DENGAN KAKI YANG TAK BISA KUGERAKKAN, AKU DITINGGAL SEMALAMAN DI LANTAI DAPUR—SAMPAI TELEPON TUA DI DALAM DINDING BERTANYA, “APA KAMU MENANTU BARU YANG TINGGAL DI RUMAH ITU?”

“Namaku Maya.”

Namun suara perempuan di seberang telepon itu tidak terdengar seperti seseorang yang sedang memperkenalkan diri.

Ia terdengar seperti seseorang yang sudah menunggu panggilan ini selama bertahun-tahun.

Aku menggenggam telepon tua itu lebih erat.

“Kalau kamu benar-benar Maya, kenapa telepon ini ada di dalam dinding?”

Hening beberapa detik.

“Karena aku yang menyembunyikannya.”

Darahku terasa berhenti mengalir.

“Dengar baik-baik,” katanya. “Kamu tidak punya banyak waktu. Apa kamu terluka?”

“Kakiku tidak bisa digerakkan.”

Napas Maya berubah.

“Siapa yang melakukannya?”

Aku menatap tangga menuju lantai atas.

“Bu Ratna.”

“Arga melihat?”

“Iya.”

“Dan dia tidak menolongmu?”

Aku tidak menjawab.

Maya seolah sudah memahami semuanya.

“Berarti mereka belum berubah.”

Aku menahan tangis.

“Kenapa kamu tidak melapor?”

“Aku melapor.”

Jawabannya cepat.

“Tapi waktu itu aku tidak punya bukti cukup. Mereka bilang aku tidak stabil. Arga menunjukkan pesan-pesanku ketika aku sedang tertekan. Bu Ratna membawa surat dari seorang psikolog yang bahkan tidak pernah memeriksaku dengan benar. Mereka membangun cerita bahwa aku kabur karena masalah mental.”

Aku teringat semua perkataan Arga selama beberapa bulan terakhir.

Kamu terlalu emosional.

Kamu belum siap mengurus uang.

Kamu sebaiknya berhenti bekerja dulu.

Kalimat-kalimat itu tiba-tiba terasa seperti bagian dari naskah yang pernah digunakan sebelumnya.

“Buku catatan biru,” bisikku.

Maya terdiam.

“Jadi kamu sudah membaca suratnya.”

“Iya.”

“Kunci kuningan yang ada di kantong itu untuk lemari kecil di ruang kerja Pak Surya. Di belakang rak buku.”

“Kenapa ada di sana?”

“Karena Pak Surya yang memberikannya kepadaku.”

Aku membeku.

“Bapak tahu?”

“Dia tahu lebih banyak daripada yang kamu kira.”

Tiba-tiba terdengar suara dari lantai atas.

Pintu terbuka.

Aku segera mematikan telepon dan menyelipkannya ke balik bajuku.

Langkah kaki turun perlahan.

Bukan Arga.

Pak Surya muncul di ujung lorong.

Pria itu berdiri memegang gelas kosong.

Saat melihat kisi ventilasi tergeletak di lantai, wajahnya langsung pucat.

Matanya berpindah kepadaku.

Kemudian ke rongga di dinding.

“Kamu menemukannya?”

Aku tidak menjawab.

Pak Surya menutup mata sebentar.

“Astaga.”

“Bapak tahu telepon itu ada?”

Dia mendekat, lalu berjongkok dengan susah payah.

“Dulu Maya menitipkannya kepada saya.”

“Kenapa Bapak tidak pernah mengatakan apa pun?”

Wajahnya terlihat jauh lebih tua malam itu.

“Karena saya pengecut.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

Dia menunduk.

“Waktu Maya tinggal di sini, Ratna melakukan hal yang sama. Awalnya hal kecil. Mengatur pakaian. Mengatur makanan. Lalu rekening. Pekerjaan. Teman-temannya.”

“Dan Arga?”

“Arga selalu membela ibunya.”

“Seperti malam ini.”

Pak Surya tidak menyangkal.

“Ketika Maya ingin pergi, Ratna menyita dokumennya. Saya membantu Maya mengambilnya kembali.”

“Lalu?”

“Dia berhasil keluar.”

Aku menatap surat bertanggal tiga minggu lalu.

“Kenapa semua orang bilang dia menghilang?”

“Karena Ratna dan Arga membuat cerita itu. Maya takut kembali. Dia pindah beberapa kali. Keluarganya tahu dia hidup, tetapi mereka sengaja mempertahankan cerita bahwa dia masih hilang agar Arga tidak tahu keberadaannya.”

Aku merasa mual.

“Buku catatan biru itu apa?”

Pak Surya menatap tangga.

“Catatan Ratna.”

“Apa maksudnya?”

“Dia mencatat semuanya.”

Pak Surya menarik napas.

“Uang yang dipindahkan. Dokumen yang disimpan. Obat yang diberikan. Bahkan percakapan yang harus digunakan kalau ada orang bertanya.”

Tubuhku menggigil.

“Kenapa?”

“Sebab Ratna tidak percaya kepada siapa pun yang masuk ke keluarga ini. Dia menganggap perempuan yang dekat dengan Arga akan mengambil anaknya, hartanya, dan kendali rumah.”

“Jadi Bapak membiarkannya?”

Pak Surya menatapku dengan mata basah.

“Itulah dosa terbesar saya.”

Tiba-tiba terdengar suara dari atas.

“Pak?”

Bu Ratna.

Pak Surya langsung berdiri.

“Cepat,” bisiknya. “Telepon Maya lagi. Bilang buku catatan masih ada.”

“Bapak mau ke mana?”

“Membuat mereka tetap di atas.”

Dia berjalan kembali.

Beberapa detik kemudian kudengar Bu Ratna bertanya,

“Ngapain turun?”

“Cari obat.”

“Sudah, tidur saja.”

Aku segera menyalakan telepon.

Maya mengangkat pada dering pertama.

“Buku catatan masih ada,” bisikku.

“Bagus. Kamu harus mendapatkannya.”

“Aku tidak bisa berjalan.”

Maya terdiam.

Kemudian berkata, “Aku sudah menelepon polisi.”

Jantungku berdegup keras.

“Mereka akan datang?”

“Aku tidak bilang ada kekerasan rumah tangga.”

“Kenapa?”

“Karena kalau mereka melihat mobil polisi dari kamera depan, mereka punya waktu menyembunyikan semuanya.”

“Lalu?”

“Aku melaporkan dugaan kebocoran gas.”

Aku hampir tidak percaya.

“Petugas keamanan kompleks dan pemadam akan masuk. Kalau mereka menemukanmu di lantai dalam kondisi seperti itu, ceritanya berubah.”

Untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa masih punya peluang.

Namun tiba-tiba lampu dapur menyala.

Aku mendongak.

Arga berdiri di ambang pintu.

Tatapannya jatuh pada telepon di tanganku.

Wajahnya langsung berubah.

“Dari mana kamu dapat itu?”

Aku mundur menggunakan kedua tangan.

“Jangan dekat-dekat.”

Arga melangkah cepat.

“Kasih ke aku.”

Aku berteriak.

“Jangan sentuh aku!”

Bu Ratna muncul di belakangnya.

Begitu melihat telepon itu, wajahnya kehilangan warna.

“Arga, ambil!”

Arga meraih tanganku.

Aku menggigit lengannya sekuat tenaga.

Dia mengumpat dan melepaskanku.

Telepon jatuh.

Bu Ratna mengambilnya.

“Maya,” katanya lirih.

Kemudian dia membanting telepon itu ke lantai.

Sekali.

Dua kali.

Layar pecah.

Aku menatapnya.

Bu Ratna tersenyum tipis.

“Kamu pikir perempuan itu bisa menyelamatkanmu?”

Arga berdiri di sampingnya sambil memegang lengannya yang berdarah.

“Besok kita bawa dia ke klinik.”

Bu Ratna menggeleng.

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya Arga terlihat bingung.

“Maksud Mama?”

“Sekarang dia sudah tahu terlalu banyak.”

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Aku memandang Arga.

“Arga?”

Dia tidak menatapku.

“Ma, jangan ngomong aneh-aneh.”

“Kalau dia pergi ke polisi, bagaimana?”

“Kita bilang dia jatuh.”

“Telepon Maya?”

“Kita buang.”

“Suratnya?”

Arga menatap lantai.

Bu Ratna langsung melihat amplop di dekat kakiku.

Dia mengambilnya.

“Semua bisa dibereskan.”

Lalu suara alarm terdengar dari depan rumah.

Seseorang menekan bel berkali-kali.

“Pak, buka pintu! Ada laporan kebocoran gas!”

Bu Ratna membeku.

Arga berlari ke ruang depan.

“Siapa yang menelepon mereka?”

Aku tersenyum untuk pertama kalinya.

“Maya.”

Wajah Bu Ratna berubah.

Dia meraih lenganku.

“Kamu ikut ke atas.”

Aku berteriak sekeras mungkin.

“Tolong!”

Tangannya menutup mulutku.

Namun sebuah suara laki-laki tiba-tiba terdengar dari belakang.

“Lepaskan dia, Ratna.”

Pak Surya berdiri membawa sebuah buku catatan biru.

Bu Ratna membeku.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Hal yang seharusnya kulakukan sepuluh tahun lalu.”

Pak Surya berjalan ke pintu depan.

Arga mencoba menghalanginya.

“Pak, jangan.”

Pak Surya menatap putranya.

“Kamu masih bisa berhenti.”

Arga berdiri kaku.

“Kalau buku itu keluar, Mama bisa masuk penjara.”

Pak Surya menjawab pelan,

“Dan kalau buku itu tidak keluar, istrimu mungkin tidak akan pernah berjalan normal lagi.”

Arga memandangku.

Aku menunggu.

Seperti saat pertama kali aku jatuh.

Aku menunggu dia memilih.

Namun sekali lagi, dia memilih ibunya.

Arga meraih buku itu.

Pak Surya mundur.

Pada saat yang sama, terdengar benturan keras dari pintu depan.

Petugas keamanan kompleks masuk bersama dua petugas pemadam setelah Pak Surya berteriak bahwa ada orang terluka.

Semua terjadi cepat setelah itu.

Aku dibawa ke rumah sakit.

Polisi datang.

Buku biru diserahkan.

Dokter menemukan cedera serius pada saraf di bagian bawah punggungku akibat benturan keras.

Aku harus menjalani operasi dan rehabilitasi panjang.

Tetapi dokter mengatakan ada peluang besar aku bisa berjalan kembali.

Bu Ratna ditahan malam berikutnya.

Arga tidak langsung ditahan.

Sampai polisi membaca buku biru.

Di dalamnya bukan hanya ada catatan tentang Maya dan aku.

Ada tiga nama perempuan lain.

Dua mantan pacar Arga.

Satu mantan asisten rumah tangga.

Dan di beberapa halaman terdapat tulisan tangan Arga sendiri.

Instruksi tentang rekening.

Kata sandi.

Nomor rekening tujuan.

Cara menjelaskan kepada keluarga jika aku tiba-tiba berhenti bekerja.

Aku membaca fotokopi halaman terakhir ketika masih berada di rumah sakit.

Tanggalnya tiga hari sebelum aku jatuh.

Jika dia tetap ingin pulang ke Bogor, pindahkan sisa tabungan sebelum akhir bulan.

Tulisan itu milik suamiku.

Saat itulah sesuatu di dalam diriku benar-benar selesai.

Bukan cinta.

Cinta itu mungkin sudah lama retak.

Yang selesai adalah harapan bahwa Arga hanyalah anak laki-laki lemah yang dikendalikan ibunya.

Tidak.

Dia tahu.

Dia ikut melakukannya.

Tiga minggu kemudian Maya datang menemuiku.

Aku mengenalinya dari foto lama, tetapi wajahnya sekarang jauh lebih tenang.

Dia duduk di samping tempat tidurku.

“Maaf aku terlambat.”

Aku menggeleng.

“Kamu tidak terlambat.”

Maya menatap kakiku yang masih belum bisa bergerak sempurna.

“Aku seharusnya memperingatkanmu lebih cepat.”

“Kenapa surat itu baru tiga minggu lalu?”

Maya terdiam.

Kemudian tersenyum tipis.

“Karena Pak Surya meneleponku.”

Aku terkejut.

“Bapak?”

“Dia bilang Arga menikah lagi dan pola lama mulai terulang.”

Aku menatapnya.

“Jadi telepon itu memang sengaja disiapkan untukku?”

Maya mengangguk.

“Tapi ada sesuatu yang belum kamu tahu.”

Dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop.

Di dalamnya ada salinan dokumen bank.

Aku melihat namaku.

Kemudian angka yang membuatku sulit bernapas.

Seluruh uang yang dipindahkan Arga dari rekeningku ternyata belum habis.

Pak Surya diam-diam melacak transfer itu dan menyimpan bukti rekening penampung.

Polisi berhasil membekukannya.

Tetapi bukan itu kejutan terbesarnya.

Ada satu rekening lain.

Atas nama Pak Surya.

Maya menatapku.

“Selama bertahun-tahun dia mengumpulkan uang pribadinya karena tahu suatu hari dia harus meninggalkan rumah itu.”

“Untuk apa?”

“Untuk menebus kesalahannya.”

Enam bulan kemudian aku berjalan keluar dari pusat rehabilitasi menggunakan tongkat.

Pak Surya sudah mengajukan cerai.

Dia menjual bagian kepemilikannya di salah satu usaha keluarga dan menggunakan sebagian uangnya untuk membantu korban-korban yang namanya tercatat dalam buku biru mendapatkan bantuan hukum.

Arga dan Bu Ratna menjalani proses hukum.

Aku mengajukan perceraian tanpa pernah menemuinya lagi.

Sebelum meninggalkan rumah sakit untuk terakhir kalinya, Maya datang membawa benda kecil.

Telepon tua itu.

Layarnya sudah diganti.

“Masih hidup?”

Aku tertawa kecil.

“Sulit dipercaya.”

Dia menyerahkannya kepadaku.

“Dulu aku menyembunyikannya karena berharap suatu hari benda ini menyelamatkan perempuan lain.”

Aku menatap telepon itu lama.

“Sekarang?”

“Sekarang tidak perlu disembunyikan lagi.”

Setahun setelah malam di dapur itu, aku kembali bekerja.

Aku tidak pernah kembali ke rumah Arga.

Tetapi suatu sore, Pak Surya mengirimkan sebuah foto.

Rumah itu telah dijual.

Pemilik baru sedang merenovasi dapur.

Dinding tempat telepon tua itu disembunyikan sudah dibongkar.

Aku menatap foto itu lama sebelum akhirnya tersenyum.

Dulu aku mengira rumah dengan pagar tinggi, kamera keamanan, dan pintu terkunci adalah tempat yang aman.

Ternyata rumah bisa menjadi penjara ketika orang di dalamnya mengambil hakmu sedikit demi sedikit sampai kau lupa bahwa semuanya pernah menjadi milikmu.

Uangmu.

Dokumenmu.

Pekerjaanmu.

Keputusanmu.

Suaramu.

Malam ketika aku terbaring di lantai dapur, aku hampir kehilangan kemampuan berjalan.

Tetapi justru di lantai itulah aku menemukan sesuatu yang sudah berbulan-bulan dirampas dariku.

Jalan keluar.

Dan kali ini, aku tidak pernah menyerahkannya kepada siapa pun lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang