Dr. Valdez terpaku di depan meja penghangat. Tangannya yang biasanya stabil saat membedah, kini gemetar hebat. Ia tidak hanya melihat seorang bayi yang baru lahir; ia melihat sebuah tanda yang begitu familier, sebuah tanda lahir berbentuk bintang kecil yang unik di bahu kanan bayi tersebut.
Tanda itu sama persis dengan tanda lahir yang dimiliki putranya, mendiang Kapten David Valdez.
Dengan napas yang tercekat, Dr. Valdez dengan cepat meraih tas kecil milik Lina yang tergeletak di sudut ruangan. Ia membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya, tidak ada pakaian bayi yang mewah, hanya ada sebuah dompet lusuh yang berisi satu foto yang sudah lecek dan sebuah surat yang ditulis dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal—tulisan tangan putranya sendiri.
Ia membaca surat itu di tengah keheningan ruang persalinan.

“Kepada cintaku, Lina. Jika surat ini sampai padamu, artinya aku sudah tidak bisa pulang. Aku tidak ingin kau merasa sendiri. Bayi ini adalah bagian dari diriku yang tersisa untuk menjaga dan mencintaimu di dunia. Dia adalah David kecil, bukti cinta kita yang tak akan pernah mati.”
Air mata yang selama sembilan bulan ini ia tahan, akhirnya pecah. Isak tangis Dr. Valdez pecah memenuhi ruangan, mengejutkan perawat dan Lina yang masih kelelahan.
Dr. Valdez berbalik perlahan, berjalan mendekati Lina dengan bayi itu dalam dekapannya. Ia tidak lagi menatap Lina sebagai pasien, melainkan sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa.
“Lina…” suaranya parau, penuh dengan kerinduan yang mendalam. “Namanya… apakah kamu memberinya nama?”
Lina menatap dokter itu dengan heran, namun melihat air mata di wajah sang dokter dan bagaimana ia memegang bayi itu dengan penuh kasih sayang, Lina mengerti ada sesuatu yang terjadi. “Saya ingin memberinya nama David, seperti nama ayahnya yang gugur sebagai pahlawan.”
Dr. Valdez jatuh berlutut di samping ranjang Lina, mendekap cucunya yang baru lahir ke dadanya. “Dia bukan sekadar bayi, Lina. Dia adalah jantung yang kembali berdetak untukku. Aku adalah ayah dari David, kakek dari anak ini.”
Seisi ruang persalinan terdiam. Para perawat yang tadi berbisik-bisik, kini terpaku dengan mata berkaca-kaca. Badai di luar sana seolah reda, berganti dengan kehangatan yang tak terlukiskan di dalam ruang itu. Takdir telah membawa sang dokter tua dari kesepian yang kelam menuju pelukan cahaya baru—cucu yang merupakan titipan dari putranya yang telah tiada.
Malam itu, di San Gabriel Medical Center, sebuah keluarga yang hancur karena perang akhirnya menemukan cara untuk utuh kembali. Lina tidak lagi sendirian, dan Dr. Valdez tidak lagi harus menghadapi dunia dengan hati yang kosong. Mereka kini memiliki satu sama lain, dan David kecil menjadi pengingat bahwa cinta, meski dipisahkan oleh kematian, akan selalu menemukan jalan untuk pulang.
