BEBERAPA JAM SEBELUM PERNIKAHAN, MEREKA SEPAKAT UNTUK MENGHANCURKAN

“Sayang,” ucapku saat suara berat Alexander terdengar di seberang telepon. Suaraku sangat tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mendapati seluruh gaun pernikahannya hancur. “Ibu tiri dan kedua saudaraku baru saja menghancurkan keempat gaun dari Paris. Semuanya robek dan berlumuran cat hitam.”

Keheningan mencekam terjadi di seberang sana selama dua detik, sebelum suara Alexander berubah menjadi sedingin es yang mampu membekukan ruangan. “Aku akan mengirim tim keamanan sekarang juga untuk menyeret mereka keluar dari hotel, Isabella. Dan aku akan menerbangkan desainer baru—”

“Tidak, Alex. Jangan lakukan apa-apa pada mereka sekarang,” potongku cepat. “Biarkan mereka pergi ke katedral. Biarkan mereka duduk di barisan depan dengan senyum kemenangan mereka. Aku punya rencana yang jauh lebih baik. Tapi, aku butuh bantuanmu untuk satu hal. Apakah gaun itu… masih ada di brankas pribadimu?”

Alexander terdiam sejenak, lalu embusan napas lega terdengar. Sebuah tawa rendah dan penuh kekaguman lolos dari bibirnya. “Gaun pengantin ibumu? Sutra murni berhias berlian warisan keluarga yang nilainya tak ternilai? Ya, sayang. Gaun itu ada bersamaku. Aku tahu apa yang ingin kamu lakukan. Aku akan meminta asisten pribadiku mengantarkannya ke kamarmu dalam waktu tiga puluh menit, lengkap dengan dokumen itu.”

“Terima kasih, Alex. Sampai jumpa di altar.”

Aku menutup telepon. Air mataku tidak lagi menetes karena kesedihan, melainkan karena rasa keadilan yang menuntut untuk ditegakkan. Ibu tiriku mengira dia telah memenangkan segalanya setelah kematian ayahku. Dia mengira dia telah menghapus seluruh jejak ibu kandungku dari rumah dan perusahaan. Dia salah besar.

GAUN YANG MENGUBAH SEGALANYA

Tepat tiga puluh menit kemudian, sebuah kotak besar berbahan beludru hitam tiba di kamarku, dijaga oleh empat pengawal pribadi Alexander. Di dalamnya, terbaring sebuah mahakarya.

Itu adalah gaun pengantin ibu kandungku. Gaun itu terbuat dari sutra sutra terbaik yang ditenun khusus, dengan sulaman benang emas murni dan ratusan permata kecil yang dijahit dengan tangan. Ibu kandungku adalah putri dari pemilik sah pertama perusahaan Real Estate ayahku—dialah pemilik modal dan kekuatan hukum yang sebenarnya di masa lalu. Gaun ini bukan sekadar pakaian; ini adalah simbol kekuasaan, keanggunan, dan hak waris yang sah.

Saat aku mengenakannya, gaun itu melekat sempurna di tubuhku, seolah-olah roh ibuku hadir untuk melindungiku. Bersama gaun itu, asisten Alexander juga menyerahkan sebuah map kulit hitam tebal.

“Nona Isabella, Tuan Alexander telah menyelesaikan audit forensik yang Anda minta bulan lalu,” kata asisten itu sambil membungkuk hormat. “Semua bukti penyelewengan dana, pemalsuan tanda tangan surat wasiat ayah Anda yang dilakukan Donya Matilda, serta transfer ilegal ke rekening pribadi Fiona dan Gwen sudah lengkap di dalam sini. Kuasa hukum kami sudah bersiap di katedral.”

Aku menatap pantulan diriku di cermin. Sempurna. Anggun. Dan mematikan. “Mari kita mulai pertunjukannya,” bisikku.

KEJUTAN DI ALTAR KATEDRAL

Katedral Santo Paul dipadati oleh lima ratus tamu VIP—mulai dari pejabat tinggi negara, pebisnis internasional, hingga para jurnalis papan atas. Di barisan paling depan sebelah kanan, Donya Matilda, Fiona, dan Gwen duduk dengan dagu terangkat tinggi. Mereka saling berbisik sambil sesekali menahan tawa, tidak sabar melihat drama pembatalan pernikahan atau penampilanku yang hancur.

Musik organ yang megah mulai menggema, menandakan pengantin wanita akan segera masuk.

Pintu besar katedral terbuka perlahan. Sorot lampu dan kamera langsung mengarah kepadaku.

Saat aku melangkah masuk, seluruh ruangan mendadak hening seketika, disusul oleh gumaman kekaguman yang luar biasa dari para tamu. Aku berjalan dengan langkah tegak, kepala mendongak, memancarkan aura seorang ratu yang sesungguhnya. Gaun sutra emas yang kukenakan berkilau begitu mewah di bawah cahaya lampu katedral, jauh lebih megah dan sarat akan sejarah dibanding gaun modern mana pun dari Paris.

Di barisan depan, senyuman di wajah Donya Matilda langsung lenyap. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi bak mayat.

“Ti… tidak mungkin!” bisik Matilda dengan bibir bergetar. Dia mengenali gaun itu. Itu adalah gaun milik wanita yang posisinya dia rebut bertahun-tahun lalu.

Fiona dan Gwen membelalakkan mata, cangkir teh di tangan Gwen hampir saja terjatuh. Rencana mereka untuk mempermalukanku di depan dunia justru berbalik menjadi panggung kemegahanku. Aku menatap lurus ke arah mereka saat berjalan melewati barisan mereka, memberikan senyuman paling dingin yang pernah mereka lihat.

Di ujung altar, Alexander berdiri dengan setelan tuksedo hitamnya yang gagah. Matanya menatapku dengan binar penuh cinta dan kebanggaan. Dia mengulurkan tangannya, menyambutku di sisinya.

RUNTUHNYA SEBUAH KERAJAAN KESOMBONGAN

Upacara pernikahan berlangsung dengan sakral dan megah. Namun, pembalasan dendam yang sesungguhnya baru dimulai saat kami berbalik untuk menghadap para tamu sebagai sepasang suami istri.

Alexander mengambil mikrofon dari podium. Suaranya menggema tegas di seluruh penjuru katedral.

“Para tamu yang terhormat, terima kasih telah menghadiri hari kebahagiaan kami,” kata Alexander, pandangannya menyapu ruangan sebelum terkunci pada tiga wanita di barisan depan. “Hari ini, istriku, Isabella, tidak hanya merayakan awal kehidupan barunya bersamaku. Tetapi dia juga merayakan kembalinya hak yang selama ini dirampas darinya.”

Alexander memberi isyarat ke layar proyektor besar di belakang altar—layar yang seharusnya menampilkan video romantis perjalanan cinta kami. Namun, yang muncul di layar justru adalah dokumen-dokumen hukum, laporan mutasi rekening bank, dan surat wasiat asli ayahku yang belum dipalsukan.

Seluruh jurnalis langsung berdiri, kilatan lampu kamera berkedip tanpa henti ke arah layar dan ke arah Donya Matilda.

“Tiga jam yang lalu, Donya Matilda, Fiona, dan Gwen mencoba menghancurkan pernikahan ini dengan merusak empat gaun pengantin istriku,” lanjut Alexander dengan nada tenang namun mematikan. “Namun tindakan kriminal mereka tidak berhenti di situ. Dokumen di layar adalah bukti autentik bahwa Donya Matilda telah memalsukan surat wasiat mendiang ayah Isabella, menguras aset Konglomerat Real Estate, dan melakukan pencucian uang bersama kedua anaknya.”

“Itu bohong! Itu fitnah!” teriak Donya Matilda sambil berdiri, wajahnya merah padam karena malu dan murka. Fiona dan Gwen mulai menangis histeris, mencoba menutupi wajah mereka dari jepretan kamera jurnalis yang kini mengepung mereka.

“Bohong?” Aku mengambil mikrofon dari tangan suaraku, menatap ibu tiriku dengan tatapan tajam. “Gaun yang aku kenakan saat ini adalah milik ibu kandungku, pemilik sah dari fondasi kekayaan keluarga kita. Dan berdasarkan surat wasiat asli yang disahkan oleh notaris pribadi ayahku sebelum beliau wafat, 85% saham utama perusahaan jatuh kepadaku, bukan kepadamu, Matilda.”

Tepat setelah kalimat itu terucap, pintu belakang katedral terbuka. Enam petugas kepolisian berseragam lengkap masuk dan berjalan cepat menyusuri lorong altar, langsung menuju ke arah tempat duduk mereka.

“Nyonya Matilda, Nona Fiona, dan Nona Gwen, Anda ditahan atas tuduhan pemalsuan dokumen negara, penggelapan aset korporasi, dan perusakan barang milik orang lain,” ujar kepala polisi dengan tegas di hadapan seluruh tamu undangan.

Donya Matilda lemas dan terduduk di lantai, meruntuhkan seluruh gaun desainer mahalnya yang kini tampak tak berarti. Fiona dan Gwen menjerit-jerit saat borgol besi melingkari pergelangan tangan mereka, diseret keluar dari katedral mewah itu di depan kamera seluruh media nasional yang menyiarkan acara tersebut secara langsung.

Kerajaan kesombongan yang mereka bangun di atas penderitaanku selama dua tahun terakhir runtuh total dalam hitungan menit, tepat di hari yang mereka kira akan menjadi hari kehancuranku.

Alexander merangkul pinggangku dengan erat, mengecup keningku dengan lembut di tengah gemuruh tepuk tangan para tamu yang mengagumi keberanian kami. Aku menatap kepergian ketiga wanita itu untuk terakhir kalinya. Mereka ingin menghancurkan gaun pengantinku, namun mereka lupa, bahwa singgasana seorang ratu tidak ditentukan oleh apa yang dihancurkan musuhnya, melainkan oleh bagaimana dia bangkit dan merebut kembali mahkotanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang