Suamiku Menolak Menjemput Aku dan Putra Kami Saat Hujan Deras, Tapi Mobilnya Melintas dengan Rekan Kerja Wanita—Malam Itu Aku Berhenti Menunggunya

“Keputusan apa yang tidak boleh aku tahu, Ardi?”

Untuk beberapa detik, suara kendaraan di parkiran seperti menghilang. Ardi berdiri dengan ponsel di tangannya, wajahnya pucat, sementara Raka sudah duduk di dalam mobil baruku sambil memainkan sabuk pengaman.

“Nadia, bukan seperti yang kamu pikirkan.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Kalau begitu jelaskan.”

Ardi mengembuskan napas panjang. “Kita bicarakan nanti. Jangan di depan Raka.”

“Baik.”

Jawabanku membuatnya tampak semakin gelisah.

Sepanjang perjalanan menuju rumah orang tua Ardi, aku mengemudikan mobilku sendiri. Ardi mengikuti dari belakang. Sesekali Raka berceloteh tentang mobil baru kami, tetapi pikiranku terus kembali pada pesan Maya.

Soal keputusan kita kemarin, sebaiknya Nadia jangan tahu dulu.

Aku tidak tahu keputusan apa yang mereka buat. Anehnya, ketidaktahuan itu tidak lagi membuatku panik seperti dulu.

Mungkin karena setelah kejadian kemarin, sesuatu dalam diriku sudah berubah.

Sesampainya di rumah mertua, Ibu Ratna langsung menyambut kami.

“Lho, mobil siapa ini?”

“Mobil Mama!” Raka menjawab bangga.

Ibu Ratna menatapku, lalu Ardi.

“Kalian beli mobil baru?”

“Aku yang beli, Bu,” jawabku.

“Pakai uang siapa?”

Aku tersenyum tipis. “Tabunganku.”

Belum sempat beliau berkata lagi, Ardi masuk sambil membawa tas Raka. Wajahnya terlihat kusut.

Makan siang berlangsung canggung.

Kemudian, ketika Raka bermain di halaman bersama kakeknya, Ibu Ratna memanggilku ke dapur.

“Nadia, kamu sedang bertengkar dengan Ardi?”

“Tidak.”

“Jangan bohong sama Ibu. Ardi dari tadi diam.”

Aku membantu memotong buah tanpa menjawab.

Ibu Ratna menghela napas. “Kalau ada masalah rumah tangga, jangan dibesar-besarkan. Laki-laki kalau bekerja memang banyak urusan. Kamu harus mengerti.”

Kalimat itu begitu familier.

Selama tujuh tahun menikah, aku sudah mendengarnya dalam berbagai bentuk.

Ardi lelah, aku harus mengerti.

Ardi sibuk, aku harus mengerti.

Ardi lupa ulang tahun pernikahan, aku harus mengerti.

Ardi jarang membantu mengurus Raka karena pekerjaannya berat, aku juga harus mengerti.

Entah kapan terakhir kali seseorang meminta Ardi untuk mengerti aku.

“Bu,” kataku pelan, “kemarin Ardi menolak menjemput aku dan Raka saat hujan deras karena memilih mengantar rekan kerja perempuannya.”

Pisau di tangan Ibu Ratna berhenti.

“Rekan kerja?”

“Maya.”

Wajahnya berubah sedikit.

Perubahan yang sangat kecil, tetapi aku melihatnya.

“Ibu kenal Maya?”

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Sebelum aku sempat bertanya lagi, suara mobil terdengar dari depan rumah.

Beberapa menit kemudian, seorang perempuan masuk melalui pintu ruang tamu.

Aku mengenalinya seketika.

Maya.

Dia membawa kotak kue dan tersenyum kepada Ibu Ratna.

“Selamat siang, Tante.”

Tante.

Bukan Bu.

Aku berdiri diam di ambang dapur.

Maya baru menyadari keberadaanku beberapa detik kemudian. Senyumnya langsung menghilang.

“Nadia?”

Aku menatap Ibu Ratna.

Katanya tidak mengenal Maya.

Ardi keluar dari ruang belakang dan langsung membeku ketika melihatnya.

“Maya, kamu ngapain ke sini?”

“Aku diminta datang.”

“Siapa yang minta?”

Ibu Ratna meletakkan piring buah dengan keras.

“Ibu.”

Suasana mendadak sunyi.

Aku menatap mereka satu per satu.

“Sepertinya cuma aku yang tidak tahu apa-apa.”

Maya menarik napas. “Mungkin lebih baik kita bicara sekarang.”

Ardi langsung memotong. “Tidak perlu.”

“Justru perlu,” kataku.

Untuk pertama kalinya, suaraku tidak bergetar.

Kami duduk di ruang keluarga. Ibu Ratna terlihat gelisah. Maya menunduk, sementara Ardi berdiri dekat jendela seperti sedang mencari jalan keluar.

Akhirnya Maya membuka suara.

“Aku sudah mengajukan pindah ke kantor cabang Surabaya.”

Aku mengerutkan kening.

“Itu keputusan rahasianya?”

“Bukan cuma itu.”

Ardi memejamkan mata.

Maya melanjutkan, “Pak Ardi ditawari posisi kepala cabang di Surabaya. Kemarin kami bertemu direktur regional untuk membicarakan tim yang akan dibawa.”

Aku menatap suamiku.

“Kamu mau pindah?”

“Belum pasti.”

Maya menatapnya. “Mas, suratnya sudah kamu tanda tangani.”

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

“Kapan?”

“Tiga hari lalu,” jawab Maya.

Aku tertawa kecil karena tidak percaya.

“Tiga hari lalu?”

Ardi mendekat. “Aku memang mau bicara sama kamu.”

“Kapan? Setelah kita pindah?”

“Nadia.”

“Bagaimana dengan pekerjaanku? Sekolah Raka? Rumah kita?”

“Itu yang mau aku pikirkan dulu.”

Aku menatapnya lama.

“Kamu sudah menandatangani keputusan yang mengubah hidup keluarga kita, tapi bagian yang melibatkan istri dan anakmu baru mau kamu pikirkan kemudian?”

Ardi terdiam.

Lalu Ibu Ratna berkata, “Jangan langsung menyalahkan Ardi. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.”

Aku menoleh.

“Ibu juga sudah tahu?”

Beliau tidak menjawab.

Jawabannya sudah jelas.

Ternyata semua orang tahu.

Kecuali aku.

Namun kejutan berikutnya datang dari Maya.

“Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu.”

Ardi menatapnya tajam. “Maya.”

“Cukup, Mas.”

Nada suara Maya berubah.

“Aku tidak mau terus dijadikan alasan.”

Dia menatapku.

“Kemarin aku memang minta diantar, tapi awalnya aku tidak tahu kamu dan Raka sedang menunggu. Aku baru tahu setelah kami sudah di mobil.”

Aku teringat pesannya.

Aku memang kurang nyaman kalau harus satu mobil dengan terlalu banyak orang.

“Lalu pesanmu?”

Wajah Maya memerah.

“Itu sindiran.”

Aku terdiam.

Maya menoleh kepada Ardi. “Karena setelah aku tahu istrinya sedang kehujanan, aku minta Mas Ardi putar balik.”

Aku menatap Ardi.

Maya melanjutkan, “Aku bilang kita bisa menjemput kalian. Tapi dia bilang tidak perlu.”

“Kenapa?” tanyaku.

Maya terdiam sebentar.

“Dia bilang kamu pasti bisa mengurus diri sendiri.”

Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada dugaan perselingkuhan.

Karena aku tahu itu benar.

Selama bertahun-tahun, Ardi terbiasa melihatku menyelesaikan semuanya sendiri.

Bukan karena aku tidak membutuhkan bantuan.

Melainkan karena setiap kali aku membutuhkan bantuan, dia membuatku merasa seolah kebutuhan itu adalah beban.

Aku berdiri.

“Nadia, tunggu.” Ardi meraih lenganku.

Aku menariknya perlahan.

“Aku mau pulang.”

“Kita belum selesai bicara.”

“Aku sudah selesai.”

Aku memanggil Raka.

Di perjalanan pulang, aku tidak menangis. Baru setelah Raka tertidur malam itu, air mataku jatuh.

Bukan karena Maya.

Bukan karena Surabaya.

Aku menangisi diriku sendiri.

Perempuan yang selama bertahun-tahun mengira kesabaran adalah bukti cinta.

Ardi pulang hampir tengah malam.

Dia berdiri di depan kamar sambil memegang surat penugasan.

“Aku bisa membatalkan ini.”

Aku sedang melipat pakaian Raka.

“Tidak perlu.”

“Aku serius. Kalau kamu tidak mau pindah, aku akan menolak.”

Aku menatapnya.

“Kenapa sekarang?”

“Karena aku tidak mau kehilangan keluarga.”

Aku tersenyum pahit.

“Ardi, kamu takut kehilangan keluarga setelah menyadari keluarga itu bisa pergi. Itu berbeda dengan menghargainya ketika masih ada.”

Dia duduk di tepi tempat tidur.

“Aku tahu aku salah.”

“Bukan satu kesalahan.”

“Aku akan berubah.”

Dulu, kalimat itu mungkin cukup untuk membuatku bertahan.

Malam itu tidak.

Aku membuka lemari dan mengeluarkan sebuah map.

“Aku sudah menghitung tabunganku. Aku juga bicara dengan kepala sekolah sore tadi. Semester depan ada posisi koordinator kelas yang ditawarkan kepadaku.”

Ardi menatapku bingung.

“Kamu mau apa?”

“Aku mau berhenti menjadikan hidupku bergantung pada keputusanmu.”

“Nadia, jangan bicara seperti kita akan bercerai.”

Aku diam beberapa saat.

“Aku belum memutuskan itu.”

Wajahnya semakin pucat.

“Tapi mulai sekarang, aku tidak akan menjadi satu-satunya orang yang mempertahankan pernikahan ini.”

Hari-hari berikutnya terasa berbeda.

Aku tidak mengusir Ardi. Aku juga tidak memperlakukannya seperti musuh.

Aku hanya berhenti melakukan hal-hal yang selama ini kuanggap kewajibanku untuk membuat hidupnya nyaman.

Aku tidak lagi menyiapkan pakaian kerjanya.

Tidak mengingatkan jadwalnya.

Tidak menunggu makan malam jika dia terlambat.

Aku bekerja, mengurus Raka, dan mulai menggunakan mobilku setiap hari.

Anehnya, justru setelah aku berhenti mengejar, Ardi mulai mendekat.

Dia pulang lebih cepat.

Mengantar Raka les.

Mencuci piring.

Bahkan datang ke sekolah ketika ada pertemuan orang tua.

Namun aku tidak langsung luluh.

Perubahan yang muncul karena takut kehilangan belum tentu perubahan yang lahir dari kesadaran.

Dua minggu kemudian, Maya datang menemuiku di sekolah.

Aku hampir menolak, tetapi akhirnya kami duduk di sebuah kedai kopi di seberang jalan.

“Aku pindah ke Surabaya bulan depan,” katanya.

“Dengan Ardi?”

Maya menggeleng.

“Mas Ardi menolak jabatan itu kemarin.”

Aku tidak merasa lega.

Maya mengaduk kopinya.

“Aku minta maaf soal pesan malam itu. Aku sengaja menulisnya supaya dia sadar tindakannya keterlaluan.”

“Kenapa kamu peduli?”

Maya terdiam.

Kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop.

“Karena aku pernah menjadi kamu.”

Aku menatapnya.

Maya tersenyum pahit.

“Dulu aku menikah dengan laki-laki yang selalu menganggap aku bisa mengurus semuanya sendiri. Sampai akhirnya aku benar-benar belajar hidup tanpanya.”

Dia menyerahkan amplop itu kepadaku.

Di dalamnya ada salinan surat penugasan Ardi.

Namun ada satu halaman yang belum pernah kulihat.

Daftar fasilitas jabatan.

Rumah dinas.

Mobil operasional.

Tunjangan keluarga.

Dan sebuah kolom bertuliskan status relokasi keluarga.

Di sana, Ardi mencentang satu pilihan.

Tidak membawa keluarga.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Jadi rencananya sejak awal bukan membawa kami ke Surabaya.

Dia hendak pergi sendiri.

Malamnya, aku meletakkan salinan dokumen itu di meja makan.

Ardi baru pulang ketika melihatnya.

Wajahnya langsung berubah.

“Kamu dapat dari mana?”

“Tidak penting.”

Dia duduk perlahan.

“Aku bisa jelaskan.”

“Silakan.”

Ardi menatap dokumen itu lama.

“Aku pikir cuma enam bulan pertama. Aku mau lihat situasinya dulu.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Aku tahu kamu akan keberatan.”

Aku mengangguk.

Untuk pertama kalinya, semuanya terasa sangat jelas.

Bukan Maya masalah terbesar dalam pernikahan kami.

Masalahnya adalah Ardi selalu membuat keputusan berdasarkan apa yang paling mudah baginya, lalu mengharapkanku menyesuaikan diri.

“Aku sudah membuat keputusan,” kataku.

Ardi langsung berdiri.

“Nadia.”

“Aku mau kita pisah rumah sementara.”

Dia menatapku seolah tidak mengenal perempuan di depannya.

“Berapa lama?”

“Aku tidak tahu.”

“Lalu Raka?”

“Kamu tetap ayahnya. Kamu boleh bertemu dengannya kapan saja selama tidak mengganggu sekolahnya.”

Matanya memerah.

“Apa benar tidak ada kesempatan lagi?”

Aku memandang laki-laki yang pernah kukejar selama hampir sepuluh tahun.

“Ada.”

Dia menatapku penuh harap.

“Tapi kali ini bukan aku yang harus membuktikan sesuatu.”

Enam bulan berlalu.

Ardi tidak jadi pindah ke Surabaya.

Kami masih tinggal terpisah, tetapi dia datang hampir setiap hari untuk menemui Raka. Perlahan, dia mulai melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama pernikahan kami.

Mendengarkan.

Bukan hanya kepadaku, tetapi juga kepada anaknya.

Suatu sore, hujan turun deras ketika aku selesai mengajar.

Aku berdiri di depan sekolah sambil melihat air membasahi halaman.

Pemandangan itu mengingatkanku pada hari wisuda Raka.

Namun kali ini aku tidak menunggu siapa pun.

Aku membuka payung dan berjalan menuju mobil putihku.

Tiba-tiba terdengar suara Raka.

“Mama!”

Dia berlari dari pos satpam bersama Ardi.

Rupanya Ardi menjemputnya dari kelas tambahan.

Ardi berhenti beberapa langkah dariku.

“Aku tadi mau mengantar Raka pulang. Tapi dia bilang mau tunggu Mama.”

Aku tersenyum.

“Terima kasih.”

Ardi mengangguk.

Tidak ada permintaan agar aku kembali.

Tidak ada janji besar.

Dia hanya membuka payung dan memayungi Raka sampai anak kami masuk ke mobilku.

Sebelum aku menutup pintu, Raka menatap ayahnya.

“Ayah enggak ikut?”

Ardi tersenyum kecil.

“Belum, Nak.”

Raka kemudian menatapku.

“Kenapa belum?”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Ardi justru berkata pelan, “Karena Ayah masih belajar jadi orang yang pantas diajak pulang.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang berbeda di wajahnya.

Bukan ketakutan kehilangan.

Melainkan kesadaran.

Aku tidak tahu apakah pernikahan kami akhirnya akan kembali utuh. Beberapa luka tidak sembuh hanya karena seseorang meminta maaf. Kepercayaan juga tidak tumbuh dari janji, melainkan dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.

Aku menyalakan mesin.

Sebelum pergi, kuturunkan kaca jendela.

“Ardi.”

Dia menoleh.

“Besok Raka ada pentas jam sepuluh.”

“Aku tahu. Aku akan datang jam sembilan.”

Aku mengangguk.

Mobil mulai bergerak.

Raka duduk di sebelahku sambil melihat hujan dari jendela.

“Mama.”

“Ya?”

“Kalau Ayah sudah belajar, nanti boleh pulang lagi?”

Aku tersenyum sambil menggenggam kemudi.

“Mungkin.”

“Tapi kalau belum?”

Aku menatap jalan di depan kami.

“Kalau belum, kita tetap bisa pulang sendiri.”

Raka mengangguk seolah jawaban itu sangat sederhana.

Dan mungkin memang sesederhana itu.

Dulu aku mengira cinta berarti menunggu seseorang memilihku.

Menunggu dia pulang.

Menunggu dia berubah.

Menunggu dia memahami apa yang kubutuhkan tanpa pernah benar-benar berusaha memahaminya.

Hujan deras pada hari wisuda Raka mengajariku sesuatu yang tidak kupelajari selama tujuh tahun pernikahan.

Kadang-kadang, orang baru menyadari nilai kehadiranmu ketika kamu berhenti menunggu.

Dan kadang-kadang, keputusan paling penting dalam hidup bukan tentang siapa yang akan datang menjemputmu.

Melainkan tentang kapan kamu akhirnya berani memegang kemudi sendiri dan pulang tanpa menunggu siapa pun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang