Suara rekaman itu berhenti.
Namun kalimat terakhir Seo-yeon seperti masih bergema di seluruh kamar bayi.
Jangan percaya siapa pun di rumah ini.
Tae-hyun tidak bergerak.
Perekam kecil di tangannya terasa lebih berat daripada batu. Napasnya pendek, sementara pandangannya perlahan beralih kepada ibunya.
Choi Mi-sook berdiri beberapa langkah darinya dengan wajah pucat.

“Ibu,” suara Tae-hyun terdengar serak. “Apa maksud semua ini?”
Mi-sook menggigit bibir.
“Itu rekaman lama.”
“Lama?”
“Seo-yeon sedang sakit. Dia tidak berpikir jernih.”
Tae-hyun tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa tidak mengenal perempuan yang membesarkannya.
“Aku sendiri memasukkan gelang itu ke peti matinya.”
Mi-sook tidak menjawab.
Tae-hyun menatap Ha-eun.
“Dan gelang itu sekarang ada padamu.”
Ha-eun menarik napas dalam-dalam.
“Karena peti mati itu kosong.”
Kalimat itu membuat kaki Tae-hyun hampir kehilangan tenaga.
“Apa?”
“Tidak ada jasad istri Anda di dalamnya.”
Mi-sook tiba-tiba maju.
“Jangan dengarkan perempuan ini!”
“Diam!”
Bentakan Tae-hyun membuat kedua bayi terkejut dan mulai menangis.
Mi-sook membeku.
Selama tiga puluh enam tahun, Tae-hyun tidak pernah membentaknya.
Ha-eun segera mendekati Ji-ho dan Ji-woo. Dia menggendong Ji-woo sambil kembali menyenandungkan lagu yang sama.
Anehnya, bayi itu langsung tenang.
Tae-hyun memandangi perempuan muda tersebut.
“Siapa sebenarnya kamu?”
Ha-eun terdiam cukup lama.
Kemudian dia menjawab pelan.
“Saya adik tiri Seo-yeon.”
Tae-hyun menatapnya tidak percaya.
“Seo-yeon tidak pernah bilang dia punya adik.”
“Karena ibu kami berbeda. Ayah kami meninggalkan keluarga saya ketika saya masih kecil. Kak Seo-yeon baru mengetahui keberadaan saya tiga tahun lalu.”
Ha-eun membuka tasnya lagi.
Dia mengeluarkan sebuah ponsel lama.
Layarnya retak.
“Satu minggu sebelum dia dinyatakan meninggal, Kak Seo-yeon menelepon saya.”
Tae-hyun mengambil ponsel itu.
“Apa yang dia katakan?”
“Dia bilang ada sesuatu yang salah di rumah ini.”
Ha-eun menatap Mi-sook.
“Dia bilang seseorang memasukkan obat ke dalam makanannya.”
Tae-hyun berbalik cepat.
Mi-sook menggeleng.
“Itu fitnah.”
“Dia sedang hamil waktu itu,” lanjut Ha-eun. “Dia sering pusing, kehilangan kesadaran, bahkan beberapa kali mengalami halusinasi. Semua orang mengira itu komplikasi kehamilan.”
Tae-hyun teringat malam-malam terakhir istrinya sebelum dibawa ke rumah sakit.
Seo-yeon sering berkata ada seseorang berdiri di luar kamar mereka.
Dia pernah mengatakan dokumen-dokumennya hilang.
Dia bahkan pernah memohon kepada Tae-hyun untuk membawa mereka pindah dari rumah besar itu.
Namun Tae-hyun menganggap istrinya terlalu lelah karena kehamilan.
Rasa bersalah menghantam dadanya.
“Aku tidak percaya padanya,” gumamnya.
Ha-eun menunduk.
“Dia sudah menduga Anda tidak akan percaya.”
Tae-hyun memejamkan mata.
“Apa yang terjadi malam dia meninggal?”
Mi-sook tiba-tiba berbalik hendak pergi.
Tae-hyun meraih lengannya.
“Ibu tidak pergi ke mana-mana.”
“Lepaskan.”
“Katakan apa yang terjadi.”
“Tae-hyun.”
“Katakan!”
Mi-sook menatap putranya lama sekali.
Lalu sesuatu dalam ekspresinya berubah.
Ketakutan itu perlahan menghilang.
Digantikan oleh kelelahan.
“Aku melakukan semuanya untukmu.”
Tae-hyun melepaskan tangannya seolah baru menyentuh api.
“Untukku?”
“Seo-yeon akan menghancurkan keluarga ini.”
“Apa yang dia lakukan?”
“Dia menemukan dokumen perusahaan.”
Tae-hyun mengernyit.
Mi-sook berjalan perlahan menuju kursi di dekat jendela.
“Setelah ayahmu meninggal, perusahaan hampir bangkrut. Aku melakukan banyak hal untuk mempertahankannya.”
“Hal apa?”
Mi-sook tidak menjawab.
Ha-eun mengambil map biru dari ruang tersembunyi.
Dia menyerahkannya kepada Tae-hyun.
Di dalamnya terdapat salinan transfer bank, kontrak palsu, dan dokumen kepemilikan beberapa perusahaan cangkang yang terdaftar di luar negeri.
Di bagian paling belakang terdapat surat yang ditandatangani Seo-yeon.
Tae-hyun membacanya.
Tangannya mulai gemetar.
Seo-yeon menemukan bahwa Mi-sook telah memindahkan dana perusahaan selama bertahun-tahun dan menggunakan nama Tae-hyun sebagai penanggung jawab beberapa transaksi.
Jika kejahatan itu terbongkar, Tae-hyun bisa ikut terseret.
“Seo-yeon ingin melaporkanku,” kata Mi-sook.
“Karena Ibu melakukan kejahatan.”
“Aku menyelamatkan apa yang dibangun ayahmu!”
“Dengan mencuri?”
“Dengan bertahan hidup!”
Tangisan Ji-ho terdengar lagi.
Ha-eun menggendongnya.
Mi-sook memandang cucunya.
“Aku hanya ingin melindungi keluarga.”
Tae-hyun menatap ibunya dengan jijik.
“Jadi Ibu membunuh istriku?”
“Aku tidak membunuhnya.”
Keheningan jatuh.
Tae-hyun menegang.
“Apa?”
Mi-sook menutup matanya.
“Seo-yeon memang tidak mati.”
Jantung Tae-hyun berdegup begitu keras hingga telinganya berdenging.
“Di mana dia?”
“Aku tidak tahu.”
“Jangan bohong!”
“Aku benar-benar tidak tahu.”
Mi-sook berdiri.
“Malam itu aku hanya ingin membuatnya pergi. Dokter Kim memberinya obat penenang. Kami berencana membawanya ke sebuah fasilitas di luar Jakarta sampai dia bersedia menyerahkan dokumen.”
Ha-eun mengepalkan tangan.
“Tapi dia baru saja melahirkan.”
“Aku tidak berniat menyakitinya.”
“Lalu kenapa semua orang mengatakan dia meninggal?” Tae-hyun bertanya.
Mi-sook menunduk.
“Mobil yang membawa Seo-yeon mengalami kecelakaan di jalan menuju Bogor.”
Dada Tae-hyun terasa sesak.
“Polisi menemukan mobil terbakar.”
“Tidak ada jasad yang bisa dikenali. Dokter Kim mengatakan lebih aman jika semua orang menganggap Seo-yeon meninggal.”
“Dan aku mengadakan pemakaman untuk peti mati kosong?”
Mi-sook tidak menjawab.
Tae-hyun merasa mual.
Delapan bulan.
Selama delapan bulan dia berdiri di depan makam kosong setiap hari Minggu.
Selama delapan bulan dia meminta maaf kepada batu nisan.
Selama delapan bulan anak-anaknya tumbuh tanpa ibu karena kebohongan.
Tiba-tiba Ha-eun berkata, “Kecelakaan itu memang terjadi.”
Semua mata beralih kepadanya.
“Tapi Kak Seo-yeon selamat.”
Tae-hyun menatapnya tajam.
“Kamu tahu?”
“Seseorang menemukannya malam itu.”
“Siapa?”
“Seorang pengemudi truk.”
Ha-eun mengambil sebuah amplop dari tasnya.
“Dia mengalami luka parah dan kehilangan ingatan selama beberapa minggu. Pengemudi itu membawanya ke klinik kecil karena takut terlibat masalah.”
“Di mana Seo-yeon sekarang?”
Ha-eun tidak menjawab.
Tae-hyun mendekatinya.
“Di mana istriku?”
Air mata mulai memenuhi mata Ha-eun.
“Saya tidak tahu.”
“Jangan lakukan ini kepadaku.”
“Dia menghilang tiga minggu lalu.”
Tae-hyun terdiam.
Ha-eun menjelaskan bahwa setelah ingatannya perlahan kembali, Seo-yeon menghubunginya secara diam-diam.
Dia tidak berani kembali ke rumah.
Dia percaya orang-orang yang pernah menculiknya masih mengawasi Tae-hyun.
Mereka sepakat Ha-eun akan masuk ke rumah sebagai pekerja dan mencari bukti.
“Gelang itu diberikan kepada saya sebagai bukti bahwa saya benar-benar datang atas perintahnya.”
“Kenapa dia tidak meneleponku?”
Ha-eun menatapnya dengan sedih.
“Karena seseorang selalu berada di dekat Anda.”
Tae-hyun langsung menoleh kepada kepala pelayan yang sejak tadi berdiri di ambang pintu.
Yoon Hye-jin.
Perempuan itu membeku.
Ha-eun mengeluarkan ponselnya.
“Kak Seo-yeon mengirim foto seseorang yang mengikutinya sebelum dia menghilang.”
Dia membuka sebuah gambar.
Tae-hyun melihat layar.
Foto itu diambil dari kejauhan.
Seorang perempuan berdiri di depan sebuah kafe di Jakarta Selatan.
Wajahnya terlihat jelas.
Yoon Hye-jin.
Kepala pelayan itu tiba-tiba berlari.
Tae-hyun mengejarnya.
“Hye-jin!”
Perempuan itu menuruni tangga dengan cepat, tetapi Tae-hyun berhasil menangkapnya di dekat pintu depan.
“Di mana Seo-yeon?”
“Saya tidak tahu!”
“Jangan bohong!”
“Saya cuma disuruh mengawasi!”
“Oleh siapa?”
Hye-jin menatap Mi-sook yang baru turun dari tangga.
Mi-sook terlihat bingung.
“Bukan saya,” katanya.
Hye-jin mulai menangis.
“Dokter Kim.”
Nama itu membuat semua orang terdiam.
Dokter Kim adalah dokter keluarga Kang selama lebih dari dua puluh tahun.
Dialah yang menyatakan Seo-yeon meninggal.
Dialah yang mengurus surat kematian.
Dialah yang memberi obat kepada Seo-yeon.
Tae-hyun segera menghubungi polisi.
Kurang dari satu jam kemudian, beberapa petugas tiba di rumah tersebut.
Namun ketika mereka mendatangi rumah Dokter Kim, pria itu sudah pergi.
Di meja kerjanya hanya ditemukan sebuah laptop, beberapa paspor palsu, dan tiket penerbangan menuju Singapura untuk malam itu.
Polisi bergerak cepat menuju bandara.
Tae-hyun ikut.
Sepanjang perjalanan, pikirannya hanya dipenuhi satu pertanyaan.
Seo-yeon masih hidup atau tidak?
Saat mereka tiba di terminal keberangkatan, Dokter Kim berhasil ditemukan sebelum melewati imigrasi.
Pria berusia enam puluhan itu tidak melawan.
Tae-hyun menerjangnya.
“Di mana istriku?”
Polisi menahan Tae-hyun.
Dokter Kim hanya tersenyum tipis.
“Kamu terlambat.”
“Apa maksudmu?”
“Seo-yeon terlalu pintar.”
Tae-hyun mengepalkan tangan.
“Di mana dia?”
Dokter Kim menatapnya.
“Di tempat yang sejak awal tidak pernah kamu pikirkan.”
Malam itu polisi memeriksa semua barang Dokter Kim.
Di dalam ponselnya ditemukan pesan yang dikirim tiga hari sebelumnya.
Bawa perempuan itu kembali ke rumah sebelum tanggal dua puluh lima.
Rumah.
Tae-hyun langsung berdiri.
“Kita harus kembali.”
Mereka tiba di mansion menjelang dini hari.
Rumah itu gelap.
Tae-hyun berlari menuju kamar bayi.
Ha-eun sudah berada di sana bersama kedua bayi.
“Ada apa?”
Tae-hyun memeriksa lemari antik.
Tiba-tiba Ji-woo tertawa.
Bukan menangis.
Tertawa.
Bayi itu menatap sudut yang selama delapan bulan selalu mereka pandangi.
Kemudian sebuah suara lembut terdengar dari balik dinding.
“Ji-woo…”
Tubuh Tae-hyun membeku.
Ha-eun menutup mulutnya.
Panel tersembunyi di samping lemari perlahan terbuka.
Seorang perempuan berdiri di baliknya.
Tubuhnya jauh lebih kurus.
Ada bekas luka panjang di pelipisnya.
Rambutnya pendek.
Namun Tae-hyun tidak mungkin salah mengenali mata itu.
“Seo-yeon…”
Perempuan itu menangis.
Tae-hyun tidak mampu bergerak.
Seo-yeon berjalan melewatinya.
Dia langsung menuju kedua bayi.
Begitu Ji-ho berada di pelukannya, bayi itu berhenti bergerak dan menatap wajah ibunya.
Kemudian tersenyum.
Seo-yeon terisak.
“Maafkan Ibu.”
Tae-hyun jatuh berlutut.
“Seo-yeon…”
Dia menoleh.
“Aku minta maaf.”
Seo-yeon menatap suaminya lama sekali.
“Aku tidak kembali untuk memaafkanmu.”
Kalimat itu menghancurkan Tae-hyun.
“Aku tahu.”
“Aku kembali untuk anak-anak.”
Tae-hyun mengangguk sambil menangis.
Untuk pertama kalinya sejak menjadi pemimpin perusahaan besar, dia tidak punya satu pun kalimat untuk membela dirinya.
Seo-yeon kemudian mengungkapkan kebenaran terakhir.
Dia sebenarnya telah kembali ke mansion dua minggu sebelumnya.
Melalui lorong servis tua yang terhubung dengan ruangan tersembunyi di belakang kamar bayi.
Itulah sebabnya kedua bayi selalu menatap sudut tersebut.
Setiap malam, ketika rumah tertidur, Seo-yeon masuk diam-diam.
Dia tidak berani membawa anak-anak pergi karena belum mengetahui siapa saja yang bekerja dengan Dokter Kim.
Dia hanya bisa berdiri di balik dinding dan menyanyikan lagu untuk mereka.
Tangisan mereka berhenti karena mendengar suara ibu mereka.
Dua belas pengasuh mengira ada sesuatu yang gaib di kamar itu.
Padahal yang mereka rasakan bukan kehadiran hantu.
Melainkan seorang ibu yang bersembunyi hanya beberapa meter dari anak-anaknya.
Beberapa bulan kemudian, Mi-sook dan Dokter Kim dijatuhi hukuman atas penculikan, pemalsuan dokumen, serta penggelapan dana perusahaan.
Yoon Hye-jin bekerja sama dengan penyidik dan memberikan kesaksian.
Tae-hyun mengundurkan diri dari perusahaan untuk menjalani pemeriksaan dan membangun kembali hidupnya.
Seo-yeon tidak langsung kembali menjadi istrinya.
Dia tinggal terpisah bersama kedua anak mereka.
Namun Tae-hyun datang setiap hari.
Bukan membawa bunga mahal.
Bukan membawa hadiah.
Dia datang untuk mengganti popok, menyiapkan susu, membersihkan rumah, dan melakukan hal-hal kecil yang dulu selalu dia anggap bisa dikerjakan orang lain.
Suatu sore, hampir setahun kemudian, Tae-hyun sedang duduk di lantai bersama Ji-ho dan Ji-woo ketika Seo-yeon meletakkan secangkir kopi di depannya.
“Anak-anak sekarang jarang menangis malam-malam,” katanya.
Tae-hyun tersenyum.
“Mungkin karena mereka tahu ibunya tidak akan pergi lagi.”
Seo-yeon menatapnya.
Lalu berkata pelan, “Bukan hanya anak-anak yang harus belajar merasa aman lagi.”
Tae-hyun terdiam.
Dia mengangguk.
“Aku tahu.”
Seo-yeon duduk di sampingnya.
Tidak terlalu dekat.
Namun juga tidak sejauh biasanya.
Dan Tae-hyun akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah dia pelajari dari kekayaan, kekuasaan, ataupun nama besar keluarganya.
Kehilangan kepercayaan hanya membutuhkan satu kebohongan.
Namun untuk mendapatkannya kembali, terkadang seseorang harus membuktikan kebenaran setiap hari selama bertahun-tahun.
