“Siapa yang mengirim pesan kepadamu?”

“Kenapa? Ada rahasia lain lagi?”

“Nadine, jawab aku.”

Nada suaranya membuatku membeku.

Aku menunjukkan nomor tidak dikenal di ponsel.

Arga membaca pesan itu.

Wajahnya langsung mengeras.

Dia menekan nomor tersebut.

Tidak aktif.

“Siapa?”

Aku menuntut.

Arga tidak menjawab.

Aku menggeleng.

“Sudah. Aku capek.”

Aku berjalan menuju tangga.

“Nadine.”

“Aku mau tidur di kamar tamu.”

“Nadine, dengarkan aku.”

Aku berbalik.

“Tidak. Malam ini kamu yang dengarkan.”

Suaraku gemetar.

“Aku datang ke rumah sakit karena mau memberitahumu sesuatu.”

Ekspresinya berubah.

Aku hampir mengatakannya.

Tentang dua garis merah.

Tentang bayi kami.

Namun melihat wajahnya, semua keberanian itu lenyap.

“Aku kira aku punya suami,” lanjutku. “Ternyata aku bahkan tidak tahu siapa laki-laki yang kunikahi.”

Malam itu aku mengunci pintu kamar tamu.

Arga tidak memaksa masuk.

Sekitar tengah malam, aku mendengar langkahnya berhenti di depan pintu.

Dia berdiri di sana cukup lama.

Lalu suara pelan terdengar.

“Aku tidak menikahimu untuk bersembunyi.”

Aku menutup mata.

“Tidak pernah.”

Setelah itu dia pergi.

Aku tidak tidur.

Pukul tiga pagi, rasa mual membuatku berlari ke kamar mandi. Aku muntah sampai tubuhku gemetar.

Ketika aku kembali ke kamar, aku menemukan segelas air hangat dan biskuit tawar di depan pintu.

Arga masih mengingat kebiasaanku saat sakit.

Dan justru itu yang paling menyakitkan.

Pagi berikutnya aku pergi sebelum dia bangun.

Aku menginap di rumah orang tuaku.

Kepada Ibu, aku hanya mengatakan bahwa kami sedang bertengkar.

Namun Ayah tidak mudah dibohongi.

Dia menatap wajahku lama.

“Arga melakukan sesuatu?”

Aku menggeleng.

“Belum mau cerita.”

Ayah tidak mendesak.

Hanya berkata, “Kalau sudah siap, Ayah dengar.”

Aku baru saja hendak naik ke kamar ketika rasa mual datang lagi.

Ibu melihatku menutup mulut dan langsung terdiam.

Tatapan seorang ibu kadang lebih tajam daripada tes laboratorium.

“Nadine.”

Aku berhenti.

“Kamu hamil?”

Air mataku langsung jatuh.

Ibu memelukku tanpa bertanya apa pun.

Siangnya, kami pergi ke dokter kandungan.

Usia kehamilanku sekitar enam minggu.

Di layar USG, dokter menunjukkan kantung kecil yang hampir tidak terlihat.

“Masih sangat awal,” katanya. “Jaga kondisi dan hindari stres.”

Aku hampir tertawa.

Hindari stres.

Kalimat paling mustahil dalam hidupku saat itu.

Setelah keluar dari ruang pemeriksaan, ponselku dipenuhi panggilan dari nomor rumah sakit, Arga, dan nomor asing.

Aku tidak menjawab satu pun.

Sampai sebuah pesan masuk.

Aku mengenali namanya.

Keisya Mahendra.

Kita perlu bicara. Ini tentang keselamatanmu.

Aku hampir menghapus pesan itu.

Namun kalimat berikutnya membuatku berhenti.

Bima tidak pergi dari Jakarta karena pertunangan kami. Dia pergi karena kematian kakaknya.

Malam itu aku setuju bertemu Keisya di sebuah kafe hotel.

Dia datang sendirian.

Tidak ada senyum sinis seperti di rumah sakit.

Wajahnya justru tampak tegang.

“Aku minta maaf soal kemarin.”

Aku menatapnya datar.

“Kalau hanya untuk itu, aku pulang.”

“Nadine, keluarga Wicaksana sedang kacau.”

“Bukan urusanku.”

“Sekarang jadi urusanmu.”

Aku terdiam.

Keisya membuka sebuah folder tipis.

Di dalamnya ada salinan berita lama tentang kecelakaan mobil tujuh tahun lalu.

Seorang pria bernama Rendra Wicaksana meninggal.

“Kakak Arga?” tanyaku.

Keisya mengangguk.

“Rendra seharusnya menjadi penerus utama. Bima adiknya. Setelah Rendra meninggal, semua beban pindah ke Bima.”

Aku membaca berita itu.

“Kecelakaan tunggal?”

“Itu versi resminya.”

Keisya menatapku.

“Bima tidak percaya.”

Aku mengangkat wajah.

“Kenapa?”

“Karena rem mobil Rendra rusak. Dan seminggu sebelum kecelakaan, dia sedang mengaudit transaksi perusahaan yang melibatkan pamannya sendiri.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Paman yang sedang mengumpulkan suara pemegang saham?”

“Surya Wicaksana.”

Keisya mengangguk.

“Bima menuduh pamannya terlibat. Tapi tidak punya bukti cukup. Kakeknya malah menutup kasus demi nama keluarga. Bima marah. Dia mengundurkan diri, meninggalkan Jakarta, dan memakai identitas profesionalnya saja.”

“Lalu kamu?”

“Keluarga kami memang merencanakan pertunangan. Tapi Bima membatalkannya sebelum pergi.”

Aku tertawa getir.

“Jadi kamu masih mengejarnya tujuh tahun kemudian?”

Wajah Keisya menegang.

“Aku tidak datang ke Semarang untuk merebut suamimu.”

“Yang kulihat di rumah sakit tidak terlihat seperti itu.”

Dia menarik napas.

“Aku sengaja membuatmu melihat.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Karena aku butuh Bima berhenti mengabaikan keadaan.”

“Kamu memakai aku untuk memancingnya?”

“Ya.”

Aku berdiri.

Keisya segera berkata, “Dan aku salah.”

Aku menatapnya tajam.

“Jangan pernah dekati aku lagi.”

“Nadine, dengar dulu.”

Aku hendak pergi.

Lalu Keisya berkata, “Orang yang mengirim foto itu bukan aku.”

Langkahku berhenti.

Aku berbalik perlahan.

“Apa?”

“Aku tidak tahu siapa yang mengirim foto pertunangan itu.”

Darahku seperti turun ke kaki.

“Kalau bukan kamu, siapa?”

“Orang yang ingin kamu marah pada Bima.”

Keisya menatapku lurus.

“Dan menjauh darinya.”

Ponselku bergetar.

Pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Kali ini hanya satu kalimat.

Kalau kau masih ingin bayi dalam kandunganmu lahir selamat, jangan biarkan Arga kembali ke Jakarta.

Tanganku langsung membeku.

Keisya melihat wajahku.

“Kamu kenapa?”

Aku tidak bisa menjawab.

Dia mengambil ponsel dari tanganku.

Begitu membaca pesan itu, ekspresinya berubah total.

“Kamu hamil?”

Aku merebut kembali ponsel.

“Jangan bilang siapa-siapa.”

“Nadine, kita harus hubungi Bima.”

“Tidak.”

“Ini ancaman.”

“Jangan hubungi dia.”

Namun Keisya sudah menekan nomor Arga.

Aku berusaha merebut ponselnya.

Terlambat.

Arga menjawab pada dering pertama.

“Keisya?”

“Bima, Nadine ada bersamaku.”

Suara di seberang langsung berubah.

“Kenapa dia bersamamu?”

“Dia dapat ancaman.”

Sunyi.

Lalu satu pertanyaan.

“Ancaman apa?”

Keisya menatapku.

Aku memejamkan mata.

“Bima…”

“Apa?”

“Nadine hamil.”

Aku tidak pernah mendengar suara seseorang kehilangan kendali hanya dari satu tarikan napas.

“Nadine hamil?”

Aku mengambil ponsel.

“Arga.”

“Nadine, kamu di mana?”

“Aku baik-baik saja.”

“Di mana?”

Aku menyebut nama hotel.

Telepon terputus.

Kurang dari dua puluh menit kemudian, Arga muncul.

Dia masih mengenakan baju operasi di balik jaket.

Begitu melihatku, dia berjalan cepat.

Matanya turun ke perutku.

Lalu kembali ke wajahku.

“Kamu hamil?”

Aku mengangguk.

Wajahnya seperti retak.

“Sejak kapan kamu tahu?”

“Kemarin.”

Dia menutup mata.

Aku bisa melihat penyesalan di wajahnya.

“Aku datang ke rumah sakit untuk memberitahumu.”

Arga menatapku lama.

“Aku menghancurkan hari itu.”

Aku tidak menjawab.

Dia mengulurkan tangan.

Kali ini aku tidak mundur.

Arga menyentuh ujung jariku saja.

Seolah takut aku akan pecah.

“Nadine, aku minta maaf.”

Aku menarik tanganku perlahan.

“Ancaman dulu.”

Keisya menunjukkan pesan tersebut.

Arga membacanya.

Wajahnya berubah dingin.

“Aku tahu siapa yang mungkin melakukan ini.”

“Surya?”

“Bukan hanya dia.”

Arga menatap Keisya.

“Ada seseorang dari rumah sakit.”

Aku tersentak.

“Apa maksudmu?”

“Kehamilanmu baru dikonfirmasi hari ini. Bahkan aku baru tahu sekarang.”

Dia menunjukkan pesan.

“Tapi pengirim ini sudah tahu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku merasakan dingin menjalar di punggung.

“Berarti seseorang mengikuti aku?”

“Atau punya akses ke data medis.”

Keisya berbisik.

Arga langsung menelepon kepala keamanan rumah sakit.

Dalam dua jam, mereka menemukan sesuatu.

Salah satu staf administrasi klinik kandungan telah membuka dataku beberapa menit setelah pemeriksaan selesai.

Orang itu mengaku dibayar untuk memantau kedatanganku.

Pembayarnya menggunakan rekening perusahaan cangkang.

Perusahaan yang ternyata terhubung ke anak usaha milik Surya Wicaksana.

Malam itu, untuk pertama kalinya aku memahami alasan Arga hidup seperti orang yang selalu bersiap melarikan diri.

Namun aku masih marah.

Keesokan harinya dia mengajakku bicara sendirian.

Kami duduk di taman belakang rumah orang tuaku.

“Aku tidak meminta kamu memaafkan aku sekarang,” katanya.

“Bagus.”

“Tapi aku harus kembali ke Jakarta.”

Aku menatapnya.

“Karena ancaman itu?”

“Karena selama aku terus lari, orang seperti Surya akan selalu punya alasan mengejar orang di sekitarku.”

“Dan kalau kamu kembali?”

“Aku ambil posisi yang dulu kutinggalkan. Aku buka kembali audit Rendra. Aku bawa semua bukti ke polisi.”

Aku menatap wajahnya.

“Kenapa baru sekarang?”

Arga diam cukup lama.

“Karena dulu aku takut.”

Aku tidak menyangka jawaban itu.

“Kamu?”

Dia tersenyum pahit.

“Aku dokter bedah, Nadine. Aku bisa membuka dada seseorang tanpa tangan gemetar. Tapi menghadapi keluarga sendiri…”

Dia menunduk.

“Aku pengecut.”

Aku melihatnya dalam diam.

“Aku menikahimu karena apa?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

Arga menatapku.

“Bukan karena aku butuh tempat bersembunyi.”

“Lalu?”

“Karena bersamamu, untuk pertama kalinya aku merasa bisa hidup tanpa menjadi siapa-siapa selain diriku sendiri.”

Mataku panas.

“Tapi kamu bahkan tidak memberitahuku siapa dirimu.”

“Aku tahu.”

Dia mengangguk.

“Itu kesalahan terbesar yang pernah kubuat.”

Tiga hari kemudian, Arga pergi ke Jakarta.

Bukan sendirian.

Ayahku mengirim pengacara keluarga.

Keisya membawa bukti transaksi lama yang selama bertahun-tahun disimpan ayahnya.

Dan aku membuat keputusan yang tidak diduga semua orang.

Aku ikut.

“Tidak,” kata Arga ketika tahu.

“Aku tidak minta izin.”

“Nadine, kamu hamil.”

“Justru karena aku hamil.”

Aku menatapnya.

“Aku tidak mau anakku lahir dengan ayah yang terus lari.”

Pertemuan pemegang saham Wicaksana Group berlangsung di gedung pusat Jakarta.

Untuk pertama kalinya aku melihat kehidupan Arga yang sebenarnya.

Orang-orang berdiri ketika dia masuk.

Beberapa memanggilnya Tuan Bima.

Kakeknya menangis saat melihatnya.

Surya tersenyum tipis.

“Kau akhirnya pulang.”

Arga duduk.

“Aku tidak pulang.”

Ruangan hening.

“Aku datang menyelesaikan sesuatu.”

Bukti audit Rendra dibuka.

Transfer fiktif.

Perusahaan cangkang.

Manipulasi kontrak alat kesehatan.

Dan akhirnya, pembayaran kepada bengkel yang memodifikasi sistem rem mobil Rendra.

Surya berubah pucat.

Polisi masuk tidak lama kemudian.

Namun kejutan terbesar justru datang dari kakek Arga.

Lelaki tua itu berdiri dengan tubuh gemetar.

“Aku tahu soal audit itu.”

Arga membeku.

“Apa?”

“Aku tahu Rendra mencurigai Surya.”

Ruangan seperti berhenti bernapas.

“Lalu kenapa Kakek diam?”

Air mata lelaki tua itu jatuh.

“Karena aku takut perusahaan hancur.”

Arga tertawa pelan.

Suara tanpa kebahagiaan.

“Jadi Kak Rendra mati, dan Kakek memilih menyelamatkan nama keluarga?”

Tidak ada jawaban.

Arga berdiri.

Dia membuka map di depannya.

“Aku tidak akan menjadi penerus Wicaksana Group.”

Semua orang terkejut.

Surya bahkan tertawa pendek.

Namun Arga melanjutkan.

“Aku hanya mengambil hak suara yang menjadi milikku untuk memecah sistem kekuasaan keluarga ini.”

Dia menyerahkan dokumen.

Sebagian saham keluarga akan dialihkan ke yayasan independen untuk membangun rumah sakit jantung dan dana bantuan pasien miskin.

Sisanya dikelola profesional.

Tidak ada lagi kursi yang otomatis diwariskan berdasarkan nama keluarga.

Aku menatapnya dari belakang ruangan.

Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Arga tidak pernah meninggalkan Jakarta karena membenci kekayaan.

Dia pergi karena takut kekayaan itu mengubahnya menjadi bagian dari sistem yang membunuh kakaknya.

Enam bulan kemudian, kasus Surya masuk pengadilan.

Aku dan Arga masih belum kembali seperti dulu.

Kepercayaan tidak sembuh hanya karena rahasia telah terbuka.

Kami mengikuti konseling pernikahan.

Kami bertengkar.

Kami menangis.

Ada hari ketika aku ingin menyerah.

Ada hari ketika Arga tidur di sofa karena aku belum siap berada terlalu dekat dengannya.

Namun perlahan, kami mulai belajar mengenal satu sama lain dari awal.

Bukan sebagai dokter Arga dan istrinya.

Bukan sebagai pewaris Wicaksana dan perempuan Pradana.

Hanya sebagai Arga dan Nadine.

Suatu malam, ketika kandunganku memasuki bulan kedelapan, aku menemukan sebuah kotak kecil di meja.

Bukan perhiasan.

Isinya sebuah kartu nama.

Dr. Arga Bima Wicaksana.

Dokter Bedah Jantung.

Tidak ada jabatan perusahaan.

Tidak ada gelar penerus.

Aku menatapnya.

Arga berdiri di pintu.

“Kenapa pakai Wicaksana lagi?”

“Karena aku tidak mau lagi hidup dengan memotong bagian dari diriku sendiri.”

Dia mendekat.

“Kalau anak kita nanti bertanya siapa ayahnya, aku ingin bisa menjawab tanpa menyembunyikan apa pun.”

Aku mengusap perutku.

“Bagus.”

Dia tersenyum kecil.

“Dan kalau dia bertanya siapa ibunya?”

Aku menatap Arga.

“Bilang ibunya perempuan yang hampir menceraikan ayahnya saat sedang hamil enam minggu.”

Arga tertawa.

Aku ikut tertawa.

Untuk pertama kalinya sejak dua garis merah itu muncul, rumah kami benar-benar terasa seperti rumah.

Beberapa minggu kemudian, anak laki-laki kami lahir.

Arga menangis lebih keras daripada aku.

Ketika perawat menyerahkan bayi itu ke dadanya, tangannya yang selama bertahun-tahun melakukan operasi tanpa gemetar justru bergetar hebat.

Aku menatapnya dari tempat tidur.

“Namanya siapa?”

Arga menatapku.

“Kamu yang pilih.”

Aku tersenyum.

“Rendra.”

Dia membeku.

Matanya langsung basah.

“Serius?”

Aku mengangguk.

“Biar namanya mengingatkan kita bahwa keluarga bukan soal warisan apa yang diterima.”

Aku menatap bayi kecil di lengannya.

“Tapi soal kesalahan apa yang tidak boleh kita ulangi.”

Arga menunduk mencium dahi anak kami.

Dan malam itu aku akhirnya mengerti.

Dua garis merah yang dulu muncul di tanganku tidak datang untuk menyelamatkan pernikahan kami.

Anak itu juga tidak datang untuk membuatku bertahan pada seorang laki-laki yang berbohong.

Dia datang tepat ketika seluruh kebohongan runtuh, memaksa kami memilih.

Mengulangi hidup lama dengan rahasia.

Atau membangun sesuatu yang baru dengan kebenaran.

Aku pernah mengira menikahi orang yang salah adalah tragedi terbesar dalam hidupku.

Ternyata yang lebih berbahaya adalah mencintai seseorang tanpa pernah benar-benar mengenalnya.

Dan yang paling sulit bukan menemukan kebenaran.

Melainkan memutuskan apa yang akan kita lakukan setelah kebenaran itu akhirnya berdiri tepat di depan mata.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang