Aku pulang lebih cepat hari itu karena ingin mengejutkan istriku yang sedang hamil tujuh bulan. Namun, beberapa menit setelah membuka pintu apartemen, aku justru mengetahui bahwa selama hampir sebulan seseorang telah hidup menggunakan namaku.
Buket bunga yang kubawa tergeletak di dekat pintu.
Dua set pakaian bayi yang tadi kupilih hampir setengah jam bahkan belum sempat kutunjukkan kepada Laila.
Di tanganku sekarang hanya ada sebuah map cokelat.

Dokumen di dalamnya menyatakan bahwa setelah anak kami lahir, hak pengasuhan sementara dapat dialihkan kepada ibuku dengan alasan kondisi psikologis Laila dianggap tidak stabil.
Dan di bawahnya sudah ada tanda tangan istriku.
“Aku pikir kamu yang meminta,” kata Laila sambil menangis.
Aku menatap wajahnya lama.
Selama tujuh tahun menikah, aku mengenal Laila sebagai perempuan yang sulit dipengaruhi orang lain. Dia pernah meninggalkan pekerjaan bagus karena atasannya meminta memalsukan laporan. Dia bahkan berani menentang keluarganya sendiri ketika mereka menganggap pernikahan kami terlalu terburu-buru.
Namun perempuan di depanku sekarang berbeda.
Wajahnya pucat. Matanya cekung. Kedua lengannya kemerahan karena cairan misterius yang dikirim atas namaku.
Saat itu aku sadar sesuatu yang jauh lebih buruk telah terjadi.
Mereka tidak menghancurkan Laila dalam satu hari.
Mereka melakukannya sedikit demi sedikit.
“Aku mau lihat semuanya,” kataku.
Fitri menatapku.
“Semuanya apa, Pak?”
“Semua pesan dari Mama.”
Wajah Fitri langsung berubah.
Aku mendekatinya.
“Kalau kamu benar-benar mau membantu Laila, jangan sembunyikan apa pun lagi.”
Fitri akhirnya menyerahkan ponselnya.
Percakapannya dengan ibuku dimulai empat bulan sebelumnya.
Awalnya terlihat biasa.
Pastikan Laila makan.
Catat kalau dia muntah.
Beri tahu saya kalau dia pergi sendiri.
Namun perlahan isi pesannya berubah.
Cari tahu password ponselnya.
Foto obat yang diberikan dokter.
Kalau Arga pergi dinas, jangan biarkan dia bertemu teman-temannya.
Kemudian muncul instruksi yang membuat dadaku sesak.
Buat dia percaya Arga kecewa dengan kehamilannya.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
“Kenapa?” tanyaku.
Fitri menunduk.
“Saya juga tidak tahu awalnya.”
“Dan kamu tetap melakukannya?”
“Saya butuh uang, Pak.”
Aku mengepalkan tangan.
Fitri menangis.
“Ibu saya cuci darah. Bu Ratna membayar biaya rumah sakitnya.”
Aku ingin marah, tetapi kemudian kulihat sesuatu dalam percakapan itu.
Beberapa minggu terakhir, Fitri mulai membantah.
Saya tidak mau kasih cairan itu lagi.
Bu Laila kulitnya luka.
Pesan ibuku membalas singkat.
Kamu dibayar untuk bekerja, bukan berpikir.
Fitri ternyata berhenti menjalankan sebagian perintahnya. Dia juga mulai merekam percakapan dan menyimpan bukti.
Itulah sebabnya tadi dia memegang ponsel.
Dia sedang merekam Laila yang mencoba menggunakan cairan itu lagi agar memiliki bukti bahwa kondisi istriku semakin buruk.
“Ada satu hal lagi,” kata Fitri.
Dia membuka folder tersembunyi di ponselnya.
Di sana ada rekaman suara.
Aku menekan salah satunya.
Suara ibuku terdengar jelas.
“Kalau nanti bayi itu lahir, kita harus memastikan Laila tidak punya cukup kekuatan untuk melawan. Arga tidak akan meninggalkan istrinya kalau tidak ada alasan.”
Lalu terdengar suara laki-laki.
Aku langsung mengenalinya.
Dimas.
Sekretaris pribadiku.
Tubuhku seakan kehilangan darah.
“Tenang saja, Bu,” kata Dimas dalam rekaman. “Semua jadwal Pak Arga ada di saya. Selama dia sibuk, Bu Laila akan percaya nomor itu benar-benar nomor barunya.”
Aku menutup rekaman.
Sekarang semuanya masuk akal.
Jadwal penerbanganku.
Nama klien.
Restoran.
Pertemuan.
Bahkan perubahan jadwal mendadak.
Hanya Dimas yang mengetahui semuanya.
Aku mengambil ponselku dan meneleponnya.
“Mas Arga?”
“Besok pagi jangan masuk kantor.”
Dia terdiam.
“Kenapa, Mas?”
“Karena malam ini saya sedang bersama polisi.”
Aku berbohong.
Telepon langsung terputus.
Dimas mematikan ponselnya beberapa detik kemudian.
Itu sudah cukup menjadi jawaban.
Aku membawa Laila ke rumah sakit malam itu.
Dokter mengatakan iritasi di lengannya kemungkinan berasal dari bahan kimia keras dalam produk yang digunakannya. Untungnya kondisi bayi baik.
Namun dokter mengatakan satu hal yang membuatku merasa lebih bersalah daripada apa pun.
“Tekanan psikologis berkepanjangan juga harus diperhatikan, Pak.”
Aku menatap Laila yang tertidur di ranjang pemeriksaan.
Aku selalu berpikir menjadi suami yang baik berarti bekerja keras.
Menyediakan apartemen nyaman.
Tabungan.
Asuransi.
Biaya persalinan terbaik.
Ternyata selama aku sibuk menyediakan kehidupan untuk keluargaku, aku hampir tidak hadir di dalam kehidupan itu sendiri.
Keesokan paginya aku tidak pergi ke kantor.
Aku mendatangi rumah ibuku.
Mama sedang sarapan ketika aku masuk.
“Arga? Kok pagi-pagi?”
Aku meletakkan map cokelat di meja.
Sendok di tangannya berhenti.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ibuku kehilangan ekspresi tenangnya.
“Ini apa?”
“Mama lebih tahu daripada saya.”
Dia memandang dokumen itu lalu kembali menatapku.
“Arga, Mama bisa jelaskan.”
“Silakan.”
Dia terdiam beberapa detik.
Kemudian sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Mama tidak menyangkal.
“Laila tidak cocok membesarkan anakmu.”
Aku hampir tidak percaya.
“Mama meneror istri saya berbulan-bulan karena itu?”
“Mama melindungi cucu Mama.”
“Dari ibunya sendiri?”
“Laila punya riwayat depresi.”
Aku membeku.
“Siapa bilang?”
Mama bangkit dan membuka laci.
Dia mengeluarkan beberapa lembar dokumen medis.
Namanya Laila.
Tanggalnya enam tahun lalu.
Sebelum kami menikah.
Aku membaca diagnosis singkat tentang gangguan kecemasan berat setelah kematian ayahnya.
“Dia menyembunyikan ini darimu,” kata Mama.
Aku menatap dokumen itu.
“Jadi karena dia pernah mengalami kecemasan enam tahun lalu, Mama berhak membuatnya sakit lagi?”
“Dia berbohong kepadamu.”
“Tidak.”
Aku meletakkan dokumen itu.
“Dia takut.”
Mama terdiam.
Aku baru menyadari perbedaannya.
Laila memang tidak pernah menceritakan semuanya tentang masa setelah ayahnya meninggal. Tetapi tidak pernah sekali pun selama pernikahan kami dia menunjukkan sesuatu yang membuatku meragukan kemampuannya menjadi ibu.
Justru seseorang telah sengaja menciptakan kondisi agar dia terlihat tidak stabil.
“Kenapa Mama sangat ingin mengambil anak kami?”
Pertanyaanku membuat wajah Mama berubah.
Hanya sepersekian detik.
Tetapi aku melihatnya.
Ketakutan.
Saat itulah aku tahu masih ada sesuatu.
“Mama?”
Dia menghindari tatapanku.
Aku teringat satu hal aneh.
Sejak Laila hamil, Mama selalu bertanya tentang hasil pemeriksaan darah.
Bukan hanya kesehatan bayi.
Golongan darah.
Tes genetik.
Riwayat keluarga.
Aku pernah menganggapnya sebagai kekhawatiran seorang nenek.
Ternyata bukan.
“Apa yang Mama sembunyikan?”
Tidak ada jawaban.
Aku mengeluarkan ponsel.
“Kalau Mama tidak mau bicara, saya serahkan semuanya kepada pengacara.”
“Arga.”
“Dan polisi.”
“Arga, tunggu.”
Aku berjalan menuju pintu.
“Anak itu mungkin bukan anakmu.”
Langkahku berhenti.
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Aku berbalik.
“Apa?”
Mama menangis.
“Mama menerima foto.”
Dia mengambil amplop dari lemari.
Di dalamnya ada beberapa foto Laila bersama seorang laki-laki di sebuah klinik.
Mereka terlihat dekat.
Pada salah satu foto, laki-laki itu memegang bahu Laila.
Tanggalnya sekitar delapan bulan lalu.
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
“Siapa dia?”
“Namanya Raka.”
Aku mengenal nama itu.
Mantan tunangan Laila.
Mama berkata seseorang mengirim foto itu kepadanya tanpa nama pengirim. Setelah menyelidiki, dia menemukan Laila beberapa kali datang ke klinik yang sama dengan Raka.
Mama yakin mereka berselingkuh.
Dia takut aku membesarkan anak laki-laki lain.
Namun alih-alih bertanya kepadaku, dia memilih membuktikan Laila tidak layak menjadi ibu.
Aku keluar tanpa mengatakan apa pun.
Untuk pertama kalinya sejak melihat Laila berlutut di lantai, keraguan masuk ke kepalaku.
Malamnya aku duduk di samping ranjang Laila.
“Siapa Raka?”
Wajahnya langsung pucat.
Dia menatapku lama.
Kemudian air matanya jatuh.
“Aku mau cerita setelah bayi lahir.”
Jantungku semakin berat.
“Kenapa?”
Laila membuka ponselnya dan menunjukkan foto yang berbeda.
Raka sedang duduk di kursi roda.
Kepalanya botak.
Tubuhnya sangat kurus.
“Dia kanker darah,” kata Laila.
Aku terdiam.
“Terus?”
“Dia tidak punya keluarga dekat di Jakarta. Sebelum kondisinya memburuk, dia menghubungiku.”
“Kenapa kamu pergi diam-diam?”
“Karena aku tahu Mama tidak pernah suka aku masih berhubungan dengan siapa pun dari masa laluku. Dan aku takut kamu salah paham.”
Aku hampir tertawa karena pahitnya keadaan.
Semua orang ternyata menyembunyikan sesuatu karena takut orang lain salah paham.
Dan dari ketakutan itulah kebohongan tumbuh.
“Tapi kenapa klinik kandungan?”
Laila menatapku.
“Itu bukan klinik kandungan.”
Dia menunjukkan nama lengkap fasilitas tersebut.
Klinik fertilitas dan hematologi berada di gedung yang sama.
Raka menjalani perawatan di lantai empat.
Dokter kandungannya di lantai dua.
Foto-foto Mama sengaja diambil dari sudut yang membuat keduanya tampak datang bersama.
Aku langsung teringat Dimas.
“Siapa yang mengirim foto itu ke Mama?”
Laila menggeleng.
Aku sudah tahu siapa orang pertama yang harus dicari.
Dimas ditemukan dua hari kemudian di sebuah hotel di Bandung.
Namun ketika pengacaraku mulai mengumpulkan bukti, kejutan terakhir muncul.
Dimas bukan otak dari semuanya.
Dia hanya menerima uang.
Transfer kepadanya berasal dari sebuah perusahaan kecil milik seseorang bernama Haris Pranoto.
Nama itu tidak kukenal.
Tetapi Laila mengenalnya.
Itu pamannya sendiri.
Adik mendiang ayahnya.
Laila terduduk ketika melihat nama tersebut.
“Paman Haris?”
Beberapa tahun sebelumnya, ayah Laila meninggalkan sebidang tanah di kawasan Tangerang. Nilainya meningkat drastis setelah proyek komersial baru dibangun di dekatnya.
Tanah itu diwariskan kepada Laila.
Namun ada satu klausul dalam surat keluarga lama.
Jika Laila meninggal atau secara hukum dianggap tidak mampu mengelola aset, hak pengelolaan dapat berpindah kepada wali keluarga sampai anaknya dewasa.
Haris adalah wali yang tercantum.
Dia mengetahui ibuku tidak menyukai Laila.
Dia mengirim foto-foto manipulatif kepada Mama.
Kemudian perlahan menanamkan kecurigaan.
Mama merasa sedang menyelamatkanku.
Dimas merasa sedang mencari uang.
Fitri merasa sedang menyelamatkan ibunya.
Dan tanpa mereka sadari, semuanya menjadi alat seorang laki-laki yang hanya menginginkan tanah.
Polisi kemudian menemukan bahwa cairan tanpa label tersebut dipesan Haris melalui perantara. Tujuannya bukan membunuh Laila, melainkan membuatnya terus mengalami masalah kulit, kecemasan, dan tekanan sampai keluarga percaya bahwa kehamilan membuat kondisi mentalnya memburuk.
Dokumen hak pengasuhan hanyalah langkah pertama.
Langkah berikutnya jauh lebih buruk.
Tiga bulan kemudian, Haris dan Dimas menghadapi proses hukum.
Ibuku tidak dipenjara karena keterlibatannya tidak sama dengan mereka, tetapi hubunganku dengannya tidak pernah kembali seperti sebelumnya.
Aku tidak melarang Mama bertemu cucunya.
Namun aku menetapkan batas yang seharusnya sudah kubuat sejak lama.
Fitri tetap bekerja bersama kami.
Bukan karena kami melupakan apa yang pernah dia lakukan.
Tetapi karena pada akhirnya dialah orang pertama yang memilih berhenti dan mengumpulkan bukti ketika menyadari semuanya sudah terlalu jauh.
Pada suatu dini hari, aku duduk di luar ruang bersalin dengan kedua tangan gemetar.
Kemudian seorang perawat keluar.
“Pak Arga?”
Aku berdiri begitu cepat sampai hampir menjatuhkan kursi.
“Istri dan bayinya sehat.”
Aku menangis.
Beberapa menit kemudian aku masuk.
Laila terlihat kelelahan.
Di dadanya ada bayi laki-laki kecil yang sedang tidur.
Aku duduk di sampingnya.
Laila tersenyum lemah.
“Mirip kamu.”
Aku tertawa sambil menangis.
“Semoga jangan keras kepala seperti aku.”
“Kalau seperti kamu, dia bakal terlalu sibuk kerja.”
Kalimat itu terdengar seperti bercanda.
Tetapi aku tahu ada kebenaran di dalamnya.
Aku menggenggam tangannya.
“Maaf.”
Laila menatapku.
“Bukan kamu yang mengirim pesan-pesan itu.”
“Tapi aku yang membuat pesan-pesan itu mudah dipercaya.”
Matanya berkaca-kaca.
Aku tidak berjanji akan berhenti bekerja.
Aku tidak berjanji akan selalu berada di rumah.
Janji semacam itu mudah diucapkan dan sulit dijalankan.
Aku hanya berjanji satu hal.
Tidak akan ada lagi ruang kosong di antara kami yang bisa diisi orang lain dengan kebohongan.
Beberapa minggu setelah kami pulang dari rumah sakit, aku menemukan kantong belanja lama di lemari dekat pintu.
Di dalamnya masih ada dua set pakaian bayi yang kubeli pada hari semuanya terbongkar.
Aku mengambil salah satunya.
Laila sedang duduk di sofa sambil menggendong putra kami.
“Masih muat?” tanyaku.
Dia tersenyum.
“Coba saja.”
Aku memakaikannya perlahan.
Ternyata sedikit kebesaran.
Kami tertawa.
Dan ketika melihat mereka berdua, aku teringat buket bunga yang jatuh di lantai hari itu.
Aku pulang lebih cepat karena ingin memberikan kejutan kepada istriku.
Sebaliknya, aku menemukan rahasia yang hampir menghancurkan keluargaku.
Namun akhirnya aku memahami sesuatu yang jauh lebih penting.
Rumah tidak menjadi aman hanya karena pintunya terkunci.
Rumah menjadi aman ketika dua orang di dalamnya tidak membiarkan ketakutan, kesibukan, dan diam menciptakan pintu bagi orang lain untuk masuk.
