Atty. Fernando melangkah masuk dengan wajah datar tanpa ekspresi, membawa aura otoritas yang membuat suasana ruangan berubah dari riuh menjadi mencekam. Ia tidak menyapa siapa pun. Ia langsung berdiri di tengah ruang tamu, tepat di hadapan Donya Beatrice yang kini tampak mulai gelisah.
“Selamat siang,” ucap pengacara itu dingin. “Saya di sini atas instruksi mendiang Tuan Bradley untuk membacakan tambahan khusus pada surat wasiatnya yang hanya boleh dibuka tepat satu minggu setelah pemakamannya.”
Donya Beatrice tertawa sumbang, meski suaranya sedikit bergetar. “Apa pun isinya, itu tidak berlaku! Kami adalah ahli waris sah. Dia anakku, dan menurut hukum, darah lebih utama daripada menantu yang tidak punya anak ini!”

Atty. Fernando menatap Beatrice dengan tatapan tajam yang membuat wanita tua itu mundur selangkah. “Nyonya, Anda sangat keliru jika mengira hukum bekerja berdasarkan emosi Anda. Bradley sudah mengantisipasi keserakahan kalian jauh sebelum ia mengembuskan napas terakhir.”
Ia membuka koper hitam itu dan mengeluarkan sebuah dokumen tebal dengan segel lilin merah. “Bradley telah melakukan pengalihan aset secara total dan legal. Rumah ini, bisnis, investasi, bahkan dana tabungan pribadinya—semuanya telah ia pindahkan ke sebuah Blind Trust (Yayasan Perwalian) yang dikelola oleh lembaga hukum internasional. Dan tahu siapa satu-satunya penerima manfaat (beneficiary) dari yayasan tersebut?”
Aku menatap mereka dengan senyum tipis. “Bukan kalian,” bisikku pelan.
“Sarah adalah pemilik tunggal atas segalanya,” lanjut pengacara itu. “Namun, ada satu klausul yang Bradley sebut sebagai ‘Hadiah Perpisahan’. Jika terbukti ada pihak yang mencoba mengintimidasi, mengusir, atau mengklaim aset ini secara paksa dalam waktu satu bulan setelah kematiannya, maka pihak tersebut akan terjerat hukum pidana berat.”
Atty. Fernando menekan tombol pada alat perekam digital kecil di tangannya. Tiba-tiba, suara Bradley bergema di seluruh ruangan. Itu adalah suara suamiku—lembut namun penuh ancaman.
“Jika kalian mendengar rekaman ini, berarti kalian benar-benar datang untuk mengusir istriku. Kalian bukan keluarga, kalian adalah parasit. Semua bukti transfer, catatan penyadapan telepon saat kalian merencanakan pengambilalihan asetku di belakang punggungku selama aku sakit, dan dokumen penggelapan pajak yang kalian lakukan selama ini di perusahaan… semuanya ada di tangan kepolisian sekarang.”
Wajah para kerabat itu pucat pasi. Marco, yang tadi berteriak paling keras, terduduk lemas di lantai.
“Tunggu, tunggu!” teriak Donya Beatrice, suaranya melengking ketakutan. “Ini jebakan! Ini tidak adil!”
“Ini bukan jebakan, Beatrice,” jawabku sambil berdiri, berjalan mendekatinya hingga aku berada tepat di depan wajahnya. “Ini adalah konsekuensi. Bradley tahu persis siapa kalian. Dia tidak meninggalkan kalian sepeser pun, justru dia meninggalkan kalian dengan surat perintah penangkapan yang siap dieksekusi begitu kalian melangkah masuk ke properti ini.”
Tepat saat itu, sirene polisi terdengar menderu di luar gerbang.
“Kalian tidak hanya kehilangan harta, kalian akan kehilangan kebebasan,” kataku dingin. “Sekarang, siapa yang sebenarnya harus mengemasi barang-barangnya?”
Kedelapan kerabat itu mencoba melarikan diri, namun pintu depan sudah dijaga oleh dua petugas kepolisian. Aku berdiri di ambang pintu, menatap mereka satu per satu saat mereka diborgol. Mereka tidak hanya merampas martabat mereka sendiri hari ini, mereka benar-benar menghancurkan hidup mereka karena keserakahan yang tidak terkendali.
Saat mobil polisi membawa mereka pergi, aku kembali ke perpustakaan. Aku duduk di kursi kerja Bradley, memegang pena kesayangannya, dan memejamkan mata.
“Terima kasih, Sayang,” bisikku pada udara kosong. “Kamu melindungiku bahkan dari balik kubur.”
Aku tidak lagi merasa sendirian. Aku memiliki kedamaian, dan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, aku bisa tidur nyenyak di rumah yang kini sepenuhnya menjadi milikku—tanpa bayang-bayang burung bangkai yang mengintai.
