Anak laki-laki itu tidak langsung menjawab. Dia menatap saya dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca, lalu dengan perlahan membuka kepalan tangan kanannya. Di sana ada secarik kertas yang sudah lecek dan agak basah oleh keringatnya. Dengan tangan yang gemetar, dia mengulurkan kertas itu kepada saya.
Saya menerimanya dengan jantung yang bertalu-talu. Di atas kertas itu, tertulis nama, nomor telepon, dan alamat rumah saya dengan tulisan tangan yang sangat rapi. Tulisan tangan yang langsung membuat dada saya sesak, karena saya tahu persis siapa pemiliknya: Cassandra.

Di bawah nomor telepon saya, ada pesan singkat yang ditulis dengan tinta yang sudah agak memudar:
“Jika terjadi sesuatu padaku, tolong cari Clara. Dia adalah belahan jiwaku, dan dia akan menjagamu seperti diriku sendiri.”
“Ibuku… Ibu Cassandra selalu bilang kalau aku punya seorang Tante yang hebat,” suara anak itu memecah keheningan, terdengar sangat kecil dan serak. “Nama saya Leo, Tante Clara. Ibu bilang, kalau Ibu sudah tidak ada, aku harus menemukan Tante.”
Mendengar nama Cassandra disebut dari mulut anak itu, lutut saya benar-benar lemas. Saya terduduk di kursi di samping ranjangnya. “Leo… bagaimana mungkin? I-Ibumu… Cassandra… dia sudah tiada tujuh tahun yang lalu.”
Leo menggelengkan kepalanya yang diperban. “Ibu baru meninggal dua minggu yang lalu di desa, Tante. Ibu sakit keras. Sebelum meninggal, Ibu memberikan kertas ini dan menyuruhku naik bus ke kota untuk mencari alamat Tante. Tapi di tengah jalan, busnya kecelakaan…”
Kebenaran yang Terkubur Seven Tahun
Otak saya berputar keras, mencoba menyatukan kepingan teka-teki yang mustahil ini. Tujuh tahun lalu, polisi menyatakan Cassandra tewas dalam kebakaran hebat di rumahnya. Jenazahnya ditemukan hangus terbakar, dan kami—saya dan orang tua kami—menguburkannya dengan kesedihan yang mendalam. Bagaimana mungkin dia baru meninggal dua minggu yang lalu? Dan bagaimana mungkin dia memiliki seorang anak berusia tujuh tahun?
Tiba-tiba, sebuah ingatan masa lalu menghantam saya seperti gada berat.
Tujuh tahun lalu, sebelum kebakaran itu terjadi, Cassandra menjalin hubungan dengan seorang pria dari keluarga konglomerat yang sangat berkuasa di kota ini. Hubungan mereka ditentang habis-habisan. Keluarga pria itu bahkan mengancam akan menghancurkan hidup Cassandra jika dia tidak menjauh. Tidak lama setelah ancaman itu, Cassandra memberi tahu saya bahwa dia hamil. Dan hanya berselang beberapa minggu kemudian, rumahnya terbakar habis.
Apakah kebakaran itu disengaja? Apakah Cassandra memalsukan kematiannya demi melindungi bayinya dari keluarga kejam itu?
Jawabannya ada di depan mata saya. Cassandra melarikan diri, menyembunyikan dirinya dan Leo di sebuah desa terpencil, membiarkan seluruh dunia—termasuk saya—mengira dia sudah mati, agar anak ini bisa tumbuh dengan aman.
Keputusan yang Mengubah Segalanya
Saya menatap Leo. Di dalam dirinya, mengalir darah Cassandra, saudari kembar yang sangat saya rindukan. Tanda lahir di bawah alisnya, caranya memandang saya, semuanya adalah bagian dari Cassandra yang dikembalikan hidup-hidup ke dalam dunia saya yang dingin dan kaku.
Saya mendekatinya, lalu memeluk tubuh kecilnya yang masih gemetar dengan erat. “Maafkan Tante, Leo. Maaf karena Tante tidak tahu keberadaanmu selama ini. Tapi sekarang, kamu aman. Tante ada di sini.”
Leo menangis terisak di bahu saya, menumpahkan segala ketakutan dan kelelahan yang dipendamnya sendirian selama perjalanan jauhnya.
Pintu kamar UGD mendadak terbuka, memecah momen emosional kami. Seorang dokter masuk bersama dua orang polisi yang tampaknya sedang mendata korban kecelakaan bus.
“Nona Clara? Apakah benar anak ini adalah kerabat Anda?” tanya salah satu polisi sembari membawa papan klip.
Saya menghapus air mata di pipi saya, lalu berdiri tegak dengan tatapan mata yang penuh keyakinan. Naluri pelindung di dalam diri saya yang selama 32 tahun ini tertidur, tiba-tiba bangkit dengan kekuatan penuh. Saya tahu, dengan mengadopsi Leo, kehidupan lajang saya yang tenang, teratur, dan bebas akan berakhir. Saya tahu, bahaya dari masa lalu Cassandra mungkin saja akan mengintai kami jika keluarga pria itu tahu tentang keberadaan Leo.
Namun, menatap mata cokelat Leo yang teduh, tidak ada sedikit pun keraguan di hati saya.
“Ya, dia keponakan saya,” jawab saya dengan suara tegas dan lantang kepada polisi. “Dia adalah putra dari saudari saya. Mulai malam ini, dia adalah tanggung jawab saya sepenuhnya.”
Dunia saya memang telah berhenti malam itu, namun di saat yang sama, sebuah babak baru yang penuh perjuangan dan kasih sayang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
