AYAH MEMINTAKU TIDAK LAGI MENJEMPUT, TAPI SEBUAH AMPLOP DI RUMAH DUKA MEMBUATKU MENYESAL SEUMUR HIDUP

“Ayah sudah tidak ada, tapi mungkin setelah membaca ini kamu akan mengerti kenapa dia tetap menarik becak sampai hari terakhirnya.”

Kalimat Pak Darto membuat tangisku berhenti sesaat.

Aku berdiri di samping ranjang klinik dengan bunga kelulusan yang sudah kusut dalam genggaman. Di depanku, Ayah terbaring begitu tenang, seolah hanya tertidur setelah seharian mengayuh becak mengelilingi Jakarta.

“Apa maksud Bapak?”

Pak Darto menatap amplop putih yang ditemukan di bawah bantal Ayah.

“Buka saja.”

Tanganku gemetar ketika merobek ujung amplop itu.

Di dalamnya ada sebuah surat, beberapa lembar kuitansi bank, dan satu kartu nama yang belum pernah kulihat.

Tulisan tangan Ayah memenuhi selembar kertas bergaris.

Nadia, kalau kamu membaca surat ini, mungkin Ayah belum sempat mengatakan semuanya.

Ayah tahu kamu malu punya ayah tukang becak.

Tidak apa-apa.

Ayah juga pernah muda.

Ayah tahu rasanya ingin terlihat sama seperti orang lain.

Aku menutup mulut.

Air mataku jatuh mengenai kertas.

Namun kalimat berikutnya membuat dadaku terasa seperti dihantam sesuatu.

Sebenarnya becak itu bukan alasan kita miskin. Becak itu alasan kamu masih punya masa depan.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

“Apa maksudnya?”

Pak Darto menarik sebuah kursi.

“Teruskan dulu.”

Aku kembali membaca.

Setelah ibumu meninggal, Ayah punya dua pilihan. Menjual rumah peninggalan kakekmu dan hidup lebih nyaman beberapa tahun, atau mempertahankannya untuk biaya kuliahmu.

Ayah memilih yang kedua.

Rumah?

Kami tidak pernah punya rumah.

Seumur hidup, aku mengenal kontrakan sempit dengan atap bocor dan dinding yang catnya mengelupas.

Aku buru-buru memeriksa kuitansi di dalam amplop.

Salah satunya berasal dari sebuah bank.

Ada deposito pendidikan atas namaku.

Jumlahnya membuatku terpaku.

Rp387.500.000.

“Ini apa?”

Suaraku nyaris tidak terdengar.

Pak Darto mengusap wajah.

“Tabungan bapakmu.”

Aku tertawa kecil karena tidak percaya.

“Tidak mungkin. Ayah bahkan sering bilang uang kontrakan belum cukup.”

“Itu karena dia tidak pernah mengambil uang ini.”

Pak Darto kemudian menceritakan sesuatu yang tidak pernah kuketahui.

Dulu Ayah bukan penarik becak.

Sebelum Ibu meninggal, Ayah bekerja sebagai teknisi mesin di sebuah perusahaan percetakan di kawasan Pulogadung. Penghasilannya tidak besar, tetapi cukup untuk membuat hidup kami sederhana dan nyaman.

Setelah Ibu meninggal karena sakit, perusahaan tempat Ayah bekerja melakukan pengurangan karyawan.

Ayah kehilangan pekerjaannya.

Pada saat bersamaan, biaya pengobatan Ibu meninggalkan utang.

Ayah menjual sepeda motor, perhiasan Ibu, dan hampir semua barang berharga.

Namun satu hal tidak pernah disentuhnya.

Sebidang rumah kecil peninggalan Kakek di Bekasi.

“Bapakmu menyewakan rumah itu,” kata Pak Darto. “Uang sewanya dimasukkan ke tabungan pendidikanmu. Dia sendiri memilih tinggal di kontrakan dan menarik becak.”

Aku menggeleng.

“Kenapa dia tidak pernah bilang?”

“Karena dia tidak ingin kamu sekolah sambil merasa berutang kepadanya.”

Aku menunduk.

Justru aku telah membuatnya merasa rendah.

Aku kembali membaca surat.

Waktu kamu masuk SMA dan bilang ingin kuliah, Ayah senang sekali.

Malam itu kamu tidur, tapi Ayah tidak bisa tidur.

Ayah menghitung biaya kuliah sampai hampir subuh.

Ayah takut tidak cukup.

Jadi Ayah mulai menarik becak lebih pagi dan pulang lebih malam.

Aku teringat masa-masa itu.

Sering kali aku bangun pukul lima pagi dan Ayah sudah tidak ada.

Aku mengira dia memang menyukai pekerjaannya.

Aku bahkan pernah berkata kepada Rina bahwa Ayah tidak punya ambisi.

Padahal setiap kilometer yang ditempuhnya adalah ambisi untuk masa depanku.

Tangisku semakin keras.

“Pak Darto, tadi sebenarnya apa yang terjadi?”

Pak Darto tidak langsung menjawab.

“Bapakmu seharusnya pulang setelah mengantarkan bunga ke sekolahmu.”

Aku menatapnya.

“Lalu?”

“Dia bilang kamu tidak mau pulang bersamanya.”

Dadaku terasa sesak.

“Setelah itu dia menerima penumpang.”

“Kenapa? Hari ini kan hari kelulusanku.”

“Katanya mau mencari tambahan.”

“Untuk apa?”

Pak Darto menunjuk kartu nama dalam amplop.

Aku mengambilnya.

Nama sebuah universitas swasta ternama tercetak di sana.

Di belakang kartu itu terdapat catatan kecil.

Biaya formulir Nadia.

Aku tidak mampu bernapas selama beberapa detik.

Beberapa bulan sebelumnya, aku pernah membawa brosur universitas itu pulang.

Aku berkata kepada Ayah bahwa aku ingin masuk ke sana.

Namun ketika melihat biaya pendaftarannya, aku membuang brosur tersebut.

Aku tidak pernah membicarakannya lagi.

Ternyata Ayah mengambilnya dari tempat sampah.

“Dia tahu?”

“Tahu.”

Pak Darto mengangguk.

“Tadi pagi sebelum menjemputmu, dia bilang mau mengumpulkan kekurangan uang pendaftaran.”

Aku menatap tubuh Ayah.

Jadi setelah aku menolak berfoto dengannya, setelah menyuruhnya pulang, setelah mematikan ponsel agar dia tidak menggangguku, Ayah masih bekerja untuk sesuatu yang bahkan sudah kulupakan.

“Apa kecelakaan?”

Pak Darto menggeleng.

“Serangan jantung.”

Dunia terasa sunyi.

“Dia terlalu lelah beberapa minggu terakhir.”

“Dia sakit?”

“Sudah lama mengeluh dada sesak.”

“Kenapa tidak ke rumah sakit?”

Pak Darto tidak menjawab.

Aku sudah tahu jawabannya.

Uang.

Bukan karena kami tidak memilikinya.

Melainkan karena uang itu disimpan untukku.

Aku jatuh berlutut di samping ranjang.

“Yah…”

Aku menggenggam tangannya.

Dingin.

Tangan yang dulu menggandengku menyeberang jalan.

Tangan yang memasak sarapan.

Tangan yang menambal sepatu sekolahku.

Tangan yang membuatku malu karena hitam oleh oli.

Sekarang aku rela memberikan apa saja hanya agar tangan itu menggenggamku sekali lagi.

“Ayah, bangun.”

Tidak ada jawaban.

“Aku mau foto sama Ayah.”

Hanya suara pendingin ruangan.

“Aku tidak malu lagi.”

Terlambat.

Dua hari kemudian, rumah duka dipenuhi tetangga dan orang-orang yang tidak kukenal.

Aku duduk di sudut dengan mata bengkak.

Setiap orang membawa cerita tentang Ayah yang berbeda.

Seorang pedagang bubur berkata Ayah sering membantunya mendorong gerobak.

Seorang ibu tua bercerita Ayah tidak pernah meminta bayaran ketika mengantarnya ke puskesmas.

Seorang mahasiswa mengatakan pernah kehilangan dompet di becak Ayah. Di dalamnya ada uang jutaan rupiah. Ayah mencarinya sampai ke kampus hanya untuk mengembalikannya.

Aku mendengarkan semuanya seperti sedang mengenal orang asing.

Orang asing yang ternyata adalah ayahku sendiri.

Menjelang sore, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun datang mengenakan kemeja putih.

Ia berdiri cukup lama di depan foto Ayah.

“Kamu Nadia?”

“Iya.”

“Saya Surya. Dulu satu perusahaan dengan ayahmu.”

Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat.

Jantungku berdegup kencang.

“Apa ini?”

“Seharusnya diberikan ayahmu setelah kelulusan.”

Aku membukanya.

Di dalamnya bukan uang.

Melainkan fotokopi sebuah surat penerimaan kerja.

Namaku tidak ada di sana.

Nama Ayah yang tercetak.

Tanggalnya tiga bulan lalu.

Aku kebingungan.

“Ayah diterima kerja?”

Pak Surya mengangguk.

“Perusahaan kami membuka kembali posisi teknisi senior. Saya yang merekomendasikannya.”

Aku menatap tanggal mulai kerja.

Dua bulan lalu.

“Tapi kenapa Ayah masih menarik becak?”

“Dia menolak.”

“Kenapa?”

Pak Surya terlihat ragu.

“Karena lokasi kerjanya di Karawang. Dia harus tinggal di mess dan hanya bisa pulang dua minggu sekali.”

Aku semakin tidak mengerti.

“Lalu?”

“Dia bilang tidak bisa meninggalkan anak perempuannya sendirian menjelang kelulusan.”

Kertas itu terlepas dari tanganku.

Aku teringat semua kalimat kasarku.

Kenapa Ayah tidak mencari pekerjaan yang lebih layak?

Ayah sudah berusaha.

Berusaha apa? Setiap hari hanya menarik becak.

Ternyata dia mendapat pekerjaan.

Dan dia melepaskannya demi aku.

Pak Surya mengeluarkan sebuah benda dari sakunya.

Ponsel tua milik Ayah.

“Ini tertinggal ketika dia datang ke kantor terakhir kali. Saya belum sempat mengembalikannya.”

Aku menyalakannya.

Baterainya hampir habis.

Galeri foto hanya berisi sedikit gambar.

Sebagian besar adalah fotoku.

Foto saat aku SD.

Foto ulang tahunku.

Foto ketika aku tertidur sambil belajar.

Foto rapor.

Foto dari kejauhan ketika aku masuk gerbang sekolah.

Lalu aku menemukan foto terakhir.

Diambil pada hari kelulusanku.

Aku berdiri mengenakan toga bersama teman-temanku.

Foto itu sedikit buram karena diambil dari jauh.

Ayah rupanya tidak langsung pulang.

Ia berdiri di luar pagar dan memotretku diam-diam.

Di bawah foto itu ada sebuah video berdurasi dua belas detik.

Tanganku gemetar ketika menekannya.

Wajah Ayah muncul.

Ia berada di atas becaknya.

Bunga kelulusanku terlihat di sampingnya.

Ayah tersenyum ke kamera.

“Nadia sudah lulus hari ini.”

Ia tertawa kecil.

“Cantik sekali pakai toga.”

Lalu wajahnya menjadi sedikit malu.

“Dia sedang bersama teman-temannya. Jadi Ayah tidak mau mengganggu.”

Video berhenti.

Aku memeluk ponsel itu sambil menangis.

Malam setelah semua pelayat pulang, aku duduk sendirian di samping peti Ayah.

Barulah aku menyelesaikan suratnya.

Nadia, jangan habiskan hidupmu untuk menyesali perkataanmu kepada Ayah.

Kalau suatu hari Ayah tidak ada, hiduplah dengan baik.

Sekolah yang tinggi.

Jangan malu menjadi anak orang miskin.

Kemiskinan bukan ketika kita tidak punya mobil atau rumah besar.

Orang menjadi miskin ketika kehilangan kasih sayang, kejujuran, dan harga diri.

Kalau kamu berhasil nanti, jangan lihat orang dari pakaian atau pekerjaannya.

Karena orang yang tangannya kotor belum tentu hidupnya kotor.

Dan orang yang bajunya mahal belum tentu hatinya kaya.

Ayah tidak pernah malu punya kamu.

Jadi jangan terlalu lama malu pernah punya Ayah.

Aku menekan surat itu ke dada.

Untuk pertama kalinya aku memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun gagal kulihat.

Aku selalu mengira Ayah mengayuh becak karena hidup tidak memberinya pilihan.

Ternyata setiap hari, Ayah justru sedang memilih.

Memilih kontrakan agar aku memiliki tabungan.

Memilih pakaian lama agar aku memiliki buku baru.

Memilih menahan sakit agar aku bisa kuliah.

Memilih menolak pekerjaan agar tidak meninggalkanku sendirian.

Dan pada akhirnya, memilih tetap mencintaiku bahkan ketika aku terlalu sibuk menjaga gengsi untuk mencintainya dengan benar.

Enam tahun berlalu.

Aku berdiri di depan sebuah gedung kecil di Bekasi dengan papan nama baru di atas pintunya.

Rumah Belajar Pak Rahmat.

Itulah nama Ayah.

Rumah peninggalan Kakek tidak pernah kujual.

Dengan tabungan yang Ayah kumpulkan, aku menyelesaikan kuliah. Setelah bekerja, aku merenovasi rumah itu menjadi tempat belajar gratis untuk anak-anak pengemudi ojek, pedagang kaki lima, buruh harian, dan penarik becak.

Di dinding ruang utama tergantung satu foto.

Bukan foto Ayah memakai pakaian bagus.

Bukan foto yang diedit agar terlihat lebih terhormat.

Foto itu menunjukkan Ayah berdiri di samping becak tuanya, memakai kemeja lusuh, tersenyum lebar dengan tangan hitam oleh oli.

Suatu sore, seorang siswi SMA berdiri cukup lama di depan foto tersebut.

“Itu siapa, Kak Nadia?”

“Ayah saya.”

“Kerjanya tukang becak?”

Aku mengangguk.

Siswi itu terlihat ragu.

“Kak Nadia tidak malu?”

Pertanyaan itu menghantam tempat paling dalam di dadaku.

Aku menatap wajah Ayah di foto.

Enam tahun lalu, aku mungkin akan menunduk.

Sekarang aku tersenyum.

“Dulu saya malu.”

“Kenapa sekarang tidak?”

Aku mengambil amplop putih yang selalu kusimpan di laci meja.

Kertasnya sudah menguning dan lipatannya hampir robek.

“Karena saya terlambat memahami bahwa orang paling hebat yang pernah saya kenal tidak pernah memakai jas, tidak punya mobil, dan tidak punya jabatan.”

Aku melihat keluar jendela.

Di jalan, seorang ayah sedang menjemput putrinya dengan sepeda motor tua. Gadis itu naik ke belakang lalu memeluk pinggang ayahnya.

Dadaku masih terasa sakit melihatnya.

Penyesalan ternyata tidak benar-benar hilang.

Kita hanya belajar hidup bersamanya.

Aku kembali memandang foto Ayah.

“Andai waktu bisa diputar,” kataku pelan, “saya cuma ingin satu hal.”

“Apa?”

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

“Saya ingin pulang sekolah sekali lagi naik becak Ayah. Dan kali ini, saya akan duduk paling depan supaya semua orang tahu siapa yang menjemput saya.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang