MALAM SEBELUM AKAD KEDUAKU, AKU PURA-PURA TAK MENDENGAR SAAT CALON SUAMIKU MENYEBUTKU “BARANG RUSAK”; LALU SAHABATKU MENYELIPKAN KAKINYA KE BAWAH MEJA, DIA MENGGENGGAMNYA SAMBIL TERSENYUM KEPADAKU—DAN PESAN YANG KUTEMUKAN SETELAH MEREKA PERGI MEMBUATKU MEMBATALKAN SATU HAL YANG MEREKA KIRA SUDAH PASTI

Pintu lift menutup perlahan, menyisakan Nadine di lantai tujuh belas dengan wajah pucat dan rambut yang masih berantakan.

Raka berdiri di sampingku.

Tangannya masih menggenggam tanganku, tetapi aku bisa merasakan telapak tangannya mulai berkeringat.

Aku menatap angka digital yang terus turun.

Enam belas.

Lima belas.

Empat belas.

Tidak seorang pun bicara.

Raka akhirnya mengambil ponselnya dan mengetik.

Nadine kenapa ada di lantai tujuh belas?

Aku membaca pesan itu, lalu mengangkat bahu seolah benar-benar tidak tahu.

Dia menatapku beberapa detik.

Aku mengenal tatapan itu.

Bukan tatapan seorang pria yang khawatir calon istrinya mengetahui perselingkuhannya.

Itu tatapan seseorang yang sedang menghitung risiko.

Ketika lift tiba di lobi, aku langsung berjalan keluar.

Raka mengejarku.

Dia menarik pergelangan tanganku.

“Alya.”

Aku berbalik.

Dia lupa bahwa menurut sandiwaraku, aku tidak bisa mendengar.

Raka segera mengubah ekspresi dan mengetik lagi.

Kamu mau pulang sendiri?

Aku mengangguk.

Besok aku jemput jam tujuh.

Aku kembali mengangguk.

Lalu aku tersenyum.

Senyum itu membuatnya tenang.

Raka mencium keningku.

“Besok kita mulai hidup baru.”

Aku mendengar kalimat itu dengan sangat jelas.

Aku masuk ke mobil yang sudah menunggu di depan hotel tanpa menoleh lagi.

Begitu pintu tertutup, tubuhku akhirnya menyerah.

Tanganku gemetar hebat.

Sopir bertanya apakah aku baik-baik saja.

Aku hanya berkata, “Jalan saja, Pak.”

Jakarta masih ramai meski hampir tengah malam. Lampu kendaraan memantul di kaca jendela seperti garis-garis panjang yang kabur.

Di situlah air mataku akhirnya jatuh.

Bukan karena Raka berselingkuh.

Aneh, tetapi perselingkuhan terasa seperti luka yang lebih kecil dibanding kenyataan bahwa dua orang yang paling kupercaya ternyata selama berbulan-bulan berdiri di sisiku sambil menunggu kesempatan mengambil sesuatu dariku.

Rumah Kemang bukan sekadar aset.

Itu rumah terakhir yang dibeli ayah sebelum bisnis keluargaku jatuh.

Ayah pernah berkata, “Kalau suatu hari semuanya hilang, jangan lepaskan rumah ini. Kamu harus selalu punya tempat untuk pulang.”

Setelah ayah meninggal, hampir seluruh aset dijual untuk membayar kewajiban perusahaan.

Rumah itu satu-satunya yang tersisa.

Dan Raka tahu betapa berharganya rumah tersebut bagiku.

Justru karena itulah dia mengincarnya.

Aku tiba di kantor pengacaraku, Mira Santoso, hampir pukul satu dini hari.

Mira masih mengenakan pakaian rumahan ketika membukakan pintu ruang rapat kecil di kantornya.

“Aku baca pesanmu,” katanya. “Duduk dulu.”

Aku menyerahkan ponsel dan menunjukkan foto notifikasi dari ponsel Nadine.

Mira membaca tanpa mengubah ekspresi.

Kemudian dia membuka laptop.

“Aku tadi bilang tanda tangan di draft persetujuan jaminan bukan tanda tanganmu.”

Aku mengangguk.

“Seberapa buruk?”

“Lebih buruk dari yang aku kira.”

Dia memutar layar laptop ke arahku.

Ada salinan dokumen pengajuan fasilitas kredit atas nama perusahaan Raka.

Nilainya dua belas miliar rupiah.

Jaminannya rumah Kemang.

Di bagian persetujuan pemilik aset terdapat tanda tanganku.

Palsu.

Namun yang membuat napasku tertahan bukan tanda tangan itu.

Ada nama lain sebagai saksi pengenal.

Nadine Kusuma.

Aku menatap layar lama sekali.

“Mereka sudah melakukan ini sebelum kami menikah?”

“Draft-nya dibuat dua minggu lalu.”

“Kenapa bank menerima?”

“Belum menerima. Mereka masih menunggu legalitas setelah pernikahan dan verifikasi langsung darimu. Sepertinya Raka mengatakan proses itu hanya formalitas.”

Aku tertawa kecil.

Suara tawaku terdengar asing.

“Jadi akad besok bukan akhir rencana mereka.”

“Justru awal.”

Mira kemudian menunjukkan sesuatu yang lain.

Perusahaan milik Raka sedang bermasalah.

Utangnya menumpuk. Dua proyek besar gagal. Ada tunggakan kepada pemasok dan cicilan pinjaman yang sudah terlambat beberapa bulan.

Selama ini Raka selalu bercerita bahwa bisnis konstruksinya sedang berkembang.

Ternyata sebagian besar gaya hidupnya dibangun dari utang.

“Kalau fasilitas kredit baru tidak cair,” kata Mira, “perusahaannya mungkin hanya bertahan beberapa minggu.”

Aku menyandarkan tubuh ke kursi.

Semua kepingan mendadak tersusun.

Raka muncul kembali saat hidupku sedang berantakan.

Dia tidak datang karena cinta lama yang tumbuh kembali.

Dia datang karena tahu aku sedang lemah.

Mungkin juga karena tahu aku masih memiliki rumah yang nilainya sangat tinggi.

“Aku mau batalkan akad.”

Mira menatapku.

“Kamu yakin?”

“Lebih yakin daripada ketika aku setuju menikah dengannya.”

Pukul dua pagi aku menghubungi pihak KUA.

Aku menyampaikan pembatalan secara langsung.

Aku juga meminta agar informasi itu tidak disampaikan kepada Raka sampai pagi.

Setelah itu Mira mengirimkan surat resmi kepada bank dan pihak terkait bahwa aku tidak pernah memberi persetujuan apa pun untuk menjadikan rumah Kemang sebagai jaminan.

Kami juga menyiapkan laporan mengenai dugaan pemalsuan tanda tangan.

Pukul tiga lewat sedikit aku pulang.

Aku pikir malam itu sudah tidak mungkin menjadi lebih buruk.

Aku salah.

Ketika membuka pintu apartemen, seseorang sudah menungguku.

Adikku, Dimas.

Wajahnya tegang.

“Kak, dari mana?”

Aku melepas sepatu.

“Dari kantor Mira.”

Dia terdiam.

Aku menatapnya.

“Kamu tahu sesuatu?”

Dimas menunduk.

Dan seketika itu juga aku tahu jawabannya.

“Sejak kapan?”

“Kak…”

“Sejak kapan kamu tahu Raka punya masalah keuangan?”

Dimas duduk perlahan.

“Tiga bulan.”

Darahku mendidih.

“Tiga bulan?”

“Aku nggak tahu soal Nadine.”

“Bukan itu yang kutanya.”

Dimas mengusap wajah.

“Raka pernah pinjam uang sama aku. Katanya cuma buat nutup proyek.”

“Berapa?”

“Tiga ratus juta.”

Aku menatapnya tak percaya.

Dimas selama ini memang punya masalah keuangan, tetapi aku tidak pernah tahu asal masalah itu.

“Uang yang kubayar enam bulan lalu?”

Dia mengangguk.

“Aku malu bilang sebenarnya utang itu karena Raka.”

Aku menutup mata.

Raka tidak hanya masuk ke hidupku.

Dia masuk ke seluruh keluargaku.

“Kenapa kamu diam?”

“Karena dia janji akan balikin setelah kalian menikah.”

Aku tertawa pahit.

“Tentu saja setelah kami menikah.”

Dimas mendekat.

“Kak, batalkan.”

“Aku sudah batalkan.”

Dia menatapku terkejut.

Aku menceritakan semuanya.

Tentang lounge.

Tentang Nadine.

Tentang kamar 1708.

Tentang dokumen rumah.

Dimas tidak berkata apa pun sampai aku selesai.

Kemudian dia berdiri.

“Aku mau cari dia.”

Aku menahan lengannya.

“Jangan.”

“Tapi Kak…”

“Aku sudah terlalu lama membiarkan Raka mengatur apa yang kurasakan. Malam ini aku tidak akan membiarkan dia menentukan apa yang kita lakukan juga.”

Aku tidur kurang dari dua jam.

Pukul tujuh pagi, bel apartemen berbunyi.

Raka.

Aku sudah menduganya.

Dia datang mengenakan kemeja putih, rambut rapi, membawa bunga.

Wajah calon suami sempurna.

Ketika pintu kubuka, dia tersenyum lebar.

“Siap jadi istriku?”

Aku tidak memakai alat bantu dengar.

Sengaja.

Raka langsung mengambil ponsel.

Kok belum siap?

Aku membaca lalu menatapnya.

“Karena aku tidak akan menikah denganmu.”

Ponselnya hampir jatuh.

Wajahnya kosong.

“Apa?”

“Aku bilang aku tidak akan menikah denganmu.”

Raka menatap telingaku.

“Kamu bisa dengar?”

“Cukup jelas.”

Wajahnya berubah.

Aku melihat tepat ketika ingatan tentang percakapan semalam kembali ke kepalanya.

“Ly, dengerin dulu.”

“Aku memang sudah mendengarkan. Itu masalahnya.”

Dia masuk satu langkah.

“Semalam cuma bercanda.”

“Barang rusak?”

Raka pucat.

“Alya…”

“Barang clearance?”

Dia menelan ludah.

“Teman-teman gue memang ngomong kasar. Gue kebawa suasana.”

“Dan Nadine?”

Raka diam.

Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto notifikasi.

Kamar 1708.

Cepat.

Besok setelah akad kita nggak bisa sebebas ini.

Ekspresi Raka runtuh.

“Bukan seperti yang kamu pikir.”

Aku hampir tertawa.

“Kalimat itu rupanya benar-benar wajib dipakai orang yang ketahuan selingkuh.”

“Nadine cuma…”

“Jangan hina aku lebih jauh dengan berbohong.”

Raka mengepalkan tangan.

Kemudian ekspresinya berubah.

Tidak lagi memohon.

Lebih dingin.

“Kalau kamu batalkan sekarang, kamu tahu akibatnya?”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Keluarga gue sudah datang. Tamu sudah tahu. Semua sudah disiapkan.”

“Masalahmu.”

“Perusahaan gue juga punya komitmen yang bergantung pada pernikahan ini.”

Akhirnya.

Dia mengatakannya sendiri.

“Komitmen atau kredit dua belas miliar?”

Raka benar-benar kehilangan warna wajah.

“Dari mana kamu tahu?”

“Rumah Kemang bukan milikmu.”

“Aku cuma mencoba menyelamatkan bisnis kita.”

“Bisnis kita?”

“Setelah menikah, apa bedanya aset kamu dan aset aku?”

Aku menatap pria di depanku dan tiba-tiba merasa begitu bodoh karena pernah menyebut sikap posesifnya sebagai perhatian.

“Ada satu perbedaan besar.”

“Apa?”

“Kita tidak menikah.”

Raka membanting bunga ke meja.

“Kamu pikir hidup kamu baik-baik saja tanpa gue?”

Aku terdiam.

“Kamu janda. Umur tiga puluh tiga. Pendengaran kamu rusak. Keluarga kamu sudah nggak punya apa-apa. Siapa lagi yang mau nerima kamu?”

Kalimat itu seharusnya menyakitkan.

Anehnya, justru membuat semuanya menjadi sangat sederhana.

Aku tersenyum.

“Kamu benar soal satu hal.”

Raka menatapku.

“Aku memang pernah rusak.”

Dia tampak puas.

“Tapi yang rusak bukan pendengaranku.”

Aku menunjuk dadaku.

“Dulu aku rusak karena terlalu takut ditinggalkan sampai menerima siapa pun yang datang dan mengaku mau tinggal.”

Wajah Raka mengeras.

“Ternyata sembuh itu bukan ketika seseorang memilih kita.”

Aku membuka pintu lebih lebar.

“Sembuh itu ketika kita berani memilih diri sendiri.”

Raka masih ingin bicara ketika suara langkah terdengar dari lorong.

Mira datang bersama dua orang petugas.

Di belakang mereka ada Dimas.

Aku tidak perlu menjelaskan.

Mira mengangkat sebuah map.

“Pak Raka Mahendra?”

Raka menatapku.

“Ini apa?”

“Laporan mengenai dugaan pemalsuan dokumen dan penggunaan tanda tangan tanpa izin.”

Raka mundur.

“Ly, kita bisa selesaikan ini baik-baik.”

Aku tidak menjawab.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku tidak merasa bertanggung jawab menyelamatkannya dari konsekuensi perbuatannya sendiri.

Tiga hari kemudian, Nadine datang ke rumah Kemang.

Dia menangis di depan pagar hampir satu jam.

Aku akhirnya keluar.

Wajahnya bengkak.

“Alya, aku minta maaf.”

Aku berdiri beberapa meter darinya.

“Sejak kapan?”

Dia terdiam.

“Sejak kapan kamu dan Raka?”

“Delapan bulan.”

Delapan bulan.

Berarti ketika Nadine membantuku memilih gaun.

Ketika dia memelukku setelah lamaran.

Ketika dia berkata aku akhirnya menemukan pria yang tepat.

Selama itu pula dia tidur dengan calon suamiku.

“Kenapa?”

Nadine menangis.

“Aku iri sama kamu.”

Aku hampir tidak percaya.

“Dengan apa?”

“Semua orang selalu memilih kamu.”

Aku tertawa pelan.

“Hidupku hancur. Aku bercerai. Ayah meninggal. Bisnis keluarga bangkrut. Aku kecelakaan.”

“Tapi kamu selalu bangkit.”

Aku terdiam.

Nadine melanjutkan.

“Dan aku selalu ada di sampingmu, tapi rasanya aku cuma figuran dalam hidup kamu. Raka memperhatikan aku. Awalnya cuma ngobrol.”

“Lalu kalian merencanakan mengambil rumahku.”

Nadine menggeleng cepat.

“Aku nggak tahu semuanya.”

“Kamu tanda tangan sebagai saksi.”

Dia diam.

Itu cukup.

Sebelum pergi, Nadine mengeluarkan amplop.

“Aku datang juga karena ini.”

Dia menyerahkannya kepadaku.

“Apa?”

“Raka simpan di apartemenku.”

Di dalamnya ada salinan dokumen dan sebuah surat lama.

Tulisan tangan ayahku.

Aku langsung mengenalinya.

Surat itu dibuat dua bulan sebelum ayah meninggal.

Untuk Alya.

Tanganku gemetar saat membacanya.

Ayah menulis bahwa rumah Kemang memang diwariskan kepadaku.

Namun ada satu fakta yang tidak pernah kuketahui.

Rumah itu bukan satu-satunya aset yang tersisa.

Ayah telah menempatkan sebagian kepemilikan saham perusahaan lama keluarga dalam sebuah perjanjian yang baru bisa kucairkan setelah seluruh perkara utang selesai.

Nilainya jauh lebih besar dari rumah Kemang.

Dan perkara terakhir itu selesai dua minggu sebelumnya.

Raka ternyata sudah mengetahui surat tersebut.

Itulah mengapa dia begitu terburu-buru menikah.

Rumah Kemang hanyalah pintu.

Yang dia kejar sebenarnya jauh lebih besar.

Aku mengangkat kepala.

Nadine sudah menangis.

“Raka bilang setelah kalian menikah, dia akan bantu mengurus aset itu. Setelah pinjaman cair, dia mau pindahkan sebagian ke perusahaan lain.”

“Perusahaan siapa?”

Nadine tidak menjawab.

Aku langsung memahami.

“Perusahaan atas namamu?”

Air matanya jatuh.

Aku tertawa kecil.

Ternyata mereka bahkan tidak saling mencintai.

Mereka hanya dua orang yang sama-sama menggunakan satu sama lain dan kebetulan memilihku sebagai korban.

Enam bulan kemudian, aku berdiri di halaman rumah Kemang saat matahari pagi masuk di antara pohon-pohon tua yang dulu ditanam ayah.

Kasus pemalsuan dokumen masih berjalan.

Perusahaan Raka akhirnya dinyatakan gagal memenuhi kewajibannya.

Nadine menghilang dari lingkaran pertemananku.

Aku tidak pernah mencari tahu ke mana.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak ingin tahu apa yang dilakukan orang-orang yang memilih pergi dari hidupku.

Aku menggunakan sebagian aset peninggalan ayah untuk membangun kembali usaha keluarga dalam skala kecil.

Bukan untuk mengembalikan kejayaan lama.

Aku sudah tidak tertarik membuktikan apa pun.

Di lantai bawah rumah Kemang, aku membuka sebuah pusat konsultasi dan pelatihan kerja bagi perempuan yang sedang membangun kehidupan kembali setelah perceraian, kehilangan pekerjaan, atau kekerasan ekonomi.

Pada dinding dekat pintu masuk, ada satu kalimat dari surat ayah yang kubingkai.

Kamu tidak perlu mempertahankan semua yang hilang hanya untuk membuktikan bahwa kamu kuat.

Kadang kekuatan adalah mengetahui apa yang harus dilepaskan.

Suatu pagi, seorang perempuan muda datang untuk wawancara kerja.

Dia melihat alat bantu dengarku dan bertanya dengan ragu apakah aku keberatan jika dia menggunakan bahasa isyarat karena pendengarannya terganggu sejak kecil.

Aku tersenyum.

“Tidak sama sekali.”

Dia menatapku lega.

Saat itulah aku sadar sesuatu.

Dulu aku ingin memberi kejutan kepada Raka setelah akad.

Aku ingin mengatakan bahwa pendengaranku membaik.

Aku pikir itu hadiah.

Ternyata pendengaranku yang membaik memang menjadi hadiah.

Hanya saja bukan untuk pernikahan kami.

Hadiah itu menyelamatkanku dari pernikahan tersebut.

Aku pernah mengira malam sebelum akad adalah malam ketika hidupku kembali hancur.

Sekarang aku tahu itu tidak benar.

Malam itu bukan malam ketika aku kehilangan calon suami dan sahabat.

Malam itu adalah malam ketika untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku akhirnya mendengar hidupku sendiri dengan sangat jelas.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang