SETIAP MALAM SUAMIKU MEMBAWA BAYI KAMI KELUAR AGAR AKU BISA ISTIRAHAT, SAMPAI SUATU MALAM AKU MENGIKUTINYA DAN MENDENGAR RENCANA YANG MEREKA SEMBUNYIKAN

Pintu unit itu terbuka tepat ketika aku berbelok menuju lift.

“Clara?”

Suara Raka membuat seluruh tubuhku membeku.

Aku menoleh.

Wajahnya pucat. Untuk beberapa detik dia hanya berdiri di ambang pintu, seolah otaknya belum mampu menerima kenyataan bahwa perempuan yang seharusnya tertidur pulas di rumah kini berdiri beberapa meter darinya.

Di belakangnya, Siska muncul sambil menggendong Arga.

Anakku tertidur di bahunya.

Pemandangan itu membuat sesuatu di dalam dadaku pecah.

“Kasih Arga ke aku.”

Raka melangkah maju.

“Clara, dengar dulu.”

“Kasih anakku.”

“Jangan bikin keributan di sini.”

Aku tertawa pendek. Suaraku bergetar.

“Keributan?”

Aku menunjuk ke arah Siska.

“Kalian membius aku setiap malam, membawa anakku ke apartemen ini, lalu merencanakan bagaimana membuat aku terlihat gila supaya kamu bisa mengambil Arga dan hartaku. Terus sekarang kamu bilang aku yang bikin keributan?”

Siska langsung menatap Raka.

“Aku bilang juga apa. Dia dengar semuanya.”

Raka mengembuskan napas panjang.

Wajah lembut yang selama empat tahun kukenal tiba-tiba menghilang.

Tidak ada lagi suami yang selalu menanyakan apakah aku sudah makan. Tidak ada lagi laki-laki yang dengan sabar mengusap punggungku ketika aku menangis setelah melahirkan.

Yang berdiri di depanku adalah orang asing.

“Masuk dulu,” katanya datar.

“Nggak.”

“Clara.”

“Aku mau Arga.”

Siska memeluk Arga lebih erat.

Gerakan kecil itu membuat darahku mendidih.

Aku maju.

Raka langsung menghadang.

“Jangan sentuh dia.”

“Dia anakku.”

“Dia juga anakku.”

“Kalau begitu kenapa kamu kasih obat ke ibunya?”

Raka diam.

Aku memanfaatkan detik itu untuk meraih ponsel dari saku.

Namun sebelum sempat membuka layar, Raka merebutnya.

“Raka!”

Dia melempar ponselku ke dalam unit.

Ponsel itu jatuh di atas karpet.

“Sekarang kamu masuk.”

Aku mundur.

“Aku akan teriak.”

“Silakan.”

Nada suaranya begitu tenang hingga justru membuatku takut.

Dia mendekat dan berbisik,

“Menurutmu siapa yang akan dipercaya? Kamu, perempuan yang selama dua bulan terakhir sering lupa, sering pusing, beberapa kali hampir menjatuhkan anak sendiri?”

Aku menatapnya.

“Apa?”

Siska memalingkan wajah.

Raka tersenyum tipis.

“Kamu lupa kejadian di dapur minggu lalu?”

Aku ingat.

Aku sedang menggendong Arga ketika tiba-tiba kakiku lemas. Raka menangkapku sebelum jatuh.

Waktu itu aku menangis karena merasa menjadi ibu yang buruk.

Sekarang aku tahu penyebabnya.

“Itu karena obat yang kamu kasih.”

“Bisa dibuktikan?”

Aku tidak menjawab.

Raka melanjutkan.

“Aku sudah menyimpan semua rekaman CCTV rumah. Kamu sempoyongan. Kamu lupa mematikan kompor. Kamu pernah meninggalkan keran menyala.”

Dadaku terasa seperti dihantam.

“Semua itu kamu buat?”

“Aku cuma memanfaatkan keadaan.”

Siska menyela dengan suara tegang.

“Raka, cukup. Kita nggak harus jelasin semuanya sekarang.”

Aku menatap perempuan itu.

“Kamu ikut merencanakan ini?”

Siska tidak menjawab.

Aku melihat Arga bergerak kecil di pelukannya.

Saat itulah aku sadar aku tidak bisa melawan mereka dengan emosi.

Kalau aku berteriak, mungkin Raka akan mengatakan aku sedang mengalami gangguan mental.

Kalau aku mencoba merebut Arga dengan paksa, dia bisa menggunakan itu sebagai bukti bahwa aku tidak stabil.

Aku menarik napas.

“Baik.”

Raka mengernyit.

“Apa?”

“Aku masuk.”

Aku berjalan melewatinya.

Raka terlihat sedikit lega.

Aku duduk di sofa.

“Sekarang jelaskan semuanya.”

“Clara…”

“Aku sudah tahu cukup banyak. Kalau kalian mau aku diam, setidaknya kasih tahu kenapa.”

Raka dan Siska saling pandang.

Aku menyadari mereka sedang menghitung risiko.

Akhirnya Raka menutup pintu.

“Ayahmu meninggalkan cukup banyak aset.”

“Apa hubungannya dengan ini?”

“Rumah Bintaro, dua ruko di Serpong, deposito, saham perusahaan.”

“Itu warisan dari Papa.”

“Dan semuanya atas nama kamu.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Kamu melakukan semua ini demi uang?”

Raka tertawa kecil.

“Jangan sok polos. Kamu tahu bisnis ekspedisi keluarga kami hampir bangkrut.”

“Aku bahkan menawarkan bantuan.”

“Bantuan?”

Nada suaranya berubah tajam.

“Kamu bilang harus lihat laporan keuangan dulu. Kamu mau auditor masuk. Kamu pikir keluarga aku pencuri?”

Aku tercekat.

Tiga bulan sebelumnya, Raka memang pernah meminta hampir tiga miliar rupiah untuk menyelamatkan perusahaan ayahnya.

Aku tidak menolak.

Aku hanya meminta laporan keuangan karena uang itu berasal dari warisan Papa dan sebagian sudah kusiapkan untuk pendidikan Arga.

Ternyata sejak saat itu, dia mulai membenciku.

“Jadi kamu mau menceraikan aku lalu mengambil asetku?”

“Perceraian biasa nggak cukup.”

Siska akhirnya bicara.

“Kalau Clara dinyatakan tidak mampu mengasuh anak dan ada bukti gangguan psikologis berat, posisi Raka akan jauh lebih kuat.”

Aku menatapnya.

“Kamu tahu hukum nggak sesederhana itu.”

Siska mengangguk.

“Makanya mereka siapkan banyak hal.”

“Mereka?”

Kata itu membuatku waspada.

Siska langsung diam.

Raka menatapnya tajam.

Aku berdiri.

“Siapa mereka?”

“Sudah cukup.”

“Siapa?”

Arga tiba-tiba menangis.

Siska menggoyangkan tubuhnya.

Aku mendekat perlahan.

“Kasih Arga ke aku.”

Kali ini Raka tidak melarang.

Mungkin dia merasa sudah mengendalikan situasi.

Siska menyerahkan Arga.

Begitu tubuh kecil anakku berada dalam pelukanku, napasku sedikit kembali.

Aku mencium rambutnya.

“Maaf, Nak.”

Arga merengek lalu menyandarkan kepala di dadaku.

Aku melihat ke arah dapur kecil.

Di sana ada satu tas bayi milik kami.

Aku tahu isinya.

Popok.

Botol susu.

Tisu.

Dan satu benda kecil yang selalu kubawa sejak Arga mulai sering demam setelah imunisasi.

Power bank.

Aku mendekati tas sambil menggendongnya.

“Boleh aku ambil botol?”

Raka mengangguk.

Aku membungkuk.

Tanganku masuk ke tas.

Bukan mencari botol.

Aku mengambil smartwatch lama yang beberapa hari sebelumnya kuselipkan di kantong samping setelah olahraga.

Jam itu terhubung ke akun yang sama dengan ponselku.

Dengan jari gemetar, aku menekan fitur panggilan darurat.

Aku tidak tahu apakah berhasil.

Aku hanya bisa berharap.

Raka tiba-tiba berdiri.

“Kita pulang.”

Siska terlihat panik.

“Sekarang?”

“Iya.”

“Kalau dia ngomong ke orang?”

Raka menatapku.

“Dia nggak akan.”

Aku memeluk Arga lebih erat.

“Kenapa kamu yakin?”

“Karena kalau kamu pergi ke polisi malam ini, aku akan bilang kamu datang ke sini karena paranoid, merebut Arga, dan mengancam kami.”

“Dan soal obat?”

“Obat apa?”

Dia tersenyum.

“Kamu punya buktinya?”

Aku teringat sisa susu di dasar gelas.

Tapi gelas itu pasti sudah dicuci.

Tiba-tiba terdengar ketukan keras di pintu.

Semua orang membeku.

Tok.

Tok.

Tok.

“Pak Raka?”

Suara laki-laki.

“Keamanan apartemen.”

Wajah Raka berubah.

Siska berbisik,

“Kok security?”

Raka membuka pintu sedikit.

“Ada apa?”

“Maaf, Pak. Kami menerima laporan darurat dari perangkat di unit ini.”

Raka menoleh kepadaku.

Matanya langsung jatuh ke pergelangan tanganku.

Aku menarik lengan jaket menutupi smartwatch.

Terlambat.

Dia menyadarinya.

“Clara!”

Aku berlari ke pintu.

“Pak, tolong!”

Raka mencoba menarik lenganku, tapi petugas keamanan langsung menahan pintu.

“Ada masalah, Bu?”

“Tolong panggil polisi. Saya dan anak saya ditahan di sini.”

“Itu istri saya!” Raka membentak. “Dia sedang tidak sehat!”

“Jangan percaya dia. Dia kasih obat ke minuman saya!”

Petugas itu terlihat bingung.

Kemudian terdengar suara lain dari lorong.

“Clara?”

Aku mengenali suara itu.

“Mama?”

Ibuku muncul dari arah lift bersama seorang pria yang tidak kukenal.

Aku hampir menangis.

“Mama!”

Raka benar-benar pucat.

“Mama ngapain di sini?”

Ibuku tidak menjawabnya.

Dia langsung memelukku dan Arga.

“Astaga, kamu nggak apa-apa?”

“Tapi bagaimana Mama tahu?”

Pria di sampingnya mengangkat ponsel.

“Jam tangan Anda mengirim kontak darurat dan lokasi ke nomor ibu Anda.”

Aku baru ingat.

Setahun sebelumnya aku memasukkan nomor Mama sebagai emergency contact.

Petugas keamanan meminta semua orang tetap di tempat sampai polisi datang.

Raka mencoba menjelaskan bahwa itu hanya kesalahpahaman keluarga.

Tapi kali ini aku tidak diam.

Aku menceritakan semuanya.

Susu.

Rasa kantuk.

Percakapan tentang dosis.

Rencana hak asuh.

Aset.

Ketika polisi tiba, mereka memisahkan kami.

Aku dibawa ke rumah sakit malam itu juga untuk pemeriksaan.

Hasil awal tidak langsung memberikan jawaban.

Namun dokter menemukan zat sedatif dalam darahku.

Dosisnya tidak mematikan, tetapi cukup untuk menyebabkan kantuk berat, kebingungan, gangguan ingatan, dan koordinasi tubuh.

Aku menangis ketika dokter menjelaskannya.

Bukan karena takut.

Karena akhirnya aku tahu bahwa selama ini aku tidak gila.

Aku memang sedang dibuat kehilangan kepercayaan terhadap diriku sendiri.

Keesokan paginya, polisi menggeledah rumah kami berdasarkan laporan dan bukti awal.

Di laci kerja Raka, mereka menemukan beberapa tablet tanpa kemasan resmi.

Tetapi penemuan terbesar justru bukan obat itu.

Polisi menemukan sebuah hard disk kecil.

Isinya ratusan file.

Rekaman CCTV yang sudah dipotong.

Foto-fotoku saat sedang tertidur.

Catatan tentang kapan aku minum susu.

Daftar gejala.

Bahkan draf surat konsultasi psikologis yang seolah-olah pernah kubuat sendiri.

Ada juga percakapan Raka dengan seseorang bernama “D”.

Aku tidak mengenal nomor itu.

Pesannya jauh lebih mengerikan daripada percakapannya dengan Siska.

“Naikkan perlahan. Jangan sampai terdeteksi.”

“Buat dia terlihat tidak stabil, bukan sakit.”

“Setelah evaluasi selesai, urus dokumen kuasa.”

Aku membaca semuanya di kantor polisi dengan tangan gemetar.

“Siapa D?”

Penyidik menatapku.

“Kami sedang mencari tahu.”

Tiga hari kemudian, jawabannya datang.

Dan jawabannya menghancurkanku untuk kedua kalinya.

D bukan Siska.

Bukan pengacara Raka.

Bukan dokter.

D adalah Dimas.

Kakak kandungku sendiri.

Aku menatap foto profil yang ditunjukkan polisi seolah melihat hantu.

“Nggak mungkin.”

Dimas adalah orang yang paling kupercaya setelah Papa meninggal.

Dia yang membantuku mengurus dokumen warisan.

Dia yang selalu bilang jangan menjual aset keluarga.

Dia bahkan sering datang membawa mainan untuk Arga.

Tapi ternyata justru dia yang pertama kali memberi Raka ide.

Motifnya sederhana sekaligus kejam.

Papa membagi sebagian besar aset kepada aku karena Dimas sudah lebih dulu menerima modal usaha bertahun-tahun sebelumnya.

Bisnis Dimas gagal.

Dia terlilit utang.

Dan dia percaya warisan itu seharusnya dibagi ulang.

Ketika Raka datang kepadanya untuk meminta bantuan keuangan, mereka menemukan kepentingan yang sama.

Raka ingin menyelamatkan bisnis keluarganya.

Dimas ingin mendapatkan bagian warisan.

Mereka sepakat membuatku terlihat tidak kompeten.

Rencananya, setelah Raka memperoleh kendali sementara atas beberapa urusan keluarga dan hak asuh Arga, mereka akan mendorongku menandatangani surat kuasa saat kondisiku dianggap tidak stabil.

Siska?

Dia bukan dalang.

Dia memang berselingkuh dengan Raka.

Awalnya dia hanya tahu tentang rencana perceraian.

Namun beberapa minggu kemudian dia mengetahui soal obat.

Alih-alih melapor, dia memilih diam karena Raka berjanji akan menikahinya setelah semuanya selesai.

Kesaksiannya akhirnya menjadi salah satu bukti terpenting.

Malam ketika aku memergoki mereka ternyata juga malam ketika Siska mulai ragu.

Kalimatnya, “Jangan tambah dosis sembarangan,” bukan karena dia peduli padaku.

Dia takut Raka membuat kesalahan yang bisa menyeretnya ikut masuk penjara.

Proses hukum berlangsung berbulan-bulan.

Aku pindah bersama Arga ke rumah Mama di Depok.

Untuk beberapa waktu aku takut minum apa pun yang dibuat orang lain.

Aku bahkan sering terbangun pukul delapan malam karena merasa mendengar suara sendok mengaduk susu.

Aku menjalani terapi.

Pelan-pelan ingatanku membaik.

Tubuhku kembali terasa seperti milikku.

Yang paling sulit bukan menerima bahwa Raka mengkhianatiku.

Yang paling sulit adalah menerima kenyataan bahwa selama berbulan-bulan dia membuatku meragukan diriku sendiri.

Setiap kali aku berkata ada sesuatu yang salah, dia tersenyum dan mengatakan aku terlalu lelah.

Setiap kali aku takut menjadi ibu yang buruk, dia memelukku sambil diam-diam mengetahui dialah penyebabnya.

Enam bulan kemudian, aku menghadiri sidang terakhir terkait hak asuh sementara Arga.

Raka duduk di sisi lain ruangan.

Dia tampak jauh lebih kurus.

Untuk pertama kalinya sejak malam di apartemen itu, mata kami bertemu cukup lama.

Saat jeda sidang dia mendekatiku.

“Clara.”

Aku berhenti.

“Aku cuma mau bilang satu hal.”

Aku tidak menjawab.

“Aku nggak pernah berniat menyakiti Arga.”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

Dia terlihat lega, mungkin mengira aku mempercayainya.

Lalu aku melanjutkan.

“Kamu cuma berniat menghancurkan ibunya.”

Wajahnya berubah.

“Dan suatu hari nanti, kalau Arga bertanya kenapa ayahnya nggak tinggal bersama kami, aku nggak akan mengajarinya membencimu.”

Raka menunduk.

“Tapi aku juga nggak akan berbohong.”

Aku berjalan pergi.

Di luar gedung pengadilan, Mama menungguku sambil menggendong Arga.

Anakku sekarang sudah hampir dua tahun.

Begitu melihatku, dia mengulurkan kedua tangan.

“Mama!”

Aku mengambilnya.

Dia menepuk pipiku lalu tertawa.

Aku memeluknya erat.

Di parkiran, sebelum masuk mobil, Mama memberikan sebuah amplop.

“Apa ini?”

“Ditemukan pengacara waktu memeriksa ulang dokumen Papa.”

Aku membukanya.

Di dalamnya ada salinan surat lama tulisan tangan ayahku.

Ternyata sebelum meninggal, Papa pernah mengubah struktur kepemilikan sebagian besar aset.

Rumah, ruko, dan saham yang selama ini semua orang kira sepenuhnya menjadi milikku ternyata sudah dimasukkan ke dalam perwalian keluarga untuk Arga, bahkan sebelum Arga lahir secara hukum melalui klausul keturunan.

Aku hanya bertindak sebagai pengelola sementara.

Artinya, sejak awal Raka dan Dimas melakukan semua itu demi harta yang sebenarnya tidak pernah bisa mereka ambil.

Aku berdiri lama di samping mobil.

Entah ingin tertawa atau menangis.

Mama memegang bahuku.

“Papa kamu selalu mikir jauh.”

Aku melihat Arga yang sedang memainkan ujung amplop.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku tertawa.

Bukan karena mereka gagal mendapatkan uang.

Bukan karena aku menang.

Tapi karena akhirnya aku memahami sesuatu.

Orang yang benar-benar mencintai kita tidak membuat kita meragukan kewarasan sendiri demi bisa mengendalikan hidup kita.

Cinta tidak meminta kita tidur agar ia bisa bekerja dalam gelap.

Cinta membuat kita merasa aman bahkan ketika mata terbuka.

Malam itu, di rumah Mama, aku membuat susu sendiri sebelum tidur.

Aku berdiri cukup lama menatap gelas di tanganku.

Dulu aroma susu hangat membuatku takut.

Kali ini aku membawanya ke kamar.

Arga tidur di sebelahku, memeluk boneka kecil berbentuk gajah.

Aku minum perlahan sampai habis.

Lalu aku mematikan lampu.

Sebelum menutup mata, aku melihat wajah anakku diterangi cahaya kecil dari lorong.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tertidur bukan karena seseorang ingin membuatku tidak sadar.

Aku tertidur karena akhirnya aku tahu bahwa ketika pagi datang, hidupku masih menjadi milikku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang