PUTRI KAMI LOLOS FAKULTAS KEDOKTERAN, TAPI MALAM ITU SAYA MELIHAT FOTO GELANGNYA DI AKUN PRIA YANG MENGAKU MEMBUATNYA BATAL KULIAH—LEBIH MENGEJUTKAN, KAMPUS MENYIMPAN ALASAN PENGUNDURAN DIRI YANG MENYEBUT SAYA SUDAH TAK MAMPU BERJALAN KARENA PENYAKIT YANG TIDAK PERNAH SAYA DERITA

“Raka masih suami sah saya.”

Kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam kepala saya.

Saya menatap Intan, lalu bocah kecil dalam pelukannya. Anak itu mungkin baru berusia tiga tahun. Wajahnya bulat, rambutnya sedikit ikal, dan sejak kami masuk ia terus memandangi pintu seolah menunggu seseorang pulang.

Bima berdiri kaku di samping saya.

“Suami?” tanyanya pelan.

Intan mengangguk.

“Kami menikah empat tahun lalu. Anak ini anak kami. Namanya Daffa.”

Dunia saya seperti kehilangan pijakan.

“Kalau begitu, kenapa dia mengaku belum menikah?”

Intan tertawa hambar.

“Karena itu bukan kebohongan pertamanya.”

Ia mempersilakan kami duduk. Rumah kontrakan itu sederhana. Di sudut ruang tamu ada beberapa kardus kemasan makanan, plastik sambal, dan tumpukan kotak ayam geprek.

Saya langsung mengenali logo pada kotaknya.

Logo yang sama terlihat samar dalam foto Alya.

“Usaha ini punya Raka?” tanya saya.

“Awalnya punya saya.”

Intan mengambil ponselnya.

Ia menunjukkan foto lama sebuah gerobak kecil bertuliskan Geprek Bara. Dalam foto itu, Intan berdiri bersama Raka. Daffa masih bayi.

“Saya yang dapat modal dari kakak saya. Raka mengurus pemasaran. Setelah usahanya mulai ramai, dia berubah. Sering pulang malam, pinjam uang, lalu bilang mau mengembangkan cabang.”

“Dia kuliah kedokteran?” tanya Bima.

Intan menggeleng.

“Lulus SMA saja nyaris tidak.”

Saya menutup mulut.

Jadi semuanya palsu.

Grup belajar.

Gap year.

Impian menjadi dokter.

Semua dibuat agar ia bisa masuk ke kehidupan anak kami.

“Sekarang Raka di mana?”

Intan terdiam.

“Dia punya kontrakan lain. Saya tidak tahu alamatnya. Sudah hampir tiga bulan dia jarang pulang. Katanya sedang mengurus cabang baru.”

Tiga bulan.

Hampir sama dengan waktu sejak Alya dinyatakan lolos kuliah.

Saya menelepon Alya.

Tidak diangkat.

Saya menelepon lagi.

Ponselnya mati.

Kami langsung menuju indekos yang pernah ditunjukkan Alya.

Pemilik kos tampak bingung ketika melihat kami.

“Alya?”

“Iya, Bu. Anak saya.”

Perempuan itu mengernyit.

“Bukannya sudah pindah?”

Jantung saya jatuh.

“Pindah?”

“Sudah lebih dari sebulan. Katanya mau tinggal lebih dekat dengan tempat kerja.”

Saya masuk ke kamar yang dulu ditempati Alya.

Kosong.

Meja belajar sudah tidak ada bukunya. Rak kecil kosong. Celemek hijau juga hilang.

Yang tersisa hanya satu penjepit rambut di bawah ranjang.

Saya mengambilnya dan menangis.

Bima tidak berkata apa pun sepanjang perjalanan kembali ke rumah Intan.

Sore itu, kami berempat duduk mencoba menyusun kepingan kebohongan Raka.

Nisa datang setelah saya menghubunginya.

Intan menunjukkan foto Raka.

Nisa langsung mengangguk.

“Itu dia.”

Kami kemudian mencari akun media sosial, nomor telepon, rekening pembayaran usaha, sampai alamat pengiriman.

Akhirnya sebuah petunjuk muncul.

Salah satu pelanggan Geprek Bara mengunggah foto struk pemesanan.

Di sana tercetak alamat dapur produksi di daerah Rungkut.

Kami pergi ke sana malam itu.

Bangunannya bukan restoran, hanya rumah dua lantai yang bagian depannya dipenuhi motor pengemudi makanan daring.

Saya melihat Alya dari seberang jalan.

Putri saya yang seharusnya sedang mempelajari anatomi manusia berdiri di depan meja plastik, memasukkan nasi ke kotak makan.

Celemek hijau buatan saya melekat di tubuhnya.

Rambutnya berantakan.

Wajahnya terlihat jauh lebih kurus.

Saya ingin berlari menghampirinya.

Bima menahan tangan saya.

“Tunggu.”

Seorang laki-laki keluar dari rumah.

Raka.

Ia mengambil beberapa lembar uang dari tangan Alya, menghitungnya, lalu memasukkannya ke saku.

Alya mengatakan sesuatu.

Kami tidak mendengar jelas.

Namun Raka tiba-tiba membentak.

“Kalau kamu dari awal nurut, kita nggak bakal sesusah ini!”

Alya menunduk.

Saat itulah Bima tidak mampu menahan diri.

“Alya!”

Putri saya menoleh.

Kotak makanan terlepas dari tangannya.

“Ibu?”

Wajahnya berubah pucat.

Raka membeku.

Lalu matanya berpindah kepada Intan yang turun dari mobil sambil menggandeng Daffa.

“Papa!”

Daffa berlari.

Keheningan malam itu terasa mengerikan.

Alya menatap bocah tersebut.

Kemudian menatap Intan.

“Papa?”

Raka mundur selangkah.

“Alya, aku bisa jelasin.”

Saya tidak pernah melihat wajah seseorang kehilangan begitu banyak harapan dalam beberapa detik.

Alya menatap saya.

“Ibu…”

Saya ingin marah.

Saya sudah membayangkan akan menamparnya, berteriak, menanyakan ke mana uang kami pergi.

Namun ketika melihat tubuhnya gemetar, yang keluar dari mulut saya hanya satu kalimat.

“Pulang, Nak.”

Alya menangis.

Raka mencoba memegang lengannya.

Bima langsung berdiri di antara mereka.

“Jangan sentuh anak saya.”

“Pak, ini salah paham.”

Intan tertawa getir.

“Salah paham yang mana, Rak? Kamu lupa punya istri atau lupa punya anak?”

Raka menatap orang-orang di sekitar yang mulai memperhatikan.

Ia kemudian menarik Alya ke dalam rumah.

Namun Alya menepis tangannya.

“Jangan pegang aku.”

Itulah pertama kalinya saya melihat keberanian muncul kembali di mata anak saya.

“Aku tanya satu hal,” katanya. “Kamu sudah menikah?”

Raka tidak menjawab.

Intan mengeluarkan foto buku nikah dari ponselnya.

Alya melihatnya.

Lututnya langsung lemas.

Saya memeluknya sebelum ia jatuh.

Malam itu kami membawa Alya pergi.

Barulah di penginapan, seluruh cerita keluar.

Raka mendekatinya beberapa bulan sebelum UTBK. Awalnya ia sangat mendukung.

Ia menelepon Alya setiap malam, menemani belajar, mengirim soal latihan, bahkan mengatakan mereka akan masuk kedokteran bersama.

Ketika Alya lolos dan Raka gagal, semuanya berubah.

“Dia bilang aku bakal ninggalin dia,” ujar Alya sambil menangis.

“Terus?”

“Dia bilang kalau aku benar-benar sayang, aku harus menunda setahun.”

Saya memegang tangannya.

“Kenapa kamu tidak cerita?”

“Karena Ibu sama Ayah pasti melarang.”

“Memang.”

Alya menunduk.

Kemudian ia mengatakan sesuatu yang lebih menyakitkan.

Raka perlahan membuatnya percaya bahwa kami hanya peduli pada status dokter.

Ia mengatakan pengorbanan orang tua adalah bentuk tekanan.

Ia membuat Alya merasa bersalah karena memilih kuliah sementara orang yang dicintainya gagal.

“Alasan penyakit Ibu itu ide Raka,” katanya.

Saya memejamkan mata.

“Nomor keluarga juga?”

Alya mengangguk.

“Nomor Raka.”

“Bayu?”

“Dia.”

Bima bangkit dari kursinya dan berjalan ke jendela.

Saya tahu ia sedang menahan amarah.

“Uang seratus enam puluh lima juta itu di mana?”

Alya langsung menangis semakin keras.

Ternyata sebagian uang belum pernah masuk ke kampus.

Raka meyakinkan Alya bahwa biaya registrasi bisa dibayar belakangan. Setelah pengunduran diri dilakukan, ia meminta uang tersebut dipakai sementara untuk mengembangkan usaha.

Sedikit demi sedikit Alya mentransfer uang.

Delapan juta.

Lima belas juta.

Dua puluh juta.

Kemudian lima puluh juta.

Totalnya lebih dari seratus juta rupiah.

“Dia bilang setelah usaha berkembang, uangnya dikembalikan sebelum aku daftar tahun depan.”

Bima berbalik.

“Dan kamu percaya?”

Nada suaranya keras.

Alya tersentak.

Saya memegang lengan suami.

Bima menatap putrinya lama, lalu duduk.

Air matanya jatuh.

“Ayah kerja dua puluh tujuh tahun, Alya. Tangan Ayah pernah kena freon, pernah jatuh dari tangga, pernah kerja sampai jam dua pagi. Bukan karena Ayah ingin kamu jadi dokter supaya bisa pamer.”

Alya menangis tanpa suara.

“Ayah cuma ingin hidupmu lebih luas dari hidup Ayah.”

Malam itu tidak ada yang benar-benar tidur.

Keesokan paginya kami pergi ke polisi.

Intan ikut.

Ia membawa dokumen pernikahan, catatan transfer, dan bukti bahwa beberapa pinjaman atas nama usaha ternyata digunakan Raka untuk kepentingan pribadi.

Ketika Raka tahu kami melapor, ia menghilang.

Namun kesalahannya adalah kesombongannya sendiri.

Akun anonim tempat ia membanggakan keberhasilannya mengendalikan Alya ternyata masih aktif.

Ia bahkan mengunggah tulisan baru.

“Orang tua posesif selalu merasa anak perempuan milik mereka.”

Polisi menelusuri beberapa transaksi dan akhirnya menemukan Raka tiga hari kemudian di sebuah penginapan di Malang.

Masalah kami belum selesai.

Uang tidak langsung kembali.

Sebagian sudah digunakan untuk membayar utang Raka, menyewa tempat usaha, membeli motor, bahkan berjudi daring.

Yang lebih berat adalah kenyataan bahwa kesempatan Alya menjadi mahasiswa tahun itu sudah hilang.

Kami kembali menemui Bu Ratih.

Alya datang sendiri dan meminta maaf.

“Saya tahu saya salah, Bu. Saya berbohong kepada kampus dan orang tua.”

Bu Ratih tidak menjanjikan keajaiban.

Pengunduran diri sudah diproses secara resmi dan kursinya telah dialihkan sesuai prosedur.

Alya keluar dari ruangan dengan mata merah.

Di taman kampus ia duduk lama.

“Aku sudah menghancurkan semuanya.”

Saya duduk di sebelahnya.

“Tidak.”

“Tapi uangnya hilang. Kuliahku hilang.”

“Kesempatan tahun ini yang hilang. Bukan hidupmu.”

Alya menatap saya.

Saya menggenggam tangannya.

“Kamu boleh menyesal. Tapi jangan menjadikan penyesalan sebagai rumah.”

Kami kembali ke Semarang.

Bulan-bulan berikutnya tidak mudah.

Bima mengambil pekerjaan tambahan memperbaiki AC rumah pada akhir pekan.

Saya kembali menerima jahitan lebih banyak.

Tetapi sesuatu yang tidak saya duga terjadi.

Alya ikut bekerja.

Ia mengajar les Biologi dan Kimia untuk anak SMA. Malam hari ia belajar UTBK lagi.

Suatu malam saya menemukan celemek hijau sage itu terlipat di lemari.

Bunga mataharinya terkena noda minyak yang tidak bisa hilang.

“Bu.”

Alya berdiri di belakang saya.

“Buang saja.”

Saya menggeleng.

Saya mencucinya, menjemurnya, lalu menyimpannya kembali.

“Kenapa?”

“Supaya kamu ingat.”

Alya menunduk.

“Kesalahan?”

“Bukan. Bahwa orang bisa tersesat tanpa harus selamanya menjadi orang yang tersesat.”

Hampir setahun berlalu.

Kasus Raka masih berjalan. Sebagian aset usahanya disita dan sebagian kecil uang kami akhirnya berhasil dikembalikan.

Intan memilih mengajukan perceraian.

Sesekali ia mengirim foto Daffa kepada saya.

Aneh memang. Sebuah kebohongan mempertemukan dua keluarga yang sebelumnya tidak saling mengenal.

Lalu hari pengumuman UTBK berikutnya tiba.

Saya tidak berani melihat layar.

Bima berdiri di belakang Alya.

Tangan putri kami gemetar saat memasukkan nomor peserta.

Halaman memuat beberapa detik.

Kemudian Alya menutup mulut.

Saya langsung tahu.

“Gimana?”

Alya berbalik.

Air matanya mengalir.

“Bu…”

Saya mendekati layar.

Namanya tercantum di sana.

Alya Rahmani.

Diterima.

Pendidikan Dokter.

Kali ini bukan di Surabaya.

Ia diterima di salah satu universitas negeri di Semarang.

Bima langsung memeluk anaknya.

Saya ikut memeluk mereka.

Kami bertiga menangis di depan laptop tua di ruang jahit.

Beberapa minggu kemudian, saat hari registrasi tiba, Alya mengenakan kemeja putih dan celana hitam.

Saya mengambil tas.

Namun Alya menghentikan saya.

“Ibu.”

Saya terdiam.

Kenangan setahun sebelumnya kembali menghantam dada saya.

Dulu ia juga melarang kami ikut.

Alya tersenyum sambil menangis.

“Kali ini temani aku.”

Kami berangkat bertiga.

Setelah seluruh proses selesai, Alya meminta kami menunggu sebentar.

Ia kembali membawa sesuatu dari tasnya.

Celemek hijau sage.

Saya tertawa.

“Kamu bawa itu buat apa?”

Alya memegang bagian yang bernoda minyak.

“Dulu aku pikir cinta berarti harus membuktikan bahwa aku rela kehilangan sesuatu untuk seseorang.”

Ia memandang saya dan ayahnya.

“Sekarang aku tahu orang yang benar-benar mencintai kita tidak akan meminta kita mengecilkan masa depan supaya dia merasa lebih besar.”

Saya tidak mampu menjawab.

Saya hanya memeluknya.

Beberapa bulan kemudian, Alya memasang celemek itu di dinding kamar belajarnya.

Bukan sebagai kenangan tentang Raka.

Bukan pula sebagai lambang kegagalannya.

Di bawah bunga matahari kecil yang pernah saya jahit, ia menempelkan secarik kertas.

Tulisan tangannya sederhana.

Aku pernah menyerahkan masa depanku kepada orang yang salah. Untungnya, orang tuaku mengajariku bahwa masa depan bisa diperjuangkan kembali.

Bertahun-tahun saya mengira tugas seorang ibu adalah menjahit pakaian agar anaknya terlindungi.

Ternyata saya salah.

Ada masa ketika kita tidak bisa melindungi anak dari setiap kebohongan, setiap luka, atau setiap pilihan buruk.

Yang bisa kita lakukan hanyalah memastikan bahwa ketika hidup mereka robek, mereka tahu masih ada jalan pulang.

Dan mungkin begitulah menjadi orang tua.

Bukan memastikan anak tidak pernah jatuh.

Melainkan menjadi tempat yang tidak mengunci pintu ketika mereka akhirnya ingin bangkit.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang