SEJAK KECIL RAKA SELALU MENGANCAM MEMBATALKAN PERTUNANGAN SETIAP KALI AKU MENYURUHNYA BELAJAR. SEBULAN SEBELUM SNBT, KUTEMUKAN TIKET LIBURANNYA KE BALI BERSAMA PEREMPUAN LAIN. SAAT DIA MENYERINGAI, “KALAU KEBERATAN, KITA BATALKAN SAJA,” AKU MENGANGGUK—LALU MEMASUKKAN TIGA TAHUN CATATAN BELAJARNYA KE MESIN PENGHANCUR KERTAS

Untuk pertama kalinya sejak kami masih memakai seragam SD, Raka Adinata menatapku seperti menatap orang asing.

Senyum percaya diri yang selalu muncul setiap kali dia mengancam membatalkan pertunangan kami akhirnya lenyap.

Aku memasukkan pena ke dalam tempat pensil, merapikan lembar latihan di depanku, lalu kembali duduk.

Raka masih berdiri.

“Kamu serius?”

Aku tidak menjawab.

“Nadira, gue tanya. Kamu serius mau buang hubungan kita cuma gara-gara beginian?”

Aku mengangkat kepala.

“Yang membuang hubungan ini bukan aku, Rak.”

Rahangnya mengeras.

Aku melanjutkan dengan suara tenang.

“Kamu yang bertahun-tahun menjadikan perpisahan sebagai ancaman setiap kali aku tidak melakukan apa yang kamu mau. Sekarang aku cuma berhenti takut.”

Ruangan itu benar-benar sunyi.

Raka seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi Keisya lebih dulu menarik lengannya.

“Sudahlah, Rak. Semua orang lihat.”

Mungkin kalimat itu menyadarkannya bahwa teman-teman kami sedang memperhatikan.

Dia mengambil tasnya dengan kasar.

“Oke.”

Tatapannya menusukku.

“Jangan nyesel.”

Lalu dia pergi bersama Keisya.

Aku mengira malam itu akan menjadi malam paling menyakitkan dalam hidupku.

Ternyata tidak.

Aku pulang, mandi, makan bersama Mama dan Papa, lalu tidur sebelum pukul sebelas untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan.

Tidak ada pesan mengingatkan Raka mengerjakan soal.

Tidak ada telepon tiga puluh menit untuk menjelaskan integral.

Tidak ada foto lembar jawaban yang dikirim pukul satu pagi dengan pesan, “Nad, yang ini gimana?”

Pagi berikutnya aku bangun dengan perasaan aneh.

Hidupku terasa sangat sepi.

Tapi ternyata sepi tidak selalu berarti kehilangan.

Kadang-kadang, sepi berarti akhirnya ada ruang untuk mendengar dirimu sendiri.

Raka tetap pergi ke Bali.

Aku tahu dari unggahan Keisya.

Pantai.

Kafe.

Kolam renang hotel.

Foto matahari terbenam.

Dalam salah satu foto, Raka dan Keisya duduk berdampingan di sebuah restoran. Bahu mereka hampir bersentuhan.

Sinta langsung merebut ponselku.

“Jangan dilihat.”

“Aku nggak apa-apa.”

“Bohong.”

Aku tersenyum kecil.

“Mungkin sedikit sakit.”

Sinta memeluk bahuku.

“Tapi?”

Aku menatap buku latihan di meja.

“Tapi sekarang aku punya waktu sebulan penuh untuk diriku sendiri.”

Sejak hari itu, aku berhenti belajar untuk dua orang.

Anehnya, kemampuanku meningkat jauh lebih cepat.

Selama ini aku selalu mengira membantu Raka tidak terlalu memengaruhi belajarku. Baru setelah berhenti, aku sadar berapa banyak energi yang kuhabiskan untuknya.

Nilai tryout-ku naik.

Dari posisi sebelas tingkat sekolah menjadi enam.

Lalu empat.

Dua minggu sebelum SNBT, namaku berada di posisi pertama.

Raka pulang dari Bali dengan kulit sedikit lebih gelap dan kepercayaan diri yang sama besarnya.

Hari Senin dia menghampiri mejaku.

“Pinjam rangkuman penalaran matematika.”

Aku menatapnya.

“Tidak punya.”

“Yang baru.”

“Itu catatanku.”

“Iya. Pinjam.”

Aku menggeleng.

Raka tertawa tidak percaya.

“Nadira, jangan kekanak-kanakan.”

“Aku tidak kekanak-kanakan. Aku cuma belajar untuk diriku sendiri sekarang.”

Wajahnya berubah.

