Suasana di restoran seketika hening. Para tamu elit menghentikan percakapan mereka, menatap pemandangan memuakkan itu dengan tatapan tidak percaya. Elena, putriku yang selama ini kusembunyikan dalam kasih sayang, kini gemetar hebat di bawah cengkeraman suaminya.
Aku tidak berteriak. Aku tidak menangis. Sebaliknya, aku berdiri dengan sangat tenang. Aku merapikan serbet makan di atas meja, menyesap sisa air mineral di gelas, lalu berdiri tegak. Mataku mengunci tatapan Marcus yang masih mencengkeram rambut putriku.

“Lepaskan tanganmu dari putriku,” ucapku dengan suara rendah, namun dinginnya menusuk tulang.
Donya Sylvia mendengus, menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. “Oh, lihat, sang ibu mertua ‘miskin’ kita mulai berani? Jangan sok berkuasa di sini, Carmen. Kamu tidak punya harga diri untuk menginterupsi putraku.”
Aku mengabaikan wanita tua itu. Aku berjalan mendekat, setiap langkahku terdengar tegas di lantai marmer restoran tersebut. Ketika aku sampai tepat di depan Marcus, dia justru tertawa angkuh. “Apa? Mau memohon agar aku tidak menceraikannya? Silakan, kalau kalian mau berakhir di jalanan!”
“Tidak,” jawabku singkat. Aku mengeluarkan ponselku dari tas, menekan satu tombol, dan dalam hitungan detik, suara musik di restoran itu berhenti. Layar raksasa di dinding restoran, yang biasanya menampilkan menu spesial, tiba-tiba berubah menjadi dokumen-dokumen kontrak dan laporan audit.
“Apa yang kamu lakukan?” Marcus melepaskan rambut Elena, wajahnya mulai memucat saat melihat isi layar tersebut.
“Ini adalah laporan pengeluaran perusahaan tempatmu bekerja,” kataku keras, membuat seluruh restoran mendengar. “Marcus, kamu baru saja dipromosikan sebagai Senior Vice President, bukan? Sayangnya, promosi itu didasarkan pada laporan fiktif yang kamu susun. Dan yang lebih menarik lagi, aku adalah pemegang saham mayoritas dari induk perusahaan yang menaungi kantormu.”
Ruangan menjadi sunyi senyap. Donya Sylvia yang tadinya tertawa, kini membeku.
“Itu… itu mustahil!” teriak Donya Sylvia panik.
“Satu lagi,” tambahku sambil menatap pemilik restoran yang tiba-tiba muncul dengan wajah gugup. “Restoran Le Château ini berada di bawah naungan grup perusahaan saya. Dan mulai detik ini, kamu, Marcus, dan ibumu, adalah orang pertama dalam sejarah yang dilarang masuk ke seluruh properti milik perusahaan saya di seluruh negeri.”
Aku menoleh ke arah pemilik restoran yang segera mengangguk patuh padaku. “Tolong kawal mereka keluar. Sekarang.”
Marcus mencoba protes, “Ini tidak adil! Kamu hanya wanita tua pemilik toko kecil!”
Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. “Toko kecil itu hanyalah hobi. Kekayaan yang membuatmu bisa memakai setelan mahal itu? Itu adalah uang yang mengalir dari perusahaan yang aku dirikan. Dan karena kamu telah mempermalukan putriku, kamu akan kehilangan semuanya. Tidak hanya jabatan, tapi juga gaya hidup yang kamu agung-agungkan itu.”
Security restoran datang dan dengan tegas menarik Marcus dan Donya Sylvia keluar. Saat diseret keluar, wajah mereka yang tadinya sombong berubah menjadi pucat pasi, penuh dengan penyesalan yang terlambat.
Setelah mereka menghilang, aku merangkul Elena yang masih terisak. Aku membelai rambutnya dengan lembut. “Sudah cukup, Sayang. Kamu tidak perlu lagi berpura-pura menjadi orang yang rendah hati untuk menyenangkan pria yang tidak pantas untukmu.”
Malam itu, dunia mereka runtuh. Dan bagi Elena, malam itu adalah awal dari kebebasannya. Aku tidak hanya menghancurkan harga diri mereka; aku menghancurkan fondasi palsu yang selama ini mereka gunakan untuk menginjak-injak orang lain. Karena bagi seorang ibu, tidak ada yang lebih berharga daripada melindungi putrinya dari monster yang berpura-pura menjadi manusia.
Bagaimana menurutmu langkah selanjutnya yang harus dilakukan Elena untuk memulai hidup baru setelah kejadian memalukan tersebut?
