Pintu utama Villa Arunika terbuka tepat ketika hujan mulai berubah menjadi gerimis tipis.
Arga berdiri di ambang pintu dengan kaus putih dan celana panjang yang masih ia kenakan setelah melepas pakaian pengantinnya. Wajahnya tampak kesal, tetapi sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.
“Kenapa polisi ada di rumah keluarga saya?”

Salah satu petugas menatapnya.
“Rumah keluarga Anda?”
Aku berdiri beberapa meter di belakang mereka, tubuh terbungkus selimut milik Pak Damar. Kebaya pengantinku basah kuyup. Darah di lututku mulai mengering, sementara pipi kiriku masih terasa berdenyut.
Arga baru menyadari aku tidak sendirian.
Wajahnya berubah.
“Maya, kamu menelepon polisi?”
Aku tidak menjawab pertanyaannya.
Ponselku kembali bergetar.
Pesan Pak Indra masih terbuka.
Maya, segera bekukan semua akses Arga.
Aku langsung menelepon kepala keuangan perusahaan.
“Bu Siska, maaf menelepon selarut ini.”
“Mbak Maya? Ada apa?”
“Mulai sekarang, bekukan seluruh akses yang pernah diberikan kepada Arga Pradana. Email, portal vendor, kartu tamu, akses ruang arsip, semuanya.”
Ada keheningan singkat.
“Termasuk akses konsultannya?”
Aku terdiam.
“Akses konsultan apa?”
Kini giliran Siska yang diam.
“Bukankah Mas Arga mendapat akun konsultan tiga bulan lalu? Permintaannya dikirim dari email Anda.”
Jantungku seperti berhenti satu detik.
“Aku tidak pernah mengirim permintaan itu.”
Aku menatap Arga.
Untuk pertama kalinya, kemarahan di wajahnya digantikan sesuatu yang lain.
Ketakutan.
“Bekukan semuanya,” kataku. “Sekarang.”
Polisi meminta Arga menjauh dari pintu.
Ratna muncul dari ruang tengah dengan wajah tidak senang.
“Ada masalah apa sebenarnya? Ini urusan rumah tangga.”
Aku hampir tertawa.
Kalimat itu terdengar begitu sederhana setelah apa yang mereka lakukan.
Salah satu petugas memandang pipiku, kemudian lututku.
“Kalau ada dugaan kekerasan, ini bukan sekadar urusan rumah tangga, Bu.”
Ratna langsung menunjuk kepadaku.
“Dia jatuh sendiri!”
Aku menatapnya.
“Benarkah?”
Aku mengangkat ponsel.
“Kalau begitu CCTV pasti bisa menjelaskannya.”
Wajah Ratna kehilangan warna.
Arga segera berkata, “CCTV rumah ini mati sejak sore.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Itulah kesalahan pertamanya.
Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku mengetahui rekamannya masih tersimpan.
“Bagaimana kamu tahu?”
Arga terdiam.
“Karena lampu indikatornya mati.”
“Lampu indikator sengaja dimatikan saat ada acara supaya tidak mengganggu dekorasi. Kameranya tetap merekam.”
Tatapan Arga bergerak cepat ke arah ibunya.
Cukup.
Aku melihatnya.
Polisi juga melihatnya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Pak Indra tiba bersama seorang staf legal. Ia masih mengenakan kemeja yang kusut, seolah langsung bangun, mengambil berkas, lalu mengemudi dari rumahnya.
Begitu melihat keadaanku, rahangnya mengeras.
“Maya.”
“Saya baik-baik saja.”
“Tidak. Kamu tidak baik-baik saja.”
Ia tidak mengucapkannya dengan dramatis. Justru nada datarnya membuat dadaku terasa sesak.
Selama tujuh tahun bekerja bersama, Pak Indra hampir tidak pernah memperlakukanku seperti anak kecil. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku melihat kemarahan seorang lelaki yang mengenal keluargaku jauh sebelum aku mengenal Arga.
Kami memutar rekaman CCTV melalui tablet milik Pak Damar.
Semuanya ada.
Arga memegang pergelangan tanganku.
Tamparan itu.
Aku diseret menuju pintu.
Tubuhku didorong sampai jatuh.
Ratna melemparkan ponselku ke halaman.
Bahkan suara mereka terdengar cukup jelas.
Pikirkan kelakuanmu sampai pagi.
Ratna tidak lagi bicara.
Arga mencoba mendekati tablet.
“Ini bisa dijelaskan.”
Pak Indra berdiri di depannya.
“Silakan jelaskan nanti.”
Kemudian ia membuka laptop.
“Tapi sebelum itu, mungkin Anda juga bisa menjelaskan ini.”
Ia menunjukkan riwayat akses sistem perusahaan.
Pukul 23.47 malam sebelumnya, kartu akses atas namaku digunakan memasuki ruang arsip direksi.
Pukul 23.52, seseorang membuka folder restrukturisasi lama PT Arunika Lestari Properti.
Pukul 00.06, beberapa dokumen dipindai.
Pukul 00.14, file dikirim ke sebuah alamat email eksternal.
Alamat itu milik firma hukum yang tercantum pada dokumen pengalihan aset yang Ratna bawa malam ini.
Aku memandang Arga.
“Kenapa?”
Ia tidak menjawab.
“Kenapa, Ga?”
Ratna tiba-tiba menyela.
“Karena anak saya juga berhak tahu apa yang akan menjadi miliknya!”
Pak Indra menggeleng.
“Tidak ada satu pun dari aset itu otomatis menjadi milik anak Anda.”
Ratna mendengus.
“Mereka sudah menikah.”
“Justru karena mereka akan menikah, enam bulan lalu Maya membuat perjanjian pranikah.”
Arga menatapku tajam.
“Apa?”
Kini aku yang terkejut.
Aku memang menandatangani perjanjian pranikah. Arga juga menandatanganinya.
Tetapi tampaknya ia tidak pernah membaca dengan benar.
Pak Indra mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya.
“Pasal tujuh. Seluruh aset yang diperoleh masing-masing pihak sebelum perkawinan tetap menjadi harta pribadi masing-masing.”
Arga meraih dokumen itu.
Wajahnya berubah ketika membaca halaman berikutnya.
Pak Indra melanjutkan.
“Dan pasal sembilan mengatur bahwa apabila salah satu pihak terbukti melakukan pemaksaan, pemalsuan, atau akses tanpa izin terhadap aset bisnis pihak lain, seluruh kuasa operasional yang pernah diberikan kepadanya dapat dicabut seketika.”
Arga menatapku.
“Kamu menjebakku?”
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku patah.
Bukan karena marah.
Karena akhirnya aku memahami siapa lelaki yang baru saja kunikahi.
“Kamu masuk ke ruang arsipku memakai kartu aksesku. Kamu membuat akun palsu atas namaku. Kamu mencoba memaksaku menyerahkan perusahaan. Lalu kamu menampar dan mengusirku dari rumahku sendiri.”
Suaraku bergetar.
“Dan menurutmu aku yang menjebakmu?”
Ia tidak bisa menjawab.
Polisi kemudian meminta Arga ikut untuk memberikan keterangan.
Ratna mulai berteriak.
Ia mengatakan keluarga mereka dipermalukan.
Ia mengancam akan menghubungi kenalan.
Ia bahkan mencoba merebut lenganku ketika petugas membawa Arga keluar.
Namun Pak Damar berdiri di antara kami.
“Cukup, Bu.”
Ratna menatapnya marah.
Pak Damar tidak bergerak.
“Saya menjaga rumah ini sejak Bu Maya masih SD. Jangan sentuh beliau lagi.”
Aku dibawa ke klinik untuk pemeriksaan.
Pukul lima pagi, ketika langit Kaliurang mulai berubah abu-abu, aku duduk di ruang periksa dengan kompres dingin di pipi.
Kupikir malam terburuk itu akhirnya selesai.
Ternyata belum.
Pak Indra masuk membawa laptop.
“Maya, ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Ia membuka laporan audit darurat.
Setelah akun Arga dibekukan, tim IT menemukan aktivitas lain.
Selama empat bulan terakhir, akun konsultan palsu itu tidak hanya mengakses dokumen legal.
Ada akses ke daftar vendor.
Data proyek.
Nilai kontrak.
Bahkan rencana akuisisi lahan perusahaan di Solo.
Beberapa file dikirim ke perusahaan bernama PT Nawasena Cipta Mandiri.
Nama itu terasa asing.
Sampai Pak Indra menunjukkan direktur utamanya.
Ratna Pramesti.
Aku menatap layar tanpa berkedip.
“Ibunya?”
Pak Indra mengangguk.
Perusahaan itu didirikan sebelas bulan lalu.
Tiga bulan sebelum Arga melamarku.
Dari data yang kami temukan, Nawasena beberapa kali membeli lahan beberapa minggu sebelum Arunika mengajukan penawaran.
Akibatnya, perusahaan kami terpaksa membeli kembali lahan tersebut dengan harga lebih tinggi.
Selama ini kami mengira ada kebocoran informasi dari broker.
Ternyata kebocoran itu tidur di sampingku.
Aku merasa mual.
“Berapa kerugiannya?”
“Perhitungan awal hampir empat miliar.”
Aku menutup mata.
Semua pertanyaan Arga selama ini kembali muncul.
Lokasi proyek berikutnya di mana?
Berapa batas harga yang akan kamu tawarkan?
Siapa vendor utama?
Kapan direksi rapat?
Aku selalu mengira ia tertarik pada pekerjaanku.
Ternyata ia sedang mengumpulkan informasi.
“Kenapa menikahiku?” bisikku.
Pak Indra tidak menjawab.
Jawabannya datang beberapa jam kemudian.
Polisi menemukan map lain di mobil Arga.
Di dalamnya ada salinan sertifikat Villa Arunika, dokumen saham perusahaan, serta rancangan surat kuasa yang akan memberinya kewenangan menjaminkan sebagian saham setelah pengalihan kepemilikan selesai.
Namun ada satu dokumen yang membuat semua orang terdiam.
Sebuah perjanjian utang.
Arga memiliki kewajiban hampir sebelas miliar rupiah kepada sebuah perusahaan investasi swasta.
Jatuh temponya dua minggu lagi.
Jaminan yang dijanjikan?
Saham PT Arunika Lestari Properti.
Saham yang belum pernah menjadi miliknya.
Aku akhirnya memahami semuanya.
Pernikahan kami bukan tujuan.
Pernikahan adalah jalan masuk.
Ia membutuhkan tanda tanganku sebelum utangnya jatuh tempo.
Ratna membutuhkan akses ke proyek perusahaan.
Dan aku hanyalah pintu yang mereka pikir bisa dibuka dengan cincin.
Tiga hari kemudian, aku kembali ke Villa Arunika.
Bukan sebagai pengantin baru.
Aku datang bersama Pak Indra, penyidik, dan tim keamanan perusahaan.
Kebaya pengantinku sudah disimpan sebagai barang bukti.
Bunga-bunga pesta telah layu.
Kursi tamu mulai diangkut.
Di lantai ruang makan masih ada bekas goresan dari malam ketika Arga menghantam meja.
Aku berdiri lama di sana.
Dua tahun hubungan.
Enam bulan pertunangan.
Satu hari pernikahan.
Semua terasa seperti kehidupan orang lain.
Pak Damar mendekat.
“Bu Maya.”
“Ya?”
“Ada sesuatu dari almarhumah nenek.”
Ia membawa sebuah kotak kayu kecil.
Aku mengenalinya.
Kotak itu dulu disimpan Nenek di lemari kamarnya.
Pak Damar berkata bahwa Nenek pernah berpesan agar kotak itu diberikan kepadaku apabila suatu hari ada seseorang yang mencoba mengambil Villa Arunika melalui pernikahan atau hubungan keluarga.
Aku tercekat.
“Nenek bilang begitu?”
Pak Damar mengangguk.
Tanganku gemetar saat membuka kotak.
Di dalamnya terdapat sebuah amplop dan salinan akta yayasan.
Aku membaca surat Nenek terlebih dahulu.
Tulisan tangannya sudah memudar.
Maya, rumah bisa direbut. Uang bisa hilang. Perusahaan bisa jatuh. Karena itu jangan pernah menaruh seluruh masa depanmu pada sesuatu yang bisa ditandatangani orang lain.
Aku membaca kalimat berikutnya dua kali.
Ternyata tujuh tahun lalu, sebelum meninggal, Nenek telah memindahkan sebagian besar kepemilikan tanah strategis perusahaan ke sebuah yayasan keluarga.
Aku adalah pengelola manfaat utamanya.
Tetapi tanah-tanah itu tidak bisa dijual, diagunkan, atau dialihkan untuk kepentingan pribadi tanpa persetujuan dewan pengawas independen.
Nilainya jauh lebih besar daripada Villa Arunika.
Bahkan lebih besar daripada saham yang ingin direbut Arga.
Aku menatap Pak Indra.
“Bapak tahu?”
Ia tersenyum tipis.
“Saya salah satu saksi aktanya.”
“Kenapa tidak pernah bilang?”
“Karena nenekmu ingin kamu membangun perusahaan seolah-olah tidak memiliki jaring pengaman.”
Aku tertawa kecil di tengah air mata.
Itu sangat mirip Nenek.
Enam bulan kemudian, proses hukum terhadap Arga dan Ratna masih berjalan.
Pernikahanku berakhir jauh lebih cepat daripada pesta pernikahannya direncanakan.
Beberapa orang mengasihaniku.
Beberapa berbisik bahwa aku terlalu keras karena membawa persoalan suami istri ke ranah hukum.
Aku berhenti mendengarkan mereka.
PT Arunika Lestari Properti berhasil memulihkan sebagian kerugian melalui penyitaan aset dan gugatan perdata.
Namun aku membuat keputusan lain yang tidak diketahui siapa pun.
Villa Arunika tidak lagi kutinggali.
Rumah itu terlalu besar untuk satu orang dan terlalu penuh dengan kenangan yang tidak semuanya ingin kusimpan.
Setahun setelah malam hujan itu, gerbang Villa Arunika dibuka kembali.
Bukan sebagai vila pribadi.
Di depan gerbang dipasang papan baru.
Rumah Arunika.
Tempat perlindungan sementara dan pusat pendampingan hukum bagi perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga.
Pak Damar tetap menjadi pengelolanya.
Istrinya mengurus dapur.
Perusahaan menanggung biaya operasional awal, sementara yayasan milik Nenek menyediakan dana jangka panjang.
Pada hari pembukaan, aku berdiri di teras yang sama tempat Arga pernah mendorongku ke tengah hujan.
Seorang perempuan muda datang membawa anak perempuan berusia sekitar lima tahun.
Ada lebam tipis di lengannya.
Ia berdiri di depan pintu dengan ragu.
“Benarkah saya boleh tinggal di sini?”
Aku membuka pintu lebih lebar.
“Boleh.”
“Berapa lama?”
“Sampai kamu punya tempat aman untuk pulang.”
Perempuan itu menangis.
Aku memeluknya.
Di atas kami, kamera keamanan masih menyala.
Titik birunya kecil.
Hampir tidak terlihat.
Aku memandangnya dan tiba-tiba teringat diriku sendiri pada malam pernikahan itu, berdiri menggigil di bawah hujan sambil mengira hidupku baru saja dihancurkan.
Ternyata aku salah.
Malam itu bukan saat aku kehilangan rumah tangga.
Itulah malam ketika aku akhirnya melihat dengan jelas siapa yang tidak boleh kubiarkan tinggal di dalam hidupku.
Arga mengira dengan mengunciku di luar Villa Arunika, ia sedang menunjukkan bahwa aku tidak memiliki tempat untuk pulang.
Pada akhirnya, justru dialah yang kehilangan semuanya.
Aksesnya.
Rencananya.
Kebebasannya.
Dan perempuan yang pernah benar-benar mencintainya.
Sedangkan rumah yang ia gunakan untuk menghukumku kini menjadi pintu terbuka bagi perempuan-perempuan yang pernah dibuat percaya bahwa mereka tidak punya pilihan.
Aku menyentuh bekas luka tipis di lututku.
Lalu aku menatap hujan yang mulai turun di halaman.
Dulu aku takut pada suara pintu yang dikunci dari dalam.
Sekarang aku tahu satu hal.
Kadang-kadang, ketika seseorang menutup sebuah pintu untuk membuat kita merasa tidak berdaya, yang harus kita lakukan bukan mengetuk lebih keras.
Kita hanya perlu berhenti memohon untuk masuk.
Lalu membangun tempat yang pintunya tidak perlu kita takuti lagi.