“Gue balikin nanti.”

“Bukan soal dikembalikan atau tidak.”

Aku memasukkan buku itu ke tas.

“Kamu bilang tidak butuh diatur. Jadi aku sedang menghormati keinginanmu.”

Untuk pertama kalinya, dia tidak punya jawaban.

Hari-hari berikutnya mulai memperlihatkan sesuatu yang selama ini tertutup oleh usahaku.

Nilai Raka jatuh.

Awalnya sedikit.

Lalu drastis.

Dia lupa rumus.

Salah memilih strategi mengerjakan soal.

Menghabiskan terlalu banyak waktu pada satu pertanyaan.

Materi yang sebelumnya dia kuasai mulai bercampur.

Karena selama tiga tahun, akulah yang menentukan apa yang harus dia pelajari, kapan mengulangnya, dan kesalahan apa yang harus diperbaiki.

Raka memang cerdas.

Tetapi kecerdasannya selama ini berdiri di atas disiplin orang lain.

Seminggu sebelum SNBT, dia mendapat skor tryout terburuk sepanjang kelas dua belas.

Keisya mencoba membantunya.

Aku melihat mereka belajar di perpustakaan.

Namun baru dua puluh menit, Raka sudah terlihat kesal.

“Bukan begitu caranya.”

Keisya mengernyit.

“Terus gimana?”

“Nadira biasanya bikin daftar berdasarkan jenis kesalahan.”

Keisya terdiam.

“Ya kamu bikin sendiri.”

Raka tidak menjawab.

Aku menunduk kembali ke bukuku.

Malam itu ponselku berdering.

Raka.

Aku membiarkannya.

Dia menelepon lagi.

Lalu pesan masuk.

Nad, kirim format analisis tryout yang biasa.

Aku membaca tanpa membalas.

Lima menit kemudian.

Gue cuma minta formatnya.

Kemudian.

SNBT tinggal seminggu. Jangan bawa masalah pribadi ke urusan masa depan.

Aku hampir tertawa.

Tiga tahun aku mengorbankan waktuku untuk masa depannya.

Sekarang ketika aku berhenti, justru aku yang dianggap mencampurkan urusan pribadi.

Aku mematikan layar.

Keesokan harinya, masalah yang lebih besar datang.

Mama memanggilku ke ruang keluarga.

Papa Raka dan istrinya sudah duduk di sana.

Raka juga ada.

Aku langsung tahu tujuan mereka.

Mama Raka tersenyum canggung.

“Nadira, Tante dengar kalian sedang bertengkar.”

“Bukan bertengkar, Tante.”

Aku duduk.

“Kami sudah mengakhiri pertunangan.”

Papa Raka berdeham.

“Kalian masih muda. Jangan mengambil keputusan besar karena emosi.”

Raka duduk santai, seolah yakin orang dewasa akan membereskan semuanya.

Kemudian Papa Raka berkata sesuatu yang membuatku mengerti dari mana Raka mendapatkan kebiasaannya.

“Lagipula keluarga kita sudah membicarakan hubungan ini sejak kalian kecil.”

Aku menatap Papa.

Ayahku justru bertanya kepadaku.

“Kamu yakin dengan keputusanmu?”

Aku mengangguk.

“Yakin, Pa.”

“Alasannya?”

Aku belum sempat menjawab ketika Raka memotong.

“Cuma gara-gara gue pergi ke Bali sama Keisya.”

Aku menatapnya.

“Bukan.”

Raka mengernyit.

Aku mengambil ponsel dan membuka sebuah folder.

Selama bertahun-tahun, tanpa kusadari aku menyimpan percakapan kami.

Pesan ketika dia mengancam putus karena aku menolak mengerjakan tugasnya.

Pesan ketika dia mengatakan pertunangan kami batal kalau aku tidak membantunya belajar malam sebelum ujian.

Pesan ketika aku sakit demam dan dia tetap mengirim dua puluh soal fisika karena besok ada tryout.

Aku meletakkan ponsel di meja.

“Bali cuma membuatku sadar.”

Mama Raka membaca beberapa pesan.

Wajahnya perlahan pucat.

Raka berdiri.

“Ngapain bawa chat segala?”

Aku menatapnya.

“Karena selama ini semua orang mengira kita pasangan yang baik-baik saja.”

Papa mengambil ponsel itu.

Semakin lama dia membaca, semakin dalam kerutan di dahinya.

Raka mulai panik.

“Pa, itu bercanda.”

Ayahnya mengangkat kepala.

“Kamu bilang akan membatalkan pertunangan kalau Nadira tidak mengerjakan laporan praktikummu?”

Raka diam.

“Bercanda, Pa.”

“Sebelas kali?”

Tidak ada yang bicara.

Aku baru menyadari jumlahnya sebanyak itu.

Papa Raka meletakkan ponsel.

Lalu menatap anaknya dengan ekspresi kecewa.

“Kalau begitu pertunangan ini memang selesai.”

Raka langsung menoleh.

“Papa?”

“Kamu yang berkali-kali meminta dibatalkan.”

Suara ayahnya dingin.

“Sekarang permintaanmu dikabulkan.”

Wajah Raka berubah merah.

Dia menatapku seperti aku baru saja mengkhianatinya.

Padahal untuk pertama kalinya aku hanya mengatakan kebenaran.

Hari SNBT akhirnya tiba.

Aku datang ke lokasi ujian bersama Papa.

Sebelum masuk gedung, Papa menepuk kepalaku.

“Jangan pikirkan siapa pun.”

Aku tersenyum.

“Cuma dirimu sendiri hari ini.”

Aku mengangguk.

Di lorong menuju ruang ujian, aku bertemu Raka.

Dia tampak pucat.

Kami saling menatap beberapa detik.

“Nad.”

Aku berhenti.

Untuk pertama kalinya, suaranya tidak terdengar angkuh.

“Gue takut.”

Kalimat itu membuat dadaku terasa sesak.

Karena aku mengenal Raka hampir sepanjang hidupku.

Aku tahu ketika dia gugup, ujung jarinya akan dingin.

Aku tahu dia selalu sulit tidur sebelum ujian besar.

Dulu aku pasti menggenggam tangannya dan mengatakan semua akan baik-baik saja.

Tapi sekarang aku hanya berkata:

“Takut itu normal.”

Dia menatapku.

“Kalau gue gagal?”

Aku tersenyum tipis.

“Belajar menerima akibat juga bagian dari menjadi dewasa.”

Aku berjalan masuk.

Sebulan kemudian, hasil seleksi diumumkan.

Tanganku gemetar ketika memasukkan nomor peserta.

Halaman sempat memuat beberapa detik.

Kemudian warna biru muncul.

Aku diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Mama berteriak.

Papa memelukku begitu erat sampai aku hampir tidak bisa bernapas.

Aku menangis.

Bukan hanya karena diterima.

Aku menangis karena akhirnya aku mencapai sesuatu yang benar-benar milikku.

Sinta diterima di kampus pilihannya juga.

Malam itu grup sekolah penuh dengan ucapan selamat.

Nama Raka tidak muncul.

Aku mencoba tidak mencari tahu.

Namun dua hari kemudian, Keisya datang ke rumahku.

Aku terkejut melihatnya.

Dia berdiri di depan pagar sambil membawa sebuah kotak.

“Aku cuma mau mengembalikan ini.”

Di dalamnya ada beberapa buku yang pernah kupinjamkan kepada Raka.

“Aku sama Raka nggak pacaran,” katanya tiba-tiba.

Aku terdiam.

“Setelah Bali, dia memang sempat bilang suka sama aku.”

Keisya tersenyum pahit.

“Tapi aku menolak.”

“Kenapa?”

Dia menatapku lama.

“Karena di Bali aku baru sadar satu hal.”

“Apa?”

“Setiap ada masalah, dia selalu menyebut namamu.”

Aku mengernyit.

“Pesawat terlambat, dia bilang kamu pasti sudah cek jadwal alternatif.”

“Dia lupa charger, dia bilang kamu biasanya selalu bawa cadangan.”

“Dia bingung pilih makanan, dia bilang kamu hafal makanan yang bikin lambungnya sakit.”

Keisya menarik napas.

“Awalnya aku kira dia mencintaimu.”

Dadaku terasa aneh.

“Ternyata?”

“Dia terbiasa dilayani olehmu.”

Keisya menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Dan dia mengira semua perempuan yang dekat dengannya akan melakukan hal yang sama.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Sebelum pergi, Keisya mengatakan Raka tidak lolos Teknik UI.

Dia diterima di kampus swasta melalui jalur lain.

Aku mengira cerita kami selesai di sana.

Ternyata belum.

Tiga bulan kemudian, sebelum aku mulai kuliah, Raka datang ke rumah.

Dia berdiri di depan pagar sendirian.

Tidak membawa bunga.

Tidak membawa hadiah.

Hanya sebuah map bening.

“Aku nggak datang buat minta balikan.”

Itu kalimat pertamanya.

Aku membiarkannya masuk ke teras.

Dia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari map.

Catatan belajar.

Tulisan tangannya berantakan.

Ada tabel evaluasi.

Daftar kesalahan.

Jadwal belajar.

Hampir seperti sistem yang dulu kubuat untuknya.

“Aku bikin sendiri,” katanya.

Aku menatapnya.

“Bagus.”

Dia tersenyum kecil.

“Aku baru sadar ternyata susah.”

Aku hampir tertawa.

Raka menunduk.

“Gue gagal bukan karena kamu menghancurkan catatan.”

Aku diam.

“Gue gagal karena selama bertahun-tahun gue punya kesempatan belajar disiplin, tapi malah menjadikan kamu penopang.”

Dia mengangkat wajah.

Matanya merah.

“Dan gue kehilangan kamu bukan karena Bali.”

“Gue kehilangan kamu karena gue pikir kamu akan selalu takut kehilangan gue.”

Untuk pertama kalinya, Raka meminta maaf tanpa diikuti alasan.

Tanpa ancaman.

Tanpa kalimat tetapi.

Aku menerimanya.

Namun aku tidak kembali.

Beberapa orang mengira memaafkan berarti membuka pintu yang sama.

Tidak selalu.

Kadang memaafkan berarti menutup pintu itu tanpa lagi membencinya.

Empat tahun kemudian, aku bertemu Raka lagi.

Bukan di acara keluarga.

Bukan di reuni sekolah.

Melainkan di rumah sakit pendidikan tempat aku menjalani koas.

Aku sedang berjalan menuju lift ketika seseorang memanggil namaku.

“Nadira?”

Aku berbalik.

Raka berdiri beberapa meter dariku.

Penampilannya berbeda.

Lebih dewasa.

Lebih tenang.

Dia bekerja di sebuah perusahaan teknologi medis dan datang untuk presentasi sistem baru.

Kami minum kopi di kantin rumah sakit.

Tidak ada kecanggungan seperti yang kubayangkan.

Kami tertawa membicarakan masa SMA.

Kemudian Raka mengatakan sesuatu.

“Masih ingat mesin penghancur kertas?”

Aku tertawa.

“Sayangnya ingat.”

“Dulu gue benci banget suara mesin itu.”

“Kenapa?”

“Karena waktu itu gue pikir kamu menghancurkan masa depan gue.”

Dia tersenyum.

“Ternyata kamu justru menghancurkan satu hal yang lebih buruk.”

“Apa?”

“Versi gue yang merasa semua orang wajib mengurus hidup gue.”

Aku terdiam.

Raka mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto seorang perempuan.

“Tunangan gue.”

Aku tersenyum.

“Cantik.”

“Galak.”

Aku tertawa.

“Bagus.”

“Dan kalau gue malas, dia nggak bikinin catatan.”

“Lebih bagus lagi.”

Kami tertawa bersama.

Sebelum pergi, Raka berdiri dan mengulurkan tangan.

Aku menyambutnya.

“Terima kasih, Nad.”

“Untuk apa?”

“Karena dulu kamu benar-benar pergi.”

Aku memandangnya.

Raka tersenyum.

“Kalau waktu itu kamu kembali seperti biasanya, mungkin sampai sekarang gue masih menjadi laki-laki yang mengira ancaman kehilangan adalah cara untuk mempertahankan seseorang.”

Dia pergi menuju lift.

Aku berdiri beberapa saat di depan jendela kantin.

Dulu aku pernah berpikir cinta berarti bertahan selama mungkin.

Membantu sebanyak mungkin.

Memaafkan sebanyak mungkin.

Aku salah.

Cinta tidak seharusnya membuat satu orang terus mengecil agar orang lain merasa besar.

Dan kadang-kadang, tindakan paling penuh kasih yang bisa kita lakukan bukan menggenggam seseorang lebih erat.

Melainkan melepaskannya agar dia belajar berdiri dengan kakinya sendiri.

Aku masih mengingat enam buku yang kuhancurkan hari itu.

Ratusan halaman.

Ribuan soal.

Tiga tahun hidupku berubah menjadi serpihan kertas.

Namun kalau aku bisa kembali ke hari itu, aku tetap akan menekan tombol mesin yang sama.

Karena yang kuhancurkan sebenarnya bukan catatan belajar Raka.

Yang kuhancurkan adalah keyakinanku sendiri bahwa agar layak dicintai, aku harus terus-menerus membuat hidup orang lain lebih mudah.

Dan dari semua pelajaran yang kupelajari sebelum masuk kedokteran, mungkin itulah pelajaran yang paling menyelamatkan hidupku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang