Aku membeku.
Kalimat di layar ponsel itu terasa lebih mengerikan daripada benda hijau tua yang baru saja kulihat di dalam telinga Damar.
Jangan sentuh. Benda itu mungkin sudah ada sejak aku masih kecil.
Aku menatapnya lama.
“Sejak kecil?”
Damar membaca gerakan bibirku, lalu mengangguk pelan.

Aku langsung mengetik.
Bagaimana mungkin ada benda di telingamu selama bertahun-tahun dan kamu membiarkannya?
Rahangnya mengeras.
Saya tidak tahu benda apa itu. Dulu pernah ada dokter yang bilang jangan diutak-atik.
Dokter mana?
Damar tidak menjawab.
Dia berdiri, membawa piring kotornya ke dapur, lalu masuk ke kamar kecil di belakang rumah yang selama ini dia gunakan untuk menyimpan dokumen.
Percakapan kami selesai begitu saja.
Tapi malam itu aku tidak bisa tidur.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, bukan taruhan yang memenuhi pikiranku.
Melainkan telinga Damar.
Keesokan paginya, aku bangun lebih awal dan menemukan dia sudah berada di kebun. Kabut masih menggantung di atas Pangalengan. Dari halaman, aku bisa melihat punggungnya membungkuk di antara deretan selada.
Entah kenapa aku merasa sedih.
Selama ini aku hanya melihat Damar sebagai laki-laki yang menikahiku karena taruhan.
Aku tidak pernah benar-benar bertanya siapa dia sebelum menjadi “Damar si tuli”.
Siang harinya, aku pergi ke rumah Bu Imas, tetangga terdekat yang sudah tinggal di daerah itu lebih dari tiga puluh tahun.
Ketika kusebut nama Damar, ekspresi wajahnya berubah.
“Kamu istrinya sekarang, jadi mungkin sudah waktunya kamu tahu sedikit.”
Aku duduk lebih tegak.
“Tahu apa?”
Bu Imas menatap ke luar jendela.
“Damar itu dulu tidak tuli.”
Dadaku berdebar.
“Apa?”
“Waktu kecil dia malah paling cerewet. Suka nyanyi, suka teriak dari kebun. Pendengarannya normal.”
Aku merasa tengkukku dingin.
“Lalu kenapa jadi begini?”
Bu Imas menghela napas.
“Katanya kecelakaan.”
“Kecelakaan apa?”
“Tidak pernah jelas.”
Dia menurunkan suaranya.
“Waktu umur delapan tahun, Damar sempat hilang dua hari.”
Aku menatapnya.
“Hilang?”
“Ditemukan di pinggir kebun teh, demam tinggi, telinganya berdarah.”
Jantungku seperti jatuh.
“Siapa yang menemukannya?”
Bu Imas terdiam sejenak.
“Yogi dan ayahnya.”
Aku pulang dengan kaki terasa ringan tapi kepala penuh suara.
Yogi.
Nama itu terus berputar-putar dalam pikiranku.
Malamnya, ketika Damar pulang, aku langsung menunjukkan layar ponsel kepadanya.
Kamu dulu tidak tuli.
Dia berhenti melepas sepatu.
Matanya menatapku.
Aku melanjutkan.
Kamu hilang dua hari waktu umur delapan tahun. Kamu ditemukan dengan telinga berdarah.
Wajahnya pucat.
Damar mengambil ponselku.
Siapa yang bilang?
Bu Imas.
Dia berdiri lama.
Kemudian dia mengetik.
Jangan tanya siapa-siapa lagi.
Kenapa?
Karena beberapa hal lebih aman tetap terkubur.
Aku kesal.
Ini bukan kuburan, Damar. Ini tubuhmu.
Dia menatapku tajam.
Untuk pertama kalinya aku melihat kemarahan di wajahnya.
Dia mengetik cepat.
Kamu menikah dengan saya karena keluarga kamu butuh uang. Saya menikah dengan kamu karena alasan saya sendiri. Kita tidak perlu mencampuri masa lalu masing-masing.
Kalimat itu menusuk tepat di tempat yang paling sakit.
Aku mengambil ponsel.
Jadi benar. Kamu juga punya alasan lain selain taruhan.
Damar berhenti.
Aku menatapnya.
Apa alasanmu menikahiku?
Dia tidak menjawab.
Malam itu kami tidur terpisah dengan jarak yang terasa lebih jauh daripada biasanya.
Dua hari kemudian, Yogi datang.
Dia membawa dua orang teman dan sekantong makanan.
“Wah, pengantin baru.”
Aku tidak menyukai cara matanya berkeliling rumah.
Damar sedang memperbaiki pompa air di belakang.
Yogi duduk tanpa dipersilakan.
“Gimana? Enak jadi istri petani?”
Aku tidak menjawab.
Matanya kemudian berhenti pada strip obat di meja.
Senyumnya menghilang sebentar.
“Damar masih sering sakit kepala?”
Aku langsung menatapnya.
“Kamu tahu?”
Yogi terlihat salah tingkah.
“Ya tahu lah. Dari dulu.”
“Kamu tahu ada sesuatu di telinganya?”
Wajahnya berubah.
Hanya sepersekian detik.
Tapi aku melihatnya.
“Apa maksudmu?”
“Aku melihat benda seperti plastik di telinga kanannya.”
Gelas di tangan Yogi jatuh.
Pecahannya berserakan di lantai.
Dia langsung berdiri.
“Jangan pernah sentuh benda itu.”
Aku berdiri juga.
Kalimatnya sama persis dengan kalimat Damar.
“Kenapa?”
Yogi tidak menjawab.
Dia berjalan cepat menuju belakang rumah.
Beberapa menit kemudian terdengar suara bentakan.
Damar tidak bisa mendengarnya dengan jelas, tapi aku bisa.
“Lo sudah bilang apa ke istri lo?”
Damar menjawab dengan suara yang sedikit tidak jelas karena dia jarang berbicara.
“Tidak.”
“Benda itu jangan diambil.”
Aku muncul di ambang pintu.
“Kenapa?”
Yogi menoleh.
“Aku cuma khawatir. Bisa bahaya kalau sembarangan.”
“Kalau khawatir, kenapa kamu tidak pernah membawa dia ke rumah sakit?”
Yogi terdiam.
Damar berdiri di antara kami.
Dia menunjuk pintu depan.
Yogi tertawa sinis.
“Usir gue? Setelah semua yang keluarga gue lakukan buat lo?”
Damar kembali menunjuk pintu.
Yogi mendekat ke wajahnya.
“Kamu jangan lupa siapa yang menemukan kamu dulu.”
Kemudian dia pergi.
Malam itu Damar tidak makan.
Dia duduk di teras sampai hampir tengah malam.
Aku membawa dua cangkir teh.
Tanpa bertanya, aku duduk di sebelahnya.
Beberapa menit kemudian, Damar menyerahkan ponselnya.
Saya takut.
Itu pertama kalinya aku melihat dia mengakui ketakutan.
Takut apa?
Mengingat.
Aku menelan ludah.
Kamu tidak ingat saat kamu hilang?
Hanya sedikit. Ruangan gelap. Bau bensin. Seseorang marah. Setelah itu sakit.
Aku ragu sebelum mengetik.
Besok kita ke Bandung.
Dia menatapku.
Ke dokter THT.
Damar menggeleng keras.
Aku menggenggam tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, dia tidak menarik diri.
“Kita tidak tahu apa yang ada di sana,” kataku perlahan sambil memastikan dia bisa membaca bibirku. “Tapi apa pun itu, kamu tidak harus menghadapinya sendirian.”
Mata Damar berkaca-kaca.
Paginya kami berangkat.
Pemeriksaan di rumah sakit berlangsung hampir dua jam.
Dokter bernama dr. Arif berkali-kali melihat hasil pemindaian.
“Ada benda asing di kanal telinga kanan, tapi sebagian tertutup jaringan.”
Aku menahan napas.
“Bisa diambil?”
“Bisa. Tapi harus hati-hati.”
Damar bertanya lewat aplikasi.
Apakah benda itu penyebab saya tidak bisa mendengar?
Dokter menatap hasil pemeriksaan.
“Sebagian gangguan pendengaran Anda kemungkinan akibat kerusakan lama pada gendang telinga. Tapi benda ini memang seharusnya tidak berada di sana.”
Prosedur dijadwalkan sore itu.
Aku menunggu di luar ruangan dengan tangan dingin.
Hampir satu jam kemudian, dokter keluar membawa kantong kecil transparan.
Di dalamnya ada benda hijau tua sebesar kuku jari.
Bukan plastik biasa.
Bentuknya pipih.
Ada bagian logam di salah satu sisinya.
“Apa itu?” tanyaku.
Dokter menggeleng.
“Entahlah. Tapi kelihatannya benda elektronik lama.”
Damar menatapnya.
Tiba-tiba tubuhnya gemetar.
Dia merebut kertas dan menulis.
Pemancar.
Aku membaca kata itu dua kali.
“Kamu ingat?”
Dia memegang kepala.
Wajahnya berubah seperti sedang berusaha melawan sesuatu yang muncul dari tempat jauh.
Kemudian dia berbicara.
Suaranya berat dan terbata.
“Gudang.”
Aku membeku.
Itu pertama kalinya aku mendengar Damar berbicara lebih dari satu dua kata.
“Gudang apa?”
“Gudang… pupuk… ayah Yogi.”
Dalam perjalanan pulang, ingatannya muncul sedikit demi sedikit.
Saat berumur delapan tahun, Damar pernah mengikuti Yogi yang waktu itu berusia empat belas tahun ke gudang milik keluarga mereka.
Di sana ada beberapa orang dewasa.
Mereka bukan sedang menyimpan pupuk.
Mereka mencampur pestisida ilegal ke dalam botol bermerek.
Damar melihat semuanya.
Salah seorang pria menangkapnya.
Mereka panik.
Ayah Yogi takut anak kecil itu akan menceritakan apa yang dilihatnya.
Damar tidak ingat semua detail setelah itu.
Hanya rasa sakit di telinganya.
Tapi satu hal muncul dengan jelas.
Benda hijau itu dipasang oleh seorang pria yang mereka panggil Dokter Hendra.
Bukan dokter rumah sakit.
Dia teknisi elektronik yang biasa membantu mereka memasang alat komunikasi.
“Kenapa benda itu dimasukkan ke telingamu?” tanyaku.
Damar menggeleng.
Dia tidak tahu.
Jawabannya datang keesokan harinya.
Benda itu kami bawa ke kantor polisi.
Setelah diperiksa oleh teknisi forensik, ternyata benda tersebut adalah bagian dari alat perekam suara mini generasi lama.
Polisi berhasil membaca sebagian memorinya.
Rekamannya rusak.
Tapi tidak semuanya.
Tiga hari kemudian kami dipanggil.
Di ruangan itu ada Damar, aku, Reno, ayahku, Bu Imas, beberapa polisi, dan Yogi.
Yogi datang bersama pengacara.
Dia masih tersenyum.
“Ini semua gila.”
Petugas menyalakan sebuah rekaman.
Awalnya hanya suara statis.
Kemudian terdengar suara anak kecil menangis.
Aku langsung menggenggam tangan Damar.
Suara berikutnya membuat Yogi berhenti bernapas.
“Bapak, dia lihat semuanya.”
Itu suara remaja.
Yogi.
Lalu suara seorang pria.
“Kalau bocah ini ngomong, kita semua habis.”
Suara benturan terdengar.
Anak kecil itu menjerit.
Kemudian sebuah kalimat muncul jelas.
“Pasang itu. Biar nanti kita tahu kalau dia bicara sama siapa.”
Ruangan langsung sunyi.
Wajah Yogi pucat.
Ternyata alat itu awalnya memang dirancang untuk merekam percakapan Damar setelah dilepaskan. Tapi proses pemasangan gagal. Alat masuk terlalu dalam, melukai telinga, kemudian tertinggal ketika mereka panik karena Damar demam dan pingsan.
Kejadian itu kemudian ditutupi sebagai kecelakaan.
Ayah Yogi sudah meninggal enam tahun sebelumnya.
Tapi dua orang lain dalam rekaman masih hidup.
Polisi mulai membuka kembali kasus lama.
Yogi berdiri.
“Gue masih anak-anak waktu itu!”
Damar menatapnya.
Yogi menunjuk ke arahnya.
“Gue juga takut! Gue cuma nurut sama Bapak!”
Damar mengambil ponselnya.
Dia mengetik satu kalimat lalu menunjukkannya.
Kamu punya tiga puluh tahun untuk mengatakan kebenaran.
Yogi terdiam.
Kemudian sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi.
Reno berdiri.
Wajah kakakku pucat.
“Ada satu hal lagi.”
Aku menatapnya.
Reno mengeluarkan ponsel.
“Tawaran taruhan itu… bukan ide gue.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
“Apa?”
Reno menatap Damar.
“Damar yang menghubungi gue dulu.”
Aku perlahan menoleh kepada suamiku.
Reno melanjutkan.
“Dia bilang kalau gue menyebut nama Laras di depan Yogi dan membuat taruhan pernikahan, Yogi pasti setuju karena dia suka mempermalukan orang.”
Aku merasa dada sesak.
“Damar?”
Dia menunduk.
Aku mengambil ponselnya.
Jadi sejak awal kamu merencanakan semuanya?
Damar mengetik.
Ya.
Air mataku langsung jatuh.
Untuk menemukan benda itu?
Dia menggeleng.
Kemudian mengetik lagi.
Untuk mendekati Yogi.
Aku tertawa pahit.
Jadi aku cuma alat?
Damar menatapku.
Tidak.
Dia mengetik perlahan.
Saya memilih nama kamu sebelum taruhan dibuat.
Kenapa?
Tangannya berhenti beberapa detik.
Karena dua belas tahun lalu, waktu semua orang di pasar menertawakan saya karena tidak bisa mendengar, ada satu anak perempuan yang menulis harga sayuran satu per satu di kertas agar saya tidak bingung.
Aku membeku.
Sebuah ingatan muncul.
Aku berumur enam belas tahun.
Seorang pemuda kurus menjual kol bersama seorang pria tua.
Beberapa pedagang mengejek cara bicaranya.
Aku mengambil kertas bekas dan membantu menuliskan pesanan pembeli.
Aku bahkan sudah melupakannya.
Damar tidak.
Dia menulis lagi.
Saya tidak menikahi kamu karena tubuhmu.
Saya tidak menikahi kamu karena kasihan.
Dan bukan karena taruhan.
Saya hanya terlalu pengecut untuk datang langsung dan mengatakan bahwa saya sudah mengingat kamu selama bertahun-tahun.
Tanganku gemetar.
“Jadi kenapa tidak bilang sejak awal?”
Dia membaca bibirku.
Kemudian untuk pertama kalinya, Damar mencoba menjawab tanpa ponsel.
Suaranya pelan, tidak sempurna, tetapi jelas.
“Karena… saya pikir… kamu tidak akan percaya.”
Aku menangis sambil tertawa.
“Aku memang tidak percaya.”
Beberapa bulan kemudian, kasus perdagangan pestisida ilegal lama itu resmi dibuka kembali. Yogi dan dua orang lain diperiksa atas keterlibatan mereka dalam penyekapan Damar dan upaya menutupi kejahatan puluhan tahun sebelumnya.
Pendengaran Damar tidak kembali sepenuhnya.
Dokter bilang kerusakan yang terjadi sudah terlalu lama.
Tapi setelah terapi dan alat bantu dengar, dia mulai bisa menangkap beberapa suara.
Suatu sore kami berdiri di kebun.
Angin bergerak pelan melewati daun-daun selada.
Aku sedang memasukkan sayuran ke keranjang ketika Damar tiba-tiba memegang lenganku.
“Apa?”
Dia tersenyum.
“Aku dengar.”
Aku menatapnya bingung.
“Apa?”
Dia menunjuk ke arah pepohonan.
Burung sedang berkicau.
Suara sederhana yang hampir semua orang tidak pernah pikirkan.
Tapi mata Damar langsung dipenuhi air.
Aku menggenggam tangannya.
Kemudian dia berkata sesuatu yang masih terdengar sedikit kaku.
“Laras.”
Aku menoleh.
Selama ini orang-orang mengira hidupku berubah karena seorang petani tuli menikahiku akibat taruhan.
Mereka salah.
Taruhan itu memang membawaku ke rumah Damar.
Tapi bukan taruhan yang membuatku bertahan.
Bukan utang.
Bukan rasa kasihan.
Melainkan seorang laki-laki yang selama puluhan tahun hidup dalam keheningan, tetapi tetap mengingat satu kebaikan kecil yang bahkan sudah dilupakan oleh orang yang melakukannya.
Dan dari Damar aku akhirnya memahami sesuatu.
Kadang-kadang manusia terlalu sibuk mendengar apa yang dikatakan orang tentang dirinya sampai lupa mendengarkan kebenaran yang paling penting.
Bahwa harga diri tidak pernah ditentukan oleh ukuran tubuh.
Cinta tidak pernah ditentukan oleh sempurnanya seseorang.
Dan sebuah kebaikan kecil yang kita lakukan hari ini mungkin akan tetap hidup di hati seseorang jauh lebih lama daripada yang pernah kita bayangkan.
