Setelah Lima Malam Membayar Tetangga untuk Menjaga Suamiku yang Lumpuh, Telepon dari Balik Jendela Membuatku Pulang Menerjang Hujan—dan Pemandangan di Atas Ranjang Membongkar Rencana yang Hampir Merampas Rumah, Tabungan, serta Anak Perempuan Kami dalam Satu Malam, Sementara Orang yang Paling Kupercaya Tersenyum Seolah Semuanya Sudah Menjadi Miliknya Sendiri

“Kamu terlambat, Maya. Besok pagi, rumah ini sudah bukan milik kalian lagi.”

Kalimat Bu Siska membuat suara hujan di luar seolah menghilang.

Aku menatapnya tanpa berkedip. Perempuan yang selama lima malam kupercaya menjaga suamiku kini berdiri beberapa langkah dariku dengan wajah yang sama sekali berbeda. Tidak ada lagi senyum ramah, tidak ada suara lembut seperti saat dia mengingatkanku agar tidak terlambat bekerja.

Yang kulihat sekarang hanyalah ketenangan seseorang yang merasa sudah menang.

“Apa maksudmu?”

Bu Siska tersenyum tipis.

“Kamu akan tahu sendiri.”

Lalu dia berbalik dan berjalan keluar melewati para tetangga.

Aku hendak mengejarnya, tetapi Farid menarik ujung bajuku dengan tangan kanannya.

“May… polisi.”

Aku langsung tersadar.

Telepon.

Rekening.

Sidik jari.

Dokumen yang hilang.

Aku menelepon polisi malam itu juga.

Dua petugas datang sekitar empat puluh menit kemudian. Mereka memeriksa kamar, mengambil foto bantalan tinta yang tertinggal di lantai, mencatat bekas lebam di pergelangan tangan Farid, serta meminta tangkapan layar transaksi dari aplikasi perbankan.

Masalahnya, uang seratus tujuh puluh lima juta rupiah sudah berpindah.

Aku menelepon layanan bank dengan tangan gemetar. Rekening Farid langsung diblokir sementara.

Petugas bank mengatakan masih ada kemungkinan transaksi dibekukan jika dana belum ditarik atau dipindahkan lagi.

Aku hanya bisa berdoa.

Farid dibawa ke klinik terdekat untuk diperiksa.

Dokter menemukan kadar obat penenang dalam tubuhnya jauh lebih tinggi daripada dosis yang seharusnya.

“Apakah Bapak mengonsumsi obat tidur tambahan?” tanya dokter.

Aku menggeleng.

“Tidak pernah.”

Farid mencoba bicara.

“Sis… ka… obat.”

Dadaku terasa dingin.

“Bu Siska yang memberikannya?”

Farid mengangguk.

Pelan-pelan, dengan kalimat yang terputus-putus, dia menjelaskan bahwa sejak malam kedua Bu Siska mulai menambahkan sesuatu ke dalam buburnya.

Awalnya Farid hanya merasa sangat mengantuk.

Malam ketiga, kepalanya terasa berat.

Malam keempat, dia terbangun dan melihat Bu Siska membuka lemari serta memotret dokumen dengan ponselnya.

Farid berusaha memberitahuku keesokan paginya, tetapi Bu Siska kebetulan datang membawa makanan untuk kami.

Dia bahkan berkata sambil tersenyum, “Mas Farid semalam sempat mengigau. Jangan terlalu dipikirkan, Bu Maya.”

Aku mempercayainya.

Aku justru mengira suamiku kebingungan karena obat.

Malam kelima, Farid menolak bubur dari Bu Siska.

Dia bahkan menjatuhkan mangkuk ke lantai.

Bu Siska marah.

Tidak lama kemudian, seorang laki-laki masuk melalui pintu belakang.

Mereka memaksa Farid membuka telepon menggunakan sidik jari.

Laki-laki itu ternyata sudah mengetahui PIN cadangan dan alamat surel Farid.

“Mereka… sudah lama… rencana,” kata Farid.

Aku menggenggam tangannya.

“Kenapa kamu tidak bilang dari awal?”

Farid menatapku lama.

Air matanya mengalir.

“Aku… bilang. Kamu… capek.”

Aku langsung terdiam.

Kalimat itu terasa seperti pisau.

Dia memang mencoba.

Aku yang tidak punya waktu untuk mendengarkan.

Hari-hariku penuh dengan kerja, lembur, tagihan, terapi, sekolah Alya, dan pekerjaan rumah sampai setiap kalimat Farid yang membutuhkan kesabaran sering kuselesaikan sendiri di kepalaku.

Aku mengira tahu apa yang ingin dia katakan.

Ternyata aku salah.

Keesokan paginya, aku meminta izin tidak masuk kerja.

Aku pergi ke kantor pertanahan bersama kakak Farid untuk mengecek status rumah.

Di sanalah ketakutanku berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Petugas mengatakan satu hari sebelumnya telah masuk permohonan pengecekan sertifikat melalui seorang perantara.

Nama pemohon bukan Bu Siska.

Nama itu adalah Mulyadi Kurnia.

Nama yang sama dengan rekening penerima uang seratus tujuh puluh lima juta rupiah.

“Apakah rumah ini sedang dijual?” tanya petugas.

“Tidak.”

“Digadaikan?”

“Tidak pernah.”

Petugas mengernyit.

“Kalau begitu, Ibu sebaiknya segera membuat laporan resmi mengenai dokumen yang hilang. Ada fotokopi surat kuasa dengan cap jempol pemilik.”

Kakiku hampir kehilangan tenaga.

“Surat kuasa apa?”

Petugas menunjukkan salinannya.

Di bagian bawah ada nama Farid.

Di sampingnya terdapat cap jempol biru.

Dokumen itu menyatakan Farid memberi kuasa kepada Mulyadi untuk mengurus proses jual beli rumah.

Aku memandangi cap jempol itu.

Malam sebelumnya, jari Farid juga berlumur tinta biru.

Aku segera menyerahkan bukti laporan polisi.

Proses administrasi atas rumah itu kemudian diberi catatan sengketa sehingga tidak bisa dilanjutkan sebelum persoalan hukum selesai.

Setidaknya rumah kami belum hilang.

Tetapi ada satu hal yang masih menggangguku.

Bagaimana Bu Siska bisa mengetahui semua detail keuangan kami?

Bahkan aku sendiri tidak hafal seluruh data rekening Farid.

Jawabannya datang dari Alya.

Sepulang sekolah, putriku duduk diam di meja makan.

Wajahnya pucat.

“Ibu…”

“Ada apa?”

Alya mengeluarkan sebuah ponsel kecil dari tasnya.

Aku mengenalinya.

Itu ponsel lama Farid yang sudah berbulan-bulan tidak digunakan.

“Aku menemukan ini di rumah Tante Rina.”

Rina adalah adikku.

Sejak Farid sakit, Alya memang sering kutitipkan di rumahnya.

Aku mengambil ponsel itu.

Baterainya hampir habis.

“Alya dapat dari mana?”

“Ada di bawah sofa. Kemarin aku mau ambil pensil. Terus aku lihat.”

Aku menyalakannya.

Tidak ada kartu SIM.

Tetapi masih terhubung dengan akun surel Farid.

Di dalam galeri terdapat beberapa foto baru.

Foto kartu keluarga.

Foto buku nikah.

Foto KTP Farid.

Foto halaman rekening bank.

Semuanya diambil dari sudut rumah adikku.

Tanganku mulai gemetar.

Aku membuka aplikasi pesan.

Sebagian percakapan telah dihapus.

Namun ada satu folder cadangan yang masih tersimpan.

Nama kontaknya hanya satu huruf.

S.

Aku membuka percakapan terakhir.

“Jadwal Maya malam Jumat sampai lewat jam dua belas.”

“Bagus. Pastikan anaknya tetap di rumahmu.”

“Kalau berhasil, bagianku jangan kurang.”

“Rumah bisa dapat lebih dari tujuh ratus juta. Uang rekening juga masih banyak.”

Aku membaca pesan itu berkali-kali.

Lalu melihat nomor pengirim.

Nomor itu milik Bu Siska.

Tetapi pesan balasannya dikirim dari ponsel lama Farid.

Artinya seseorang di rumah adikku yang menggunakannya.

Aku menelepon Rina.

Tidak dijawab.

Aku menelepon lagi.

Tetap tidak ada jawaban.

Alya menatapku.

“Ibu kenapa?”

Aku memaksakan senyum.

“Kita ke rumah Tante sebentar.”

Ketika sampai, pintu rumah Rina terkunci.

Tetangga mengatakan dia pergi sejak pagi membawa koper.

Aku langsung menelepon polisi yang menangani laporan kami.

Sore itu, petugas datang dan memeriksa rumah Rina.

Di sebuah laci mereka menemukan fotokopi beberapa dokumen milik Farid.

Ada juga buku catatan kecil.

Isinya membuatku hampir muntah.

Jadwal kerjaku.

Tanggal terapi Farid.

Waktu Alya pulang sekolah.

Nomor rekening.

Perkiraan jumlah santunan.

Bahkan kebiasaan Farid menyimpan kunci lemari.

Di halaman terakhir tertulis sebuah kalimat.

Setelah rumah terjual, Maya pasti tidak mampu merawat Farid dan Alya sekaligus. Anak bisa ikut Rina.

Aku duduk di lantai.

Selama ini aku mengira Bu Siska adalah orang yang paling berbahaya.

Ternyata seseorang yang setiap pagi menerima anakku dengan pelukan telah membantu merancang semuanya.

Rina adalah adik yang paling kupercaya.

Aku membayar kebutuhan rumahnya ketika suaminya pergi.

Aku membantu biaya kontrakannya.

Aku bahkan pernah berniat memberinya sebagian uang jika bengkel Farid benar-benar dibuka.

Aku tidak mengerti bagaimana rasa iri bisa berubah menjadi sesuatu yang sebesar ini.

Dua hari kemudian, polisi menemukan Mulyadi di sebuah penginapan dekat Terminal Bekasi.

Dia mencoba melarikan diri menggunakan identitas orang lain.

Di dalam tasnya ditemukan sertifikat asli rumah kami, surat santunan Farid, dan uang tunai hampir empat puluh juta rupiah.

Mulyadi akhirnya mengakui semuanya.

Dia adalah mantan suami Bu Siska.

Mereka memang sudah bercerai secara resmi, tetapi diam-diam masih sering bekerja sama melakukan penipuan.

Target mereka biasanya orang lanjut usia atau keluarga yang sedang sakit.

Mereka masuk melalui kepercayaan.

Menawarkan bantuan.

Mencari informasi.

Lalu mengambil aset.

Rina mengenal Bu Siska sekitar enam bulan sebelumnya.

Bukan di pengajian seperti yang selama ini kukira.

Mereka bertemu melalui sebuah grup jual beli daring.

Rina sedang terlilit utang pinjaman online.

Awalnya dia hanya memberikan informasi mengenai santunan Farid.

Sebagai imbalan, Bu Siska membayar beberapa cicilannya.

Namun ketika Bu Siska mengetahui rumah kami berdiri di tanah warisan yang nilainya terus naik, rencana mereka menjadi jauh lebih besar.

Mulyadi bertugas membuat dokumen palsu.

Bu Siska masuk ke rumah kami.

Rina memastikan Alya tidak berada di rumah ketika rencana dijalankan.

“Kalau transaksi rumah berhasil,” kata petugas kepadaku, “mereka berencana menjualnya cepat di bawah harga pasar. Uangnya kemudian dibagi.”

“Lalu uang rekening?”

“Dana itu untuk biaya awal dan pembayaran utang.”

“Anak saya?”

Petugas terdiam sesaat.

“Ada percakapan yang menunjukkan Rina ingin mengambil hak pengasuhan sementara jika keadaan Ibu dianggap tidak stabil setelah kehilangan rumah dan uang.”

Aku merasa seperti dihantam sesuatu.

Bukan hanya rumah.

Bukan hanya tabungan.

Mereka bahkan sudah membayangkan bagaimana kehidupanku akan hancur setelah semua itu diambil.

Bu Siska ditangkap malam berikutnya di rumah saudaranya di Karawang.

Ketika digiring masuk ke mobil polisi, dia masih sempat menatapku.

Senyum kecil yang kulihat malam itu sudah hilang.

Tetapi ada satu orang yang belum ditemukan.

Rina.

Hampir dua minggu dia menghilang.

Aku mencoba menjalani hidup seperti biasa.

Farid mulai kembali menjalani fisioterapi.

Alya untuk sementara tinggal bersamaku setiap hari.

Aku berhenti mengambil lembur malam.

Uang seratus tujuh puluh lima juta rupiah akhirnya berhasil diselamatkan sebagian besar karena bank membekukan rekening Mulyadi sebelum seluruh dana dipindahkan.

Hanya sekitar dua puluh tiga juta yang sempat ditarik tunai.

Aku menganggapnya harga yang sangat mahal untuk sebuah pelajaran.

Suatu sore, ketika sedang mengganti seprai Farid, dia memanggilku.

“May.”

Aku menoleh.

“Apa?”

Dia menunjuk kursi.

“Duduk.”

Aku duduk di sampingnya.

Farid membutuhkan hampir satu menit untuk mengucapkan kalimat berikutnya.

“Aku… bukan beban.”

Aku menahan napas.

“Aku tahu.”

Dia menggeleng.

“Kamu… selalu… kerja. Semua sendiri. Aku lihat.”

Air mataku langsung jatuh.

“Aku cuma takut kita kekurangan.”

Farid menggenggam tanganku.

“Tapi… jangan… sampai kehilangan… kita.”

Aku tidak sanggup menjawab.

Selama setahun terakhir aku terlalu sibuk menjaga rumah agar tetap berdiri sampai hampir lupa melihat orang-orang yang hidup di dalamnya.

Malam itu untuk pertama kalinya sejak kecelakaan Farid, kami makan bertiga tanpa tergesa-gesa.

Alya bercerita tentang teman sekolahnya.

Farid tertawa pelan.

Aku bahkan membiarkan piring kotor tetap berada di meja selama hampir satu jam.

Ternyata dunia tidak runtuh.

Tiga hari kemudian, seseorang mengetuk pintu.

Aku membukanya.

Rina berdiri di luar.

Tubuhnya lebih kurus.

Rambutnya berantakan.

Di tangannya hanya ada sebuah tas kecil.

“Aku mau menyerahkan diri,” katanya.

Aku tidak menjawab.

Dia menangis.

“Aku tidak pernah bermaksud mereka menyakiti Mas Farid.”

“Kamu memberi mereka jadwal kerjaku.”

“Aku terdesak utang.”

“Kamu memberi mereka dokumen kami.”

“Aku cuma pikir rumah itu akan digadaikan sementara.”

“Kamu merencanakan mengambil Alya.”

Rina langsung terdiam.

Itulah satu-satunya tuduhan yang tidak bisa dibantahnya.

Aku menatap perempuan yang sejak kecil tidur sekamar denganku, memakai seragam bekasku, dan selalu memanggilku ketika takut petir.

“Apa salahku sampai kamu melakukan ini?”

Rina menunduk.

“Karena hidupmu selalu kelihatan lebih beruntung.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena kalimat itu terasa begitu absurd.

“Beruntung?”

Aku menunjuk ke dalam rumah.

“Suamiku lumpuh. Aku bekerja sebelas tahun di pabrik. Aku tidur empat jam sehari. Aku menghitung uang sebelum membeli minyak goreng. Bagian mana yang kamu sebut beruntung?”

Rina menangis semakin keras.

“Kamu punya rumah. Kamu punya suami yang sayang sama kamu. Alya pintar. Setelah kecelakaan, kalian masih dapat uang ratusan juta. Aku lihat semuanya dan aku…”

“Kamu iri.”

Dia mengangguk.

Aku baru memahami sesuatu saat itu.

Orang tidak selalu iri pada hidup yang mudah.

Kadang mereka iri karena hanya melihat apa yang kita miliki tanpa mengetahui harga yang kita bayar untuk mempertahankannya.

Aku tidak memeluk Rina.

Aku juga tidak mengusirnya.

Aku menelepon polisi.

Sebelum dibawa pergi, dia memandang Alya yang berdiri di balik pintu kamar.

“Tante minta maaf.”

Alya tidak menjawab.

Setelah mobil polisi pergi, putriku menghampiriku.

“Ibu masih sayang Tante Rina?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam.

“Masih.”

“Kalau begitu kenapa Ibu biarkan polisi membawanya?”

Aku berjongkok di depan Alya.

“Karena menyayangi seseorang tidak berarti kita harus membiarkan dia melakukan sesuatu yang salah.”

Alya menatapku beberapa detik, lalu memelukku.

Beberapa bulan kemudian, proses hukum masih berjalan.

Rumah kami tetap menjadi milik Farid.

Sebagian besar tabungan kembali.

Bu Siska, Mulyadi, dan Rina harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Namun ada satu perubahan yang jauh lebih penting bagiku.

Aku tidak lagi menganggap bantuan sebagai sesuatu yang cukup hanya karena datang dengan senyum.

Aku mulai memeriksa.

Bertanya.

Mendengarkan.

Terutama mendengarkan Farid.

Suatu malam, setelah Alya tidur, aku duduk di samping ranjang suamiku.

Hujan turun lagi di luar.

Sama derasnya seperti malam ketika Bu Nur menelepon.

Farid menatap jendela.

“Takut?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Dia tersenyum.

“Kenapa?”

Aku menggenggam tangan kanannya.

“Karena malam itu aku pikir aku pulang untuk menyelamatkan rumah.”

Aku menatap kamar sederhana kami, lemari yang kini memakai kunci baru, meja kecil tempat obat-obatan Farid tersusun, dan gambar buatan Alya yang ditempel di dinding.

“Ternyata aku pulang untuk menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih mahal.”

Farid menatapku.

“Apa?”

Aku mencium tangannya.

“Keluarga kita.”

Di luar, hujan terus jatuh.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa sedang diterjang badai.

Aku merasa sudah sampai di rumah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang