Nama yang muncul di layar tablet itu membuat tengkukku terasa dingin.
Dimas Pradana.
Direktur keuangan perusahaan investasiku.
Orang yang selama enam tahun memegang hampir semua akses keuangan penting milikku.
Orang yang pernah berdiri di samping peti mati ayahku dan berjanji akan menjaga perusahaan seperti miliknya sendiri.
“Pak Dimas?” tanyaku pelan.

Bima mengangguk.
“Kode otorisasinya milik beliau.”
Aku mengambil tablet itu dan memeriksa detail transaksi satu per satu.
Reservasi Presidential Villa.
Layanan transportasi premium.
Makan malam privat.
Permintaan champagne.
Spa pasangan.
Semuanya dibebankan ke rekening operasional Arunika Bay.
Totalnya hampir seratus dua puluh juta rupiah.
Namun yang membuat napasku tertahan bukan jumlahnya.
Melainkan tanggal transaksi pertama.
Empat bulan lalu.
Satu bulan sebelum aku resmi membeli resor ini.
“Kenapa rekening Arunika Bay sudah digunakan sebelum akuisisi selesai?” tanyaku.
Bima terlihat semakin tegang.
“Bu Alya, saya pikir Ibu sudah tahu.”
“Tahu apa?”
Bima menelan ludah.
“Pak Dimas terlibat langsung dalam proses akuisisi. Sebelum transaksi final, beliau meminta akses sementara ke sistem finansial untuk audit.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena tiba-tiba semuanya terasa terlalu rapi.
Dimas adalah orang yang menyarankan pembelian Arunika Bay.
Dimas juga yang meyakinkanku bahwa resor itu memiliki potensi besar.
Dan Dimas yang berkali-kali meminta agar transaksi dilakukan menggunakan nama profesional lamaku, katanya demi menghindari spekulasi pasar.
Saat itu aku menganggapnya strategi bisnis.
Sekarang aku mulai bertanya-tanya apakah ia memang ingin memastikan namaku tidak terlihat.
“Pak Bima.”
“Iya, Bu.”
“Jangan hubungi Dimas.”
Bima mengangguk.
“Dan jangan membatalkan fasilitas Raka dan Selena.”
Ia menatapku heran.
“Biarkan mereka menikmati semuanya.”
“Baik, Bu.”
Aku menatap layar tablet.
“Aku ingin tahu seberapa besar mereka merasa tempat ini milik mereka.”
Sore itu aku tidak langsung menemui Raka.
Aku pergi ke ruang kerja General Manager yang menghadap laut.
Dari balik jendela kaca, aku bisa melihat Presidential Villa berdiri di ujung tebing, terpisah dari bangunan utama.
Beberapa menit kemudian, staf keamanan membawa rekaman CCTV.
Aku meminta rekaman kunjungan Raka sebelumnya.
Ternyata ini bukan pertama kalinya.
Dalam enam bulan terakhir, Raka sudah datang ke Arunika Bay tiga kali.
Selena selalu bersamanya.
Sekali pada bulan April.
Sekali pada bulan Mei.
Dan sekali lagi pada awal Juli.
Semua sebelum aku memberi tahu Raka bahwa perusahaan sedang mempertimbangkan investasi di sektor perhotelan.
Aku menatap layar tanpa berkedip.
Di rekaman bulan April, Raka dan Selena keluar dari mobil golf sambil tertawa.
Di belakang mereka berjalan Dimas.
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
Mereka saling mengenal.
Bukan sekadar mengenal.
Mereka makan malam bersama.
Aku memperbesar rekaman.
Dimas duduk berhadapan dengan Raka.
Selena di samping mereka.
Tiga gelas wine berada di meja.
Mereka terlihat seperti orang-orang yang sedang merayakan sesuatu.
Bima berdiri beberapa langkah di belakangku.
“Bu Alya…”
“Ambil rekaman audionya kalau ada.”
“Area restoran tidak merekam audio.”
Aku mengangguk.
“Tidak apa-apa.”
Ponselku bergetar.
Pesan dari Raka.
Kita harus bicara sekarang.
Aku tidak membalas.
Pesan kedua masuk.
Alya, jangan melakukan sesuatu yang akan kamu sesali.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Lalu tertawa pendek.
Ia berselingkuh.
Ia menggunakan uang perusahaan yang bukan miliknya.
Ia berbohong selama berbulan-bulan.
Dan entah bagaimana, akulah yang diperingatkan agar tidak melakukan sesuatu yang akan kusesali.
Aku akhirnya mengetik satu kalimat.
Makan malam jam delapan. Dermaga privat.
Balasannya datang hampir seketika.
Baik.
Pukul delapan malam, dermaga itu sudah dipenuhi lampu kecil.
Meja panjang disiapkan di atas kayu yang menjorok ke laut.
Angin membawa aroma garam.
Selena datang lebih dulu dengan gaun hitam.
Raka berjalan di belakangnya.
Wajahnya tegang.
Selena justru tersenyum melihatku.
“Oh, kamu juga diundang?”
Aku menarik kursi.
“Duduk.”
Selena tertawa.
“Jangan bilang kamu mau membuat adegan.”
Raka menatapku.
“Alya.”
“Duduk, Raka.”
Ada sesuatu dalam suaraku yang membuatnya menurut.
Pelayan menuangkan air.
Selena melihat sekeliling.
“Champagne-nya mana?”
Aku menatap pelayan.
“Bawa.”
Beberapa menit kemudian sebotol champagne mahal dibuka.
Selena tersenyum puas.
“Setidaknya servisnya membaik.”
Aku mengangkat gelas.
“Untuk perjalanan kalian ke Lombok.”
Raka tidak menyentuh gelasnya.
Selena justru minum.
Aku melanjutkan.
“Perjalanan bulan April.”
Tangan Selena berhenti.
“Dan Mei.”
Raka menatapku tajam.
“Dari mana kamu tahu?”
“Juli juga.”
Tidak ada lagi suara selain ombak.
Aku tersenyum tipis.
“Lucu. Aku baru tahu suamiku sangat menyukai tempat ini.”
Selena menaruh gelas.
“Aku tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan.”
“Aku juga baru tahu kalian mengenal Dimas.”
Wajah Raka berubah.
Hanya sepersekian detik.
Tapi aku melihatnya.
Selena lebih buruk.
Ia langsung memandang Raka.
Aku mendapat jawaban tanpa perlu bertanya.
“Jadi benar.”
Raka mencondongkan badan.
“Alya, berhenti.”
“Kenapa?”
“Ini tidak ada hubungannya dengan Dimas.”
Aku mengambil tablet dari tas dan meletakkannya di meja.
Satu foto dari rekaman CCTV muncul.
Raka.
Selena.
Dimas.
Duduk bersama.
Selena kehilangan senyum.
Aku memandang Raka.
“Mau mencoba berbohong sekali lagi?”
Raka menghembuskan napas panjang.
“Aku bisa jelaskan.”
“Silakan.”
Ia diam.
Selena tiba-tiba berkata,
“Kenapa harus dijelaskan? Cepat atau lambat dia juga akan tahu.”
Raka menoleh tajam.
“Selena.”
“Apa?”
“Diam.”
Selena tersenyum sinis.
“Kamu selalu seperti ini. Berani di belakang, pengecut di depan.”
Aku memandang keduanya.
“Menarik.”
Raka terlihat marah.
“Selena, cukup.”
Namun Selena sudah berdiri.
“Tidak. Aku capek.”
Ia menunjukku.
“Kamu pikir dia bersamaku hanya karena hubungan?”
Aku tidak menjawab.
Selena tertawa pendek.
“Raka mau meninggalkanmu sejak lama.”
Kalimat itu seharusnya menyakitkan.
Anehnya, aku hampir tidak merasakan apa pun.
“Lalu?”
“Dia hanya menunggu waktu yang tepat.”
“Waktu yang tepat untuk apa?”
Selena menoleh kepada Raka.
“Katakan.”
Raka mengepalkan tangan.
Selena melanjutkan sendiri.
“Untuk mengambil bagian perusahaanmu.”
Aku menatap Raka.
“Bagian perusahaan?”
Raka berdiri.
“Dia bohong.”
“Benarkah?”
“Alya, dengarkan aku.”
Selena tertawa.
“Sekarang dia bilang aku bohong?”
“Selena!”
“Bukankah kamu yang bilang setelah perceraian kamu akan mendapat cukup uang untuk memulai hidup baru?”
Raka memucat.
Aku masih duduk.
Tenang.
Entah bagaimana, ketenangan itu justru membuat mereka semakin gelisah.
“Lanjutkan,” kataku.
Selena menatapku.
“Dimas bilang struktur asetmu berantakan. Banyak kepemilikan tercampur antara aset pribadi dan perusahaan. Kalau perceraian dilakukan dengan cara tertentu, Raka bisa mengklaim sebagian.”
Aku menoleh kepada Raka.
“Apa Dimas yang memberi tahu itu?”
Raka tidak menjawab.
Aku sudah tahu.
Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan singkat kepada Bima.
Sekarang.
Kurang dari lima menit kemudian, dua orang staf keamanan muncul.
Bersama mereka seseorang berjalan dari arah lobi.
Dimas.
Wajahnya langsung berubah ketika melihatku.
“Alya?”
Aku tersenyum.
“Selamat datang.”
Dimas memandang Raka.
Lalu Selena.
Kemudian kembali kepadaku.
“Apa ini?”
“Makan malam keluarga.”
Ia mencoba tertawa.
“Kamu memanggilku dari Jakarta untuk ini?”
“Aku tidak memanggilmu dari Jakarta.”
Wajahnya membeku.
“Aku tahu kamu sudah di Lombok.”
Dimas tidak menjawab.
Bima muncul di belakangnya membawa beberapa dokumen.
Aku berdiri.
“Menurut catatan hotel, kamu check-in kemarin malam.”
Raka menatap Dimas.
“Kamu bilang baru datang besok.”
Dimas langsung berkata,
“Diam.”
Aku hampir tersenyum.
Untuk pertama kalinya malam itu, mereka mulai saling menyerang.
Aku mengambil dokumen dari Bima.
“Dimas, ada enam belas transaksi dari rekening Arunika Bay yang menggunakan kode otorisasimu.”
Dimas mengangkat dagu.
“Aku punya kewenangan selama audit.”
“Untuk kepentingan perusahaan.”
“Benar.”
“Spa pasangan termasuk kepentingan perusahaan?”
Ia diam.
“Makan malam Raka dan Selena?”
Tidak ada jawaban.
Aku membuka halaman berikutnya.
“Tiket pesawat.”
Dimas menatapku.
“Villa.”
Aku membalik halaman.
“Perhiasan.”
Raka tiba-tiba menoleh kepada Selena.
“Perhiasan apa?”
Selena mematung.
Aku membaca jumlahnya.
“Seratus delapan puluh lima juta.”
Raka menatapnya.
“Kamu bilang gelang itu hadiah dari ibumu.”
Selena langsung membalas,
“Dan kamu bilang vila ini milik temanmu.”
Situasi pecah dalam hitungan detik.
Raka menuduh Selena.
Selena menuduh Dimas.
Dimas memerintahkan keduanya diam.
Aku hanya berdiri melihat mereka.
Akhirnya aku mengangkat tangan.
“Cukup.”
Mereka terdiam.
Aku memandang Dimas.
“Aku ingin tahu satu hal.”
“Apa?”
“Kenapa?”
Dimas menatapku lama.
Wajah yang selama bertahun-tahun kukenal sebagai wajah seorang sahabat berubah menjadi sesuatu yang asing.
“Ayahmu.”
Aku mengernyit.
“Apa hubungannya dengan ayahku?”
Dimas tertawa hambar.
“Semua.”
Ia menarik kursi dan duduk.
“Ayahmu menghancurkan ayahku.”
Aku tidak bergerak.
Dimas melanjutkan.
“Tiga puluh tahun lalu mereka membangun bisnis bersama. Ketika perusahaan hampir bangkrut, ayahmu menyelamatkan dirinya sendiri. Ayahku kehilangan semuanya.”
“Ayahku tidak pernah mengatakan itu.”
“Tentu saja tidak.”
Mata Dimas memerah.
“Ayahku meninggal dengan utang.”
Aku menatapnya.
“Jadi kamu mendekatiku untuk balas dendam?”
“Awalnya.”
Satu kata itu terasa lebih kejam daripada seribu teriakan.
“Awalnya?”
Dimas menatap meja.
“Lama-lama aku tidak tahu.”
“Enam tahun bekerja denganku.”
Ia mengangguk.
“Aku pikir setelah ayahmu meninggal semuanya selesai.”
“Namun?”
“Lalu aku melihat kamu mendapatkan semuanya.”
Nada suaranya berubah.
“Perusahaan. Aset. Nama keluarga.”
Aku hampir tidak percaya.
“Jadi karena itu kamu mencuri dariku?”
“Aku mengambil apa yang seharusnya kembali.”
Aku tertawa kecil.
“Dengan membantu suamiku berselingkuh?”
Dimas memandang Raka.
“Raka yang datang kepadaku.”
Aku menoleh.
Raka langsung menggeleng.
“Tidak.”
Dimas melanjutkan.
“Dia tahu aku punya akses ke struktur keuanganmu.”
“Bohong.”
“Dia meminta bantuan agar perceraian terlihat menguntungkan.”
Raka berteriak,
“Kamu yang menawarkan!”
Selena tertawa histeris.
“Kalian berdua sama saja.”
Aku menatap tiga orang itu.
Suamiku.
Selingkuhannya.
Orang kepercayaanku.
Beberapa jam sebelumnya aku pikir masalah terbesarku adalah pengkhianatan dalam pernikahan.
Sekarang aku sadar aku sudah berdiri di tengah rencana yang dibangun berbulan-bulan.
Mungkin bertahun-tahun.
Namun mereka membuat satu kesalahan.
Mereka menganggap aku tidak memperhatikan.
Aku mengeluarkan satu amplop dari tas.
Raka menatapnya.
“Apa itu?”
Aku menyerahkannya kepada dia.
Ia membuka.
Wajahnya langsung pucat.
“Gugatan cerai?”
“Sudah diajukan pagi tadi.”
“Alya.”
Aku mengambil amplop kedua dan meletakkannya di depan Dimas.
Ia membukanya.
Surat pemberhentian.
Pembekuan akses finansial.
Pemberitahuan audit forensik.
Dimas mendongak.
“Kamu tidak bisa melakukan ini begitu saja.”
“Aku sudah melakukannya.”
Kemudian aku menatap Bima.
Bima memberi isyarat kepada dua pria yang menunggu di ujung dermaga.
Mereka bukan staf keamanan resor.
Mereka adalah penyidik kepolisian yang sejak sore sudah menerima laporan awal dari tim hukumnya.
Wajah Dimas berubah.
“Alya.”
Aku tidak menjawab.
Salah satu penyidik maju.
“Pak Dimas Pradana, kami perlu meminta keterangan terkait dugaan penyalahgunaan dana perusahaan dan pemalsuan otorisasi.”
Dimas berdiri.
“Aku tidak pernah memalsukan apa pun.”
Penyidik mengangkat satu dokumen.
“Beberapa otorisasi menggunakan tanda tangan digital milik Bu Alya.”
Aku menatap Dimas.
Untuk pertama kalinya dia terlihat benar-benar takut.
Raka mundur satu langkah.
“Aku tidak tahu soal tanda tangan.”
Dimas langsung menoleh.
“Jangan pura-pura.”
“Aku benar-benar tidak tahu.”
“Kamu yang meminta akses!”
Mereka kembali saling menyerang.
Aku tidak lagi mendengarkan.
Aku berbalik dan berjalan meninggalkan dermaga.
Raka mengejarku.
“Alya.”
Aku berhenti.
“Jangan lakukan ini.”
Aku menatapnya.
“Melakukan apa?”
“Menghancurkan hidupku.”
Untuk beberapa detik aku hanya memandang laki-laki yang pernah kunikahi dengan keyakinan penuh.
Laki-laki yang dulu menungguku di luar kantor saat hujan.
Laki-laki yang memegang tanganku ketika ayahku meninggal.
Mungkin sebagian dari kenangan itu nyata.
Mungkin semuanya palsu.
Aku tidak lagi perlu mengetahui jawabannya.
“Aku tidak menghancurkan hidupmu, Raka.”
Ia terdiam.
“Kamu yang melakukannya.”
Aku pergi.
Enam minggu kemudian, audit selesai.
Kerugiannya jauh lebih besar dari yang kukira.
Hampir sebelas miliar rupiah dialihkan melalui transaksi kecil selama dua tahun.
Sebagian digunakan Dimas.
Sebagian digunakan Raka.
Dan sebagian besar dialihkan ke perusahaan cangkang.
Selena ternyata tidak mengetahui seluruh skema.
Ia hanya mengetahui Raka berencana menceraikanku dan berharap mendapatkan uang besar.
Tetapi ada satu temuan terakhir yang mengejutkanku.
Perusahaan cangkang itu tidak dimiliki Dimas.
Pemilik akhirnya tercatat atas nama seseorang bernama Mira Pradana.
Ibunya.
Ketika tim hukum menelusuri dokumen lama, kami menemukan fakta yang selama ini tidak pernah kuketahui.
Ayahku memang pernah berbisnis dengan ayah Dimas.
Namun cerita Dimas hanya setengah benar.
Perusahaan mereka memang bangkrut.
Bukan karena ayahku mengambil uang.
Melainkan karena ayah Dimas menggelapkan dana investor.
Ayahku membayar sebagian besar kerugian agar para karyawan tidak kehilangan pesangon.
Ia bahkan melunasi utang pribadi keluarga Dimas.
Ada satu surat lama di arsip ayahku.
Ditujukan kepada ibu Dimas.
Saya tidak ingin Dimas tumbuh dengan menanggung kesalahan ayahnya. Biarkan anak itu memiliki kesempatan memulai hidup tanpa utang.
Aku membaca surat itu berkali-kali.
Ironis.
Ayahku telah berusaha menyelamatkan keluarga Dimas.
Namun kebohongan yang diwariskan seseorang selama puluhan tahun berhasil mengubah pertolongan menjadi dendam.
Beberapa bulan kemudian aku kembali ke Arunika Bay.
Sendirian.
Pagi itu langit Lombok cerah.
Aku berjalan melewati lobi yang sama.
Putri sedang bertugas di meja resepsionis.
Begitu melihatku, ia tersenyum.
“Selamat pagi, Bu Alya.”
“Pagi, Putri.”
Ia tampak ragu sebelum bertanya,
“Presidential Villa sudah kami siapkan untuk Ibu.”
Aku tersenyum.
“Tidak perlu.”
Putri terkejut.
“Bu?”
“Aku mau kamar biasa.”
Ia tertawa kecil.
“Baik.”
Aku mengambil kartu kamar.
Sebelum pergi, aku menoleh ke area check-in VIP.
Tempat Selena pernah mengatakan tamu biasa sepertiku tidak pantas berdiri.
Aneh sekali bagaimana sebuah tempat bisa menyimpan begitu banyak kenangan hanya dalam beberapa bulan.
Bima menghampiriku.
“Bu Alya.”
“Iya?”
“Ada sesuatu yang baru datang pagi ini.”
Ia memberikan amplop tanpa nama pengirim.
Aku membukanya.
Di dalamnya ada satu lembar surat tulisan tangan.
Dari Raka.
Tidak ada permintaan kembali.
Tidak ada pembelaan.
Hanya satu kalimat di bagian akhir.
Aku kehilanganmu jauh sebelum kamu mengetahui aku mengkhianatimu, karena sejak lama aku lebih mencintai hidup yang kamu berikan daripada orang yang memberikannya.
Aku membaca kalimat itu sekali.
Kemudian melipat suratnya.
“Bu mau saya simpan?” tanya Bima.
Aku menggeleng.
Aku merobek surat itu menjadi beberapa bagian.
Lalu membuangnya ke tempat sampah.
Di luar lobi, laut membentang biru.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku tidak merasa kehilangan seorang suami.
Aku merasa mendapatkan kembali diriku sendiri.
Dan ternyata, itu jauh lebih berharga daripada apa pun yang pernah mereka coba curi dariku.
