Sehari Setelah Perceraian, Mantan Suamiku Menggelar Pernikahan Baru—Namun Saat Aku Sedang Liburan, Polisi Datang Membawa Kabar yang Bertentangan dengan Keluarganya

Nama rumah sakit yang disebut Bu Rina membuat ruangan pemeriksaan mendadak sunyi.

Aku masih memegang ponsel ketika penyidik di depanku menuliskan sesuatu di secarik kertas lalu menunjukkannya kepada rekannya. Tatapan mereka berubah.

“Bu Rina,” kataku pelan, berusaha menjaga suaraku tetap stabil. “Ibu yakin Dimas ada di sana?”

“Tentu Ibu yakin. Jangan dengarkan polisi. Pulang saja dan jangan bicara apa pun kepada mereka.”

“Tapi rumah sakit itu sudah tutup.”

Sambungan langsung terputus.

Aku menatap layar ponsel yang kembali gelap.

Penyidik bernama Arif yang sejak tadi duduk di hadapanku segera meminta petugas lain melacak posisi terakhir nomor Bu Rina. Tidak sampai lima belas menit kemudian, hasil awal keluar.

Nomornya terakhir aktif di kawasan Jakarta Selatan.

Bukan di sekitar rumahnya.

Bukan pula di rumah sakit mana pun.

Melainkan kurang dari satu kilometer dari sebuah gudang tua milik perusahaan tempat Dimas bekerja.

Pak Arif menatapku.

“Apakah Anda tahu tempat ini?”

Aku melihat alamat yang diperlihatkannya.

Aku mengenalnya.

Dua tahun lalu, Dimas pernah membawaku ke sana ketika mengambil beberapa dokumen perusahaan. Gudang itu sebenarnya sudah jarang digunakan. Bagian depan dipakai untuk menyimpan arsip lama, sedangkan lantai atas memiliki beberapa ruangan kantor kosong.

“Apa hubungannya dengan Dimas?”

“Itu yang akan kami cari tahu.”

Aku diminta menunggu.

Untuk pertama kalinya sejak kembali dari Langkawi, aku merasa benar-benar takut.

Bukan takut karena Dimas hilang.

Aku takut karena perlahan aku menyadari seseorang telah merencanakan sesuatu menggunakan namaku.

Rekeningku dipakai untuk menerima uang 1,8 miliar.

Mobil Dimas sengaja ditinggalkan di rumah sakit.

Ibunya memberikan informasi palsu tentang keberadaannya.

Dan pesan terakhir Dimas menunjukkan bahwa mereka ingin membuatku terlihat bertanggung jawab.

Sekitar dua jam kemudian, Pak Arif kembali.

Ekspresinya jauh lebih serius.

“Kami menemukan Bu Rina.”

Aku langsung berdiri.

“Dimas?”

“Belum.”

Bu Rina ditemukan di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari gudang. Di bagasi mobil terdapat koper berisi pakaian pria, uang tunai hampir seratus juta rupiah, beberapa kartu SIM, dan sebuah laptop.

Yang membuat semuanya semakin aneh, salah satu pakaian di koper itu adalah jas yang seharusnya dikenakan Dimas dalam pernikahannya dengan Nadine.

“Kenapa ibunya membawa barang-barang Dimas?”

“Itu sedang kami tanyakan.”

Tak lama kemudian aku diperbolehkan pulang, tetapi diminta tidak meninggalkan Jakarta selama pemeriksaan berlangsung.

Aku menginap di apartemen sahabatku, Siska.

Malam itu aku hampir tidak tidur.

Pukul dua dini hari, aku masih memandangi percakapan lama dengan Dimas.

Aku membaca ulang pesan-pesan beberapa bulan terakhir. Kebanyakan terasa biasa. Tagihan listrik, jadwal bertemu notaris, pembagian barang setelah perceraian.

Sampai aku menemukan percakapan dua bulan sebelumnya.

Saat itulah Dimas meminta rekeningku.

Aku membaca setiap kalimat dengan lebih teliti.

“Aku cuma butuh dua atau tiga hari.”

“Kenapa tidak pakai rekening Ibu?”

“Jangan libatkan Ibu.”

Kalimat itu membuatku berhenti.

Aku baru menyadari sesuatu.

Jika Bu Rina memang ikut dalam rencana Dimas, kenapa waktu itu Dimas justru tidak ingin menggunakan rekening ibunya?

Aku mengambil tangkapan layar lalu mengirimkannya kepada Pak Arif.

Pagi berikutnya aku kembali dipanggil.

Kali ini Nadine juga berada di kantor polisi.

Itulah pertama kalinya aku melihat perempuan yang seharusnya menjadi istri baru mantan suamiku.

Dia jauh berbeda dari bayanganku.

Tidak ada riasan tebal atau sikap arogan seperti yang sempat kubayangkan ketika Dimas mengatakan akan menikah sehari setelah perceraian kami. Nadine terlihat kelelahan. Matanya bengkak dan wajahnya pucat.

Ketika kami berpapasan, dia menatapku lama.

“Alya?”

Aku mengangguk.

Tiba-tiba dia berkata, “Saya minta maaf.”

Aku terdiam.

“Untuk apa?”

Nadine menggigit bibirnya.

“Saya baru tahu kalian resmi bercerai kemarin. Dimas bilang kalian sudah berpisah hampir setahun.”

Dadaku terasa nyeri, tetapi anehnya bukan karena cemburu.

Aku justru merasa kasihan.

“Kalian sudah berhubungan berapa lama?”

“Delapan bulan.”

Jadi benar.

Dimas memang berselingkuh.

Namun kebohongan itu sekarang terasa seperti masalah paling kecil dibandingkan semua yang sedang terjadi.

Kami diperiksa secara terpisah.

Dari keterangan Nadine, polisi mendapatkan fakta baru.

Dimas bekerja sebagai manajer keuangan di sebuah perusahaan distribusi alat kesehatan. Selama beberapa bulan terakhir, audit internal menemukan sejumlah transaksi mencurigakan dengan total hampir empat miliar rupiah.

Dimas termasuk orang yang memiliki akses untuk menyetujui transaksi tersebut.

Malam sebelum pernikahan, dia menelepon Nadine dan mengatakan sedang menyelesaikan “kesalahan besar”.

“Apa dia terdengar takut?” tanyaku setelah pemeriksaan selesai.

Nadine mengangguk.

“Dia bilang kalau semuanya berjalan sesuai rencana, besok kami bisa memulai hidup baru.”

Aku menatap lantai.

“Dia mengatakan hal yang hampir sama dalam pesan kepada ibunya.”

Nadine menatapku bingung.

Aku menceritakan pesan yang ditemukan polisi.

Wajahnya berubah.

“Ada yang aneh.”

“Apa?”

“Dimas tidak pernah memanggil ibunya ‘Ibu’ dalam kontak ponselnya.”

Aku menoleh cepat.

“Lalu?”

“Dia menyimpan nomor ibunya dengan nama ‘Mama’.”

Aku merasa bulu kudukku berdiri.

Kami langsung memberi tahu Pak Arif.

Ponsel kedua Dimas diperiksa lagi.

Nomor yang disimpan dengan nama Ibu ternyata bukan nomor Bu Rina.

Nomor itu terdaftar menggunakan identitas palsu.

Polisi kemudian memeriksa komunikasi selama tiga bulan terakhir.

Puluhan pesan telah dihapus.

Namun beberapa berhasil dipulihkan.

Salah satunya membuat arah penyelidikan berubah total.

“Rekening Alya paling aman. Dia bekerja di audit, jadi kalau transaksi terlacak semua orang akan mengira dia tahu cara menyembunyikannya.”

Pesan berikutnya berbunyi,

“Setelah uang keluar, tinggalkan mobil di basement. Jangan sampai Nadine tahu.”

Aku menatap Pak Arif.

“Jadi Bu Rina tidak terlibat?”

“Belum tentu. Tapi jelas ada orang lain.”

Nomor misterius itu akhirnya terlacak melalui kamera keamanan sebuah minimarket tempat pemiliknya membeli kartu SIM.

Orang yang terlihat menggunakan nomor tersebut adalah seorang pria bernama Bastian.

Aku mengenal nama itu.

Bastian adalah direktur keuangan perusahaan Dimas.

Atasan langsungnya.

Potongan-potongan kejadian mulai tersusun.

Selama hampir setahun, Bastian dan Dimas memindahkan dana perusahaan melalui transaksi fiktif. Ketika audit internal mulai mendekati mereka, Bastian meminta Dimas mencari rekening pihak ketiga untuk dijadikan jalur terakhir.

Dimas memilih rekeningku.

Aku tidak pernah memberikan kata sandi kepadanya, tetapi selama kami masih menikah, Dimas ternyata pernah mengambil foto kartu debitku dan mencatat informasi pribadi yang dibutuhkan untuk memulihkan akses akun.

Polisi menduga perangkat baru didaftarkan menggunakan data itu.

Namun rencana mereka tidak berjalan mulus.

Malam sebelum pernikahan, setelah uang 1,8 miliar melewati rekeningku dan dipindahkan ke rekening penampung, Dimas berubah pikiran.

Dia takut.

Dia ingin menyerahkan diri.

Dan itulah alasan dia pergi menemui seseorang malam itu.

Bastian.

Rekaman kamera jalan menunjukkan mobil Dimas memasuki gudang perusahaan pukul 22.31.

Mobil itu keluar lagi pukul 01.16.

Namun orang yang mengemudikannya bukan Dimas.

Melainkan Bastian.

Mobil kemudian ditinggalkan di basement rumah sakit untuk menciptakan jejak palsu.

“Lalu Dimas di mana?” tanyaku.

Pak Arif tidak menjawab.

Aku sudah memahami kemungkinan terburuk.

Tetapi ada satu hal yang masih belum masuk akal.

“Kenapa Bu Rina terus mengatakan Dimas dirawat di rumah sakit?”

Pak Arif menghela napas.

“Karena seseorang meminta beliau mengatakan itu.”

Ternyata malam ketika Dimas menghilang, Bu Rina menerima telepon dari nomor putranya.

Suara di seberang mengatakan Dimas mengalami kecelakaan kecil dan sedang dirawat diam-diam karena tidak ingin masalah perusahaan diketahui polisi.

Orang itu meminta Bu Rina menghubungiku dan memaksaku pulang.

Sebagai seorang ibu yang panik, Bu Rina menurut.

Namun setelah mobil Dimas ditemukan dan polisi mulai bertanya, Bastian menghubunginya lagi menggunakan nomor lain.

Dia mengancam bahwa Dimas akan dipenjara jika Bu Rina membocorkan apa pun.

Bu Rina kemudian diminta membawa pakaian, uang, dan beberapa barang Dimas ke gudang agar seolah-olah putranya berencana melarikan diri.

“Kenapa Ibu tidak mengatakan semuanya sejak awal?” tanyaku ketika akhirnya diizinkan bertemu dengannya.

Bu Rina duduk dengan kedua tangan gemetar.

“Aku takut.”

Untuk pertama kalinya selama enam tahun mengenalnya, aku melihat perempuan itu menangis tanpa mencoba mempertahankan harga dirinya.

“Dia bilang kalau aku bicara, Dimas akan mati.”

Aku menatapnya lama.

“Dan Ibu memilih menjadikan saya tersangka.”

Bu Rina menunduk.

“Aku pikir kamu bisa membuktikan kamu tidak bersalah.”

Kalimat itu justru membuat sesuatu dalam diriku runtuh.

“Jadi selama saya bisa menyelamatkan diri, tidak masalah kalau nama saya dilempar ke polisi?”

“Alya…”

“Saya enam tahun menjadi keluarga Ibu.”

Dia menangis semakin keras.

Namun aku tidak lagi merasa marah.

Hanya lelah.

Hari berikutnya polisi menangkap Bastian di sebuah apartemen sewaan di Bandung.

Dari laptopnya ditemukan akses ke rekening penampung dana.

Sebagian besar uang perusahaan berhasil dibekukan.

Tetapi keberadaan Dimas masih menjadi misteri.

Pencarian di gudang kemudian diperluas.

Di salah satu ruangan lantai dua ditemukan bercak darah yang telah dibersihkan.

Hasil pemeriksaan menunjukkan darah itu milik Dimas.

Aku merasa kakiku kehilangan tenaga ketika mendengarnya.

Selama dua hari, polisi mencari di sekitar gudang.

Pada hari ketiga, mereka menemukan rekaman dari kamera sebuah bengkel di jalan belakang.

Pukul 00.42 malam itu, terlihat dua pria keluar dari gudang.

Salah satunya Bastian.

Pria lain berjalan pincang sambil memegang kepalanya.

Dimas.

Dia masih hidup ketika meninggalkan gudang.

Rekaman berikutnya menunjukkan sesuatu yang tidak pernah diduga siapa pun.

Dimas tidak dibawa Bastian.

Dia justru melarikan diri.

Dimas naik ke sebuah taksi daring dan menuju terminal bus.

Polisi akhirnya menemukannya empat hari kemudian di sebuah penginapan murah di Yogyakarta.

Dia masih hidup.

Ketika kabar itu disampaikan kepadaku, aku tidak tahu harus merasa lega atau marah.

Dimas ternyata bersembunyi karena ketakutan.

Setelah bertengkar dengan Bastian di gudang, dia dipukul hingga kepalanya terluka. Ketika Bastian turun untuk mengambil sesuatu dari mobil, Dimas berhasil keluar melalui pintu belakang.

Namun bukannya mendatangi polisi, dia melarikan diri.

Dia tahu transaksi 1,8 miliar itu akan mengarah kepadaku.

Dia tahu aku mungkin diperiksa.

Dan dia tetap memilih bersembunyi.

Beberapa hari kemudian, aku melihatnya lagi untuk pertama kali sejak perceraian.

Dimas duduk di ruang pemeriksaan dengan luka jahitan di pelipis.

Dia terlihat jauh lebih tua dibandingkan seminggu sebelumnya.

“Alya.”

Aku tidak menjawab.

“Aku minta maaf.”

“Untuk perselingkuhan?”

Dia menunduk.

“Untuk semuanya.”

Aku menarik kursi dan duduk di hadapannya.

“Aku cuma ingin tahu satu hal. Kenapa rekeningku?”

Matanya memerah.

“Karena Bastian bilang kita butuh rekening yang bersih.”

“Kenapa rekeningku?”

Dia lama terdiam.

“Karena aku tahu kamu selalu menyimpan semuanya dengan rapi. Aku pikir kalau ada masalah…”

“Kamu pikir aku bisa menyelamatkan diri.”

Dia menatapku.

Kalimat yang sama seperti ibunya.

Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu yang selama enam tahun tidak pernah kusadari.

Keluarga itu bukan tidak menyayangiku.

Mereka hanya selalu menganggap keteguhanku sebagai alasan untuk membebankan segala sesuatu kepadaku.

Karena Alya kuat.

Karena Alya pintar.

Karena Alya pasti bisa mengurus dirinya sendiri.

Mereka lupa bahwa orang yang kuat pun bisa dihancurkan jika terus dijadikan tempat menaruh kesalahan orang lain.

“Aku hampir kehilangan pekerjaanku, Dimas.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu baru tahu sekarang.”

Aku berdiri.

Dimas memanggil namaku, tetapi aku tidak menoleh lagi.

Kasus itu berjalan berbulan-bulan.

Bastian dan Dimas akhirnya sama-sama diproses atas penggelapan dana perusahaan dan manipulasi transaksi. Keterangan Dimas membantu membongkar jaringan rekening penampung lain sehingga hukumannya mendapat pertimbangan, tetapi dia tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Namaku dibersihkan sepenuhnya.

Bank mengakui adanya akses ilegal terhadap rekeningku dan memperbaiki sistem keamanan akun.

Nadine membatalkan pernikahan.

Terakhir kali kami bertemu, dia mengatakan sesuatu yang masih kuingat.

“Mungkin kita berdua kehilangan orang yang sama.”

Aku tersenyum tipis.

“Tidak. Kita kehilangan bayangan tentang orang yang kita kira kita kenal.”

Enam bulan kemudian, aku kembali ke Langkawi.

Aku menyewa vila yang sama.

Kali ini tidak ada telepon dari Bu Rina.

Tidak ada polisi di depan pintu.

Tidak ada transaksi misterius di rekeningku.

Menjelang matahari terbenam, aku duduk di balkon sambil memegang segelas jus jeruk seperti hari ketika semua kekacauan itu dimulai.

Ponselku berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kusimpan.

Bu Rina.

“Alya, Dimas akan menjalani sidang vonis minggu depan. Dia berharap kamu datang.”

Aku membaca pesan itu sekali.

Kemudian menghapusnya.

Beberapa detik kemudian masuk pesan kedua.

“Ibu juga ingin meminta maaf.”

Kali ini aku membalas.

“Saya sudah memaafkan Ibu. Tapi memaafkan bukan berarti saya harus kembali menjadi bagian dari hidup kalian.”

Aku mematikan ponsel.

Di hadapanku, matahari perlahan tenggelam ke laut.

Dulu aku mengira perceraian adalah akhir dari enam tahun hidupku yang gagal.

Ternyata aku salah.

Perceraian itu justru menyelamatkanku sehari sebelum seseorang mencoba menyeret namaku ke dalam kejahatan yang tidak pernah kulakukan.

Dan ironi terbesar baru kuketahui beberapa minggu setelah kasus selesai.

Saat pengacara menunjukkan salinan dokumen perusahaan, aku menemukan bahwa transfer 1,8 miliar ke rekeningku sebenarnya telah dijadwalkan Dimas tiga hari sebelum perceraian kami.

Artinya, ketika dia duduk di hadapanku di kantor pengadilan, menandatangani surat perpisahan, lalu mengatakan bahwa besok dia akan menikahi perempuan lain, dia sudah tahu rekeningku akan digunakan.

Dia sudah tahu aku mungkin akan terseret.

Namun dia tetap tersenyum dan membiarkanku pergi.

Aku pernah bertanya-tanya apakah enam tahun pernikahan kami sama sekali tidak berarti baginya.

Sekarang aku tidak membutuhkan jawabannya.

Karena pada akhirnya, hidup tidak selalu menyelamatkan kita dengan memberi orang yang tepat.

Kadang-kadang hidup menyelamatkan kita dengan menunjukkan, tepat pada waktunya, siapa yang harus kita tinggalkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang