Arga tidak langsung bertanya kepada ibunya.
Ia hanya berdiri di tengah ballroom, memegang dokumen dengan tanda tangan palsu Nadira, sementara suara musik yang masih mengalun terdengar seperti berasal dari tempat yang sangat jauh.
Lima tahun.
Lima ulang tahun Aluna.
Lima kali anak itu mungkin bertanya siapa ayahnya.
Lima tahun yang tidak mungkin dikembalikan oleh uang sebanyak apa pun.
“Siapa yang memalsukannya?” tanya Arga akhirnya.
Ratih menarik napas. “Kita bicara di rumah.”
“Tidak.”

“Arga.”
“Saya tanya sekali lagi. Siapa yang memalsukan tanda tangan Nadira?”
Ratih menatap para tamu yang mulai berbisik.
“Jangan mempermalukan keluarga kita.”
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diri Arga runtuh.
“Mempermalukan keluarga?”
Ia tertawa pendek.
“Ibu memisahkan saya dari anak saya selama lima tahun, dan yang Ibu pikirkan sekarang nama keluarga?”
“Semua yang Ibu lakukan untuk melindungimu.”
“Dari apa? Dari perempuan yang saya cintai? Dari anak saya sendiri?”
Aluna tiba-tiba memegang tangan Arga.
Sentuhan kecil itu membuat suaranya berhenti.
Anak itu mendongak.
“Ayah marah sama Mama?”
Arga menatap wajah kecil yang baru dikenalnya beberapa menit lalu, tetapi entah mengapa terasa begitu dekat.
Ia berlutut.
“Tidak.”
“Janji?”
Arga menelan sesuatu yang terasa berat di tenggorokannya.
“Janji.”
Aluna mengulurkan jari kelingking.
Arga menautkan jarinya.
Dan pada saat itulah ia menyadari bahwa kemarahannya boleh menghancurkan banyak hal malam ini, tetapi tidak boleh menghancurkan perasaan anaknya.
Ia berdiri kembali.
“Nadira, kita pergi.”
Ratih langsung menyela. “Kamu mau ke mana?”
“Ke tempat di mana anak saya tidak harus mendengar orang dewasa membicarakan dirinya seperti masalah.”
Arga menggandeng Aluna.
Namun sebelum mereka sempat berjalan, Pak Surya berkata pelan, “Mas Arga, masih ada sesuatu.”
Semua orang berhenti.
Surya tampak ragu.
“Saya rasa sebaiknya Anda melihat arsip lengkapnya.”
Ratih memucat.
“Cukup, Surya.”
“Tidak, Bu.”
Suara pengacara tua itu bergetar.
“Saya sudah diam lima tahun. Kalau malam ini saya diam lagi, saya tidak pantas menyebut diri saya manusia.”
Mereka pindah ke ruang pertemuan kecil di lantai yang sama.
Arga meminta staf hotel menjaga pintu.
Di dalam hanya ada Arga, Nadira, Aluna, Ratih, dan Surya.
Aluna duduk di sofa sambil menggambar menggunakan kertas hotel.
Sementara itu, Surya meletakkan beberapa dokumen di meja.
“Dokumen pelepasan hak itu dibuat atas permintaan Bu Ratih.”
“Saya tahu bagian itu,” kata Arga dingin.
“Tapi bukan Bu Ratih yang memalsukan tanda tangan.”
Arga menatapnya.
Ratih menutup mata.
“Lalu siapa?”
Surya mengeluarkan lembar pembayaran.
“Pak Bima.”
Arga membeku.
Bima Mahendra.
Adik mendiang ayahnya.
Pamannya sendiri.
Pria yang selama belasan tahun menjadi direktur keuangan Mahendra Group.
“Paman Bima?”
Surya mengangguk.
“Beliau yang mengurus pembayaran, dokumen, dan orang-orang yang mengikuti Dokter Nadira.”
Nadira menatap Ratih.
“Anda bilang semua itu keputusan Anda.”
Ratih tidak menjawab.
Arga mendekat.
“Ibu tahu?”
Ratih akhirnya duduk.
Untuk pertama kalinya malam itu, perempuan yang selalu terlihat kuat tersebut tampak tua.
“Ibu yang memulai semuanya.”
Suaranya lirih.
“Ibu menemui Nadira. Ibu membawa foto itu. Ibu menawarkan uang.”
Nadira mengatupkan rahang.
“Tapi setelah Nadira menolak, Ibu meminta Bima memastikan dia menjauh.”
Arga mengepalkan tangan.
“Memastikan bagaimana?”
“Ibu kira dia hanya akan bicara dengan rumah sakit dan keluarga Nadira.”
“Dia menjebak saya dengan tuduhan pencurian obat,” potong Nadira.
Ratih menunduk.
“Ibu baru tahu belakangan.”
“Dan ancaman lewat telepon?”
Ratih tidak menjawab.
Arga sudah mengetahui jawabannya.
Ratih memang terlibat.
Tetapi mungkin bukan hanya dirinya.
“Kenapa Paman Bima mau melakukan semua itu?”
Surya menarik satu dokumen lain.
“Karena Nadira bukan target sebenarnya.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Apa maksud Anda?”
“Targetnya Anda.”
Arga mengerutkan kening.
Surya mendorong sebuah laporan audit lama ke hadapannya.
“Lima tahun lalu, perusahaan sedang menyiapkan pembiayaan besar. Kalau kesepakatan itu berhasil, posisi Anda sebagai CEO akan menjadi permanen.”
“Saya tahu.”
“Pak Bima tidak menginginkan itu.”
Arga membuka halaman berikutnya.
Ada daftar transfer dana ke beberapa perusahaan cangkang.
Nominalnya puluhan miliar rupiah.
“Ini apa?”
“Dana perusahaan yang dialihkan Pak Bima.”
Arga menatap Surya.
“Kenapa saya tidak pernah melihat ini?”
“Karena orang yang pertama kali menemukan transaksi tersebut bukan Anda.”
Surya menoleh kepada Nadira.
Nadira terlihat sama bingungnya.
“Bukan saya.”
“Bukan.”
Surya menarik napas.
“Almarhum ayah Anda.”
Arga terdiam.
Ayahnya meninggal enam tahun lalu akibat serangan jantung.
Setahun sebelum Nadira menghilang.
“Tidak mungkin.”
“Pak Mahendra sudah mencurigai adiknya sebelum meninggal. Beliau meminta audit internal secara diam-diam.”
“Lalu hubungannya dengan Nadira?”
Surya mengeluarkan sebuah amplop putih yang sudah menguning.
“Karena sebelum meninggal, ayah Anda menitipkan salinan audit kepada seseorang.”
Arga perlahan menatap Nadira.
Nadira menggeleng.
“Aku tidak pernah menerima apa pun.”
“Memang bukan Anda.”
Surya berkata pelan.
“Dokumen itu dititipkan kepada ayah Nadira.”
Nadira berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.
“Ayah saya?”
Surya mengangguk.
Ayah Nadira, Dr. Prasetyo, pernah bekerja sebagai dokter pribadi keluarga Mahendra.
Ia meninggal empat tahun lalu.
Nadira menutup mulut.
“Jadi itu sebabnya apartemenku dibobol?”
“Mereka mencari audit.”
“Laptop saya?”
“Juga.”
Ratih memandang Surya dengan wajah terkejut.
“Bima bilang dia hanya ingin memastikan Nadira tidak menghubungi Arga.”
Surya tersenyum pahit.
“Bima berbohong kepada kita semua.”
Arga merasa kepalanya berdenyut.
Tiba-tiba semua bagian yang selama ini tidak masuk akal mulai menyatu.
Bima tidak hanya ingin memisahkan dirinya dari Nadira.
Ia ingin memastikan keluarga Prasetyo tidak pernah mendekatinya.
Kehamilan Nadira hanya menjadi kesempatan sempurna.
Ratih menyediakan alasan.
Bima menyediakan kejahatan.
“Di mana Paman Bima sekarang?”
Tidak seorang pun menjawab.
Kemudian terdengar suara Aluna dari sofa.
“Om yang rambutnya putih itu?”
Semua orang menoleh.
Aluna menunjuk pintu kaca.
“Yang tadi lihat Mama dari luar?”
Arga langsung berbalik.
Koridor kosong.
Ia membuka pintu.
“Security!”
Dua petugas mendekat.
“Cari Bima Mahendra. Jangan biarkan beliau meninggalkan hotel.”
Salah satu petugas berbicara melalui radio.
Beberapa detik kemudian jawabannya datang.
Bima sudah meninggalkan ballroom.
Tujuh menit sebelumnya.
Arga mengambil ponsel.
Namun Nadira memegang lengannya.
“Tunggu.”
“Apa?”
“Aku tahu dia akan ke mana.”
Arga menatapnya.
Nadira mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi kamera rumah.
Layar memperlihatkan sebuah rumah kecil di Bandung.
Pintu depannya terbuka.
Arga menatapnya.
“Ada orang di rumahmu?”
Nadira mengangguk.
“Dan aku tahu apa yang dia cari.”
Tiga jam kemudian, mereka sudah berada di Bandung.
Polisi lebih dahulu tiba di rumah Nadira.
Tidak ada Bima.
Tetapi ruang kerja di lantai dua berantakan.
Laci dibuka.
Lemari dipindahkan.
Buku-buku berserakan.
Arga memandang Nadira.
“Audit itu ada di sini?”
Nadira berjalan menuju kamar Aluna.
“Bukan audit.”
Ia mengambil sebuah kotak musik kecil berbentuk rumah.
Kotak itu terlihat murah.
Cat putihnya bahkan sudah mengelupas.
“Ayah memberikan ini kepada Aluna sebelum meninggal.”
Nadira membuka bagian bawahnya menggunakan obeng.
Di dalam terdapat sebuah flashdisk.
Arga menatap benda kecil tersebut.
“Ayahmu tahu?”
“Ayah tidak pernah menjelaskan. Dia cuma bilang, kalau suatu hari keluarga Mahendra datang mencari sesuatu, jangan percaya siapa pun sebelum aku menemukanmu.”
Mereka membuka flashdisk menggunakan laptop polisi.
Ada puluhan dokumen.
Rekening.
Kontrak.
Transfer.
Rekaman percakapan.
Semuanya mengarah kepada Bima.
Namun ada satu folder yang berbeda.
Namanya hanya satu kata.
ARGA.
Arga membukanya.
Sebuah video muncul.
Ayahnya duduk di ruang kerja lama mereka.
Wajahnya tampak pucat.
“Kalau kamu menonton ini, Ga, mungkin Ayah sudah tidak ada.”
Arga tidak bergerak.
“Ayah membuat banyak kesalahan. Salah satunya membiarkan keluarga kita percaya bahwa nama Mahendra lebih penting daripada orang yang kita cintai.”
Ratih mulai menangis.
Dalam video, ayah Arga melanjutkan.
“Bima sudah mengambil uang perusahaan bertahun-tahun. Ayah takut kalau dia tahu audit ini ada, dia akan melakukan apa saja.”
Pria itu berhenti sejenak.
“Tapi ada satu hal yang lebih Ayah takutkan.”
Arga mendekat ke layar.
“Bima tahu rahasia terbesar keluarga kita.”
Ratih tiba-tiba berdiri.
“Matikan.”
Arga menoleh.
“Ibu?”
“Tidak perlu diteruskan.”
Arga kembali menekan tombol putar.
Suara ayahnya memenuhi ruangan.
“Arga bukan anak kandungku.”
Dunia seperti berhenti.
Nadira menatap Arga.
Ratih terisak.
Video berlanjut.
“Ratih sudah hamil ketika menikah denganku. Ayah tahu sejak awal. Tetapi Arga tetap anak Ayah. Tidak pernah ada perbedaan.”
Arga tidak mampu berkata apa-apa.
“Bima mengetahui hal itu dan menggunakannya untuk memeras Ratih bertahun-tahun.”
Arga perlahan menoleh kepada ibunya.
Ratih menutupi wajah.
“Jadi selama ini…”
Ratih menangis.
“Ibu takut.”
“Karena itu Ibu menuruti Paman Bima?”
“Ibu takut dia menghancurkan semuanya.”
“Termasuk hidup saya?”
Ratih tidak mampu menjawab.
Arga berdiri dan berjalan keluar.
Udara Bandung menjelang subuh terasa dingin.
Ia duduk di tangga teras.
Beberapa menit kemudian, Nadira keluar.
Ia tidak langsung duduk di sampingnya.
“Aku minta maaf,” katanya.
Arga tersenyum pahit.
“Untuk apa?”
“Karena tidak berusaha lebih keras mencarimu.”
“Kita sama-sama menjadi korban orang yang seharusnya melindungi kita.”
Nadira akhirnya duduk.
“Aku marah padamu selama bertahun-tahun.”
“Saya juga.”
“Aku mengira kamu memilih perusahaan.”
“Saya mengira kamu memilih pergi.”
Mereka terdiam.
Lalu pintu terbuka.
Aluna keluar sambil membawa selimut.
“Ayah.”
Arga menoleh.
Masih terasa aneh mendengar panggilan itu.
Tetapi aneh yang membuat dadanya hangat.
Aluna duduk di antara mereka.
“Kita sekarang keluarga?”
Nadira hendak menjawab.
Namun Arga lebih dulu berkata, “Kita sedang belajar.”
“Belajar apa?”
“Belajar mengenal satu sama lain.”
Aluna berpikir.
“Berarti Ayah besok masih ada?”
Pertanyaan sederhana itu menghancurkan pertahanan Arga lebih kuat daripada semua rahasia malam tersebut.
Ia memeluk putrinya.
“Besok ada.”
“Lusa?”
“Ada.”
“Minggu depan?”
Arga mencium rambutnya.
“Kalau Aluna mau, Ayah akan terus ada.”
Enam bulan kemudian, Bima Mahendra ditahan setelah penyelidikan menemukan penggelapan dana perusahaan, pemalsuan dokumen, intimidasi, dan rekayasa laporan terhadap Nadira.
Ratih mengundurkan diri dari seluruh posisi keluarga.
Arga tidak memaafkannya dengan cepat.
Ada luka yang tidak selesai hanya karena seseorang berkata menyesal.
Tetapi ia membiarkan Ratih menemui Aluna.
Bukan karena Ratih berhak.
Melainkan karena Arga tidak ingin putrinya tumbuh dengan warisan kebencian yang sama.
Nadira kembali bekerja sebagai dokter anak.
Bukan di rumah sakit milik Arga.
Ia menolak.
“Aku tidak mau orang bilang aku kembali karena kamu miliarder.”
Arga tertawa.
“Kalau begitu saya yang datang ke rumah sakit kamu.”
Dan memang begitu.
Hampir setiap Jumat sore, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah sakit sederhana tempat Nadira bekerja.
Arga datang membawa dua gelas kopi dan satu susu cokelat.
Untuk Nadira.
Untuk dirinya.
Dan untuk anak kecil yang selalu berlari keluar sambil berteriak, “Ayah!”
Setahun setelah pernikahan yang mempertemukan mereka kembali, Arga mengajak Nadira dan Aluna ke sebuah tanah kosong di pinggiran Bandung.
“Ngapain kita ke sini?” tanya Nadira.
Arga mengeluarkan selembar kertas lama.
Nadira mengenalinya.
Gambar rumah yang pernah dibuat Arga di belakang nota makan enam tahun lalu.
“Halaman belakangnya masih terlalu besar,” kata Nadira.
Arga tersenyum.
“Untuk anak-anak.”
Nadira menatapnya.
“Kita baru punya satu.”
Dari belakang mereka, Aluna berteriak, “Aku mau adik dua!”
Nadira tertawa.
Arga ikut tertawa.
Tidak ada lamaran mewah.
Tidak ada cincin yang dikeluarkan di depan kamera.
Arga hanya menggenggam tangan Nadira.
“Kali ini saya tidak mau merencanakan hidup kamu tanpa bertanya.”
Nadira memandangnya lama.
“Jadi?”
“Kalau kamu mau, kita bangun rumah ini.”
“Kalau aku belum siap menikah?”
“Kita tunggu.”
“Kalau aku butuh waktu?”
“Saya punya waktu.”
Nadira tersenyum sambil menahan air mata.
Lalu ia mengambil pensil dari tangan Arga dan mencoret gambar rumah tersebut.
Arga terkejut.
“Apa itu?”
Nadira menggambar sebuah pintu besar di bagian depan.
“Pintu utama.”
“Kenapa harus sebesar itu?”
Nadira menatapnya.
“Supaya tidak ada lagi siapa pun yang bisa mengatakan kepadaku bahwa aku tidak boleh masuk.”
Arga terdiam.
Kemudian ia memeluk perempuan itu.
Aluna berlari dan memeluk mereka dari samping.
Di atas tanah kosong itu, tidak ada gedung mewah, tidak ada nama besar, dan belum ada satu bata pun yang berdiri.
Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arga merasa memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada seluruh perusahaan yang pernah ia bangun.
Sebuah rumah yang belum ada.
Seorang perempuan yang memilih kembali bukan karena dipaksa.
Dan seorang anak yang mengajarinya bahwa menjadi ayah bukan ditentukan oleh darah, nama keluarga, atau lima tahun yang telah hilang.
Menjadi ayah dimulai dari satu janji sederhana.
Besok, aku masih ada.
