SAYA MENANGIS SAAT MENGANTAR SUAMI KE BANDARA — TAPI SETELAH DIA PERGI, SAYA MENGAMBIL KEMBALI $720.000 DAN MENGAJUKAN GUGATAN CERAI

“Kau ingin awal yang baru, Daniel?” bisikku pada ruang kerja yang sunyi. “Silakan. Tapi kau akan memulainya dari nol.”

Dengan beberapa klik yang mantap, aku memasukkan nomor rekening pribadi baruku—rekening tersembunyi yang kubuat dua hari lalu di bank yang berbeda. Aku menekan tombol transfer.

Layar laptop berkedip selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Jantungku berdegup kencang, bukan karena ragu, melainkan karena adrenalin yang meledak-ledak. Kemudian, sebuah notifikasi muncul di layar: Transfer Berhasil. Saldo Tersisa: $0,00.

Aku menghela napas panjang. Beban berat yang menghimpit dadaku selama tiga hari terakhir seketika terangkat. Uang warisan dari mendiang ayahku, uang yang dikumpulkan dengan keringat dan air mata, kini kembali ke tempat yang aman. Ke tempat di mana bajingan itu tidak akan pernah bisa menyentuhnya.

Tanpa membuang waktu, aku mengambil ponsel dan menghubungi satu nomor yang sudah kusimpan sejak malam aku membongkar kebohongannya.

“Halo, Anthony?” kataku saat panggilan tersambung. “Uangnya sudah pindah. Kita bisa bergerak sekarang.”

“Bagus, Emma,” jawab Anthony, pengacara perceraian terbaik di New York sekaligus sahabat lama keluargaku. Suaranya terdengar tenang namun mematikan. “Gugatan cerai atas dasar perzinaan dan penipuan finansial sudah siap. Aku akan memastikan dokumen itu dikirimkan ke alamat kondominium barunya di Miami Beach besok pagi. Tepat saat dia mengira sedang menikmati sarapan pertamanya di ‘Kanada’.”

“Terima kasih, Anthony. Lakukan dengan bersih,” ujarku sebelum menutup telepon.

Malam itu, aku tidak menangis. Aku justru membuka sebotol anggur terbaik yang kami simpan untuk ‘perayaan masa depan’, menuangkannya ke dalam gelas, dan mulai mengemas barang-barang Daniel. Aku tidak ingin ada satu pun jejak pria itu yang tersisa di rumah ini. Semua pakaian mahalnya, jam tangan yang kubelikan, hingga barang-barang pribadinya kumasukkan ke dalam kantong sampah hitam besar. Aku akan menyumbangkan semuanya besok.

Keesokan harinya, sekitar jam dua siang, ponselku berdering. Layarnya menampilkan nama: Suamiku ❤️.

Aku tersenyum sinis, lalu menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga tanpa bersuara.

“Emma! Apa-apaan ini?!” Suara Daniel meninggi, terdengar panik dan terengah-engah. Tidak ada lagi nada lembut bernuansa romantis seperti di bandara kemarin. “Di mana semua uang di rekening bersama? Kenapa saldonya kosong?! Dan… dan siapa bajingan bernama Anthony yang mengirimkan dokumen sialan ini ke hotelku?!”

“Oh, hai Daniel. Bagaimana cuaca di Toronto? Apakah Miami Beach cukup hangat untukmu dan Olivia?” tanyaku dengan nada seramah mungkin, sengaja menekankan setiap kata.

Keheningan yang mencekam langsung menyergap di seberang telepon. Aku bisa mendengar deru napasnya yang tertahan. Kebohongan yang dia bangun dengan rapi runtuh dalam satu detik.

“Kau… kau tahu?” bisiknya, suaranya tiba-tiba bergetar penuh ketakutan.

“Aku tahu segalanya, Daniel. Aku tahu tentang kondominium mewah itu. Aku tahu tentang bayi di dalam kandungan selingkuhanmu. Dan aku tahu rencana busukmu untuk membiayai kehidupan baru kalian dengan uang warisan ayahku,” jawabku, kini dengan nada dingin sedingin es.

“Emma, dengarkan aku dulu! Ini tidak seperti yang kau pikirkan—”

“Cukup, Daniel,” potongku tajam. “Jangan berani-berani membuat bualan baru. Uang itu adalah hakku, dan sekarang sudah kembali kepadaku. Kau pergi ke sana dengan tiket yang kau beli sendiri, jadi nikmatilah hidup barumu di sana tanpa sepeser pun uangku.”

“Kau tidak bisa melakukan ini, Emma! Itu rekening bersama! Aku bisa menuntutmu atas pencurian!” teriaknya frustrasi.

Aku tertawa kecil, sebuah tawa yang penuh kemenangan. “Coba saja. Anthony sudah memegang semua bukti mutasi rekening, bukti bahwa uang itu berasal dari warisanku, serta seluruh bukti perselingkuhanmu, termasuk reservasi kondominium atas nama kalian berdua yang dibayar menggunakan kartu kredit bersama sebelum ini. Jika kau ingin membawa ini ke pengadilan, aku dengan senang hati akan menghancurkan reputasimu di depan keluarga dan perusahaan tempatmu bekerja.”

Daniel terdiam. Dia tahu dia sudah kalah telak. Tanpa uang $720.000 itu, dia hanyalah seorang pria dengan cicilan kondominium mewah yang sangat mahal di Miami, seorang selingkuhan yang sedang hamil, dan pekerjaan yang mungkin akan segera hilang jika skandal ini meledak.

“Jangan pernah hubungi aku lagi. Semua komunikasi selanjutnya harus melalui Anthony,” kataku tegas. “Selamat tinggal, Daniel.”

Sebelum dia sempat membalas, aku mematikan sambungan telepon. Aku langsung memblokir nomornya, menghapus kontak bernama ‘Suamiku’, dan menarik napas dalam-dalam.

Aku berjalan menuju jendela ruang kerja, menatap langit New York yang cerah. Air mata yang kujatuhkan di Bandara JFK kemarin adalah air mata terakhir yang kuberi untuk pria itu. Mulai hari ini, aku tidak lagi menjadi istri yang naif dan penurut. Aku adalah wanita yang memegang kendali penuh atas hidup dan masa depanku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang