BIMA TERLIHAT TERLALU DEKAT DENGAN ALYA DI KAMAR, TAPI RAHASIA YANG KUTEMUKAN JAUH LEBIH MENGHANCURKAN DARIPADA YANG KUBAYANGKAN “Bu, jangan masuk dulu.”

Nama DANI yang menyala di layar ponsel lama itu membuat seluruh tubuhku membeku.

Aku mengenal nama itu lebih baik daripada siapa pun.

Dani adalah ayah kandung Alya. Lelaki yang dua belas tahun lalu ditangkap karena kasus penggelapan dana perusahaan dan pemalsuan dokumen. Lelaki yang menurut Bima masih menjalani hukuman di Lapas Cipinang dan tidak pernah sekali pun mencoba menghubungi kami.

Tanganku gemetar ketika hendak meraih ponsel itu.

Bima lebih cepat.

Dia mematikan panggilan.

“Kenapa Dani meneleponmu?”

“Ratna, dengarkan aku dulu.”

“Jawab.”

Alya menangis di belakangku.

“Bu…”

Aku menoleh.

“Alya, kamu tahu soal ini?”

Wajah putriku seketika hancur.

Bima mendekat dan mencoba mengambil kertas-kertas dari meja, tetapi aku menahannya.

“Jangan sentuh apa pun.”

“Kalau kamu terus seperti ini, kamu akan menyesal.”

Aku tertawa pendek.

“Menyesal? Aku baru menemukan foto anakku yang diam-diam disimpan seorang lelaki, lalu menemukan mantan suamiku menelepon ponsel rahasia di rumahku. Menurutmu bagian mana yang seharusnya membuatku tenang?”

Bima tidak menjawab.

Aku mengambil ponsel lama itu.

Ada kata sandi.

Alya tiba-tiba berkata pelan, “Tanggal lahir Ibu.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“PIN-nya tanggal lahir Ibu.”

Bima langsung memandang Alya tajam.

“Kamu diam.”

Untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan di wajah Bima.

Bukan kemarahan.

Ketakutan.

Aku memasukkan tanggal lahirku.

Ponsel terbuka.

Puluhan pesan muncul.

Sebagian besar berasal dari Dani.

Pesan terakhir dikirim satu jam sebelumnya.

Jangan paksa Alya lagi. Aku sudah bilang, Ratna harus tahu semuanya.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Lalu pesan sebelumnya.

Aku tidak peduli dengan uangnya lagi. Berikan bukti asli kepada Ratna.

Pesan lain membuat lututku hampir kehilangan tenaga.

Bima, kau sudah berjanji. Setelah aku keluar, kau akan mengembalikan nama baikku.

Aku menatap Bima.

“Dani sudah keluar dari penjara?”

Bima diam.

“Sejak kapan?”

“Bu,” Alya berbisik.

“Sejak kapan?”

Alya menjawab sambil menangis.

“Dua tahun lalu.”

Dunia seakan berhenti.

Dua tahun.

Selama dua tahun, aku hidup bersama seorang lelaki yang setiap kali kutanya tentang Dani selalu mengatakan hal yang sama.

Belum bebas.

Tidak perlu memikirkan dia.

Dia tidak pernah menanyakan Alya.

Ternyata semuanya bohong.

“Kenapa kalian menyembunyikannya dariku?”

Alya mendekat.

“Aku baru tahu enam bulan lalu.”

“Dari siapa?”

“Dari Pak Bima.”

Aku menoleh kepada Bima.

“Kenapa?”

Dia mengusap wajah.

“Karena Dani menghubungiku.”

“Kenapa bukan aku?”

“Karena dia tidak punya keberanian.”

Ponsel di tanganku bergetar lagi.

DANI.

Kali ini aku mengangkatnya.

“Halo?”

Tidak ada suara selama beberapa detik.

Kemudian terdengar napas seorang lelaki.

“Ratna?”

Suara itu membuat kenangan yang selama bertahun-tahun kukubur mendadak kembali.

“Dani.”

“Maaf.”

Hanya satu kata.

Namun dadaku terasa seperti dihantam sesuatu.

“Kamu di mana?”

“Jangan percaya Bima.”

Bima langsung merebut ponsel dari tanganku.

Sambungan terputus.

Aku mendorong dadanya.

“Berikan!”

“Ratna, dia sedang memanipulasimu.”

“Dan kamu tidak?”

Bima membeku.

Aku menunjuk foto-foto Alya.

“Jelaskan ini.”

Alya tiba-tiba mengambil salah satu foto.

“Foto-foto ini bukan milik Pak Bima.”

Aku menatapnya.

“Apa maksudmu?”

“Ini bukti.”

“Bukti apa?”

Alya menarik napas panjang.

“Bahwa seseorang mengawasi kita sejak aku SMA.”

Aku tidak memahami ucapannya.

Kemudian Alya menunjukkan bagian belakang salah satu foto.

Ada angka kecil tercetak di sana.

Tanggal.

Lokasi.

Dan kode kamera.

“Aku menemukan foto pertama enam bulan lalu di gudang,” katanya. “Ada satu kotak berisi foto kita. Ibu pergi kerja, aku sekolah, kita belanja, bahkan waktu Ibu mengantar aku ke rumah sakit.”

“Siapa yang mengambilnya?”

Alya menatap Bima.

“Itu yang sedang kami cari.”

Aku merasa semakin sulit bernapas.

“Kenapa tidak bilang kepada Ibu?”

“Karena waktu aku menemukan kotak itu, Pak Bima bilang kalau Ibu tahu, Ibu akan panik.”

Aku menatap lelaki yang sudah delapan tahun tinggal bersamaku itu.

“Dan kamu pikir menyembunyikannya lebih baik?”

Bima tidak menjawab.

Aku mengambil foto yang tadi membuatku ketakutan. Foto Alya mengenakan seragam sekolah, diambil melalui jendela ruang tamu.

Di sudut foto terlihat pantulan kaca.

Siluet seorang lelaki.

Bukan Bima.

Tubuhnya lebih besar.

“Dani?” tanyaku.

Alya menggeleng.

“Ayah bilang bukan dia.”

Aku tersentak.

“Kamu bertemu Dani?”

Air mata Alya kembali jatuh.

“Dua kali.”

Aku menutup mata.

Rasa sakit yang muncul kali ini berbeda.

Bukan karena perselingkuhan.

Bukan karena kecemburuan.

Putriku bertemu ayah kandungnya diam-diam sementara aku hidup tanpa mengetahui apa pun.

“Kenapa?”

“Karena aku ingin tahu kenapa dia meninggalkan kita.”

Aku tidak bisa memarahinya.

Karena jauh di dalam hati, aku juga ingin tahu.

“Dan apa jawabannya?”

Alya memandang Bima.

“Ayah bilang dia tidak pernah menggelapkan uang.”

Bima langsung berkata, “Dia berbohong.”

“Diam!”

Suaraku menggema di kamar.

Alya mengambil beberapa lembar dokumen dari meja.

“Bu, kasus Ayah dulu berhubungan dengan perusahaan tempat Pak Bima bekerja.”

Aku melihat logo di bagian atas dokumen.

PT Arunika Sentosa.

Nama itu kukenal.

Dani pernah menjadi kepala keuangan di sana.

Bima juga pernah bekerja sebagai auditor internal perusahaan yang sama.

Saat Dani ditangkap, Bima adalah orang yang paling banyak membantuku.

Dia mencarikan pengacara.

Mengantar Alya ke sekolah.

Membayar kontrakan ketika tabunganku habis.

Tiga tahun kemudian, kami menikah.

Aku tiba-tiba merasa mual.

“Kamu mengenal Dani sebelum mengenalku.”

Bima menatapku.

“Tentu. Kami satu perusahaan.”

“Tapi kamu bilang hanya pernah melihatnya beberapa kali.”

“Ratna…”

“Berapa lama kalian bekerja bersama?”

Dia diam.

Alya menjawab.

“Empat tahun.”

Aku menatap Bima.

Satu demi satu potongan masa lalu berubah bentuk di kepalaku.

Bima tidak muncul dalam hidupku secara kebetulan.

Dia sudah berada di sekitar Dani jauh sebelum aku mengenalnya.

Aku membuka dokumen pertama.

Ada laporan transaksi tahun ketika Dani ditangkap.

Transfer senilai hampir delapan miliar rupiah ke beberapa rekening perusahaan fiktif.

Nama Dani tercantum sebagai pihak yang menyetujui.

Namun di halaman berikutnya terdapat hasil pemeriksaan digital.

Akun Dani ternyata diakses dari komputer lain pada malam transaksi dilakukan.

Komputer itu milik divisi audit internal.

Tanganku mulai dingin.

“Bima.”

Dia mundur selangkah.

“Jangan mengambil kesimpulan.”

Aku membaca nama pengguna komputer tersebut.

Bima Pradana.

Aku merasa suara di sekelilingku menghilang.

“Ini kamu?”

“Tidak sesederhana itu.”

“Ini kamu atau bukan?”

“Komputer kantor bisa digunakan siapa saja.”

Alya menangis.

“Pak Bima menyuruhku menghapus salinan dokumen ini.”

Aku menoleh kepadanya.

Itulah sebabnya dia memegang lengan Alya.

Bukan karena hubungan terlarang yang selama ini kutakuti.

Sesuatu yang jauh lebih buruk sedang terjadi.

Bima mendekati Alya.

“Aku menyuruhmu menghapusnya karena dokumen itu bisa membahayakan keluarga kita.”

“Jangan dekati dia.”

Bima berhenti.

Aku mengangkat ponselku.

“Aku akan menelepon polisi.”

“Silakan.”

Jawabannya membuatku ragu.

Bima justru tersenyum tipis.

“Kamu pikir Dani orang baik hanya karena beberapa lembar dokumen?”

Aku menatapnya.

“Ada sesuatu yang belum Alya ceritakan.”

Alya langsung pucat.

“Apa?”

Bima mengambil sebuah amplop dari dalam jaketnya.

“Dani memang tidak mengambil delapan miliar itu.”

Dia meletakkan amplop di meja.

“Tapi dia tahu siapa yang melakukannya.”

Aku membuka amplop.

Di dalamnya ada surat pernyataan lama dengan tanda tangan Dani.

Isinya membuat darahku serasa berhenti mengalir.

Dani mengaku mengetahui manipulasi transaksi perusahaan dan menerima uang agar tetap diam.

“Tidak.”

“Baca sampai selesai,” kata Bima.

Dani menerima lima ratus juta rupiah.

Sebagian uang digunakan untuk membayar utang pengobatan ibuku yang saat itu menderita gagal ginjal.

Aku teringat masa itu.

Tiba-tiba Dani memiliki uang.

Dia bilang mendapat bonus.

Aku tidak pernah bertanya lebih jauh karena seluruh pikiranku hanya tertuju pada rumah sakit.

“Jadi dia bersalah?”

“Dia bersalah karena diam,” jawab Bima. “Tapi bukan dia yang mencuri uangnya.”

“Lalu siapa?”

Bima tidak menjawab.

Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Beberapa detik kemudian bel berbunyi.

Bima langsung berubah tegang.

Alya memegang tanganku.

“Itu Ayah.”

Aku turun bersama Alya.

Ketika pintu kubuka, Dani berdiri di sana.

Rambutnya sudah dipenuhi uban. Tubuhnya jauh lebih kurus daripada yang kuingat.

Dia tidak mencoba memelukku.

Dia hanya berkata, “Maaf aku terlambat.”

Bima muncul di belakangku.

“Keluar dari rumahku.”

Dani tertawa getir.

“Rumahmu?”

Dia mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Masih suka mengambil milik orang lain, Bim?”

Bima menerjangnya.

Aku berteriak.

Alya langsung mengambil ponselnya dan menelepon polisi.

Dani jatuh ke lantai, tetapi masih menggenggam flashdisk itu.

Bima mencoba merebutnya.

Aku berdiri di antara mereka.

“Cukup!”

Bima menatapku dengan wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Seluruh kelembutan yang selama bertahun-tahun kukenal lenyap.

“Kamu tidak mengerti apa pun, Ratna.”

“Kalau begitu jelaskan.”

Dani berdiri perlahan.

“Bima bukan orang yang mencuri uang perusahaan.”

Aku menoleh.

“Apa?”

Bima membeku.

Dani melanjutkan.

“Dia membantu menutupinya.”

“Untuk siapa?”

Keheningan memenuhi ruang tamu.

Dani menatap Bima.

“Untuk kakaknya.”

Aku baru teringat satu nama.

Arman Pradana.

Direktur keuangan PT Arunika Sentosa saat itu.

Lelaki yang meninggal akibat kecelakaan beberapa minggu sebelum persidangan Dani.

Dani menyerahkan flashdisk kepadaku.

“Arman memindahkan uang perusahaan. Bima menghapus jejak digitalnya. Aku mengetahuinya, tapi aku menerima uang untuk diam. Ketika audit dimulai, Arman panik. Mereka menggunakan akunku sebagai kambing hitam.”

“Kenapa kamu tidak bicara di pengadilan?”

“Karena mereka mengancam kalian.”

Aku terdiam.

Dani menunjuk foto-foto di kamar Alya.

“Foto itu dikirim kepadaku sebelum persidangan. Mereka menunjukkan bahwa kalian selalu diawasi.”

Aku menutup mulut.

Ternyata foto-foto itu sudah berusia lebih dari satu dekade.

“Arman meninggal,” lanjut Dani, “tapi Bima tetap memastikan aku diam.”

Aku menatap suamiku.

“Lalu kenapa kamu menikah denganku?”

Bima tidak langsung menjawab.

Dani tertawa pahit.

“Awalnya untuk mengawasimu.”

Aku merasa seluruh lantai bergeser.

Bima akhirnya bicara.

“Awalnya.”

Satu kata itu justru lebih menyakitkan.

“Awalnya?”

“Aku memang mendekatimu untuk memastikan Dani tidak meninggalkan bukti kepadamu.”

Mataku panas.

“Lalu?”

“Aku jatuh cinta kepadamu.”

Aku menamparnya.

Suara tamparan itu memenuhi ruangan.

“Jangan gunakan kata cinta.”

Bima tidak melawan.

“Aku membesarkan Alya. Aku menjaga kalian.”

“Kamu menjaga kami atau memastikan kami tidak mengetahui kebenaran?”

Dia tidak mampu menjawab.

Sirene polisi terdengar dari kejauhan.

Bima menatap Alya.

“Alya, bilang kepada ibumu. Selama ini aku pernah menyakitimu?”

Alya menangis.

“Tidak.”

“Pernah aku memperlakukanmu tidak pantas?”

“Tidak.”

Aku memejamkan mata.

Semua kecurigaanku tentang kedekatan mereka ternyata salah.

Namun kenyataan jauh lebih menghancurkan.

Bima memang menyayangi Alya seperti anak sendiri.

Dan mungkin itulah tragedi terbesar dari semuanya.

Selama bertahun-tahun, kebohongan yang dimulai sebagai tugas berubah menjadi sebuah keluarga sungguhan.

Tetapi keluarga yang dibangun di atas kebohongan tetap memiliki fondasi yang rapuh.

Polisi datang beberapa menit kemudian.

Flashdisk Dani berisi salinan surel lama, rekaman percakapan, serta dokumen transaksi yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Penyelidikan kasus lama akhirnya dibuka kembali.

Bima dibawa untuk diperiksa.

Sebelum masuk mobil polisi, dia menoleh kepadaku.

“Aku tahu kamu tidak akan percaya, tapi delapan tahun terakhir bukan kebohongan.”

Aku tidak menjawab.

Karena mungkin dia benar.

Dan justru itulah yang paling menyakitkan.

Beberapa bulan kemudian, nama Dani dibersihkan dari tuduhan penggelapan utama, meskipun dia tetap harus menerima kenyataan bahwa keputusan menerima uang dan bungkam telah menghancurkan keluarganya sendiri.

Aku tidak kembali kepadanya.

Aku juga tidak menunggu Bima.

Aku memilih tinggal bersama Alya dan memulai hidup yang tidak dibangun dari rasa takut kepada masa lalu.

Suatu malam, ketika kami sedang membereskan gudang, Alya menemukan satu foto lama yang terselip di balik kardus.

Foto itu diambil ketika dia berusia sekitar tiga belas tahun.

Aku sedang tertidur di sofa.

Alya tertidur di sampingku.

Di lantai, Bima duduk bersandar pada sofa sambil memegang laptop.

Kami bertiga terlihat seperti keluarga biasa.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan.

Aku mengenali tulisan Bima.

Hari pertama aku sadar bahwa aku tidak lagi mengawasi mereka. Aku takut kehilangan mereka.

Alya membaca kalimat itu lama sekali.

“Bu, menurut Ibu Pak Bima pernah benar-benar sayang sama kita?”

Aku memandang foto tersebut.

Dulu aku mengira pengkhianatan selalu berarti seseorang tidak pernah mencintai kita.

Ternyata aku salah.

Kadang seseorang bisa mencintai dengan sungguh-sungguh dan tetap melakukan sesuatu yang tidak bisa dimaafkan.

Aku meletakkan foto itu kembali ke dalam kardus.

“Entahlah, Alya.”

“Kalau Ibu bisa mengulang semuanya, Ibu masih mau bertemu dia?”

Aku menatap putriku.

Kemudian aku tersenyum kecil.

“Ada orang yang datang ke hidup kita bukan untuk tinggal selamanya. Ada yang datang untuk mengajarkan bahwa cinta tanpa kejujuran tetap bisa menghancurkan.”

Alya menggenggam tanganku.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada pintu yang terkunci di rumah kami.

Tidak ada ponsel rahasia.

Tidak ada percakapan yang berhenti ketika aku memasuki ruangan.

Dan malam itu aku akhirnya memahami sesuatu.

Rahasia terbesar Bima bukanlah bahwa dia terlalu dekat dengan Alya.

Bukan pula bahwa dia mengenal Dani.

Rahasia terbesar Bima adalah bahwa lelaki yang dikirim untuk memastikan keluargaku tetap hidup dalam kebohongan justru akhirnya mencintai keluarga itu.

Namun ketika kebenaran datang, cinta saja tidak cukup untuk menyelamatkannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang