Aku mematikan telepon tanpa menjawab pertanyaan Bara.
Tanganku gemetar begitu hebat sampai paper bag berisi hasil USG dan kaos kaki bayi itu jatuh ke trotoar. Aku membungkuk untuk mengambilnya, tetapi rasa nyeri tiba-tiba menusuk perut bawahku.
Aku memejamkan mata.
Jangan sekarang.

Tolong jangan sekarang.
Aku memeluk perutku yang bahkan belum terlihat membesar.
Di dalam sana ada seseorang yang belum pernah melihat dunia, tetapi sudah disebut benalu bahkan sebelum keberadaannya diketahui.
Ponselku kembali berdering.
Bara Sayang.
Kali ini aku mengangkatnya.
“Ning, kamu di mana? Aku sudah dekat rumah Bu Sandra.”
Aku menatap jalan tempat Rolls-Royce hitam tadi menghilang.
“Kamu naik apa?”
Hening sepersekian detik.
“Ya motorlah. Kenapa?”
Aku tertawa kecil.
Entah kenapa air mataku malah jatuh.
“Oh. Motor.”
“Ning?”
“Aku pulang sendiri.”
Aku langsung mematikan telepon.
Malam itu aku tidak kembali ke kos.
Aku pergi ke rumah Rika, teman lama yang bekerja di salon dekat Kalibata. Aku hanya bilang sedang bertengkar dengan Bara. Aku belum sanggup menceritakan sisanya.
Bara menelepon sampai 37 kali.
Pesannya lebih dari seratus.
Aku tidak membaca satu pun.
Besok paginya aku pergi ke klinik karena kram semalam belum hilang. Dokter mengatakan kandunganku masih baik, tetapi aku harus mengurangi aktivitas berat.
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Mengurangi aktivitas berat?
Aku perempuan yang hidupnya dibayar berdasarkan berapa kilometer makanan orang lain bisa kuantar.
Saat keluar dari klinik, sebuah Toyota Alphard hitam berhenti di depanku.
Pintunya terbuka.
Ibu Sandra duduk di dalam.
“Masuk.”
Aku berdiri diam.
“Saya tidak punya urusan dengan Ibu.”
“Kalau begitu kita bicara di sini tentang cucu saya.”
Darahku seperti turun ke kaki.
Dia tahu.
Aku masuk.
Di dalam mobil, Ibu Sandra menyerahkan sebuah amplop putih tebal.
Aku tidak menyentuhnya.
“Isinya lima ratus juta.”
Aku menatap wajahnya.
“Untuk apa?”
“Pergi dari Bara.”
Aku tertawa pelan.
“Murah juga harga anak keluarga Adiwijaya.”
Wajahnya berubah.
Aku melanjutkan, “Kemarin Ibu bilang keluarga Ibu tidak butuh anak seperti ini. Sekarang Ibu bayar lima ratus juta supaya dia hilang?”
“Jaga bicaramu.”
“Kenapa? Karena saya miskin?”
Ibu Sandra menarik napas.
“Kamu tidak mengerti dunia Bara.”
“Saya memang tidak mengerti. Tiga tahun saya pikir dia menghitung uang bensin karena miskin. Ternyata dia menghitung seberapa bodoh saya.”
Untuk pertama kalinya ekspresi perempuan itu goyah.
“Kamu dengar pembicaraan kami semalam?”
“Semuanya.”
Aku membuka pintu.
Sebelum turun, Ibu Sandra berkata, “Kalau kamu cukup pintar, ambil uang itu. Bara akan menikahi perempuan yang sudah dipilih keluarga kami bulan depan.”
Aku berhenti.
Ada rasa sakit yang berbeda kali ini.
“Bara tahu?”
“Tentu.”
Aku turun tanpa mengambil amplop.
Sore harinya aku kembali ke kos.
Bara sudah duduk di depan pintu dengan kaos lusuh dan celana pendek seperti biasanya.
Motor Beat tua terparkir di sampingnya.
Melihatku, dia langsung berdiri.
“Ning.”
Aku melempar kunci kos ke dadanya.
“Kita selesai.”
Wajahnya pucat.
“Dengar dulu.”
“Apa yang harus kudengar? Cerita ibumu membuangmu? Cerita kamu tidur di parkiran Tanah Abang? Atau cerita nasi customer yang kamu makan karena kelaparan?”
Bara terdiam.
Aku mengeluarkan paper bag yang sudah kusut.
“Aku bahkan beli ini pakai koin GoPay.”
Kulempar paper bag itu.
Hasil USG jatuh di lantai.
Bara membeku.
Matanya turun pada foto hitam putih itu.
Kemudian pada kaos kaki bayi kuning.
“Ning…”
“Aku hamil.”
Dia tidak bergerak.
“Tujuh minggu.”
Wajah Bara seperti kehilangan seluruh darahnya.
Aku menunggu.
Sebagian kecil dari diriku masih berharap dia akan memelukku.
Tapi yang keluar dari mulutnya justru, “Kenapa kamu tidak bilang dari awal?”
Aku tersenyum pahit.
“Supaya apa? Biar kamu bisa kasih tahu ibumu lebih cepat kalau benalu di perutku harus dibuang?”
Bara menatapku tajam.
“Kamu dengar itu juga?”
“Aku dengar kamu bilang aku tidak pantas melahirkan anak keluarga Adiwijaya.”
“Ning, itu bukan seperti yang kamu pikir.”
“Kalimatnya jelas.”
“Aku terpaksa ngomong begitu.”
Aku tertawa.
“Orang kaya memang lucu. Bohong tiga tahun dibilang terpaksa.”
Aku mengambil tas.
Bara meraih lenganku.
Aku menepisnya.
“Jangan sentuh aku.”
“Aku bisa jelaskan semuanya.”
“Jelaskan ke calon istrimu bulan depan.”
Mata Bara langsung berubah.
“Siapa bilang?”
“Ibumu.”
Bara memejamkan mata sejenak.
Saat membukanya kembali, ada kemarahan yang belum pernah kulihat.
“Bukan aku yang akan menikah bulan depan.”
Aku terdiam.
“Yang akan menikah itu kakakku, Bagas.”
Aku tidak langsung percaya.
Bara mengambil ponselnya dan membuka sebuah undangan digital.
Nama Bagas Adiwijaya tercetak jelas.
“Kalau begitu kenapa semua kebohongan ini?”
Bara duduk perlahan.
Tiga tahun lalu, katanya, dia memang pergi dari rumah keluarga Adiwijaya.
Bukan karena dibuang.
Dia kabur.
Ayahnya meninggal dan meninggalkan perusahaan logistik bernilai triliunan. Dalam surat wasiat, Bara mendapat 35 persen saham ketika berusia tiga puluh tahun.
Tetapi Bara tidak percaya pada keluarganya sendiri.
Sebelum meninggal, ayahnya pernah berkata bahwa uang membuat orang sulit membedakan siapa yang mencintai dirinya dan siapa yang mencintai nama belakangnya.
Maka Bara pergi.
Dia menolak fasilitas keluarga, menyewa kos, membeli motor bekas dan bekerja seperti orang biasa.
“Aku ketemu kamu dua bulan setelah itu,” katanya.
“Lalu kamu memutuskan menjadikan aku eksperimen?”
“Bukan.”
“Terus apa?”
“Aku jatuh cinta.”
Aku menatapnya dingin.
“Cinta tidak butuh kebohongan selama tiga tahun.”
Bara tidak membantah.
Itulah pertama kalinya aku melihatnya benar-benar tidak punya jawaban.
Aku pergi malam itu.
Tiga minggu berikutnya menjadi masa terberat dalam hidupku.
Aku berhenti mengantar makanan karena dokter melarang terlalu lelah. Rika membantuku mendapat pekerjaan sebagai admin salon.
Bara datang hampir setiap hari.
Aku tidak pernah menemuinya.
Dia mengirim makanan, vitamin, bahkan uang.
Semua kukembalikan.
Sampai suatu pagi Ibu Sandra datang ke salon.
Kali ini tanpa sopir.
Tanpa tas mahal.
Wajahnya bahkan tidak memakai riasan.
“Aku perlu bicara.”
Aku hampir menyuruhnya pergi, tetapi sesuatu pada wajahnya membuatku mengizinkan.
Kami duduk di warung kopi sebelah salon.
“Aku berbohong tentang pernikahan Bara,” katanya.
Aku diam.
“Aku ingin kamu pergi.”
“Itu sudah berhasil.”
“Ternyata tidak.”
Dia meletakkan ponselnya di meja.
Di layar ada berita bisnis.
BARA ADIWIJAYA MELEPAS HAK WARIS KELUARGA.
Aku membaca dua kali.
Bara telah menandatangani pelepasan hak atas sebagian besar aset keluarga.
“Kenapa dia melakukan ini?”
“Karena aku menyuruhnya memilih.”
Suara Ibu Sandra melemah.
“Aku bilang kalau dia tetap bersamamu, jangan pernah kembali sebagai Adiwijaya.”
Dadaku terasa sesak.
“Dia memilih kamu.”
Aku menatap perempuan itu.
“Kenapa Ibu membenci saya?”
Pertanyaan itu membuatnya lama diam.
“Aku tidak membencimu.”
“Kalau begitu?”
Dia tersenyum pahit.
“Aku takut.”
Dua puluh delapan tahun lalu, ternyata Ibu Sandra juga datang dari keluarga sederhana.
Dia menikahi ayah Bara ketika lelaki itu belum memiliki apa-apa.
Setelah perusahaan berkembang, keluarga besar suaminya selalu menuduh Sandra hanya mengejar harta.
“Aku menghabiskan hidupku membuktikan bahwa mereka salah. Tapi tanpa sadar aku berubah menjadi orang yang dulu menghina aku.”
Matanya basah.
“Aku melihat sandalmu yang putus dan kosmu yang sempit. Aku langsung memutuskan kamu pasti mengincar Bara. Padahal kamu bahkan tidak tahu siapa dia.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Sebelum pergi, Sandra meletakkan sesuatu di meja.
Bukan uang.
Kunci motor Beat Bara.
“Dia menjual Rolls-Royce-nya.”
Aku mengernyit.
“Untuk apa?”
“Bayar utang perusahaan kecil milik beberapa sopir ekspedisi yang menjadi korban salah satu anak perusahaan kami. Dia bilang kalau mau hidup sebagai orang biasa, dia ingin memulainya tanpa membawa dosa keluarga.”
Malamnya aku pergi ke kos lama.
Bara sedang jongkok memperbaiki motor Beat.
Tangannya hitam oleh oli.
Ketika melihatku, dia berdiri begitu cepat sampai kepalanya membentur spion.
“Aduh.”
Aku hampir tertawa.
Hampir.
Kami berdiri saling menatap.
“Aku belum memaafkan kamu,” kataku.
Bara mengangguk.
“Aku tahu.”
“Aku juga tidak butuh kamu jadi miskin untuk membuktikan cinta.”
Dia terdiam.
“Yang kubutuhkan cuma kejujuran.”
“Aku tahu.”
“Dan jangan jual mobil puluhan miliar cuma karena drama.”
Untuk pertama kalinya dia tersenyum kecil.
“Itu mobil Mama. Aku cuma mengembalikan kuncinya.”
Aku terdiam.
Jadi selama ini bahkan bagian itu kusalahpahami.
Bara mengambil sesuatu dari dalam kos.
Kotak bekal plastik miliknya.
Dia membukanya.
Di dalamnya ada kaos kaki bayi kuning yang kubeli.
“Aku nemu ini malam kamu pergi.”
Mataku panas.
“Aku tidak minta kamu kembali sekarang,” katanya. “Aku cuma minta izin untuk jadi ayah anak kita. Kalau suatu hari kamu bisa percaya lagi, aku akan bersyukur. Kalau tidak, aku tetap akan bertanggung jawab.”
Aku memandang lelaki di depanku.
Aku masih marah.
Masih terluka.
Cinta ternyata tidak otomatis menghapus pengkhianatan.
Tetapi untuk pertama kalinya Bara tidak mencoba menyembunyikan apa pun.
Enam bulan kemudian aku melahirkan seorang bayi perempuan.
Kami memberinya nama Kirana.
Aku dan Bara belum menikah ketika Kirana lahir.
Keputusan itu membuat keluarga besarnya geger.
Tapi kali ini aku tidak peduli.
Bara harus membangun kembali kepercayaanku dari nol.
Dan dia melakukannya.
Bukan dengan berlian.
Bukan Rolls-Royce.
Dia bangun pukul tiga pagi ketika Kirana menangis.
Dia belajar mengganti popok.
Dia menemaniku kontrol.
Dia bahkan masih menggunakan Beat tua itu sampai suatu hari mogok total di depan RSIA.
Setahun setelah Kirana lahir, Bara melamarku di tempat yang sama sekali tidak romantis.
Warung nasi Padang tempat kami dulu menerima order rendang yang mengubah hidup kami.
Tidak ada fotografer.
Tidak ada cincin miliaran.
Hanya sebuah cincin sederhana dan tangan Bara yang gemetar.
Aku menerimanya.
Saat pernikahan kami, Ibu Sandra datang membawa sebuah kotak besar.
Aku membukanya dan menemukan gaun sutra warna champagne.
Aku langsung mengenalinya.
Gaun yang dulu terkena kuah rendang.
Nodanya sudah tidak ada.
Di dalam kotak ada secarik kertas.
Aku membacanya dan tertawa sambil menangis.
Gaun ini tidak pernah berharga 120 juta. Harganya 1,2 juta saat diskon. Karpetnya juga bukan Persia. Mama cuma ingin menakut-nakuti kalian supaya Bara pulang ke rumah.
Aku menatap Sandra.
Perempuan itu tersenyum malu.
“Tiga ratus juta?”
“Ya, Mama keterlaluan.”
Bara menutup wajah.
“Ya Tuhan, Ma.”
Semua orang tertawa.
Namun kemudian Sandra mengeluarkan satu amplop lagi.
Bukan cek.
Bukan sertifikat rumah.
Di dalamnya ada foto USG Kirana yang dulu jatuh di lantai kos.
“Aku menemukannya malam itu di taman,” katanya pelan.
Sandra memandang cucunya yang sedang tertidur dalam gendongan Bara.
“Dulu aku menyebutnya benalu sebelum tahu dia ada.”
Suaranya bergetar.
“Ternyata dia justru yang mencabut kesombongan dari keluarga kita.”
Aku menatap Kirana.
Anak kecil yang pernah dianggap tidak pantas masuk keluarga Adiwijaya itu kini menjadi orang yang membuat keluarga tersebut belajar bahwa harga manusia tidak pernah bisa dihitung dari gaun, mobil, rumah, atau saldo rekening.
Dan aku akhirnya mengerti sesuatu.
Kemiskinan paling menyakitkan bukan ketika kita tidak punya uang.
Melainkan ketika kita punya segalanya, tetapi terlalu miskin hati untuk melihat ketulusan seseorang.
