Enrico tertegun, lidahnya kelu. Suara musik yang tadinya menggelegar kini digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Para tamu undangan mulai berbisik-bisik, bingung melihat perubahan drastis pada wajah Enrico.
“Enrico?” panggil Brenda, tidak menyadari situasi. “Kenapa kamu diam saja? Panggil polisi! Gelandangan ini mengancam akan melukai petugas keamanan kita!”
Enrico tidak menjawab. Perlahan, dia melangkah maju. Kakinya terasa seperti pemberat besi. Dia menatap kaos putih saya yang sedikit lusuh, lalu beralih ke mata saya—tatapan yang selama lima tahun ini paling dia takuti.
“A-Anton…” bisik Enrico, suaranya parau, nyaris tidak terdengar.

Brenda mengerutkan kening, bingung. “Apa katamu? Anton? Siapa itu Anton? Apa peduliku siapa nam—”
“DIAM!” teriak Enrico tiba-tiba, membuat semua orang tersentak. Dia segera menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebuah gestur penghormatan yang sangat dipaksakan namun penuh ketakutan. “Tuan… Tuan Anton. Saya… saya tidak tahu Anda pulang hari ini.”
Kerumunan tamu mendadak sunyi total. Nama “Anton Montes” adalah legenda di dunia bisnis Filipina. Beberapa pengusaha kaya yang hadir di sana mulai pucat pasi. Mereka tahu persis siapa pemilik sebenarnya dari Hacienda ini.
Saya berjalan perlahan melewati Enrico, menatap lurus ke mata Brenda yang kini mulai kehilangan kilaunya. Saya berhenti tepat di depan spanduk besar bertuliskan ‘Ratu Baru Hacienda Montes’.
“Ratu?” gumam saya, lalu tertawa kecil yang membuat bulu kuduk mereka berdiri. “Enrico, sepertinya kamu sangat murah hati dengan properti yang bukan milikmu. Berapa banyak uang perusahaan yang sudah kamu bakar untuk pesta sampah ini?”
Brenda terbelalak. Dia mencoba mencari perlindungan pada suaminya, namun Enrico justru mundur selangkah, menjauh dari jangkauan saya.
“I-ini hanya salah paham, Tuan,” Enrico mencoba beralasan, keringat dingin membasahi keningnya. “Saya bisa jelaskan. Kami… kami hanya merawat tempat ini, dan Brenda hanya ingin mengadakan perayaan kecil…”
“Perayaan kecil dengan dana penggelapan?” Saya menoleh ke arah kerumunan tamu. “Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, silakan nikmati sisa makan malam kalian. Karena besok pagi, tempat ini akan disita oleh auditor dari Montes Group.”
Saya menoleh kembali ke arah Enrico, menatapnya dengan tajam. “Kamu punya waktu dua jam untuk mengosongkan rumah ini dan membawa semua ‘tamu’ kamu pergi. Jika satu barang saja dari koleksi pribadi saya hilang atau rusak, saya pastikan bukan hanya jabatanmu yang hilang, tapi juga kebebasanmu.”
Saya berbalik meninggalkan mereka. Brenda tampak lemas, gaun merah mewahnya kini tampak seperti kostum lelucon di tengah kekacauan yang dia buat sendiri. Saat saya melangkah pergi menuju pintu utama, tidak ada lagi yang berani menghalangi jalan saya.
“Oh, satu lagi,” saya berhenti sejenak tanpa menoleh. “Enrico, jangan lupa hitung berapa banyak yang harus kamu kembalikan. Kamu mungkin bisa menyewa rumah untuk Brenda, tapi kamu tidak akan pernah bisa menyewa harga dirimu kembali setelah ini.”
Saya melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan mereka dalam jeritan penyesalan dan tatapan dingin dari para tamu yang mulai menyadari bahwa pesta ini baru saja berubah menjadi hari penghakiman.
Bagaimana menurut Anda kelanjutan ini? Apakah ada bagian dari plot twist atau aksi Anton yang ingin Anda pertajam atau arahkan ke arah yang berbeda?
