Suamiku Menyuruhku Menyerahkan Kunci Vila Saat Nenekku Menunggu Operasi, tetapi Ketika Kartu Tambahanku Ditolak dan Nama Perempuan Lain Muncul di Rekeningnya, Aku Baru Tahu Pernikahan Ini Hanya Penjara—Malam Itu Aku Mengemas Selimut Usang, Membawa Bukti, lalu Membiarkan Mereka Saling Menghancurkan di Hadapan Keluarga Besar

Aku menatap pena di atas meja itu cukup lama sampai suara detik jam terdengar seperti pukulan palu.

Di lantai dua rumah yang selama tiga tahun kusebut rumah tangga, suamiku baru saja menawarkan nyawa nenekku sebagai harga sebuah tanda tangan.

“Kalau aku tanda tangan,” kataku pelan, “kamu langsung bayar rumah sakit?”

Arga menyandarkan pinggang ke meja kerja. Wajahnya tetap tenang, seolah kami sedang membicarakan kontrak pemasok, bukan operasi seorang perempuan tua yang membesarkanku sejak kecil.

“Begitu dokumennya selesai.”

Maya berdiri di belakangnya dengan kalung mutiara Ibu masih melingkar di lehernya.

Aku menatap kalung itu.

Dulu Ibu memakainya hanya pada acara penting. Setelah meninggal, kalung tersebut kusimpan di kotak kayu di lemari kamar. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan Maya mengambilnya.

“Kalung itu juga bagian dari kesulitanmu?” tanyaku.

Maya tertawa kecil.

“Kamu masih saja membicarakan barang.”

“Itu milik Ibu.”

“Ibu kita.”

“Tidak. Itu diwariskan kepadaku.”

Maya mendekat satu langkah.

“Sejak dulu semua selalu diberikan kepadamu. Rumah Bandung, saham perusahaan, perhatian Nenek. Apa salahnya sekali saja aku mengambil sesuatu?”

Kalimat itu membuatku akhirnya mengerti.

Ini bukan sekadar perselingkuhan.

Maya tidak hanya menginginkan suamiku.

Ia menginginkan hidupku.

Aku mengambil pena.

Untuk pertama kalinya malam itu, Arga tersenyum.

“Bagus.”

Aku membuka halaman terakhir dokumen.

“Transfer dulu.”

Senyumnya menghilang.

“Aku sudah bilang setelah kamu tanda tangan.”

“Kalau begitu tidak ada tanda tangan.”

“Nadira.”

“Operasi Nenek pukul tujuh pagi. Rumah sakit menunggu sampai pukul sepuluh malam untuk pelunasan deposit. Sekarang hampir setengah sembilan.”

Arga melihat jam.

“Kamu pikir kamu punya posisi untuk menawar?”

Aku mengangkat ponsel.

“Aku punya foto semua halaman.”

Wajah Maya berubah.

Arga langsung melangkah maju.

“Berikan ponselmu.”

Aku mundur.

“Kalau kamu menyentuhku, semua foto ini otomatis terkirim.”

Itu sebenarnya bohong.

Namun Arga berhenti.

Aku menatapnya dan untuk pertama kalinya melihat sesuatu yang selama tiga tahun tidak pernah kulihat.

Ketakutan.

Bukan takut kehilangan aku.

Takut kehilangan kendali.

“Bayar rumah sakit,” kataku.

Arga mengeluarkan ponselnya dengan rahang mengeras.

Beberapa menit kemudian, notifikasi pembayaran dari rumah sakit masuk ke teleponku.

Rp280.000.000 telah diterima.

Aku menarik napas.

Kemudian tanpa ragu, kuletakkan pena kembali di meja.

“Aku tidak akan tanda tangan.”

Maya langsung membentak.

“Kamu menipu kami?”

Aku tersenyum tipis.

“Sepertinya aku akhirnya belajar dari kalian.”

Arga meraih lenganku.

Cengkeramannya begitu keras sampai kukuku menusuk telapak tangan.

“Kamu pikir setelah semua yang kuberikan kepadamu, kamu bisa pergi begitu saja?”

Aku menatap tangannya.

“Lepaskan.”

“Nadira.”

“Lepaskan sebelum aku berteriak dan seluruh pekerja rumah datang ke sini.”

Ia akhirnya melepaskan.

Aku berbalik dan keluar dari ruang kerja.

Di belakangku, suara Maya terdengar.

“Biarkan saja. Besok dokumen itu tetap bisa diproses.”

Aku berhenti di ambang pintu.

“Tidak kalau tanda tangannya terbukti palsu.”

Malam itu aku tidak kembali ke kamar tamu.

Aku mengambil koper, memasukkan beberapa pakaian, laptop, dokumen pribadi, serta selimut tua pemberian Nenek.

Bu Rini berdiri di dekat tangga dengan mata merah.

“Nyonya mau pergi?”

“Iya.”

“Ke Bandung?”

Aku mengangguk.

Ia menatap ke atas, memastikan tidak ada siapa pun.

Kemudian ia mendekat dan berbisik.

“Bu, sebelum pergi, ada sesuatu yang harus Ibu tahu.”

Bu Rini membawaku ke dapur belakang.

Dari dalam laci tempat ia menyimpan buku resep, ia mengeluarkan sebuah amplop putih.

“Saya menemukannya dua minggu lalu di tempat sampah ruang kerja Pak Arga. Saya tidak berani membuang.”

Di dalamnya ada salinan surat elektronik dari Garuda Kencana Capital.

Aku membaca beberapa baris pertama dan jantungku kembali berdegup keras.

Perusahaan itu ternyata bukan milik Maya.

Pemegang saham utamanya adalah seorang pria bernama Reza Mahendra.

Reza.

Nama yang disebut Arga ketika meminta kunci vila Kemang.

Namun yang membuat tanganku gemetar adalah baris berikutnya.

Setelah transaksi saham selesai, kepemilikan beneficial owner akan dialihkan kepada Arga Pradipta dan Maya Maheswari dengan komposisi enam puluh dan empat puluh persen.

Mereka bukan hanya ingin merampas asetku.

Mereka melakukannya melalui perusahaan cangkang.

“Kenapa Bu Rini menyimpan ini?”

Perempuan itu menunduk.

“Ibu saya dulu bekerja untuk almarhumah ibu Nyonya. Saya tahu saham itu bukan pemberian Pak Arga.”

Air mataku hampir jatuh.

Selama tiga tahun aku merasa sendirian di rumah ini.

Ternyata masih ada seseorang yang mengingat siapa aku sebelum menjadi istri Arga.

“Terima kasih.”

Aku pergi malam itu.

Di mobil menuju Bandung, aku menelepon satu-satunya orang yang kupikir bisa membantu.

Dimas Wirawan.

Teman kuliahku yang sekarang bekerja sebagai pengacara korporasi.

Kami tidak berbicara hampir dua tahun karena Arga tidak menyukai kedekatan kami.

Dimas mengangkat pada dering pertama.

“Nadira?”

“Aku butuh pengacara.”

“Kenapa?”

“Aku pikir suamiku mencoba mencuri sahamku.”

Ia terdiam dua detik.

“Di mana kamu?”

“Tol menuju Bandung.”

“Jangan tanda tangan apa pun. Jangan berikan dokumen asli kepada siapa pun. Kirim semua bukti yang kamu punya.”

Pukul dua pagi, kami bertemu di sebuah kedai kopi dekat rumah sakit.

Dimas membaca dokumen satu per satu.

Semakin lama, wajahnya semakin serius.

“Ini bukan sekadar masalah perceraian.”

“Aku tahu.”

“Kalau tanda tangan ini dipakai dalam akta notaris, mereka bisa masuk ke ranah pidana.”

Aku memeluk selimut tua di pangkuanku.

“Aku cuma ingin memastikan Nenek selamat.”

Dimas menatapku.

“Dan setelah itu?”

Aku tidak bisa menjawab.

Selama tiga tahun, seluruh hidupku berputar di sekitar Arga.

Aku meninggalkan pekerjaan karena ia berkata istrinya tidak perlu bekerja.

Aku berhenti bertemu beberapa teman karena ia tidak suka rumah kami terlalu ramai.

Aku mengurus jadwalnya, makanannya, bahkan hadiah ulang tahun keluarganya.

Tanpa Arga, aku bahkan tidak tahu siapa diriku.

Pukul tujuh pagi, Nenek masuk ruang operasi.

Aku duduk di lorong rumah sakit sambil memegang tasbih kecil miliknya.

Empat jam kemudian, dokter keluar.

“Operasinya berhasil.”

Kakiku langsung lemas.

Aku menangis untuk pertama kalinya.

Bukan hanya karena lega.

Aku menangisi tiga tahun yang terbuang.

Ketika Nenek sadar sore harinya, ia memanggilku mendekat.

Wajahnya pucat, tetapi matanya tetap tajam.

“Kamu menangis karena Nenek atau karena laki-laki itu?”

Aku tertawa di antara air mata.

“Nenek baru selesai operasi masih sempat marah.”

“Aku belum mati.”

Aku menggenggam tangannya.

“Ga, aku mau cerai.”

Nenek tidak terlihat terkejut.

Ia hanya mengusap punggung tanganku.

“Akhirnya.”

Aku terpaku.

“Nenek tahu?”

“Orang yang mencintaimu tidak akan membuatmu terus mempertanyakan apakah kamu cukup baik.”

Air mataku jatuh lagi.

Nenek kemudian meminta koper kecil dari lemari.

Di dalamnya terdapat sebuah map plastik lama.

“Ada sesuatu yang selama ini Nenek simpan.”

Aku membukanya.

Itu adalah salinan perjanjian perkawinan.

Namaku dan Arga tertera jelas.

Namun aku tidak pernah melihat dokumen tersebut.

“Ini apa?”

“Dokumen yang dibuat ibumu sebelum meninggal.”

Aku membaca isinya perlahan.

Seluruh saham yang berasal dari warisan keluarga Maheswari tetap menjadi harta pribadi milikku dan tidak bisa dialihkan tanpa tanda tangan asli serta verifikasi dua wali independen.

Salah satu wali itu adalah Nenek.

Yang lainnya adalah notaris keluarga.

Aku menatapnya tidak percaya.

“Jadi dokumen Arga tidak akan pernah sah?”

“Tidak pernah.”

“Kenapa Nenek tidak bilang?”

Nenek tersenyum tipis.

“Karena ibumu ingin tahu siapa yang kamu nikahi sebelum lelaki itu tahu perlindungan apa yang kamu punya.”

Malam itu, untuk pertama kalinya aku tidur tanpa takut.

Dimas mulai menghubungi auditor dan notaris keluarga.

Kami tidak langsung melapor.

Kami membiarkan Arga percaya bahwa aku masih panik.

Dua hari kemudian, ia menelepon.

“Pulang.”

“Aku masih menjaga Nenek.”

“Keluarga akan berkumpul Sabtu malam di rumah Ayah. Kita selesaikan masalah ini di sana.”

Aku tahu mengapa.

Setiap bulan, keluarga besar Pradipta mengadakan makan malam.

Arga pasti berharap bisa menekan aku di depan orang tua dan saudara-saudaranya.

Aku menjawab singkat.

“Baik.”

Sabtu malam, rumah keluarga Pradipta dipenuhi hampir tiga puluh orang.

Ketika aku datang, semua percakapan langsung berhenti.

Maya duduk di sebelah Arga.

Bukan di kursi tamu.

Di kursi yang biasanya menjadi tempatku.

Ia bahkan masih memakai kalung Ibu.

Ayah Arga, Surya Pradipta, berdiri.

“Nadira, duduk. Kita selesaikan baik-baik.”

Aku meletakkan tas di meja.

“Aku juga berharap begitu.”

Arga langsung mengeluarkan dokumen.

“Istriku sedang emosional karena masalah keluarganya. Dia salah memahami restrukturisasi perusahaan.”

Maya menundukkan kepala seperti perempuan yang tidak bersalah.

Beberapa tante mulai berbisik.

Surya memandangku.

“Kalau ini hanya soal saham, Arga bilang semua dilakukan untuk melindungi perusahaan.”

Aku tersenyum.

“Kalau begitu saya ingin semua orang melihat bagaimana perusahaan itu dilindungi.”

Aku menghubungkan laptop ke televisi besar di ruang keluarga.

Foto transfer lima ratus juta muncul.

Lalu dokumen pengalihan saham.

Kemudian surel Garuda Kencana Capital.

Ruangan langsung sunyi.

Wajah Surya memerah.

“Arga, apa ini?”

“Dokumen internal. Nadira tidak mengerti.”

Aku mengganti halaman.

Muncul rekaman transaksi kartu kredit.

Cincin berlian senilai seratus delapan puluh juta rupiah.

Hotel.

Apartemen.

Biaya renovasi vila.

Semua menggunakan rekening perusahaan.

Maya berdiri.

“Kamu mencuri data pribadi!”

“Tidak.”

Aku menatapnya.

“Semua berasal dari audit rekening yang sahamnya sebagian milikku.”

Arga bangkit.

“Cukup.”

“Belum.”

Aku menampilkan satu dokumen terakhir.

Laporan auditor independen.

Garuda Kencana Capital telah menerima hampir dua puluh tiga miliar rupiah dari Pradipta Logistik selama delapan belas bulan terakhir melalui kontrak konsultasi fiktif.

Surya hampir tidak bisa bernapas.

“Kamu mengambil uang perusahaan?”

Arga menatap ayahnya.

“Ayah, dengarkan aku.”

Namun sebelum ia selesai, pintu ruang keluarga terbuka.

Reza Mahendra masuk bersama dua orang pria berjas.

Arga langsung berdiri.

“Kenapa kamu di sini?”

Reza tersenyum dingin.

“Karena namaku digunakan untuk perusahaan yang bahkan tidak pernah kukendalikan.”

Aku juga terkejut.

Dimas belum mengatakan bahwa Reza akan datang.

Reza meletakkan sebuah berkas di meja.

“Tiga bulan lalu Arga meminta saya menjadi direktur nominee. Katanya hanya untuk investasi properti. Baru minggu ini saya tahu perusahaan itu digunakan untuk mengalihkan dana.”

Maya mendekati Arga.

“Arga, kamu bilang Reza sudah setuju.”

Arga menoleh padanya.

“Kamu yang mengurus dokumennya!”

Maya membalas dengan suara meninggi.

“Karena kamu bilang semuanya aman!”

Dan tepat seperti itu, mereka mulai saling menghancurkan.

Arga menuduh Maya memindahkan uang.

Maya menuduh Arga membuat semua skema.

Reza membuka pesan.

Dimas menunjukkan bukti.

Surya meminta bagian keuangan membuka rekening perusahaan.

Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, cinta besar yang membuatku disingkirkan selama tiga tahun berubah menjadi dua orang yang saling menyebut pengkhianat.

Aku hanya duduk dan melihat.

Akhirnya Maya menatapku.

“Kamu merencanakan ini.”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“Lalu apa?”

“Aku hanya berhenti melindungi kalian dari akibat perbuatan kalian sendiri.”

Maya mencabut kalung mutiara dari lehernya dan melemparkannya ke meja.

“Ambil. Semua ini selalu tentang kamu.”

Aku mengambil kalung itu.

“Bukan.”

Aku memandang Arga.

“Masalahnya adalah kalian berdua mengira aku tidak akan pernah berani pergi.”

Arga mendekat.

“Nadira, dengarkan aku. Kita masih bisa memperbaiki semuanya.”

Aku hampir tertawa.

Tiga hari sebelumnya ia menggunakan operasi Nenek untuk memaksaku menyerahkan harta.

Sekarang, setelah skemanya terbongkar, ia kembali memanggil kami sebagai pasangan.

“Tidak ada kita.”

Aku mengeluarkan satu amplop terakhir.

Gugatan cerai.

Arga membacanya dengan wajah kosong.

“Aku tidak akan tanda tangan.”

“Kamu tidak perlu.”

Aku berdiri.

“Aku sudah cukup lama menunggu izin darimu untuk hidup.”

Enam bulan kemudian, penyelidikan internal Pradipta Logistik berubah menjadi perkara hukum.

Arga dicopot dari direksi.

Maya menghadapi gugatan terkait transaksi perusahaan.

Aku tidak mengikuti setiap perkembangan mereka.

Untuk pertama kalinya, hidup mereka bukan lagi pusat hidupku.

Aku kembali ke Bandung.

Aku tidak membeli rumah mewah.

Aku tinggal sementara bersama Nenek di rumah lama dengan halaman kecil yang selalu dipenuhi bunga melati.

Aku kembali bekerja sebagai konsultan komunikasi dan mengambil kursus manajemen bisnis.

Vila Kemang akhirnya tetap menjadi milikku.

Namun aku menjualnya.

Sebagian uangnya kugunakan untuk mendirikan yayasan kecil yang membantu biaya pendampingan hukum bagi perempuan yang kehilangan akses terhadap aset mereka sendiri dalam pernikahan.

Suatu sore, ketika aku sedang merapikan dokumen di teras, Nenek keluar membawa selimut tua bercorak bunga kecil.

Selimut yang kubawa saat meninggalkan rumah Arga.

“Ini masih kamu simpan?”

Aku tersenyum.

“Masih.”

Nenek duduk di sampingku.

“Dulu waktu ibumu membelinya, harganya murah sekali.”

“Aku tahu.”

“Kenapa tidak dibuang?”

Aku memandang kain yang warnanya sudah pudar.

Karena selama tiga tahun aku tinggal di rumah besar, tidur di ranjang mahal, memakai pakaian mahal, dan memiliki kartu hitam yang ternyata tidak bernilai apa-apa.

Namun malam ketika aku membawa selimut tua itu keluar dari kamar Arga, aku akhirnya membawa satu-satunya benda yang benar-benar milikku.

Keberanian untuk pergi.

Aku menyandarkan kepala ke bahu Nenek.

“Ada barang yang nilainya bukan karena harganya.”

Nenek tersenyum.

Di kejauhan, azan magrib mulai terdengar.

Aku memejamkan mata.

Dulu aku mengira pernikahanku adalah rumah yang harus kupertahankan apa pun yang terjadi.

Ternyata rumah bukan tempat yang pintunya dikunci dari luar dan kuncinya dipegang orang lain.

Rumah adalah tempat kita masih bisa menjadi diri sendiri.

Dan malam ketika aku kehilangan suami, rumah mewah, serta keluarga yang selama ini kupaksakan untuk menerimaku, ternyata bukan malam ketika hidupku hancur.

Itu adalah malam ketika pintu penjara akhirnya terbuka.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang