Ibu tirinya memaksanya menikah dengan pengemis di daerah itu untuk mempermalukannya, tetapi beberapa bulan kemudian, ia mengetahui siapa sebenarnya pria tersebut—dan akhirnya memohon di depan semua orang atas apa yang telah dilakukannya.

Ucapan pria itu terus terngiang di kepala ibu tirinya bahkan setelah gerbang tertutup.

“Nikmati rumah ini selama Ibu masih bisa.”

Untuk beberapa detik, halaman rumah yang tadi dipenuhi bisikan dan tawa mendadak terasa sunyi.

Ibu tirinya berusaha tertawa lagi.

“Dasar orang gila,” katanya keras, seolah ingin memastikan semua orang mendengarnya. “Baru menikah sudah berani mengancam.”

Beberapa tetangga ikut tersenyum canggung.

Namun di balik wajah angkuhnya, ada sesuatu yang mulai mengganggunya.

Tatapan pria itu.

Terlalu tenang.

Terlalu yakin.

Bukan tatapan orang yang tidak mengerti apa-apa.

Sementara itu, gadis bernama Alya berjalan di samping suaminya menyusuri jalan sempit menuju bangunan terbengkalai di ujung kawasan.

Namanya Arman.

Setidaknya, itulah satu-satunya nama yang diketahui orang-orang.

Alya menggenggam tas kecil berisi dua potong pakaian, sebuah buku catatan milik ayahnya, dan foto lama ibunya.

Tak ada perhiasan.

Tak ada uang.

Tak ada satu pun barang berharga yang boleh dibawanya keluar dari rumah.

Mereka berjalan hampir lima belas menit tanpa berbicara.

Semakin jauh dari rumah itu, semakin berat langkah Alya.

Bukan karena menyesal sudah pergi.

Melainkan karena ia sadar hidup yang dikenalnya benar-benar telah berakhir.

Ketika mereka sampai di bangunan tempat Arman selama ini tinggal, Alya berhenti.

Bangunan itu dulunya sebuah bengkel tua. Cat temboknya terkelupas, sebagian jendela pecah, dan pintunya bahkan tidak dapat dikunci dengan benar.

Arman membuka pintu.

“Maaf,” katanya. “Tempatnya memang tidak layak.”

Alya masuk perlahan.

Ia terkejut.

Bagian dalam ruangan ternyata jauh lebih bersih daripada yang ia bayangkan.

Ada kasur tipis, meja kecil, kompor portabel, rak berisi beberapa buku, dan sebuah lemari kayu tua.

Di sudut ruangan terdapat dua kursi yang tampaknya baru dibersihkan.

Arman meletakkan tas Alya.

“Kamu bisa tidur di kasur. Aku akan tidur di kursi.”

Alya menatapnya.

“Kita sudah menikah.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa?”

Arman menarik salah satu kursi dan duduk.

“Karena aku juga tahu kamu tidak pernah memilih pernikahan ini.”

Alya terdiam.

Sepanjang hidupnya setelah ayah meninggal, hampir tidak ada orang yang peduli apakah ia menginginkan sesuatu atau tidak.

Anehnya, orang pertama yang mempertimbangkan perasaannya justru seorang pria yang oleh seluruh daerah dianggap pengemis gila.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Alya tidur tanpa mendengar bentakan ibu tirinya.

Namun ia juga hampir tidak bisa memejamkan mata.

Pikirannya penuh pertanyaan.

Pagi berikutnya, ia terbangun karena suara pintu.

Arman baru pulang.

Pakaiannya berbeda dari pakaian lusuh yang biasanya ia kenakan.

Ia memakai celana panjang hitam dan kemeja abu-abu sederhana.

Di tangannya ada dua bungkus nasi uduk dan kopi.

Alya memandangnya heran.

“Kamu dari mana?”

“Bekerja.”

“Kerja apa?”

Arman berhenti sejenak.

“Macam-macam.”

Jawaban itu terlalu singkat.

Namun Alya tidak bertanya lagi.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan aneh.

Setiap pagi Arman pergi sebelum pukul tujuh dan pulang menjelang sore.

Kadang ia membawa bahan makanan.

Kadang membawa uang untuk memperbaiki bagian atap yang bocor.

Seminggu kemudian, ia mengganti pintu yang rusak.

Dua minggu setelah itu, ia memasang kaca baru pada jendela.

Pelan-pelan, bangunan terbengkalai itu berubah menjadi tempat tinggal yang sederhana tetapi nyaman.

Yang lebih membingungkan Alya adalah cara Arman berbicara.

Ia membaca koran bisnis.

Ia memahami laporan keuangan.

Ia bisa menjelaskan perbedaan antara saham, aset, utang perusahaan, dan struktur kepemilikan dengan begitu mudah.

Suatu malam, Alya sedang membuka buku catatan ayahnya ketika Arman duduk di seberangnya.

“Apa itu?”

“Catatan Ayah.”

Arman melihat sampulnya.

“Boleh aku melihat?”

Alya ragu, lalu menyerahkannya.

Arman membaca beberapa halaman.

Wajahnya berubah.

“Alya, kamu tahu apa arti angka-angka ini?”

“Tidak semuanya.”

Arman menunjuk beberapa catatan.

“Ini bukan catatan biasa. Ayahmu mencatat kepemilikan saham perusahaan tekstil.”

Alya mendekat.

Arman menunjuk sebuah tulisan tangan.

“Empat puluh persen saham atas namamu.”

Alya membeku.

“Apa?”

“Dan ada aset berupa dua gudang serta tanah pabrik yang juga seharusnya menjadi bagian warisanmu.”

Alya menarik buku itu dari tangannya.

“Tidak mungkin. Ibu tiriku bilang hampir semuanya milik perusahaan dan dia yang menjadi pemegang saham utama.”

“Dia bohong.”

Suara Arman berubah dingin.

Alya menatapnya.

“Kamu tahu dari mana?”

Arman tidak langsung menjawab.

Ia berdiri dan berjalan menuju lemari.

Dari sana ia mengambil sebuah laptop tipis.

Alya tercengang.

Laptop itu jelas bukan barang murah.

Arman membukanya.

Beberapa menit kemudian, layar menampilkan data perusahaan milik keluarganya.

Alya merasa tengkuknya merinding.

“Bagaimana kamu bisa mengakses ini?”

Arman menatapnya lama.

“Aku pernah bekerja di bidang audit dan investigasi keuangan.”

“Pernah?”

“Ya.”

“Kenapa sekarang kamu tinggal seperti ini?”

Arman menutup laptop.

“Karena hidupku pernah berantakan.”

Alya menunggu.

Arman akhirnya berbicara.

Tiga tahun sebelumnya, ia bekerja sebagai konsultan keuangan di Jakarta. Salah satu klien yang ia tangani ternyata melakukan penggelapan pajak dan pencucian uang.

Arman menemukan bukti.

Namun ketika ia hendak melaporkannya, justru dirinya yang dijadikan kambing hitam.

Nama baiknya hancur.

Rekeningnya dibekukan selama penyelidikan.

Ia kehilangan pekerjaan.

Kemudian ibunya sakit keras.

Dalam beberapa bulan, hampir seluruh simpanannya habis untuk pengobatan.

Ibunya meninggal.

Setelah itu, Arman meninggalkan Jakarta.

“Aku datang ke daerah ini karena seseorang yang pernah menolongku tinggal di sini,” katanya.

“Siapa?”

“Ayahmu.”

Jantung Alya seperti berhenti.

“Ayahku?”

Arman mengangguk.

“Tiga tahun lalu, ketika hampir semua orang percaya aku penipu, ayahmu tidak.”

Alya menahan napas.

“Ayahmu membantuku mendapatkan pengacara. Dia bahkan membayar sebagian biaya perkara.”

“Kenapa Ayah tidak pernah cerita?”

“Karena aku memintanya.”

Arman menunduk.

“Kasus itu akhirnya selesai. Aku dinyatakan tidak bersalah. Tapi saat semuanya selesai, aku sudah kehilangan hampir semua yang kumiliki.”

“Lalu kenapa kamu masih berpura-pura menjadi pengemis?”

“Aku tidak berpura-pura.”

Arman tersenyum tipis.

“Untuk waktu yang cukup lama, aku memang tidak punya apa-apa.”

Ia lalu menatap Alya.

“Tapi enam bulan lalu, perusahaan tempatku dulu bekerja memintaku kembali sebagai konsultan independen.”

Alya merasa kepalanya semakin penuh.

“Jadi selama ini…”

“Aku bisa pindah kapan saja.”

“Kenapa tidak pindah?”

Arman menghela napas.

“Karena sebelum ayahmu meninggal, dia meneleponku.”

Alya menegang.

“Apa katanya?”

“Dia bilang ada sesuatu yang tidak beres di rumahnya.”

Arman mengambil ponselnya.

Kemudian ia memutar sebuah rekaman suara.

Suara ayah Alya terdengar.

Lemah.

Namun jelas.

“Man, kalau sesuatu terjadi padaku, tolong awasi Alya. Aku curiga ada dokumen yang sedang diubah tanpa sepengetahuanku.”

Mata Alya langsung dipenuhi air.

Ia mengenali suara itu.

Suara ayahnya.

Arman menghentikan rekaman.

“Aku terlambat. Saat aku datang, ayahmu sudah meninggal.”

“Kenapa kamu tidak langsung menemuiku?”

“Karena aku tidak punya bukti. Dan aku ingin tahu siapa yang terlibat.”

Arman lalu menjelaskan bahwa selama berbulan-bulan ia sengaja tinggal di sekitar daerah itu.

Sebagai orang yang dianggap tidak penting, ia bisa melihat banyak hal tanpa dicurigai.

Ia melihat beberapa orang keluar masuk rumah.

Ia mencatat nomor kendaraan.

Ia mengetahui ibu tiri Alya beberapa kali bertemu seorang notaris dan mantan pengacara ayah Alya.

“Dan ketika dia memaksamu menikah denganku,” ujar Arman, “dia justru memberiku kesempatan untuk membawamu keluar dari rumah itu tanpa menimbulkan kecurigaan.”

Alya tidak tahu harus menangis atau marah.

“Kamu seharusnya memberitahuku.”

“Aku tahu.”

“Sejak awal.”

“Aku tahu.”

“Bagaimana kalau aku menolak menikah?”

“Aku sudah menyiapkan cara lain.”

Alya berdiri.

“Jadi pernikahan ini juga bagian dari rencanamu?”

Arman ikut berdiri.

“Tidak.”

Alya menatap tajam.

“Lalu apa?”

Arman terlihat kesulitan menjawab.

“Aku menikahimu karena aku tidak ingin kamu diusir sendirian tanpa perlindungan hukum apa pun.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang keputusan tetap milikmu. Kalau semua ini selesai dan kamu ingin pergi, aku tidak akan menahanmu.”

Alya tidak menjawab.

Tiga bulan berikutnya mengubah segalanya.

Arman menghubungi pengacara independen di Jakarta.

Mereka memeriksa dokumen perusahaan.

Hasilnya mengejutkan.

Beberapa tanda tangan ayah Alya ternyata dipalsukan.

Sebagian saham dipindahkan hanya beberapa hari setelah ayahnya dirawat di rumah sakit.

Ada pula transaksi besar dari rekening perusahaan menuju rekening pribadi ibu tirinya.

Yang lebih buruk, pengacara lama keluarga ternyata ikut membantu memalsukan dokumen.

Namun Arman meminta Alya tetap diam.

“Kita tidak cukup hanya membuktikan bahwa dia bersalah,” katanya. “Kita harus membuatnya tidak punya jalan untuk menyangkal.”

Kesempatan itu datang ketika perusahaan keluarga mengadakan pertemuan besar tahunan.

Ibu tiri Alya mengundang pemegang saham, pemasok, pejabat bank, dan beberapa tokoh masyarakat.

Ia berencana mengumumkan pembukaan cabang baru.

Alya tidak diundang.

Tentu saja.

Namun tepat ketika acara dimulai, tiga mobil hitam berhenti di depan gedung.

Alya keluar dari mobil pertama.

Ia mengenakan setelan sederhana berwarna krem.

Arman berjalan di sampingnya.

Tidak ada pakaian lusuh.

Tidak ada sepatu rusak.

Ia mengenakan setelan gelap yang membuat hampir semua orang di ruangan sulit mengenalinya.

Ibu tiri Alya berdiri dari kursinya.

“Apa yang kalian lakukan di sini?”

Arman tersenyum.

“Menghadiri rapat pemegang saham.”

Tawa kecil terdengar.

Ibu tirinya ikut tertawa.

“Pemegang saham? Kamu?”

Arman tidak menjawab.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun keluar dari rombongan.

Ia memperkenalkan diri sebagai pengacara perusahaan yang baru ditunjuk.

Kemudian ia membuka sebuah map.

“Berdasarkan dokumen legal yang telah diverifikasi ulang, Saudari Alya merupakan pemilik sah empat puluh persen saham perusahaan.”

Ruangan mendadak senyap.

Wajah ibu tirinya berubah.

“Itu bohong.”

“Selain itu,” lanjut pengacara tersebut, “dua gudang utama dan tanah pabrik tercatat sebagai aset warisan yang tidak pernah secara sah dialihkan.”

“Bohong!”

Ibu tirinya mulai berteriak.

Arman mengangkat tangan.

Layar besar di belakang panggung menyala.

Satu per satu bukti ditampilkan.

Tanda tangan palsu.

Tanggal transaksi.

Rekaman kamera bank.

Riwayat transfer.

Pesan antara ibu tirinya dan pengacara lama keluarga.

Wajah wanita itu kehilangan seluruh warnanya.

Lalu dua petugas kepolisian masuk bersama seorang penyidik.

Barulah wanita itu benar-benar panik.

Ia menoleh kepada Alya.

“Alya…”

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, suaranya tidak terdengar angkuh.

“Alya, kita bisa membicarakan ini di rumah.”

Alya hanya menatapnya.

“Rumah?”

Wanita itu mulai berjalan mendekat.

“Aku memang melakukan beberapa kesalahan. Tapi semua itu karena perusahaan sedang kacau setelah ayahmu meninggal.”

Arman berkata tenang,

“Ayah Alya sudah mencurigai Anda bahkan sebelum meninggal.”

Wanita itu membeku.

Arman memutar rekaman suara.

Suara mendiang ayah Alya memenuhi ruangan.

Kali ini bukan hanya tentang dokumen.

“Aku mulai curiga pada istriku. Kalau benar tanda tanganku dipalsukan, aku ingin semua aset Alya dilindungi. Jangan biarkan anakku kehilangan haknya.”

Tangis kecil terdengar dari beberapa orang.

Wajah ibu tiri Alya benar-benar runtuh.

Ia melihat sekeliling.

Tetangga yang dulu diam.

Pengusaha yang biasa menjabat tangannya.

Orang-orang yang selama ini memujinya sebagai wanita dermawan.

Semuanya memandangnya.

Tidak ada lagi tempat bersembunyi.

Tiba-tiba ia berlutut.

“Alya.”

Alya terkejut.

Wanita yang selama ini tidak pernah meminta maaf kini berlutut di hadapannya.

“Tolong.”

Tangannya gemetar.

“Aku akan mengembalikan semuanya. Rumah itu, uangmu, perhiasan ibumu. Semua. Tolong cabut laporan ini.”

Alya menatap wanita tersebut dalam diam.

“Aku membesarkanmu,” lanjutnya sambil menangis. “Setidaknya ingat itu.”

Alya akhirnya berbicara.

“Ibu tidak membesarkanku.”

Wanita itu menatapnya.

“Ayah yang membesarkanku. Ibu hanya tinggal di rumah yang sama.”

Air mata wanita itu jatuh.

“Alya…”

“Ketika Ayah meninggal, aku kehilangan Ayah. Tapi setelah itu, Ibu berusaha membuatku kehilangan diriku sendiri.”

Ruangan kembali sunyi.

“Aku tidak akan membalas Ibu dengan melakukan hal yang sama,” lanjut Alya. “Aku tidak akan mengambil hak Ibu yang memang sah. Tapi aku juga tidak akan melindungi Ibu dari akibat perbuatan sendiri.”

Polisi kemudian membawa wanita itu pergi bersama pengacara yang terlibat.

Beberapa bulan kemudian, pengadilan membatalkan seluruh transaksi ilegal.

Alya mendapatkan kembali saham, rumah, aset, serta sebagian besar harta peninggalan ayahnya.

Namun ia tidak kembali tinggal di rumah besar itu.

Ia menjualnya.

Sebagian uang hasil penjualan digunakan untuk memperbaiki perusahaan.

Sebagian lainnya ia gunakan untuk mendirikan lembaga bantuan hukum bagi perempuan muda yang kehilangan hak waris karena manipulasi keluarga.

Bangunan terbengkalai tempat ia tinggal bersama Arman juga tidak pernah ia lupakan.

Tempat itu direnovasi.

Bukan menjadi rumah mewah.

Melainkan menjadi kantor pertama lembaga tersebut.

Pada hari peresmian, Alya berdiri di depan pintu sambil melihat papan nama yang baru dipasang.

Arman datang membawa dua gelas kopi.

“Masih ingin menceraikan pengemis yang dipaksakan menikah denganmu?”

Alya menoleh.

“Siapa bilang aku pernah ingin bercerai?”

Arman terdiam.

Alya tersenyum.

“Tapi ada satu masalah.”

“Apa?”

“Aku baru tahu suamiku ternyata bukan pengemis.”

Arman tertawa kecil.

“Kecewa?”

“Lumayan.”

“Kenapa?”

Alya menerima kopi dari tangannya.

“Karena aku sudah telanjur jatuh cinta pada pria miskin yang tidur di bengkel rusak.”

Arman menatapnya lama.

“Kalau begitu aku bisa kembali tidur di lantai kalau itu membuatmu senang.”

Alya tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah kematian ayahnya, tawa itu benar-benar terasa ringan.

Beberapa saat kemudian, ia memandang bangunan di hadapannya.

Dulu tempat itu dianggap simbol kehinaan.

Tempat seorang wanita muda dibuang setelah dipaksa menikah dengan pria yang dianggap tidak memiliki apa-apa.

Kini justru dari tempat itu hidupnya dimulai kembali.

Alya akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh kekayaan keluarganya.

Seseorang tidak menjadi miskin hanya karena tidak memiliki rumah besar, pakaian mahal, atau rekening penuh uang.

Dan seseorang tidak menjadi terhormat hanya karena memiliki semuanya.

Kadang-kadang, orang yang terlihat tidak memiliki apa pun justru menyimpan harga diri terbesar.

Sedangkan orang yang berdiri paling tinggi bisa kehilangan segalanya hanya karena keserakahannya sendiri.

Arman menggenggam tangan Alya.

Mereka masuk bersama ke dalam bangunan itu.

Di dinding dekat pintu, Alya memasang satu kalimat dari buku catatan ayahnya.

Bukan tentang bisnis.

Bukan tentang warisan.

Hanya sebuah kalimat sederhana yang baru ia pahami setelah kehilangan hampir semuanya.

“Harta bisa direbut. Rumah bisa berpindah tangan. Tetapi selama kamu masih mampu memilih siapa dirimu, belum ada seorang pun yang benar-benar berhasil menghancurkanmu.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang