Aku baru saja memasukkan hasil USG ke dalam tas ketika ponselku bergetar.
Nama Bima muncul di layar.
Aku menarik napas panjang sebelum mengangkatnya.
“Rania, kamu di mana?”
“Di luar. Kenapa?”
Suara Bima terdengar berbeda. Tegang.

“Kamu harus pulang sekarang.”
Jantungku langsung berdegup lebih cepat.
“Ada apa?”
Beberapa detik dia diam.
“Operasi Arman dimajukan.”
Dunia seolah berhenti.
Aku berdiri di tengah lorong rumah sakit, sementara orang-orang berlalu-lalang di sekelilingku.
“Operasi apa?”
“Operasi matanya. Dokter dari Singapura yang selama ini menangani kasusnya datang ke Jakarta. Mereka menemukan prosedur baru yang kemungkinan berhasilnya jauh lebih tinggi.”
Tanganku mencengkeram ponsel.
“Kapan?”
“Lusa.”
Aku tidak mampu menjawab.
Seharusnya aku bahagia.
Selama dua tahun, aku melihat Arman menjalani hidup dalam kegelapan. Aku tahu betapa dia merindukan hal-hal sederhana seperti melihat matahari terbenam atau sekadar membaca dokumen tanpa bantuan.
Namun kesembuhan Arman berarti akhir bagiku.
Begitu dia membuka mata, kebohongan ini selesai.
“Rania?”
“Aku dengar.”
“Dan ada satu masalah lagi.”
Nada suara Bima membuat tengkukku dingin.
“Rani pulang ke Indonesia.”
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
“Apa?”
“Dia tahu tentang operasi Arman.”
Aku menutup mata.
Ironis sekali.
Perempuan yang meninggalkannya ketika dokter mengatakan dia mungkin buta selamanya, kini kembali tepat saat ada harapan dia bisa melihat lagi.
“Dia mau apa?”
“Aku belum tahu. Tapi jangan ke mana-mana. Aku akan datang malam ini.”
Sambungan terputus.
Tanganku menyentuh perut.
Pagi tadi aku datang ke rumah sakit sebagai perempuan yang tidak tahu harus bagaimana menghadapi kehamilannya.
Sekarang aku pulang sebagai penipu yang waktunya hampir habis.
Ketika tiba di rumah, Arman sudah menungguku di ruang keluarga.
“Kamu dari mana?”
Aku terdiam.
Biasanya aku bisa berbohong dengan mudah.
Hari itu lidahku terasa berat.
“Keluar sebentar.”
Dia mengulurkan tangan.
“Kemarilah.”
Aku mendekat. Seperti biasa, tangannya menemukan pinggangku dengan mudah.
Dia menarikku sampai aku berdiri di antara kedua lututnya.
“Ada yang aneh.”
“Apa?”
“Kamu.”
Aku berusaha tertawa.
“Aku kenapa?”
“Suaramu.”
Tangannya naik menyentuh pipiku.
“Kamu habis menangis?”
Aku tidak sadar mataku mulai panas.
Arman memang tidak bisa melihat, tetapi terkadang aku merasa pria ini mengenalku lebih baik daripada orang yang memiliki penglihatan sempurna.
“Aku cuma capek.”
“Kamu takut operasiku?”
Aku membeku.
“Kamu sudah tahu?”
“Bima menelepon.”
Senyum kecil muncul di wajahnya.
“Kalau operasi ini berhasil, hal pertama yang ingin kulihat adalah kamu.”
Dadaku seperti ditusuk.
Aku menunduk agar air mataku tidak jatuh ke tangannya.
“Kenapa aku?”
“Pertanyaan bodoh.”
Arman menarik tanganku dan mengecup punggungnya.
“Aku sudah terlalu lama mengenalmu lewat suara, aroma, dan sentuhan. Aku penasaran apakah wajahmu sama cantiknya dengan yang kuingat.”
Yang kauingat.
Bukan wajahku.
Aku ingin mengatakan semuanya saat itu juga.
Namaku Rania.
Aku bukan Rani.
Perempuan yang menemanimu selama dua tahun bukan perempuan yang kaukenal di London.
Dan sekarang aku sedang mengandung anakmu.
Namun sebelum satu kata pun keluar, Bu Sari datang.
“Pak, ada tamu.”
Arman mengernyit.
“Siapa?”
Belum sempat Bu Sari menjawab, suara perempuan terdengar dari pintu.
“Arman.”
Darahku membeku.
Aku menoleh.
Seorang perempuan berdiri beberapa meter dari kami.
Tinggi, kulitnya cerah, rambut hitam panjang jatuh sempurna melewati bahu. Bahkan setelah perjalanan panjang, penampilannya seperti seseorang yang baru keluar dari pemotretan majalah.
Aku langsung tahu siapa dia.
Rani Apsari.
Arman perlahan berdiri.
Tangannya terlepas dari tanganku.
Wajahnya berubah.
“Siapa itu?”
Rani menatapku.
Tatapannya turun dari wajahku menuju tangan Arman yang beberapa detik sebelumnya menggenggamku.
Kemudian dia tersenyum tipis.
“Sepertinya ada orang yang memakai namaku terlalu lama.”
Ruangan itu menjadi sunyi.
Arman tidak bergerak.
“Apa maksudmu?”
Aku merasa kakiku kehilangan tenaga.
Rani berjalan mendekat.
“Aku Rani.”
Arman tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Tawa itu dingin.
“Kalau kamu Rani, lalu perempuan di sebelahku siapa?”
Tak ada yang menjawab.
“Bima!”
Suara Arman mengguncang ruangan.
Bima yang baru tiba dari pintu belakang langsung berhenti.
Wajahnya pucat.
Arman menghadap ke arah suaranya.
“Jelaskan.”
Bima menelan ludah.
“Gue yang melakukan semuanya.”
Arman tidak berkata apa-apa.
“Dua tahun lalu kondisi lo buruk. Lo menolak terapi, nggak mau makan, bahkan nggak peduli perusahaan mau hancur. Gue cuma…”
“Siapa dia?”
Bima menatapku.
“Namanya Rania Putri.”
Aku tidak pernah mendengar kesunyian terasa semenakutkan itu.
Arman perlahan menghadap ke arahku.
“Rania?”
Aku menggigit bibir.
“Iya.”
“Jadi selama dua tahun…”
Suaranya menjadi serak.
“Kamu bukan Rani?”
Air mataku akhirnya jatuh.
“Bukan.”
Tangannya mengepal.
“Semua bohong?”
Aku ingin mengatakan tidak.
Perasaanku bukan kebohongan.
Caraku menunggu dia pulang, mengingat jadwal obatnya, menggenggam tangannya saat mimpi buruk, tertawa bersamanya di tengah malam, semuanya nyata.
Namun apa gunanya?
Fondasinya tetap sebuah kebohongan.
“Awalnya… iya.”
Arman tersenyum pahit.
“Awalnya?”
Aku maju satu langkah.
“Arman, dengarkan aku.”
“Jangan sentuh aku.”
Aku berhenti.
Tiga kata itu lebih menyakitkan daripada teriakan.
Arman menghadap Bima.
“Keluar.”
“Man…”
“Semua keluar.”
Aku menatapnya untuk terakhir kali.
Lalu aku pergi.
Malam itu aku mengemasi barang-barangku.
Aku tidak membawa gaun, tas, perhiasan, atau apa pun yang pernah dibelikan Arman.
Aku hanya mengambil pakaian yang kubawa ketika pertama kali datang.
Sebelum pergi, aku meletakkan kartu kredit dan kunci mobil di atas meja.
Hasil USG masih berada di dalam tas.
Aku sempat ingin meninggalkannya.
Tetapi pada akhirnya aku membawanya.
Setidaknya ada satu hal dari rumah itu yang benar-benar milikku.
Anak ini.
Keesokan harinya aku pindah ke kontrakan kecil dekat rumah sakit tempat ayah menjalani kontrol.
Bima menelepon berkali-kali.
Aku tidak menjawab.
Arman tidak pernah menelepon.
Dua hari kemudian operasinya dilakukan.
Aku mengetahui kabarnya dari Bima.
Operasi berhasil.
Namun penglihatannya belum langsung pulih. Kedua matanya harus diperban selama beberapa hari sebelum dokter membuka lapisan pelindung secara bertahap.
Aku menangis ketika membaca pesan itu.
Syukurlah.
Setidaknya satu alasan aku pernah masuk ke hidupnya akhirnya menjadi kenyataan.
Seminggu kemudian, aku memutuskan pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan kandungan.
Saat menunggu obat, seseorang duduk di sebelahku.
Rani.
Aku berdiri refleks.
“Tenang,” katanya. “Aku nggak datang buat berantem.”
Tatapannya jatuh pada map kandunganku.
Wajahnya berubah.
“Kamu hamil?”
Aku tidak menjawab.
Dia langsung mengerti.
“Anak Arman?”
“Itu bukan urusanmu.”
Aku hendak pergi, tetapi dia menahan lenganku.
“Kalau kamu pintar, jangan beri tahu dia.”
Aku menatap tangannya.
“Lepaskan.”
Rani menurut.
“Aku dan Arman akan memulai lagi.”
Aku hampir tertawa.
“Kamu meninggalkannya saat dia buta.”
“Aku takut.”
“Dan sekarang kamu kembali karena dia akan bisa melihat.”
Wajahnya menegang.
“Kamu pikir kamu lebih baik? Kamu dibayar untuk tidur di rumahnya sambil memakai namaku.”
Kalimat itu menghantam tepat sasaran.
Aku tidak membalas.
Aku pergi.
Satu bulan berlalu.
Aku mulai menerima kenyataan bahwa hidupku bersama Arman memang sudah selesai.
Aku mencari pekerjaan baru dan mempersiapkan diri menjadi ibu.
Sampai suatu sore pintu kontrakanku diketuk.
Ketika kubuka, Bima berdiri di sana.
Wajahnya terlihat kacau.
“Arman hilang.”
Aku mengernyit.
“Maksudmu?”
“Dia keluar dari rumah setelah kontrol terakhir. Sopirnya kehilangan dia.”
“Kenapa kamu cari aku?”
Bima menatapku seperti aku baru mengatakan sesuatu yang bodoh.
“Karena sejak perbannya dibuka, satu-satunya orang yang dia cari adalah kamu.”
Jantungku berhenti sesaat.
“Apa?”
“Dia sudah bisa melihat.”
Aku mundur satu langkah.
“Rani ada di sana waktu perbannya dibuka,” lanjut Bima. “Tapi Arman cuma melihat dia beberapa detik.”
“Lalu?”
“Dia bilang, ‘Bukan kamu.'”
Aku membeku.
Bima tertawa getir.
“Gue juga bingung. Dia bahkan belum pernah lihat wajah lo.”
Hujan turun ketika kami keluar mencari Arman.
Kami memeriksa rumah lama, kantor, klinik, bahkan taman tempat aku sering mengajaknya berjalan.
Tidak ada.
Sampai aku teringat satu tempat.
Kedai Sari Wangi.
Aku meminta Bima menghentikan mobil.
Dan benar.
Di bawah kanopi kedai, seorang pria tinggi berdiri sendirian sambil menatap etalase kue durian.
Aku mengenalinya bahkan dari belakang.
“Arman.”
Dia berbalik.
Untuk pertama kalinya, matanya benar-benar menatapku.
Aku tidak siap.
Tatapan itu tajam, dalam, dan penuh emosi yang sulit kubaca.
Dia berjalan mendekat.
Aku mundur.
Namun Arman berhenti tepat di depanku.
“Jadi begini wajahmu.”
Aku menunduk.
“Maaf.”
“Kenapa kamu pergi?”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Karena aku membohongimu.”
“Aku tahu.”
“Kamu seharusnya membenciku.”
“Aku memang marah.”
Dia menatapku lama.
“Tapi setelah aku bisa melihat, aku baru sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Perempuan yang kucintai ternyata bukan wajah yang selama ini kuingat.”
Air mataku mulai menggenang.
Arman melanjutkan.
“Rani datang ke rumah. Aku mendengar suaranya. Aneh sekali, suaranya memang mirip kamu.”
Dia tersenyum tipis.
“Tapi ketika dia menyentuh tanganku, aku tahu itu bukan perempuan yang menemaniku dua tahun terakhir.”
Aku tidak mampu berkata-kata.
“Aku mengenalmu dari cara kamu berjalan ketika sedang kesal. Dari aroma sampomu. Dari cara kamu diam-diam mengganti kopi pahitku dengan kopi rendah kafein. Dari kebiasaanmu menggerakkan jari kalau sedang berbohong.”
Aku spontan menyembunyikan tangan.
Arman tertawa kecil.
Lalu tatapannya turun.
Tepat ke perutku.
Senyumnya menghilang.
“Dan sekarang aku mau tahu satu kebohongan lagi.”
Tubuhku menegang.
“Bima bilang dia melihatmu keluar dari klinik kandungan.”
Aku menatap Bima yang berdiri jauh di belakang.
Pengkhianat.
Arman mendekat.
“Kamu hamil?”
Aku menggigit bibir.
“Iya.”
“Anakku?”
Aku tidak menjawab.
“Rania.”
Air mataku jatuh.
“Iya.”
Untuk beberapa detik dia hanya berdiri diam.
Aku takut.
Sampai pria itu tiba-tiba berlutut di depanku.
Di tengah trotoar yang basah.
Tangannya gemetar ketika menyentuh perutku.
“Kenapa kamu nggak bilang?”
“Karena aku pikir kamu akan kembali ke Rani.”
Arman mengangkat wajah.
“Aku nggak pernah kembali kepadanya.”
“Tapi kamu mencintainya.”
“Dulu.”
Dia berdiri kembali.
“Lalu dua tahun lalu, seseorang datang memakai namanya dan tanpa sadar mengambil tempatnya.”
Aku menangis semakin keras.
Arman menyeka air mataku.
“Jangan salah paham. Aku belum memaafkan kebohonganmu.”
Aku terdiam.
“Tapi aku juga punya pengakuan.”
“Apa?”
Dia menatap Bima.
Bima langsung memalingkan wajah.
Arman kembali menatapku.
“Aku sebenarnya sudah tahu kamu bukan Rani sejak tahun pertama.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Dalam kecelakaan itu, penglihatanku memang hilang. Tapi ingatanku tidak.”
Dia mengusap pipiku.
“Rani selalu memakai parfum tertentu. Cara bicaranya juga berbeda. Kamu terlalu banyak bilang ‘iya, iya’ kalau gugup dan kamu nggak pernah tahu nama restoran tempat kami pertama kali makan di London.”
Mulutku terbuka.
“Jadi…”
“Aku tahu.”
“Kenapa kamu diam?”
Tatapan Arman melembut.
“Awalnya aku ingin tahu siapa kamu dan apa tujuan Bima. Lalu aku melihat… atau lebih tepatnya merasakan… kamu merawatku tanpa pernah mengambil keuntungan dari semua yang kuberikan.”
Dia tersenyum.
“Setelah itu aku mulai takut.”
“Takut apa?”
“Kalau aku membongkar kebohongan itu, kontrakmu selesai dan kamu pergi.”
Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk antara ingin menangis dan ingin memukulnya.
“Jadi selama ini kita berdua sama-sama bohong?”
“Sepertinya begitu.”
Aku memukul dadanya.
“Arman Pradipta!”
Dia tertawa, lalu memelukku.
Aku berusaha mendorongnya.
“Lepaskan!”
“Nggak.”
“Orang-orang lihat!”
“Bagus.”
Pelukannya semakin erat.
“Aku baru bisa melihat lagi. Biarkan aku melihat perempuan yang selama dua tahun membuatku jatuh cinta dalam gelap.”
Aku akhirnya berhenti melawan.
Di balik bahunya, kulihat Bima tersenyum lega.
Beberapa bulan kemudian, ayahku pulih sepenuhnya.
Aku juga tidak pernah lagi memakai nama Rani Apsari.
Untuk pertama kalinya, ketika Arman memperkenalkanku kepada seluruh keluarganya, dia menggenggam tanganku dan berkata dengan jelas,
“Ini Rania Putri, calon istriku.”
Bukan pengganti.
Bukan perempuan sewaan.
Bukan bayangan dari masa lalunya.
Dan ketika putri kami lahir, Arman menangis lebih keras daripada bayi itu sendiri.
Aku pernah mengira cinta membutuhkan mata untuk mengenali seseorang.
Ternyata aku salah.
Kadang seseorang justru melihat kita paling jelas ketika dunia di sekelilingnya sedang gelap.
Dan terkadang, kebohongan yang paling menyakitkan bukan tentang siapa diri kita.
Melainkan keyakinan bahwa kita tidak mungkin dicintai jika orang lain mengetahui diri kita yang sebenarnya.
