SAYA MELIHAT MERTUA SAYA MEMASUKKAN OBAT KE DALAM MINUMAN SAYA DI HARI

Dunia seolah melambat. Saya memperhatikan dengan saksama bagaimana Donya Isabela menurunkan gelasnya, menyeka bibirnya dengan serbet sutra, dan kembali berbincang dengan senator di sebelahnya. Namun, sepuluh menit kemudian, perubahan itu terjadi.

Wajah angkuh itu mulai memucat. Senyum palsunya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi bingung dan pening. Tiba-tiba, dia memegang kepalanya. “Isabela, apakah kau baik-baik saja?” tanya sang senator.

Donya Isabela mencoba menjawab, namun lidahnya terasa kelu. Efek obat itu bekerja jauh lebih cepat daripada yang saya duga. Matanya mulai berputar, dan tubuhnya yang dibalut gaun haute couture seharga ratusan juta rupiah itu mulai bergoyang tidak stabil.

“Julian…” panggilnya dengan suara parau yang kini terdengar melengking aneh, “Kenapa… kenapa semuanya berputar?”

Semua mata tamu di ballroom kini tertuju pada meja utama. Keheningan mulai menyelimuti ruangan. Saat itulah, efek samping yang jauh lebih memalukan dari sekadar mengantuk mulai terjadi. Obat itu—yang ternyata adalah sejenis obat pencahar dosis tinggi yang dicampur dengan penenang otot—mulai bekerja sepenuhnya.

Wajah Donya Isabela berubah dari pucat menjadi merah padam karena panik. Dia berusaha bangkit, namun lututnya lemas. Di depan ratusan tamu VIP, politisi, dan media yang meliput pernikahan kami, dia kehilangan kendali. Dia terjatuh ke kursinya dengan suara berdebum keras, dan tanpa mampu ditahan lagi oleh otot-ototnya, dia mengalami insiden yang sangat memalukan—sebuah kecelakaan di hadapan publik yang mustahil untuk disembunyikan.

Bau yang menyengat mulai tercium, dan tawa tertahan mulai terdengar dari para tamu. Kamera-kamera wartawan yang tadinya mengabadikan kebahagiaan kami kini beralih menyorot drama yang memalukan ini.

“Ibu?!” Julian segera berlari ke arah ibunya, tampak syok melihat keadaan wanita yang selama ini ia agungkan sebagai lambang kesempurnaan sosial.

Saya berdiri dengan tenang, namun dengan tatapan yang menyiratkan kepedulian yang dibuat-buat. Saya mengambil mikrofon yang tadi dijatuhkan Donya Isabela.

“Oh, Tuhan! Ibu mertua saya tiba-tiba sakit,” ujar saya dengan suara yang cukup keras untuk didengar seluruh ruangan. “Mungkin dia terlalu lelah menyiapkan pernikahan ini sampai dia salah meminum obatnya sendiri.”

Mata Donya Isabela terbuka lebar. Dia sadar apa yang terjadi. Dia melihat ke arah gelas saya yang kosong, lalu ke gelas miliknya sendiri yang sudah ia habiskan, dan akhirnya menatap mata saya. Dia melihat tatapan saya yang sedingin es—sebuah pesan bahwa saya tahu segalanya.

Sesaat sebelum dia jatuh pingsan karena menahan malu dan efek obat, saya membungkuk ke arah telinganya. Dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kami berdua, saya berbisik, “Terima kasih atas ucapan selamatnya, Donya. Tapi di masa depan, jangan pernah mencoba bermain dengan orang yang membangun bisnis dari nol. Kami terbiasa memprediksi risiko dan melakukan langkah pencegahan.”

Malam itu, pernikahan kami bukan lagi dibicarakan karena kemewahannya, melainkan karena kejatuhan moral dan sosial keluarga mereka. Foto-foto Donya Isabela yang tak berdaya dan memalukan tersebar di internet keesokan harinya.

Kehidupan pernikahan saya dengan Julian mungkin akan sulit setelah ini, tapi satu hal yang pasti: Donya Isabela tidak akan pernah lagi memandang rendah saya. Dia sekarang tahu, bahwa di balik senyum ramah saya, terdapat benteng yang tidak bisa dia tembus dengan trik murahan. Dia tidak hanya kalah dalam permainan itu; dia telah kehilangan kehormatan yang paling dia banggakan di depan seluruh dunia.

Dan bagi saya, ini hanyalah awal dari bagaimana saya akan mendefinisikan ulang posisi saya di keluarga ini.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang