Bangun, Nek. Teman-teman seangkatanmu sudah di kampung, sedang menanam ubi

Vanessa membeku. Dunianya yang tadinya berpusat pada kemewahan Forbes Park dan kekuasaan yang ia pinjam dari statusnya sebagai kekasih William, tiba-tiba runtuh menjadi puing-puing di atas lantai marmer.

Suara pecahan gelas tadi masih berdenging di telinganya, namun yang jauh lebih memekakkan adalah keterkejutan di mata William. Pria yang biasanya memimpin rapat direksi dengan tatapan dingin yang mampu membuat kompetitor gemetar, kini menatap ibunya dengan tatapan penuh rasa sakit yang tak tertahankan.

William tidak menoleh pada Vanessa. Ia hanya menuntun ibunya untuk duduk kembali, dengan gerakan yang begitu lembut, kontras sekali dengan kekejaman yang baru saja Vanessa pertontonkan.

“William,” suara wanita tua itu tenang, bahkan saat ia menggigil kecil. “Ibu hanya ingin mengantarkan rantang ini. Istrimu… dia pikir Ibu orang asing yang masuk tanpa izin.”

Kata “istri” itu seperti tamparan bagi Vanessa. Selama ini, Vanessa selalu memposisikan dirinya sebagai nyonya rumah, meski William tak pernah benar-benar mengikatnya dalam janji suci.

William perlahan berbalik. Wajahnya tidak merah karena marah, melainkan pucat karena sesuatu yang jauh lebih menakutkan: kekecewaan yang mutlak.

“Vanessa,” suaranya rendah, nyaris berbisik namun penuh beban yang menekan dada Vanessa hingga sulit bernapas. “Ibu datang dari desa jauh-jauh untuk membawa hasil panen pertama yang ia janjikan akan kubawa ke kantor.”

Vanessa mencoba membuka mulut. “Sayang, aku… aku pikir dia hanya pengemis yang menyusup ke pintu belakang. Aku tidak tahu—”

“Berhenti,” potong William. Ia tidak berteriak, namun perintah itu memiliki kekuatan gravitasi yang membuat Vanessa terdiam seketika. “Dia tidak menyusup. Dia memegang kunci cadangan yang kubuatkan khusus untuknya lima tahun lalu, saat aku pertama kali membangun rumah ini dengan uang dari menjual kebun Bapak.”

William menatap lantai, lalu ke arah air yang membasahi gaun ibunya, dan terakhir menatap Vanessa—tatapan yang kini terasa seperti orang asing yang baru pertama kali melihat wajah aslinya.

“Rumah ini,” kata William pelan, sambil menunjuk ke sekeliling ruangan yang megah itu, “dibangun di atas keringat Ibu. Setiap inci marmer ini, setiap lampu kristal yang kau banggakan, dibayar dengan tabungan yang Ibu kumpulkan saat ia hanya makan ubi agar aku bisa kuliah.”

Vanessa merasakan kakinya goyah. “William, kumohon, ini hanya kesalahpahaman. Aku tidak bermaksud—”

“Kau tidak bermaksud karena kau tidak peduli,” sela William. Ia kemudian berlutut di depan ibunya, mengambil sapu tangan wanita tua itu, dan mulai mengeringkan tangan ibunya yang basah dengan sangat hati-hati. “Kau tidak pernah peduli pada siapa pun kecuali cermin yang kau tatap setiap pagi.”

William berdiri kembali. Tanpa melihat ke arah Vanessa, ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon asistennya. “Siapkan mobil untuk Ibu. Dan setelah itu, hubungi pengacaraku. Batalkan akses Vanessa ke seluruh properti ini.”

Vanessa menjerit tertahan, “Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Aku kekasihmu!”

William akhirnya menoleh. Tatapannya kosong, tak ada lagi cinta atau kemarahan, hanya ketidakhadiran rasa yang jauh lebih menyakitkan daripada penghinaan apa pun.

“Kau bukan kekasihku, Vanessa. Kau hanyalah dekorasi yang ternyata sangat rapuh.”

William memapah ibunya berjalan meninggalkan ruang tamu menuju dapur, meninggalkan Vanessa berdiri sendirian di tengah kemewahan yang kini terasa seperti penjara kaca. Di lantai, pecahan gelas kristal itu berkilau, memantulkan bayangan seorang wanita yang baru saja kehilangan segalanya karena kesombongan yang ia anggap sebagai kekuatan.

Wanita tua itu sempat menoleh sekilas ke arah Vanessa sebelum menghilang di balik pintu. Tidak ada tatapan penuh dendam, tidak ada senyum kemenangan. Hanya tatapan kasihan—tatapan yang sama yang diberikan seorang ibu kepada seorang anak yang belum belajar arti kehidupan.

Pintu besar Forbes Park itu terbuka, dan seiring dengan kepergian William dan ibunya, Vanessa menyadari bahwa di rumah sebesar ini, ia akhirnya benar-benar sendirian.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang