Ponsel tua itu terasa jauh lebih berat di tanganku daripada biasanya.
Aku menatap layar yang retak di sudut kanan. Baterainya tinggal dua puluh tiga persen. Di lorong ruang VIP yang dingin, dengan Pak Bima berdiri beberapa meter dariku dan Ratih terus melirik ke arah lift, aku akhirnya membuka folder rekaman suara.
Ada satu file paling baru.
Dibuat tiga hari lalu.
Tanganku gemetar ketika menekan tombol putar.
Suara Dimas terdengar pelan.
“Rak, kalau kamu dengar ini, berarti firasatku benar.”
Aku langsung menahan napas.
“Aku nggak tahu siapa yang bisa dipercaya. Termasuk orang-orang di rumahku sendiri.”
Aku menatap pintu ruang perawatan.
Di balik pintu itu, sahabatku sedang berjuang hidup.
Rekaman berlanjut.
“Beberapa minggu terakhir aku sering pusing, jantungku tiba-tiba lambat, terus aku kehilangan kesadaran sebentar. Awalnya kupikir penyakit lamaku kambuh. Tapi obatku juga berubah. Labelnya sama, bentuk tabletnya beda.”
Aku teringat pertemuan kami tiga hari sebelumnya di bawah jembatan dekat Manggarai.
Dimas datang mengenakan hoodie hitam dan masker. Tidak ada sopir. Tidak ada pengawal.

Dia memberiku ponsel ini sambil berkata bahwa suatu hari mungkin seseorang akan mencarinya.
Saat itu aku menertawakannya.
Sekarang aku ingin memukul diriku sendiri karena pernah menganggapnya berlebihan.
“Rak,” suara Dimas kembali terdengar, “kalau sesuatu terjadi, jangan kasih ponsel ini ke Tante Ratih.”
Darahku terasa membeku.
Aku langsung menoleh.
Ratih sudah tidak ada.
“Pak Bima!”
Suara teriakanku membuat semua orang menoleh.
Pak Bima berlari mendekat.
“Ada apa?”
“Bu Ratih.”
“Apa?”
“Dia pergi.”
Pak Bima menoleh ke arah lift. Pintu lift baru saja tertutup.
Aku menyerahkan ponsel itu.
“Dengar.”
Namun sebelum rekaman selesai, Pak Bima langsung mengeluarkan ponselnya.
“Tutup akses keluar gedung. Ratih Kusuma tidak boleh meninggalkan rumah sakit.”
Beberapa petugas keamanan berlari menuju lift.
Aku melanjutkan rekaman.
Dimas menceritakan bahwa dua bulan sebelumnya dia tidak sengaja mendengar Ratih berdebat dengan seseorang melalui telepon. Pembicaraan itu berkaitan dengan rapat pemegang saham Santoso Group yang akan berlangsung beberapa minggu lagi.
Dimas memiliki saham warisan mendiang ibunya.
Jumlahnya cukup besar.
Dan setelah ulang tahunnya yang kedelapan belas, hak suara atas saham tersebut akan berpindah sepenuhnya kepadanya.
Ulang tahun itu tinggal sebelas hari lagi.
“Papa percaya banget sama Tante Ratih,” kata Dimas dalam rekaman. “Dia sudah kerja sama Papa hampir lima belas tahun. Makanya aku nggak berani nuduh tanpa bukti.”
Pak Bima menunduk.
Wajahnya perlahan kehilangan warna.
Kemudian terdengar suara Dimas lagi.
“Tapi ada satu hal yang lebih aneh. Data penyakit jantungku hilang dari aplikasi rumah sakit langganan keluarga. Aku sempat screenshot sebelum hilang. Semua ada di folder tersembunyi.”
Pak Bima langsung membuka folder yang dimaksud.
Ada foto resep lama.
Riwayat pemeriksaan jantung.
Percakapan dengan seorang apoteker.
Dan beberapa foto obat.
Dr. Maya keluar dari ruang perawatan tepat ketika kami melihatnya.
Pak Bima segera menunjukkan layar.
“Dokter, lihat ini.”
Maya membaca semuanya tanpa berbicara.
Ekspresinya berubah saat melihat nama obat.
“Ini resep lama Dimas?”
“Iya.”
“Obat yang kami temukan dalam catatan masuk rumah sakit malam ini berbeda.”
Pak Bima mengepalkan tangan.
“Artinya?”
“Saya belum bisa menyimpulkan ada kesengajaan. Tapi kombinasi obat tertentu pada pasien dengan gangguan irama jantung seperti Dimas dapat menyebabkan kondisi yang sangat berbahaya.”
Aku menelan ludah.
“Bisa bikin dia kelihatan seperti sudah meninggal?”
Dr. Maya menatapku beberapa detik.
“Dalam kondisi ekstrem, fungsi tubuh bisa sangat sulit terdeteksi. Karena itu pemeriksaan harus dilakukan sangat hati-hati.”
Wajah Pak Bima berubah merah.
“Delapan dokter memeriksa anak saya.”
“Pak,” kata Maya tegas, “sekarang prioritas kami menyelamatkannya. Investigasi dilakukan setelah kondisi Dimas stabil.”
Tiba-tiba dua petugas keamanan muncul dari ujung lorong.
Ratih berjalan di antara mereka.
“Apa-apaan ini?” bentaknya. “Pak Bima, saya diperlakukan seperti kriminal!”
Pak Bima berdiri diam.
Untuk pertama kalinya, aku melihat tatapan seorang pengusaha yang selama ini hanya kulihat di televisi.
Dingin.
“Kenapa data medis Dimas berubah?”
Ratih terdiam.
“Hah?”
“Kenapa obatnya berubah?”
“Saya tidak tahu.”
“Kenapa kamu mencoba meninggalkan rumah sakit setelah dokter mengatakan ada masalah pada catatan medis?”
“Saya mau mengambil dokumen di mobil.”
“Bohong.”
Satu kata itu membuat lorong kembali sunyi.
Pak Bima memperdengarkan rekaman Dimas.
Wajah Ratih perlahan memucat.
Namun dia masih bertahan.
“Anak itu sedang paranoid. Dimas memang beberapa bulan terakhir emosional.”
Aku maju.
“Jangan ngomong begitu tentang dia.”
Ratih menatapku tajam.
“Kamu diam. Kamu bahkan bukan siapa-siapa.”
Kalimat itu menusuk tepat ke tempat yang paling sakit.
Karena selama hidupku, orang selalu mengatakan hal serupa.
Aku bukan siapa-siapa.
Aku tidur berpindah-pindah di rumah singgah dan emperan toko sejak ibuku meninggal. Aku mencari uang dengan membantu pedagang menurunkan barang di pasar dan sesekali mengamen di sekitar stasiun.
Sedangkan Dimas adalah anak miliarder.
Seharusnya dunia kami tidak pernah bertemu.
Tapi setahun lalu, ketika beberapa anak memukuliku karena berebut tempat mengamen, Dimas kebetulan melihatnya.
Dia tidak memberi uang.
Dia malah duduk di trotoar di sebelahku.
“Kenapa nggak pulang?” tanyanya.
“Aku nggak punya rumah.”
Dia terdiam.
Kemudian berkata, “Aku punya rumah gede, tapi kadang juga rasanya nggak punya rumah.”
Sejak hari itu kami berteman.
Diam-diam.
Dimas sering datang tanpa sopir. Kami makan nasi goreng pinggir jalan, bermain gim di ponselnya, dan membicarakan hal-hal yang tidak bisa dia ceritakan kepada teman sekolahnya.
Kode dua gerakan kelingking itu muncul suatu malam ketika kami terjebak di sebuah gudang kosong karena bersembunyi dari preman.
Dimas yang menciptakannya.
Dua gerakan.
Aku masih di sini.
Aku menatap Ratih.
“Mungkin aku bukan siapa-siapa. Tapi Dimas percaya sama aku.”
Sebelum Ratih menjawab, ponsel Pak Bima berbunyi.
Salah satu staf keamanan perusahaan menelepon.
Mereka telah memeriksa rekaman CCTV rumah.
Pada malam sebelum Dimas dibawa ke rumah sakit, Ratih masuk ke kamar Dimas ketika pemuda itu sedang mandi.
Dia keluar dua menit kemudian sambil membawa sesuatu dari meja.
Ratih langsung berteriak.
“Saya asistennya! Saya sering masuk kamar untuk mengurus jadwal!”
Pak Bima menutup telepon.
“Polisi sedang menuju ke sini.”
Ratih membeku.
Lalu sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Dia tertawa.
Pelan.
“Bapak pikir semuanya salah saya?”
Pak Bima menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Ratih menggeleng.
“Selama lima belas tahun saya membersihkan kekacauan keluarga Santoso. Saya menutup skandal, mengurus dokumen, memastikan perusahaan tetap berjalan ketika Bapak bahkan lupa ulang tahun anak sendiri.”
Pak Bima seperti ditampar.
Ratih melanjutkan.
“Dimas membenci dunia Bapak. Dia sudah berniat menggunakan hak suaranya untuk menggagalkan merger.”
“Jadi kamu mencoba membunuhnya?”
“Saya tidak pernah berniat membunuh Dimas!”
Suara Ratih pecah.
Untuk pertama kalinya dia terlihat takut.
“Saya cuma diminta membuat dia dirawat beberapa hari supaya tidak hadir dalam rapat awal.”
“Diminta siapa?”
Ratih menutup mulut.
Pak Bima mendekat.
“Siapa?”
Ratih tidak menjawab.
Namun polisi datang tidak lama kemudian.
Ponsel dan tas Ratih disita.
Dan kejutan berikutnya justru ditemukan di sana.
Percakapannya menunjukkan bahwa Ratih memang mengganti obat Dimas.
Tetapi instruksi itu datang dari seseorang bernama Adrian Santoso.
Adik kandung Pak Bima.
Wakil komisaris Santoso Group.
Orang yang akan mendapatkan keuntungan terbesar jika suara Dimas tidak hadir dalam rapat.
Pak Bima terduduk ketika mendengarnya.
Orang asing bisa melukai tubuh.
Tapi pengkhianatan keluarga menghancurkan sesuatu yang lebih dalam.
Malam berjalan lambat.
Aku tetap duduk di lorong sampai matahari mulai muncul di balik gedung-gedung Jakarta.
Sekitar pukul enam pagi, dr. Maya keluar.
Pak Bima langsung berdiri.
“Bagaimana?”
Maya melepas maskernya.
“Kondisinya jauh lebih stabil.”
Aku berdiri begitu cepat sampai kepalaku pusing.
“Dia sadar?”
“Belum sepenuhnya. Tapi respons neurologisnya membaik.”
Pak Bima menangis.
Tidak keras.
Air matanya hanya jatuh ketika dia menunduk.
Lalu dr. Maya menatapku.
“Raka.”
Aku menunjuk diriku sendiri.
“Saya?”
“Masuk sebentar.”
Aku mengikuti dokter ke dalam.
Dimas tampak sangat pucat. Banyak alat masih terpasang di tubuhnya.
Aku berdiri di sisi ranjang.
“Dim.”
Tidak ada jawaban.
Aku tertawa kecil meski mataku panas.
“Lu bikin repot satu rumah sakit, tahu nggak?”
Jarinya diam.
Aku menggigit bibir.
“Katanya kalau takut, kita pakai kode.”
Aku menyentuh punggung tangannya.
“Sekarang gue takut banget.”
Beberapa detik berlalu.
Kemudian kelingkingnya bergerak.
Dua kali.
Aku langsung menangis.
“Bodoh.”
Aku menunduk sampai dahiku menyentuh sisi ranjang.
“Gue tahu. Gue tahu lu masih di sini.”
Dimas baru benar-benar sadar dua hari kemudian.
Kalimat pertamanya bahkan bukan tentang ayahnya.
“Ponselnya aman?”
Aku tertawa sampai perawat memarahiku.
Kasus itu kemudian berkembang jauh lebih besar.
Adrian ditangkap setelah polisi menemukan bukti transfer dan percakapan terkait manipulasi obat. Ratih akhirnya bekerja sama dalam penyelidikan. Beberapa prosedur rumah sakit juga diperiksa ulang untuk mengetahui bagaimana kesalahan penilaian kondisi Dimas bisa terjadi.
Tapi ada sesuatu yang jauh lebih penting bagi Pak Bima daripada semua kasus hukum itu.
Dia akhirnya mengetahui kehidupan anaknya yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar dia lihat.
Suatu sore, ketika Dimas sudah bisa duduk, Pak Bima bertanya kepadanya,
“Kenapa kamu lebih percaya Raka daripada Papa?”
Dimas lama tidak menjawab.
Kemudian dia berkata,
“Karena Raka dengar aku sebelum aku harus hampir mati supaya Papa mau dengar.”
Pak Bima menunduk.
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada alasan tentang pekerjaan atau perusahaan.
Hanya keheningan seorang ayah yang akhirnya menyadari berapa banyak waktu yang telah hilang.
Beberapa minggu kemudian, aku dipanggil ke rumah keluarga Santoso.
Aku datang dengan kaus terbaik yang kupunya.
Pak Bima menungguku di ruang kerja.
Di atas meja ada beberapa dokumen.
Aku langsung curiga.
“Saya nggak mau uang.”
Pak Bima tersenyum tipis.
“Dimas sudah bilang kamu pasti ngomong begitu.”
Dia mendorong dokumen ke arahku.
Itu bukan cek.
Itu surat pendaftaran sekolah.
Program pendidikan lengkap sampai lulus SMA, ditambah tempat tinggal di sebuah rumah pembinaan yang dikelola yayasan pendidikan.
Aku tidak menyentuh kertas itu.
“Kenapa?”
“Karena saya punya utang yang tidak mungkin bisa saya bayar.”
“Saya nolong Dimas bukan buat dapat ini.”
“Saya tahu.”
Pak Bima menatapku lurus.
“Karena itulah saya memberikannya.”
Aku masih ragu.
Kemudian pintu terbuka.
Dimas muncul menggunakan tongkat.
“Ambil aja, Rak.”
Aku menatapnya.
Dia menyeringai.
“Biar nanti kalau gue bikin perusahaan sendiri, gue punya partner yang bisa baca kontrak.”
Aku tertawa.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, semuanya terasa ringan.
Namun sebelum aku menandatangani surat itu, Pak Bima mengatakan sesuatu yang tidak pernah kulupakan.
“Delapan dokter memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi darimu. Saya punya uang yang mungkin lebih banyak daripada yang bisa kamu bayangkan. Ratih punya jabatan. Adrian punya kekuasaan.”
Dia berhenti sebentar.
“Tapi malam itu, orang yang menyelamatkan anak saya adalah satu-satunya orang di ruangan yang benar-benar memperhatikannya.”
Aku menatap Dimas.
Dia mengangkat kelingkingnya.
Dua kali.
Aku membalas dengan gerakan yang sama.
Bertahun-tahun kemudian, orang-orang masih mengenal kisah itu sebagai malam ketika seorang anak jalanan melihat gerakan kecil yang terlewatkan oleh sebuah ruang penuh orang penting.
Tapi bagiku, bukan itu inti ceritanya.
Aku tidak menyelamatkan Dimas karena mataku lebih tajam.
Aku melihat gerakan itu karena aku mengenalnya.
Karena aku mendengarkannya.
Karena ketika seluruh ruangan melihat tubuh yang dianggap sudah tidak memiliki harapan, aku masih melihat sahabatku.
Dan terkadang, hal yang paling dibutuhkan seseorang bukan orang terkaya, terpintar, atau paling berkuasa di ruangan.
Hanya seseorang yang tidak berhenti percaya ketika semua orang lain sudah berpaling.
