Hujan baru saja berhenti ketika aku menemukan Marco di Pasar Senen, tetapi malam itu aku akhirnya mengerti bahwa badai yang sebenarnya baru akan dimulai.
Selama sepuluh tahun, aku membenci lelaki itu.
Aku membencinya setiap kali berhasil melewati ujian kedokteran. Aku membencinya saat pertama kali mengenakan jas putih. Aku membencinya ketika namaku terpampang di depan sebuah klinik yang kubangun dengan kerja keras bertahun-tahun.
Karena setiap keberhasilan selalu mengingatkanku pada kalimat terakhir yang kuingat darinya sebelum ia menghilang.

Lupakan aku, Laras. Hidupmu akan jauh lebih baik tanpa aku.
Aku menganggap itu pengkhianatan.
Sampai malam ketika sebuah pesan anonim masuk ke ponselku.
Dan kamu tidak akan sanggup mengetahui siapa yang selama ini membayar kesuksesanmu.
Pukul sembilan kurang sepuluh menit, aku sudah berdiri di depan Rumah Sakit Cempaka.
Aku tidak membawa Raka.
Setidaknya, itulah yang diketahui Marco.
Sebelum turun dari mobil, aku mengirim lokasi kepada Raka dan memintanya menunggu dua blok dari rumah sakit. Kalau dalam satu jam aku tidak menghubunginya, ia harus masuk.
Rumah sakit itu bukan tempat mewah. Bangunannya tua, cat dindingnya mulai menguning, dan beberapa kursi di ruang tunggu bahkan sudah retak.
Marco menungguku di lorong lantai tiga.
Dia sudah mengganti bajunya, tetapi tetap terlihat lusuh.
“Kenapa kamu datang?”
Aku menahan emosi.
“Kamu sendiri yang menyuruhku.”
“Aku berharap kamu berubah pikiran.”
“Sepuluh tahun lalu aku membiarkanmu pergi tanpa jawaban. Aku tidak akan mengulanginya.”
Marco menatapku beberapa detik, kemudian membuka pintu sebuah kamar.
Dinda terbaring di ranjang.
Wajah anak itu pucat. Selang infus menempel di tangannya. Di samping tempat tidur terdapat beberapa lembar hasil pemeriksaan.
Naluri dokterku langsung bekerja.
Aku mengambil salah satunya.
Hemoglobin rendah. Leukosit tidak normal. Trombosit turun drastis.
Aku menatap Marco.
“Dia sakit apa?”
“Leukemia.”
Aku membeku.
“Sudah berapa lama?”
“Hampir dua tahun.”
“Kenapa perawatannya seperti terputus-putus?”
Marco tidak menjawab.
Aku melihat catatan administrasi di bagian bawah.
Beberapa jadwal terapi tertunda karena masalah pembayaran.
“Marco.”
“Aku sedang mengusahakannya.”
“Dengan mengemis di pasar?”
Rahangnya mengeras.
“Aku bekerja.”
“Pekerjaan apa yang membuatmu duduk dengan gelas kosong?”
“Aku mengangkut barang sejak subuh. Kadang pedagang memberi makan. Kadang memberi uang.”
Aku menatap Dinda.
“Siapa orang tuanya?”
Marco menarik kursi dan duduk.
“Kakakku.”
Aku mengernyit.
Aku mengenal keluarganya dulu. Marco hanya pernah bercerita tentang seorang kakak perempuan bernama Maya.
“Di mana Maya?”
“Meninggal.”
“Kapan?”
“Empat tahun lalu.”
“Suaminya?”
“Tidak ada.”
Aku hendak bertanya lagi ketika Dinda membuka mata.
“Om.”
Marco segera mendekat.
“Aku di sini.”
“Jangan bertengkar sama dokter cantik itu.”
Aku terdiam.
Marco tersenyum tipis.
“Kami tidak bertengkar.”
Dinda menatapku.
“Om Marco sering menyebut nama Tante.”
Jantungku seperti berhenti.
Marco langsung berdiri.
“Dinda, tidur lagi.”
“Tapi benar.”
Aku memandang Marco.
“Kamu membicarakanku?”
“Anak kecil suka salah dengar.”
“Aku tidak kecil,” protes Dinda lemah.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku hampir tersenyum.
Namun ketenangan itu hanya berlangsung beberapa detik.
Pintu kamar terbuka.
Seorang pria berjas abu-abu masuk bersama dua orang lain.
Aku mengenalinya.
Pak Adrian.
Direktur utama Yayasan Pradipta, yayasan yang memberiku beasiswa penuh sejak tahun kedua kuliah sampai aku menyelesaikan spesialisasi.
Pria yang selalu kusebut sebagai orang yang menyelamatkan masa depanku.
Wajahnya langsung berubah ketika melihatku.
“Laras?”
Aku berdiri.
“Pak Adrian?”
Marco segera bergerak di depanku.
“Keluar.”
Pak Adrian tertawa pendek.
“Kamu masih merasa bisa memberi perintah?”
“Aku bilang keluar.”
Aku memandang mereka bergantian.
“Kalian saling kenal?”
Tidak ada yang menjawab.
Saat itulah kalimat dari pesan anonim kembali terngiang.
Siapa yang selama ini membayar kesuksesanmu.
Aku menatap Pak Adrian.
“Beasiswa saya sebenarnya dari siapa?”
Wajahnya kaku.
“Dari yayasan.”
“Siapa donaturnya?”
“Itu informasi internal.”
“Marco?”
Marco menunduk.
Dadaku mulai sesak.
“Jawab aku.”
Pak Adrian menarik napas.
“Kalau kamu ingin mengetahui semuanya, tanyakan kepada mantan kekasihmu mengapa sepuluh tahun lalu dia menerima uang dari keluarga Pradipta.”
Aku menatap Marco.
“Apa?”
Marco mengepalkan tangan.
“Jangan dengarkan dia.”
Pak Adrian tersenyum dingin.
“Dua miliar rupiah. Bukankah itu jumlahnya?”
Dunia seakan miring.
Aku mundur selangkah.
“Jadi benar.”
“Laras.”
“Kamu menerima uang?”
Marco tidak menjawab.
Aku merasakan sesuatu yang selama bertahun-tahun kupendam kembali pecah.
“Jadi aku benar. Kamu meninggalkanku demi uang.”
“Tidak.”
“Dua miliar bukan uang?”
“Aku tidak memakai uang itu.”
“Lalu ke mana?”
Pak Adrian menjawab sebelum Marco sempat bicara.
“Untukmu.”
Aku menoleh tajam.
“Apa maksud Anda?”
Marco memejamkan mata.
Pak Adrian berjalan mendekat.
“Sepuluh tahun lalu ayah saya, Surya Pradipta, mengetahui hubungan kalian.”
Nama itu membuatku membeku.
Surya Pradipta adalah pemilik jaringan rumah sakit terbesar di Jakarta sebelum meninggal lima tahun lalu.
“Kenapa dia peduli dengan hubungan kami?”
Pak Adrian menatapku dengan ekspresi aneh.
“Karena kamu putrinya.”
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
Ruangan mendadak terasa terlalu sempit.
“Ayah saya berselingkuh dengan ibumu sebelum menikah dengan ibu saya. Kamu lahir dari hubungan itu.”
Aku menggeleng.
“Tidak mungkin.”
“Dia mengetahuinya setelah ibumu meninggal. Dia mencari kamu dan menemukan bahwa kamu hidup sendiri sambil kuliah.”
Aku memandang Marco.
“Kamu tahu?”
Marco mengangguk perlahan.
Seolah seseorang menghantam dadaku.
“Sejak kapan?”
“Sejak malam sebelum aku pergi.”
Air mataku mulai turun.
“Dan kamu tidak pernah memberitahuku?”
“Ayahmu melarang.”
“Kamu menurut?”
“Dia mengancammu.”
Aku terdiam.
Marco akhirnya menatapku.
“Dia bilang kalau aku tetap bersamamu, dia akan menghentikan kuliahmu, membuatmu kehilangan tempat tinggal, dan memastikan rumah sakit mana pun tidak menerimamu.”
“Kenapa?”
“Karena keluarganya tidak ingin keberadaanmu diketahui.”
Pak Adrian memalingkan wajah.
Marco melanjutkan.
“Aku tidak punya apa-apa saat itu. Aku cuma mahasiswa yang bahkan sering meminjam uang makan darimu. Aku tidak bisa melawan keluarga sebesar mereka.”
“Jadi kamu mengambil uang?”
“Aku membuat kesepakatan.”
Marco berjalan ke tas lusuh di sudut kamar. Dari dalamnya ia mengeluarkan map plastik yang sudah kusam.
Ia menyerahkannya kepadaku.
Di dalamnya ada dokumen transfer.
Dua miliar rupiah.
Namun bukan masuk ke rekening Marco.
Uang itu masuk ke sebuah rekening dana pendidikan atas namaku.
Tanganku gemetar.
“Aku meminta satu syarat,” katanya. “Kalau aku harus menghilang, seluruh uang yang mereka tawarkan harus digunakan untuk pendidikanmu.”
Aku membaca halaman berikutnya.
Ada perjanjian.
Marco Adhikara bersedia memutus seluruh hubungan dengan Laras Prameswari dan tidak menghubunginya dalam bentuk apa pun.
Sebagai imbalan, Yayasan Pradipta menjamin seluruh biaya pendidikan Laras sampai menyelesaikan pendidikan spesialis.
Aku tidak sanggup berdiri.
Aku duduk di tepi ranjang.
Sepuluh tahun kebencian runtuh dalam beberapa lembar kertas.
“Kenapa kamu membuatku membencimu?”
“Karena kalau kamu tahu aku berkorban, kamu akan mencariku.”
“Memangnya salah?”
Marco tersenyum getir.
“Kamu mengenalku. Kamu pasti akan memilihku daripada masa depanmu.”
Aku menangis.
“Bodoh.”
“Aku tahu.”
“Bodoh sekali.”
“Aku juga tahu.”
Aku memukul dadanya sekali.
Tidak keras.
Marco tidak menghindar.
“Kamu berhak marah.”
“Sepuluh tahun, Marco.”
“Aku tahu.”
“Aku pikir kamu menjualku.”
“Aku tahu.”
“Kenapa kamu tidak datang setelah aku berhasil?”
Marco terdiam.
Pak Adrian tiba-tiba berkata, “Karena dia melanggar perjanjian.”
Aku menoleh.
“Apa?”
“Lima tahun lalu Marco mengetahui ayah saya berencana menghentikan beasiswamu sebelum pendidikan spesialis selesai. Dia datang dan mengancam akan membocorkan hubungan ayah dengan ibumu.”
Marco langsung berkata, “Cukup.”
Namun Adrian meneruskan.
“Ayah saya menghancurkan hidupnya.”
Perlahan aku menatap Marco.
“Bagaimana?”
“Perusahaan kecil yang dia bangun dibuat bangkrut. Rekeningnya dibekukan melalui gugatan. Beberapa mitra meninggalkannya. Bahkan dia pernah dipenjara enam bulan karena tuduhan penggelapan yang kemudian terbukti tidak benar.”
Aku tidak bisa bernapas.
Marco yang kukenal dahulu adalah mahasiswa teknik yang selalu bermimpi membangun perusahaan konstruksi sendiri.
Ternyata ia pernah berhasil.
Dan semuanya dihancurkan.
“Kenapa sekarang kamu masih dikejar?”
Marco melihat Dinda.
“Karena Maya menyimpan bukti.”
“Bukti apa?”
Pak Adrian mendadak bergerak.
Marco lebih cepat.
Ia mengambil sebuah flashdisk kecil dari saku jaketnya.
“Bukti bahwa Surya Pradipta bukan cuma menyembunyikan keberadaanmu.”
Marco menatap Adrian.
“Dia menggelapkan dana yayasan selama bertahun-tahun. Adrian meneruskannya.”
Wajah Adrian memucat.
“Jangan percaya omongannya.”
Aku menatapnya.
“Kalau bohong, kenapa Anda datang ke rumah sakit malam-malam membawa dua orang?”
Adrian terdiam.
Pintu tiba-tiba terbuka lagi.
Raka masuk bersama dua petugas kepolisian.
Marco terkejut.
“Kamu membawa orang?”
Aku menghapus air mata.
“Aku sudah kehilanganmu sekali. Aku tidak sebodoh itu untuk datang sendirian.”
Raka menunjukkan ponselnya.
“Percakapan tadi sudah direkam.”
Adrian mencoba keluar, tetapi polisi menghentikannya.
Malam itu menjadi awal runtuhnya keluarga Pradipta.
Flashdisk milik Marco berisi transaksi, surat perintah palsu, rekaman percakapan, serta dokumen yang membuktikan bahwa dana pendidikan puluhan penerima beasiswa telah dipotong selama bertahun-tahun.
Penyelidikan berlangsung berbulan-bulan.
Adrian akhirnya ditetapkan sebagai tersangka bersama beberapa pengurus yayasan.
Namaku ikut terseret media.
Untuk pertama kalinya, publik mengetahui bahwa aku adalah anak Surya Pradipta.
Aku kehilangan beberapa kerja sama.
Ada pasien yang membatalkan jadwal.
Ada orang yang menuduh kesuksesanku hanyalah hasil uang keluarga kaya.
Dulu mungkin aku akan takut.
Sekarang tidak.
Aku tahu kebenarannya.
Beberapa bulan kemudian, aku berdiri di depan sebuah bangunan kecil di Jakarta Timur.
Tulisan di depannya berbunyi Klinik Prameswari.
Marco berdiri di sebelahku dengan rambut yang sudah dipotong rapi. Tubuhnya mulai berisi kembali setelah mendapatkan perawatan dan pekerjaan tetap.
Dinda berlari kecil dari dalam klinik.
Hasil terapinya membaik.
Aku menggunakan sebagian harta warisan yang secara hukum menjadi hakku untuk membangun program pengobatan bagi anak dari keluarga tidak mampu.
Bukan karena aku ingin membersihkan nama ayah biologisku.
Justru karena aku tidak ingin uang yang pernah dipakai untuk menghancurkan hidup orang lain terus membawa luka.
Marco menatap papan nama klinik.
“Kamu benar-benar tidak mau memakai nama Pradipta?”
Aku menggeleng.
“Namaku sudah cukup.”
Dia tersenyum.
Aku menatapnya.
“Ada satu hal yang belum aku mengerti.”
“Apa?”
“Pesan anonim malam itu. Siapa yang mengirimnya?”
Marco menggeleng.
“Bukan aku.”
Raka juga sudah mencoba melacaknya, tetapi nomor tersebut tidak pernah ditemukan.
Dinda tiba-tiba menghampiri kami.
“Tante Laras.”
“Ya?”
Ia menyerahkan sebuah amplop.
“Aku menemukan ini di tas Mama.”
Aku membeku.
“Mama?”
“Mama Maya.”
Marco mengambil amplop itu.
Tulisan di bagian depan sudah memudar.
Untuk Laras, jika suatu hari Marco terlalu pengecut untuk mengatakan semuanya.
Marco menghela napas.
“Kakakku memang menyebalkan.”
Aku membuka surat itu.
Di dalamnya hanya ada satu halaman.
Maya menulis bahwa ia mengetahui semua pengorbanan adiknya. Ia juga mengetahui kondisi kesehatannya sendiri memburuk sebelum meninggal.
Namun kalimat terakhir membuat tanganku berhenti.
Jangan marahi Marco karena meninggalkanmu. Marahi dia karena tidak pernah memberitahumu bahwa setiap tanggal ulang tahunmu, dia berdiri di seberang jalan hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja.
Aku menatap Marco.
Dia langsung memalingkan wajah.
“Benarkah?”
“Tidak setiap tahun.”
“Marco.”
“Mungkin sembilan kali.”
Aku tertawa sambil menangis.
Sepuluh tahun aku mengira lelaki itu meninggalkanku.
Ternyata selama sepuluh tahun, ia tidak pernah benar-benar pergi.
Aku menggenggam tangannya.
Tidak ada janji besar.
Tidak ada kata bahwa kami harus mengganti seluruh waktu yang hilang.
Karena aku akhirnya memahami sesuatu.
Beberapa orang datang ke hidup kita untuk tinggal di samping kita.
Sebagian lainnya mencintai dengan cara yang salah, terlalu diam, terlalu jauh, bahkan menyakitkan.
Marco telah melakukan itu.
Aku tidak bisa mengembalikan sepuluh tahun yang hilang.
Tetapi ketika tangannya membalas genggamanku dan Dinda berdiri di antara kami sambil tersenyum, aku sadar bahwa hidup tidak selalu memberi kesempatan untuk memperbaiki masa lalu.
Kadang hidup hanya membuka satu pintu kecil menuju masa depan.
Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan Marco berjalan melewatinya sendirian.
