Aku tidak pernah menyangka satu pagi di rumah mertuaku akan membuatku melihat pernikahanku dengan cara yang sama sekali berbeda.
Faris berdiri di tengah ruang tamu dengan wajah pucat. Nadira di sampingnya menggenggam tangan anak laki-laki yang sejak tadi menunduk sambil memeluk tas ransel dinosaurus. Sementara aku berdiri di anak tangga terakhir, mencoba memahami kalimat Bu Ratna.
“Yang keterlaluan baru akan kita bahas setelah Alya tahu uang siapa yang sebenarnya kau pakai untuk membiayai perempuan itu.”
Faris menatap ibunya seolah baru saja ditampar.
“Ma, jangan libatkan Alya dalam urusan perusahaan.”

Bu Ratna tertawa pendek.
“Urusan perusahaan?”
Beliau berjalan ke meja konsol, mengambil sebuah map cokelat, lalu meletakkannya di meja ruang tamu.
“Kalau kau mengambil uang perusahaan untuk membayar apartemen, sekolah, mobil, dan kebutuhan pribadi perempuan lain, sementara perusahaan itu sebagian sahamnya berasal dari investasi istrimu, apa kau masih berani bilang ini bukan urusan Alya?”
Aku merasa kakiku kehilangan tenaga.
“Apa maksud Ibu?”
Pak Hendra menghela napas panjang.
“Alya, duduk dulu.”
“Aku tidak mau duduk. Aku mau tahu.”
Untuk pertama kalinya, Nadira terlihat benar-benar gelisah.
Faris buru-buru berkata, “Itu bukan seperti yang kamu pikirkan.”
Aku menoleh kepadanya.
“Lucu. Sejak kemarin semua yang kulihat selalu bukan seperti yang kupikirkan.”
Bu Ratna membuka map.
Tiga tahun lalu, setelah menikah, aku menjual sebagian saham perusahaan kecil peninggalan ayahku. Uangnya hampir satu setengah miliar rupiah.
Faris saat itu menyarankan agar uang tersebut diinvestasikan ke perusahaan keluarganya.
Katanya lebih aman.
Katanya untuk masa depan kami.
Aku percaya.
Ternyata sebagian dana itu masuk ke unit usaha yang dipimpin Faris.
Dan selama enam bulan terakhir, menurut catatan sementara bagian keuangan, Faris telah memindahkan lebih dari empat ratus juta rupiah melalui vendor yang dikendalikan seseorang bernama Nadira Prameswari.
Tanganku mulai gemetar.
“Nadira?”
Perempuan itu menatap Faris.
Bukan aku.
Itu sudah cukup menjadi jawaban.
Faris maju satu langkah.
“Alya, dengarkan aku.”
“Berapa banyak uangku yang kau pakai?”
“Aku akan ganti.”
“Berapa?”
Dia terdiam.
Aku mendekat.
“Berapa, Faris?”
“Sekitar dua ratus…”
Bu Ratna memotong.
“Tiga ratus delapan puluh enam juta.”
Ruangan menjadi sunyi.
Aku mendengar anak Nadira menarik napas kecil.
Aku memejamkan mata sebentar.
Aneh sekali.
Kemarin, melihat Faris menggenggam tangan perempuan lain terasa seperti hal paling menyakitkan yang pernah kualami.
Ternyata rasa sakit bisa mempunyai lapisan.
Pengkhianatan bukan hanya tentang sentuhan.
Kadang ia berbentuk tanda tangan.
Transfer bank.
Kebohongan kecil yang disusun setiap hari sampai akhirnya menjadi kehidupan kedua.
Pak Hendra menunjuk sofa.
“Kita tunggu pengacara dan auditor. Tidak ada yang pergi sebelum semuanya jelas.”
Faris langsung meninggikan suara.
“Pa, ini keterlaluan. Nadira sedang punya masalah.”
“Dan karena masalahnya, kau mencuri?”
“Aku tidak mencuri!”
“Kalau menggunakan uang perusahaan tanpa persetujuan untuk kepentingan pribadi bukan mencuri, kau mau menyebutnya apa?”
Faris mengepalkan tangan.
Nadira akhirnya bicara.
“Om, mungkin lebih baik saya pergi.”
Bu Ratna menatapnya.
“Tidak. Kamu tetap di sini.”
Nada suaranya tetap sopan, tapi tidak memberi ruang untuk membantah.
“Aku ingin tahu peranmu.”
Aku menoleh kepada Nadira.
“Dan aku ingin tahu hubungan kalian.”
Faris langsung menjawab.
“Kami tidak selingkuh.”
Aku tertawa.
Suara itu terdengar asing bahkan di telingaku sendiri.
“Tidak selingkuh? Aku melihat kalian bergandengan tangan.”
Nadira tiba-tiba berkata, “Karena saya panik.”
Semua mata berpindah kepadanya.
Dia menarik napas.
“Saya memang dekat dengan Faris. Tapi bukan seperti yang Kak Alya pikirkan.”
“Kau pikir aku sebodoh itu?”
“Tidak.”
Nadira menggeleng.
“Saya justru merasa saya yang bodoh.”
Faris menatapnya tajam.
“Nadira.”
Perempuan itu membalas tatapannya.
“Sudah cukup, Ris.”
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatku berhenti.
Nadira memeluk bahu anak laki-laki di sampingnya.
“Dua bulan lalu saya meminta bantuan Faris karena suami saya meninggalkan utang yang besar.”
Aku mengernyit.
“Suamimu?”
Nadira mengangguk.
“Nama anak saya Raka. Ayahnya meninggal tahun lalu.”
Aku memandang anak kecil itu.
Wajahnya sama sekali tidak mirip Faris.
Baru saat itulah aku sadar betapa cepatnya pikiranku menyimpulkan sesuatu hanya karena Faris datang bersamanya.
Nadira melanjutkan.
“Saya kehilangan rumah kontrakan. Usaha saya juga bangkrut. Faris menawarkan bantuan.”
“Dengan uang perusahaan?”
“Saya tidak tahu awalnya.”
Faris memotong, “Dia tahu.”
Nadira menoleh tajam.
“Saya tahu setelah bulan kedua.”
“Nadira.”
“Kenapa? Kamu masih mau bohong?”
Suasana berubah.
Faris yang sejak tadi defensif kini terlihat benar-benar takut.
Nadira mengambil ponselnya.
“Saya punya semua percakapan.”
Faris bergerak hendak merebutnya.
Pak Hendra berdiri.
“Jangan sentuh dia.”
Nadira menatapku.
“Saya memang salah, Kak. Saya menerima uang yang bukan hak saya. Tapi Faris bilang itu uang bonus pribadinya.”
Aku sulit bernapas.
“Lalu kenapa kemarin kalian bergandengan tangan?”
Nadira menunduk.
“Karena saya baru tahu sesuatu.”
Dia membuka salah satu percakapan di ponselnya.
Kemudian menyerahkannya kepadaku.
Pesan itu dikirim Faris tiga minggu lalu.
Isinya singkat.
Kalau Alya setuju menjual sisa sahamnya, semuanya akan selesai. Kita bisa mulai dari awal.
Aku membaca berkali-kali.
Jantungku berdetak semakin keras.
“Mulai dari awal?”
Nadira menatap Faris.
“Saya juga mengira dia mau menikahi saya.”
Dunia seolah berhenti.
Faris menutup wajah.
“Aku cuma bilang begitu supaya dia tenang.”
Aku menatapnya.
“Jadi memang ada hubungan?”
Dia diam.
Hanya beberapa detik.
Tapi kadang diam adalah pengakuan paling jelas.
Nadira menangis.
“Hubungan kami dimulai empat bulan lalu.”
Aku memalingkan wajah.
Akhirnya.
Kebenaran yang paling kutakuti keluar juga.
Namun ternyata aku tidak merasa ingin berteriak.
Aku hanya merasa kosong.
“Raka bukan anak Faris,” lanjut Nadira. “Tapi dia berkali-kali bilang akan menerima kami kalau semuanya selesai.”
“Apa yang harus selesai?”
Nadira menatapku.
“Pernikahan kalian.”
Bu Ratna menutup mata.
Pak Hendra mencengkeram sandaran sofa.
Aku menatap Faris.
“Jadi selama ini kau sedang menunggu aku pergi?”
“Tidak.”
“Tapi kau bilang kepada dia kalian akan memulai hidup baru.”
“Aku panik.”
“Semua kebohonganmu selalu karena panik?”
Faris mendekat.
“Alya, aku memang salah. Tapi aku masih mencintaimu.”
Kalimat itu justru membuat dadaku panas.
“Jangan pakai kata cinta untuk sesuatu yang bahkan tidak kau hormati.”
Bel pintu berbunyi.
Pengacara keluarga datang bersama dua orang auditor.
Selama hampir tiga jam, ruang makan berubah menjadi tempat pemeriksaan.
Laptop dibuka.
Dokumen dicetak.
Mutasi rekening diperiksa.
Dan satu demi satu fakta bermunculan.
PT Nusa Kreasi Mandiri ternyata memang dimiliki Nadira.
Perusahaan itu nyata, tetapi sudah hampir tidak beroperasi sejak tahun lalu.
Faris memanfaatkannya sebagai vendor.
Beberapa invoice dibuat untuk proyek yang tidak pernah ada.
Sebagian uang masuk ke rekening perusahaan Nadira.
Sebagian lagi dipindahkan ke rekening pribadi Faris.
Namun kejutan terbesar baru muncul menjelang siang.
Auditor utama, seorang pria bernama Pak Rendy, memutar laptopnya menghadap Pak Hendra.
“Pak, ada transaksi yang lebih besar.”
Pak Hendra melihat layar.
Wajahnya berubah.
“Berapa?”
“Satu koma dua miliar.”
Faris langsung berdiri.
“Itu bukan aku.”
Pak Rendy menatapnya.
“Transaksi menggunakan otorisasi Anda.”
“Tidak mungkin.”
“Terjadi dua minggu lalu.”
Aku ikut melihat.
Transfer satu koma dua miliar rupiah masuk ke rekening sebuah perusahaan investasi.
Bu Ratna bertanya pelan.
“Perusahaan siapa?”
Pak Rendy menelusuri data.
Beberapa menit kemudian, dia berkata,
“Direktur utamanya atas nama Bima Prasetyo.”
Aku tidak mengenal nama itu.
Namun Nadira mendadak berdiri.
Wajahnya putih seperti kertas.
“Bima?”
Faris menoleh.
“Kamu kenal?”
Nadira mundur.
“Itu… suami saya.”
Semua orang terdiam.
Aku menatapnya.
“Tadi kau bilang suamimu meninggal.”
Nadira mulai gemetar.
“Aku… aku memang diberi tahu dia meninggal.”
“Kapan terakhir kau melihatnya?”
“Setahun lalu.”
Pak Rendy terus mengetik.
Kemudian menemukan foto direktur perusahaan tersebut.
Dia memutar laptop.
Nadira menjerit kecil.
“Itu dia.”
Pria itu hidup.
Dan bukan hanya hidup.
Dia menggunakan perusahaan investasi yang baru berdiri empat bulan lalu untuk menerima dana dari perusahaan keluarga Faris.
Pak Hendra langsung menghubungi bagian legal.
Penyelidikan berlanjut.
Menjelang sore, gambaran yang jauh lebih buruk mulai terlihat.
Bima ternyata meninggalkan Nadira bukan karena meninggal, melainkan karena melarikan diri setelah menumpuk utang.
Dia membuat dokumen kematian palsu melalui pihak ketiga, lalu kembali dengan identitas bisnis berbeda.
Yang lebih mengejutkan, seseorang di dalam perusahaan membantu menyetujui transaksi terakhir.
Semua jejak seolah menunjuk Faris.
Namun Faris terus bersumpah dia tidak pernah mentransfer satu koma dua miliar rupiah.
“Dua ratus, tiga ratus juta itu aku akui,” katanya dengan suara gemetar. “Tapi yang ini bukan aku.”
Tidak ada yang percaya.
Termasuk aku.
Sampai Pak Rendy berkata,
“Pak Hendra, ada satu hal.”
“Apa?”
“Transaksi besar itu dilakukan pukul dua lewat tiga belas pagi.”
“Lalu?”
“Perangkat yang digunakan bukan laptop Pak Faris.”
Ruangan kembali sunyi.
“Dari perangkat mana?”
Pak Rendy melihat log sistem.
“Komputer kantor di ruang direktur operasional.”
Pak Hendra membeku.
Direktur operasional perusahaan adalah adik kandungnya sendiri.
Pak Surya.
Seseorang yang selama ini dianggap keluarga paling loyal.
Malam itu polisi dipanggil.
Pak Surya ternyata sudah tidak berada di Jakarta.
Teleponnya mati.
Dalam dua hari berikutnya, kasus tersebut membesar.
Audit menyeluruh menemukan manipulasi keuangan yang sudah berjalan hampir dua tahun.
Faris memang melakukan penggelapan untuk membiayai hubungannya dengan Nadira.
Namun jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan skema yang dijalankan Pak Surya dan Bima.
Mereka menggunakan transaksi Faris sebagai kamuflase.
Karena Faris sudah melakukan pelanggaran, mereka yakin seluruh kecurigaan akan jatuh kepadanya.
Ironisnya, dosa kecil Faris hampir menutupi kejahatan yang jauh lebih besar.
Namun itu tidak mengubah apa pun bagiku.
Seminggu kemudian, aku kembali ke rumah kami.
Bukan untuk berdamai.
Aku datang mengambil barang.
Faris berdiri di depan kamar dengan mata sembap.
“Alya.”
Aku terus memasukkan pakaian ke koper.
“Aku akan mengembalikan semua uangmu.”
“Aku tahu.”
“Aku juga akan keluar dari perusahaan.”
Aku mengangguk.
“Aku tahu.”
“Aku akan berubah.”
Kali ini aku berhenti.
Aku menatap laki-laki yang enam tahun lalu berdiri di pelaminan sambil berjanji akan menjagaku.
“Semoga.”
Wajahnya sedikit berharap.
Namun aku melanjutkan.
“Tapi bukan untukku.”
Dia menunduk.
“Aku benar-benar mencintaimu.”
“Mungkin.”
Aku menutup koper.
“Tapi cinta tanpa kejujuran cuma alasan untuk terus menyakiti seseorang.”
Saat aku hendak pergi, dia berkata,
“Kalau Mama tidak melihat kita di mal, mungkin semua ini tidak akan terbongkar.”
Aku menoleh.
“Bukan, Faris.”
Aku tersenyum tipis.
“Kalau Ibumu tidak melihat kalian, mungkin semuanya hanya terbongkar sedikit lebih lambat.”
Tiga bulan kemudian, proses perceraian kami berjalan.
Pak Surya dan Bima ditangkap setelah mencoba meninggalkan Indonesia melalui Batam.
Nadira menjadi saksi penting dalam kasus itu.
Dia mengembalikan sebagian uang yang masih tersisa dan memulai hidup baru bersama Raka di Bandung.
Faris menjalani proses hukum terpisah atas penyalahgunaan dana perusahaan.
Pak Hendra tidak pernah mencoba melindunginya.
“Aku ayahnya,” katanya suatu hari kepadaku. “Tapi menjadi ayah bukan berarti menghapus akibat dari kesalahan anak.”
Kalimat itu membuatku akhirnya mengerti Bu Ratna.
Beliau tidak pernah membelaku hanya karena aku menantunya.
Beliau membelaku karena benar dan salah tidak boleh berubah hanya karena hubungan darah.
Suatu sore, setelah semuanya hampir selesai, aku menemani Bu Ratna minum kopi di tempat yang sama di Senayan City.
Dekat eskalator itu.
Tempat hidupku seperti runtuh beberapa bulan lalu.
Beliau menatap keramaian.
“Kamu masih ingat hari itu?”
“Tentu.”
“Waktu Ibu bilang jangan menangis di sana?”
Aku tersenyum.
“Sempat kesal.”
Bu Ratna tertawa kecil.
“Ibu tahu.”
“Kenapa Ibu bisa setenang itu?”
Beliau terdiam beberapa saat.
Kemudian berkata,
“Karena dulu Ibu pernah berada di posisi yang sama.”
Aku menoleh.
Bu Ratna memandang cangkirnya.
“Tiga puluh tahun lalu, Papa Faris juga pernah berselingkuh.”
Aku benar-benar terkejut.
“Pak Hendra?”
Beliau mengangguk.
“Sekali. Dan Ibu hampir pergi.”
“Kenapa Ibu bertahan?”
“Karena dia mengakui kesalahannya sebelum kebohongan itu menghancurkan semuanya. Dia menerima konsekuensi. Butuh bertahun-tahun sampai Ibu percaya lagi.”
Bu Ratna lalu menatapku.
“Tapi pengalaman Ibu bukan alasan untuk menyuruhmu melakukan hal yang sama.”
Aku terdiam.
Beliau menggenggam tanganku.
“Kadang perempuan diajari bahwa mempertahankan rumah tangga selalu lebih mulia daripada meninggalkannya.”
Matanya berkaca-kaca.
“Padahal rumah tidak selalu hancur ketika seseorang pergi.”
Beliau tersenyum lembut.
“Kadang rumah justru hancur jauh sebelumnya, ketika satu orang terus berbohong dan orang lain dipaksa berpura-pura tidak melihat.”
Aku menahan air mata.
Kali ini Bu Ratna tidak melarangku menangis.
Beliau hanya menggenggam tanganku lebih erat.
Aku memandang eskalator tempat semuanya dimulai.
Dulu kupikir hari itu adalah hari ketika aku kehilangan suami.
Ternyata aku salah.
Hari itu adalah hari ketika aku akhirnya menemukan kembali diriku sendiri.
