Saya Dicap Perempuan Terlalu Galak Sampai 33 Tahun Baru Laku Dinikahi, Tapi Malam Pertama Gaun Tidur Sutra 8 Juta Dirobek, Mertua Menyodorkan Seember Celana Dalam Kotor Bapak Mertua Dan Menagih Mahar 300 Juta Atas Nama Adat Desa Yang Tidak Pernah Ada Membuat Saya Akhirnya Meledak Dan Melawan Balik

Tanganku langsung menepis tangan Budhe yang hendak membuka kotak kayu jati itu.

“Jangan sentuh.”

Suaraku terdengar pelan, tetapi seluruh kamar mendadak sunyi.

Budhe itu menatapku tidak percaya. Mungkin dia mengira perempuan yang gaun tidurnya baru saja mereka robek akan menangis, memohon, atau setidaknya gemetar ketakutan.

Sayangnya, mereka salah memilih perempuan.

Aku memang sedang marah. Sangat marah. Namun sepuluh tahun bekerja di dunia logistik dan bertahun-tahun berlatih silat mengajariku satu hal. Saat keadaan paling kacau, kepala justru harus paling dingin.

Aku menarik selimut menutupi tubuhku, lalu mengambil kotak perhiasan itu.

Ibu mertua mendecakkan lidah.

“Baru jadi menantu sudah perhitungan. Itu emas nantinya juga untuk keluarga.”

Aku menatapnya.

“Siapa bilang?”

“Kamu sudah menikah dengan Dimas.”

“Menikah bukan berarti seluruh harta saya otomatis menjadi milik keluarga Ibu.”

Bapak mertua tertawa sinis.

“Perempuan sekarang memang kebanyakan sekolah dan kerja. Jadi susah diatur.”

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku berubah.

Aku menoleh kepada Dimas.

Dia masih berdiri dekat lemari dengan wajah pucat.

“Dimas, aku tanya sekali lagi. Kamu tahu soal ini sebelumnya?”

“Nggak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Aku mengenal laki-laki itu hampir dua tahun. Aku tahu caranya berbohong. Rahangnya selalu mengeras dan matanya menghindari wajahku.

Saat itu, kedua tanda itu muncul bersamaan.

Aku mengambil napas.

“Jadi kamu tidak tahu mereka akan meminta tiga ratus juta?”

Dimas diam.

“Dimas.”

“Ra, kita bicarakan besok saja.”

Aku tersenyum pahit.

Tidak perlu menunggu besok.

Aku sudah mendapat jawabannya.

Aku mengambil ponsel di meja dan menyalakan perekam tanpa menarik perhatian mereka.

“Baik. Kalau saya tidak mencuci dua belas celana itu, saya harus membayar tiga ratus juta?”

Budhe berbibir merah langsung menyahut.

“Iya. Dua puluh lima juta satu celana.”

“Uangnya diberikan kepada siapa?”

“Ibumu.”

Aku menatap ibu mertua.

“Untuk apa?”

“Ya untuk sawuran keluarga. Jangan banyak tanya.”

Aku mengangguk perlahan.

“Kalau benar adat, besok saya akan tanya kepala desa.”

Wajah ibu mertua seketika berubah.

“Kamu mau mempermalukan keluarga?”

“Kenapa malu kalau memang adat?”

Tidak ada jawaban.

Aku berbalik menuju koper.

Tiba-tiba bapak mertua maju.

“Taruh kotak emas itu.”

Aku tidak bergerak.

“Apa?”

“Kalau uangnya belum mau kamu kasih, emasnya tinggal dulu di sini sebagai jaminan.”

Aku hampir tidak percaya dengan keberaniannya.

“Jaminan untuk apa?”

“Untuk kewajibanmu.”

Dia mengulurkan tangan hendak merebut kotak itu.

Aku mundur satu langkah.

“Jangan sentuh saya.”

Bukannya berhenti, dia justru mencoba mencengkeram lenganku.

Refleks tubuhku bekerja.

Aku menangkap pergelangan tangannya, memutar tubuh sedikit, lalu mengalihkan tenaganya ke samping.

Tidak ada pukulan.

Tidak ada tendangan.

Namun dalam dua detik, tubuh bapak mertua kehilangan keseimbangan dan terduduk keras di tepi kasur.

Semua orang terperangah.

“Astagfirullah!” teriak ibu mertua. “Kamu menyerang orang tua!”

“Saya sudah memperingatkan beliau.”

Dimas akhirnya maju.

“Rara, cukup!”

Aku menatapnya tajam.

“Kamu baru bisa bicara sekarang?”

“Dia bapakku!”

“Dan aku istrimu!”

Dimas terdiam.

Aku menunjuk gaun sutra merah yang sudah robek di lantai.

“Ketika pakaian istrimu dirobek sampai tubuhnya terlihat, kamu diam. Ketika bapakmu menatap tubuh istrimu, kamu diam. Ketika keluargamu meminta uang tiga ratus juta, kamu diam. Tapi ketika aku melindungi diri, tiba-tiba kamu bisa bicara?”

Wajah Dimas memerah.

“Jangan lebay. Mereka cuma mau menguji kamu.”

“Menguji apa?”

“Kesetiaan.”

Aku tertawa pendek.

“Kesetiaan atau saldo rekening?”

Kamar kembali sunyi.

Dan saat itulah aku melihat sesuatu.

Dimas menatap ibunya.

Hanya satu detik.

Namun cukup.

Aku mengenal ekspresi itu.

Ketakutan seseorang ketika rahasia hampir terbongkar.

Aku mendekatinya.

“Keluargamu punya utang?”

“Nggak.”

“Berapa?”

“Aku bilang nggak ada.”

Aku mengambil ponsel.

“Kalau begitu kita tanyakan langsung ke bank dan beberapa tetangga besok.”

Ibu mertua langsung menyela.

“Kamu tidak punya hak mencampuri urusan keluarga!”

Aku menatapnya.

“Kalau saya tidak punya hak mencampuri urusan keluarga, keluarga juga tidak punya hak mengambil tiga ratus juta milik saya.”

Dimas menutup wajah dengan kedua tangan.

Lalu akhirnya dia berkata lirih.

“Empat ratus delapan puluh juta.”

Aku merasa jantungku berhenti sesaat.

“Apa?”

“Utang Bapak sekitar empat ratus delapan puluh juta.”

Ibu mertua membentaknya.

“Dimas!”

Tapi semuanya sudah terlambat.

Aku memandang suamiku.

“Sejak kapan?”

“Dua tahun.”

Dua tahun.

Artinya utang itu sudah ada bahkan sebelum hubungan kami serius.

“Dan sejak kapan kamu tahu aku punya tabungan tiga ratus juta?”

Dimas tidak menjawab.

Aku teringat enam bulan lalu ketika dia bertanya tentang kondisi keuanganku dengan alasan ingin merencanakan rumah setelah menikah.

Aku menjawab jujur.

Tiga ratus juta.

Uang yang kukumpulkan sedikit demi sedikit selama sepuluh tahun.

Tiba-tiba semuanya masuk akal.

Pernikahan yang dipercepat.

Keinginan keluarganya agar mahar dan tabunganku disebut dalam acara.

Desakan membawa uang itu ke rumah mereka.

Bahkan ember menjijikkan ini.

Semuanya dirancang untuk membuatku malu dan tertekan sampai menyerahkan uang.

“Kamu menikahiku karena uang?”

“Nggak, Ra.”

“Jawab.”

“Aku cinta kamu.”

“Tapi kamu tahu rencana ini?”

Air muka Dimas berubah.

Aku mengulanginya.

“Kamu tahu?”

Lama sekali dia diam.

Kemudian bibirnya bergerak.

“Ibu cuma bilang nanti akan ada tradisi keluarga supaya kamu mau membantu.”

Dadaku terasa sesak.

Jadi dia tahu.

Mungkin tidak tahu tentang gaunku yang akan dirobek. Mungkin tidak tahu ember itu akan disodorkan ke wajahku.

Namun dia tahu keluarganya akan menekan aku untuk menyerahkan uang.

Dan dia membiarkannya.

Aku mengambil pakaian dari koper lalu masuk kamar mandi.

Ketika keluar, aku sudah memakai celana panjang, kemeja, dan jaket.

Koper kututup.

Kotak perhiasan kumasukkan ke tas.

“Aku pulang.”

Dimas berdiri di depan pintu.

“Jangan bikin keputusan saat emosi.”

Aku menatapnya.

“Justru untuk pertama kalinya malam ini aku berpikir sangat jernih.”

“Kita baru menikah.”

“Dan aku baru tahu siapa yang kunikahi.”

Saat aku membuka pintu kamar, seorang perempuan tua berdiri di lorong.

Mbah Parti.

Nenek Dimas.

Dia masih mengenakan kebaya dari resepsi karena rupanya belum sempat berganti pakaian.

Tatapannya berpindah dari koperku ke gaun robek di lantai, lalu ke ember hijau.

“Ada apa ini?”

Ibu mertua buru-buru mendekat.

“Rara nggak mau menjalankan adat keluarga, Mak.”

Mbah Parti mengernyit.

“Adat apa?”

Aku mendekatinya.

“Mbah, apa benar di keluarga ini ada adat Ngalap Berkah? Pengantin perempuan harus mencuci celana dalam bapak mertua atau membayar dua puluh lima juta untuk setiap celana?”

Mbah Parti membeku.

Kemudian wajahnya merah padam.

“Siapa yang bilang?”

Aku menunjuk orang-orang di kamar.

Mbah menatap anak dan menantunya satu per satu.

“Kurang ajar!”

Tongkatnya menghantam lantai.

“Saya lahir di desa ini tujuh puluh sembilan tahun lalu. Ibu saya lahir di sini. Nenek saya juga. Tidak pernah ada adat menjijikkan seperti itu!”

Tidak seorang pun berani bersuara.

Mbah Parti menatap Dimas.

“Kamu tahu?”

Dimas menunduk.

Mbah mengangkat tongkatnya, tetapi aku segera memegang lengannya.

“Sudah, Mbah.”

Mata perempuan tua itu berkaca-kaca.

Dia menggenggam tanganku.

“Pulanglah, Nduk.”

Dimas tersentak.

“Mbah!”

“Diam!”

Suara Mbah Parti menggema.

“Kalau malam pertama saja istrimu tidak bisa kamu lindungi, mau jadi suami macam apa kamu?”

Aku menelepon kakakku.

Tidak sampai satu jam, dia datang menjemput.

Sebelum aku masuk mobil, Dimas berlari keluar.

“Rara!”

Aku berhenti.

“Jangan hancurkan rumah tangga kita karena satu malam.”

Aku menatapnya lama.

“Satu malam ini tidak menghancurkan apa pun, Mas. Satu malam ini cuma menunjukkan fondasi rumah tangga kita ternyata sudah busuk sejak awal.”

Aku pergi.

Namun keesokan paginya, perang sebenarnya baru dimulai.

Keluarga Dimas menyebarkan cerita bahwa aku menyerang bapak mertua dan membawa kabur mahar. Beberapa kerabat menyebutku perempuan kasar yang tidak tahu adat.

Aku tidak membalas satu pun.

Aku hanya mengirim rekaman percakapan malam itu ke grup keluarga besar.

Setelah rekaman selesai diputar, grup mendadak sepi.

Satu jam kemudian, seorang sepupu Dimas menghubungiku.

Dia mengirim foto beberapa dokumen pinjaman.

“Mbakyu harus lihat ini.”

Aku memperbesar foto tersebut.

Salah satu pinjaman ternyata menggunakan sertifikat tanah milik Mbah Parti sebagai jaminan.

Ada tanda tangan persetujuan atas nama Mbah.

Aku langsung meneleponnya.

“Mbah pernah menjaminkan tanah?”

“Tidak pernah.”

Jantungku berdegup kencang.

Tiga hari kemudian, kami mendatangi lembaga bantuan hukum.

Dari pemeriksaan awal, tanda tangan pada beberapa dokumen diduga bukan milik Mbah Parti.

Kebohongan keluarga itu ternyata jauh lebih besar daripada tiga ratus juta milikku.

Bapak Dimas terlilit utang setelah bisnis penggilingan padinya gagal. Untuk menutup pinjaman pertama, dia mengambil pinjaman kedua. Lalu ketiga. Ibu mertua mempertahankan gaya hidup mereka agar tetangga tidak mengetahui keadaan sebenarnya.

Pernikahanku dipandang sebagai jalan keluar terakhir.

Aku bukan menantu.

Aku adalah dana talangan berjalan.

Dimas datang menemuiku dua minggu kemudian.

Wajahnya kusut.

“Aku benar-benar cinta kamu, Ra.”

Aku menatap laki-laki di depanku.

Aneh sekali.

Dulu aku selalu merasa tenang melihat wajah itu.

Sekarang tidak ada apa-apa.

“Kalau cinta, kenapa kamu diam malam itu?”

“Aku takut sama orang tuaku.”

“Jadi kamu membiarkan aku yang menanggung akibat ketakutanmu?”

Dia menangis.

“Aku pikir kalau utangnya lunas, semuanya selesai. Kita bisa mulai hidup baru.”

Aku menggeleng.

“Rumah tangga yang dibangun dari uang hasil menipu pasangan tidak pernah menjadi hidup baru.”

Beberapa bulan kemudian, setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan, pernikahan kami berakhir.

Orang-orang kantor yang dulu suka bercanda bahwa aku terlalu galak akhirnya berhenti mengatakannya.

Mungkin mereka kasihan.

Tapi aku tidak membutuhkan belas kasihan.

Aku justru merasa seperti baru keluar dari ruangan yang selama ini tidak kusadari kekurangan udara.

Suatu sore, Mbah Parti datang ke rumahku.

Dia membawa bungkusan kain.

“Ini untukmu.”

Ketika kubuka, aku terdiam.

Gaun tidur sutra merahku.

Gaun yang malam itu robek menjadi beberapa bagian kini sudah dijahit kembali.

Jahitannya kasar dan sedikit miring.

Aku menyentuh bekas robekannya.

“Mbah yang menjahit?”

Dia mengangguk.

“Mata Mbah sudah tidak jelas. Jadi jelek.”

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

“Kenapa diperbaiki?”

Mbah Parti menggenggam tanganku.

“Supaya kamu ingat, Nduk. Sesuatu yang pernah dirobek orang tidak otomatis kehilangan nilainya.”

Air mataku akhirnya jatuh.

Selama bertahun-tahun aku sering mendengar orang mengatakan perempuan sepertiku terlalu keras.

Terlalu galak.

Terlalu mandiri.

Terlalu banyak bicara.

Umur tiga puluh tiga baru laku menikah, kata mereka.

Dulu, diam-diam aku pernah takut mereka benar.

Aku pernah berpikir mungkin aku harus menjadi lebih penurut agar dicintai.

Malam itu mengubah semuanya.

Kalau aku lebih penurut, mungkin tiga ratus juta itu sudah hilang.

Kalau aku takut dianggap menantu durhaka, mungkin perhiasan peninggalan Ibu ikut dirampas.

Kalau aku diam demi mempertahankan status sebagai istri, mungkin bertahun-tahun berikutnya aku akan terus diperlakukan seperti sumber uang.

Aku menyimpan gaun merah yang sudah dijahit Mbah di lemari.

Bukan sebagai kenangan tentang pernikahanku yang gagal.

Melainkan sebagai pengingat tentang malam ketika aku berhasil menyelamatkan diriku sendiri.

Setahun kemudian, seseorang di kantor kembali bercanda saat melihatku memarahi vendor yang mencoba mengubah angka invoice.

“Bu Rara ini galak banget. Pantes laki-laki takut.”

Dulu mungkin aku akan tersinggung.

Kali ini aku hanya tersenyum.

“Bagus.”

Dia terdiam.

Aku mengambil dokumen dari tangannya lalu berjalan menuju ruang rapat.

Sebelum menutup pintu, aku menoleh.

“Yang takut sama perempuan karena perempuan itu berani mempertahankan haknya memang sebaiknya takut.”

Aku masuk dan menutup pintu.

Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh empat tahun hidupku, aku tidak lagi bertanya kapan akan ada laki-laki yang mau menerimaku.

Pertanyaanku sudah berubah.

Kalau suatu hari ada seseorang yang ingin berjalan bersamaku, apakah dia cukup dewasa untuk menghormatiku?

Karena sekarang aku tahu, terlambat menikah tidak pernah lebih memalukan daripada terburu-buru bertahan dalam pernikahan yang salah.

Dan perempuan yang berani berkata tidak bukan perempuan galak.

Kadang-kadang, dia hanya perempuan yang akhirnya sadar bahwa harga dirinya tidak pernah termasuk dalam mahar yang boleh ditagih siapa pun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang