Telepon itu terputus sebelum aku sempat mengatakan apa pun lagi.
Aku masih berdiri di depan rumah dengan Hana dalam pelukanku, sementara layar ponsel menunjukkan panggilan telah berakhir. Suara perempuan itu terus terngiang di kepalaku.
Aku orang yang terakhir berbicara dengan Arif sebelum dia meninggal.
Pak Bima meminta ponselku dan mencatat nomor tersebut.
“Jangan hubungi nomor ini dulu,” katanya. “Kami akan mencoba melacaknya.”
Aku mengangguk, tetapi pikiranku tertuju pada surat di tanganku.

Dina, maaf karena aku baru bisa mengatakan ini sekarang. Hana adalah alasan Arif pergi malam itu.
Aku membaca bagian berikutnya.
Malam kecelakaan itu, Arif tidak sedang pulang dari kantor seperti yang selama ini kamu kira. Dia sedang menuju sebuah tempat untuk mengambil sesuatu yang sengaja dia sembunyikan darimu. Sesuatu yang seharusnya diberikan kepada Hana setelah dia lahir.
Tanganku semakin gemetar.
Selama ini aku diberi tahu bahwa Arif mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang setelah menyelesaikan pekerjaan lembur. Polisi mengatakan mobilnya kehilangan kendali di jalan yang licin di kawasan Lembang.
Aku tidak pernah mempertanyakannya.
Aku terlalu hancur untuk mempertanyakan apa pun.
Namun surat itu mengatakan sesuatu yang berbeda.
Di bagian paling bawah terdapat sebuah alamat di Bandung Utara dan satu kalimat pendek.
Datanglah sendiri jika kamu ingin tahu siapa sebenarnya suamimu.
“Jangan datang,” kata Pak Bima setelah membacanya.
“Tapi bagaimana kalau ini benar?”
“Justru karena kita belum tahu apakah ini benar.”
Aku menatap rumah yang dicat hitam.
Untuk pertama kalinya sejak Arif meninggal, kesedihanku bercampur dengan sesuatu yang lain.
Kecurigaan.
Malam itu aku tidak tinggal di rumah.
Bu Rina memaksaku menginap di rumahnya bersama Hana. Polisi memasang garis pembatas sementara di halaman dan mengambil rekaman CCTV dari beberapa rumah tetangga.
Sekitar pukul sebelas malam, Hana akhirnya tertidur.
Aku duduk sendirian di ruang tamu Bu Rina.
Aku membuka galeri ponsel.
Foto Arif memenuhi layar.
Arif sedang mengecat kamar bayi.
Arif memasang ranjang kecil.
Arif memegang sepasang kaus kaki bayi sambil tertawa.
Kemudian aku menemukan sebuah foto yang membuatku berhenti.
Foto itu diambil dua minggu sebelum kecelakaan.
Arif berdiri di depan rumah sambil memegang sebuah kaleng cat.
Aku memperbesar gambarnya.
Cat hitam.
Aku langsung berdiri.
Jantungku berdetak keras.
Aku membuka percakapan WhatsApp kami dan mencari pesan pada hari foto itu diambil.
Aku akhirnya menemukannya.
Aku pernah bertanya untuk apa cat tersebut.
Jawaban Arif sederhana.
Buat gudang kantor.
Saat itu aku tidak memikirkannya lagi.
Sekarang aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Keesokan paginya Pak Bima datang membawa kabar.
CCTV tetangga merekam seseorang mengecat rumahku pada pukul tiga dini hari.
“Siapa?”
Pak Bima menunjukkan tangkapan layar.
Seorang laki-laki mengenakan jaket dan topi berdiri di depan rumah.
Wajahnya tidak terlihat jelas.
Namun mobil yang diparkir beberapa meter dari rumah membuat darahku seperti berhenti mengalir.
Aku mengenal mobil itu.
Toyota Innova abu-abu milik kakak Arif.
Rizal.
Aku langsung meneleponnya.
Dia mengangkat setelah dering ketiga.
“Dina?”
“Mas, kamu di mana?”
“Di kantor. Kenapa?”
“Mobilmu semalam ada di depan rumahku.”
Hening.
“Mas?”
“Aku bisa jelaskan.”
Kalimat itu jauh lebih menakutkan daripada penyangkalan.
Dua jam kemudian Rizal datang ke kantor polisi.
Wajahnya pucat.
“Aku memang mengecat rumah itu,” katanya.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Kenapa?”
“Karena Arif memintaku.”
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Aku hampir tertawa karena terdengar begitu tidak masuk akal.
“Arif sudah meninggal.”
“Aku tahu.”
Rizal mengeluarkan ponselnya.
“Aku menerima email otomatis tiga hari lalu.”
Email itu berasal dari akun Arif.
Pesannya telah dijadwalkan berbulan-bulan sebelumnya.
Mas, kalau anakku sudah lahir dan aku tidak ada untuk menjelaskan semuanya kepada Dina, lakukan apa yang pernah kita bicarakan. Cat bagian depan rumah dengan warna hitam. Dia akan tahu harus mulai mencari.
Aku menatap Rizal.
“Aku tidak tahu apa-apa.”
Rizal menunduk.
“Arif pikir kamu akan ingat.”
“Ingat apa?”
“Rumah pertama kalian.”
Aku membeku.
Tujuh tahun lalu, sebelum menikah, aku dan Arif pernah menyewa rumah kecil di Cimahi. Dinding dapurnya berwarna hitam karena pemilik sebelumnya menggunakan cat papan tulis.
Di sana Arif sering meninggalkan pesan untukku menggunakan kapur.
Jangan lupa sarapan.
Aku mencintaimu.
Suatu malam dia pernah menulis sesuatu yang kemudian menjadi lelucon kami.
Kalau aku menyimpan rahasia, cari di balik warna hitam.
Aku mengira itu hanya candaan.
“Kenapa Mas tidak langsung memberitahuku?”
“Karena aku tidak tahu rahasianya,” jawab Rizal. “Arif hanya memintaku mengikuti instruksi.”
“Surat untuk Hana?”
Rizal menggeleng.
“Itu bukan dariku.”
Pak Bima dan aku saling memandang.
Berarti ada orang lain yang mengetahui rencana Arif.
Siang itu aku kembali ke rumah bersama polisi.
Kami memeriksa bagian depan rumah dengan teliti.
Kemudian aku melihat sesuatu di salah satu tiang teras.
Lapisan cat hitam di sana terlihat lebih tebal.
Pak Bima mengetuknya.
Suara yang muncul terdengar kosong.
Seorang petugas membuka panel kayu kecil yang selama ini kukira bagian biasa dari tiang.
Di dalamnya terdapat kotak logam.
Tanganku dingin ketika melihatnya.
Kotak itu terkunci.
Rizal memberikan kombinasi yang terdapat dalam email Arif.
Tanggal lahirku.
Di dalam kotak ada sebuah flashdisk, beberapa dokumen, dan sebuah surat.
Untuk Dina.
Aku membukanya.
Tulisan tangan Arif.
Din, kalau kamu membaca surat ini, kemungkinan besar aku sudah tidak bisa menjelaskan semuanya sendiri.
Air mataku langsung jatuh.
Aku mengenali setiap lekukan tulisannya.
Aku tidak pernah berselingkuh. Aku tidak punya keluarga lain. Aku tidak sedang meninggalkanmu. Semua yang kulakukan beberapa bulan terakhir adalah untuk melindungi kamu dan anak kita.
Aku berhenti membaca.
Pak Bima menyalakan laptop dan membuka flashdisk.
Di dalamnya ada puluhan dokumen.
Transfer bank.
Rekaman percakapan.
Foto.
Salah satu nama muncul berkali-kali.
PT Mahardika Properti.
Aku mengenalnya.
Perusahaan tempat Arif bekerja sebagai manajer keuangan.
Arif ternyata menemukan transaksi ilegal bernilai puluhan miliar rupiah.
Dana perusahaan dipindahkan melalui beberapa rekening palsu dan digunakan untuk membeli tanah menggunakan identitas orang lain.
Arif mengumpulkan bukti selama hampir setahun.
Namun satu dokumen membuatku jauh lebih terkejut.
Namaku tercantum sebagai pemilik salah satu perusahaan cangkang.
“Aku tidak pernah mendirikan perusahaan ini.”
Pak Bima menatap dokumen tersebut.
“Sepertinya identitas Ibu digunakan tanpa izin.”
Aku tiba-tiba memahami ketakutan Arif.
Kalau kasus itu terbongkar, aku bisa ikut terseret.
Kemudian kami menemukan sebuah rekaman suara.
Suara Arif terdengar.
“Aku sudah tahu semuanya. Jangan libatkan Dina.”
Suara laki-laki lain menjawab.
“Kamu terlambat, Rif. Tanda tangan istrimu sudah ada.”
Aku mengenali suara itu.
Dimas.
Atasan Arif.
Orang yang datang ke pemakaman dan memelukku sambil mengatakan Arif adalah karyawan terbaiknya.
Perutku terasa mual.
Lalu suara perempuan terdengar.
“Kita harus menyelesaikannya sebelum bayinya lahir.”
Aku menahan napas.
Suara itu sama dengan perempuan yang meneleponku.
Polisi akhirnya berhasil melacak nomor tersebut.
Pemiliknya bernama Maya Pradipta.
Sekretaris direktur perusahaan.
Sore itu Maya datang sendiri ke kantor polisi.
Wajahnya terlihat seperti seseorang yang sudah lama tidak tidur.
“Aku yang mengirim surat kepada Hana,” katanya.
“Kenapa kepada anakku?”
Maya menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Karena Arif mengatakan kalau sesuatu terjadi padanya, semua bukti harus sampai kepadamu setelah bayimu lahir. Sebelum itu terlalu berbahaya.”
Aku menggenggam tanganku.
“Kenapa kamu bilang Hana alasan Arif pergi malam itu?”
Maya menunduk.
“Karena malam kecelakaan itu Arif mendapat pesan bahwa namamu akan dimasukkan ke dokumen baru. Setelah Hana lahir, identitas anakmu juga akan digunakan untuk menyembunyikan aset.”
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
“Dia pergi untuk mengambil dokumen asli yang membuktikan pemalsuan itu,” lanjut Maya.
“Kenapa kamu tidak bicara sejak awal?”
“Karena aku takut.”
Air mata mengalir di wajahnya.
“Dimas tahu aku membantu Arif. Dia mengancam keluargaku.”
Pak Bima kemudian bertanya sesuatu yang membuat ruangan kembali sunyi.
“Apakah kecelakaan Pak Arif memang kecelakaan?”
Maya tidak langsung menjawab.
Dia mengeluarkan sebuah kartu memori kecil dari tasnya.
“Aku rasa tidak.”
Rekaman dashcam dari mobil lain menunjukkan kendaraan Arif melaju di jalan basah malam itu.
Beberapa detik kemudian sebuah SUV hitam muncul dari belakang.
Mobil itu mendekat.
Terlalu dekat.
Kemudian menyenggol sisi kendaraan Arif.
Mobil suamiku kehilangan kendali dan menghantam pembatas jalan.
Aku menutup mulut.
Selama berbulan-bulan aku mencoba menerima bahwa Arif meninggal karena kecelakaan.
Ternyata seseorang telah membuatnya terlihat seperti kecelakaan.
Penyelidikan berubah menjadi kasus kriminal.
Dimas ditangkap beberapa hari kemudian ketika mencoba meninggalkan Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta.
Dua petinggi perusahaan lainnya ikut diperiksa.
Dokumen yang dikumpulkan Arif membuktikan pemalsuan identitas, penggelapan dana, dan upaya menjadikan aku sebagai kambing hitam.
Namun masih ada satu pertanyaan.
Kenapa Arif menyembunyikan semuanya dariku?
Jawabannya terdapat pada halaman terakhir suratnya.
Aku tidak memberitahumu karena kamu sedang mengandung. Setiap kali aku ingin bicara, aku melihatmu tidur sambil memegang perutmu dan aku kehilangan keberanian. Aku tahu itu mungkin keputusan yang salah. Tapi aku hanya ingin kalian aman sampai aku punya cukup bukti untuk menghentikan mereka.
Di bawahnya terdapat kalimat lain.
Kalau anak kita perempuan dan kamu masih menyukai nama Hana, gunakanlah. Aku diam-diam mulai menyukai nama itu juga.
Aku tertawa sambil menangis.
Ternyata beberapa hari sebelum meninggal, Arif diam-diam berubah pikiran tentang nama bayi kami.
Enam bulan kemudian, rumah itu dicat kembali.
Bukan hitam.
Aku memilih putih, warna yang dulu paling disukai Arif.
Namun satu bagian kecil di tiang teras sengaja kubiarkan hitam.
Di balik panel itu sekarang tidak ada dokumen rahasia.
Hanya sebuah surat.
Surat yang kutulis untuk Hana.
Aku tidak tahu kapan dia akan membacanya. Mungkin ketika dia sudah cukup besar untuk memahami bahwa ayahnya meninggal sebelum sempat menggendongnya.
Aku menulis tentang Arif.
Tentang tawanya.
Tentang kebiasaannya meninggalkan gelas kopi di mana-mana.
Tentang bagaimana dia berbicara kepada perutku setiap malam seolah Hana sudah bisa menjawab.
Dan tentang malam ketika dia mempertaruhkan hidupnya agar nama anaknya tidak digunakan oleh orang-orang yang bahkan belum pernah melihat wajahnya.
Pada ulang tahun pertama Hana, aku menggendongnya di teras.
Tangannya menyentuh bagian tiang yang masih berwarna hitam.
Aku tersenyum.
“Dulu Mama takut melihat warna ini,” bisikku.
Hana menatapku dengan mata yang sangat mirip ayahnya.
“Tapi ternyata, dari sinilah Papa menunjukkan jalan pulang.”
Angin Bandung sore itu bergerak pelan melewati halaman.
Untuk pertama kalinya sejak Arif meninggal, rumah itu tidak terasa seperti tempat yang menyimpan kematian.
Rumah itu terasa hidup kembali.
Aku akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak bisa kuterima.
Arif memang tidak sempat pulang malam itu.
Tetapi rahasia yang dia tinggalkan telah melakukan apa yang tidak sempat dia lakukan sendiri.
Melindungi kami.
Dan surat yang awalnya kukira dikirim untuk menghancurkan hidupku justru membuktikan bahwa bahkan setelah kematian memisahkan kami, Arif masih menemukan cara untuk menjaga jalan pulang bagi aku dan putrinya.
