DIA DIPERMALUKAN DAN DITANGKAP DI TENGAH MALL, TAPI SAAT IDENTITAS ASLINYA TERUNGKAP, SEMUA ORANG LANGSUNG TERDIAM DAN TAK BERANI BERKATA APA PUN “BERHENTI!”

Aku baru benar-benar memahami besarnya masalah ketika pria yang menyamar sebagai petugas keamanan itu menatapku sekilas, lalu menyentuh radionya.

Gerakannya sangat kecil.

Namun aku mengenali kode itu.

Tiga ketukan pada badan radio, jeda, lalu satu ketukan lagi.

Kode internal.

Kode yang hanya digunakan ketika seseorang ingin memberi tahu tim lain bahwa target sudah berada di lokasi.

Target itu adalah aku.

Aku tetap berjalan dengan kedua tangan ditahan di belakang. Lorong menuju ruang keamanan semakin sepi. Suara kerumunan dari area pertokoan perlahan menghilang, digantikan dengung pendingin udara dan suara langkah sepatu kami.

Ponselku masih berada di tangan pria yang mengaku polisi.

Layarnya kembali menyala.

Dia meliriknya.

Wajahnya berubah.

“Ada apa?” tanya pria berjas abu-abu.

“Tidak ada.”

Terlambat.

Aku sempat melihat nama yang muncul di layar.

Komjen Armand.

Atasanku.

Pria berjas ikut melihat layar, lalu menatapku dengan ekspresi berbeda.

“Siapa kamu sebenarnya?”

Aku tersenyum tipis.

“Bukankah sejak tadi kalian bilang sudah tahu siapa saya?”

Tak ada yang menjawab.

Kami tiba di sebuah pintu bertuliskan RUANG KEAMANAN.

Pria berjas membuka pintu.

“Masuk.”

Aku berhenti.

“Tidak.”

Polisi tinggi mendorong bahuku.

“Masuk!”

Aku sengaja membiarkan tubuhku terdorong setengah langkah, tetapi kakiku tetap menahan pintu.

“Kalau saya tersangka pencurian, bawa saya ke kantor polisi. Jangan ke ruangan tertutup yang tidak memiliki hubungan dengan proses hukum.”

“Kamu terlalu banyak bicara.”

“Dan kalian terlalu banyak melakukan kesalahan.”

Pria itu mengeratkan genggamannya.

Aku menatap matanya.

“Kesalahan pertama, kalian tidak menunjukkan surat tugas. Kedua, kalian tidak menjelaskan dasar penangkapan. Ketiga, kalian mengambil ponsel saya tanpa berita acara. Keempat, kalian membawa saya ke ruangan privat. Kelima, kalian menanam barang bukti terlalu ceroboh.”

Pria berjas memucat.

Polisi tinggi justru tertawa.

“Kamu pikir kamu pengacara?”

“Bukan.”

“Lalu?”

Aku belum sempat menjawab ketika suara langkah cepat terdengar dari belakang.

Yudi muncul.

Petugas keamanan mall yang tadi kupanggil.

Napasnya terengah.

“Pak, kepala keamanan sedang menuju kemari.”

Pria berjas langsung membentaknya.

“Siapa yang menyuruh kamu memanggilnya?”

Yudi terdiam.

Aku menatapnya.

“Terima kasih, Pak Yudi.”

Ucapan sederhana itu seolah memberinya keberanian.

“Maaf, Pak,” katanya kepada pria berjas. “Prosedur mall memang begitu. Kalau ada dugaan tindak pidana, kepala keamanan harus diberi tahu.”

“Pergi!”

“Tidak.”

Semua orang terdiam.

Yudi menelan ludah, tetapi kali ini dia tidak mundur.

“Saya tidak mau nanti disalahkan kalau terjadi sesuatu.”

Pria yang memegangku melepaskan satu tangan untuk meraih Yudi.

Kesempatan itu cukup.

Aku memutar pergelangan tangan, menarik siku ke bawah, lalu melepaskan diri dari genggamannya.

Aku tidak menyerang.

Aku hanya mundur dua langkah.

Namun reaksi mereka membuktikan semuanya.

Polisi kedua langsung merogoh pinggang.

Aku melihat gagang pistol.

“Jangan,” kataku.

Dia membeku.

“Kalau kamu mengeluarkan senjata di dalam mall tanpa alasan yang sah, masalah kalian berubah dari buruk menjadi jauh lebih buruk.”

“Diam!”

Tangannya gemetar.

Pria berjas mendesis, “Masukkan dia sekarang.”

Lalu terdengar suara seorang perempuan dari belakang.

“Tidak ada yang masuk ke mana pun.”

Kami menoleh.

Seorang perempuan sekitar lima puluh tahun berjalan bersama enam petugas keamanan mall. Namanya Ratna Prameswari, kepala keamanan Plaza Nusantara.

Aku pernah bertemu dengannya dalam koordinasi pengamanan acara kenegaraan.

Dia mengenaliku.

Begitu mata kami bertemu, langkahnya berhenti.

Wajahnya seketika pucat.

“Bu Ratna,” kata pria berjas cepat, “kami sedang menangani pencurian.”

Ratna tidak menjawab.

Matanya tetap menatapku.

“Bu?” panggil pria itu.

Ratna akhirnya bergerak mendekat.

“Lepaskan dia.”

Polisi tinggi mengernyit.

“Ini urusan kepolisian.”

“Saya bilang lepaskan dia.”

“Kami petugas.”

“Kalau begitu tunjukkan kartu anggota kalian.”

Sunyi.

Beberapa detik terasa sangat panjang.

Polisi tinggi mengeluarkan dompet hitam.

Namun sebelum dia membukanya, aku berkata, “Jangan.”

Ratna menatapku.

“Biarkan mereka tetap seperti ini.”

Pria berjas semakin gelisah.

“Apa maksudnya?”

Aku menunjuk kamera di sudut lorong.

“Saya ingin semuanya terekam.”

Pria yang membawa ponselku tiba-tiba bergerak mundur.

Aku langsung tahu apa yang akan dia lakukan.

Dia hendak pergi.

“Pak Yudi, tutup pintu menuju tangga.”

Yudi bergerak cepat.

Dua petugas keamanan lain ikut menutup akses.

Polisi kedua memaki.

“Ini menghalangi tugas aparat!”

Aku menatapnya.

“Kalau benar kalian aparat, sebutkan kesatuan kalian.”

Dia diam.

“Nama?”

Diam.

“NRP?”

Rahangnya mengeras.

Aku melanjutkan.

“Kalau tidak mau menjawab, setidaknya kembalikan ponsel saya.”

Dia menatap pria berjas.

Pria itu memberi isyarat kecil.

Kemudian semuanya berubah.

Polisi tinggi menerjangku.

Aku menghindar.

Dia kehilangan keseimbangan dan membentur dinding. Petugas keamanan mall langsung bergerak. Dalam hitungan detik lorong sempit itu berubah kacau.

“Jangan ada yang mengeluarkan senjata!” teriak Ratna.

Aku mengambil ponselku yang jatuh.

Ada sebelas panggilan tak terjawab.

Aku menekan nomor terakhir.

Telepon langsung tersambung.

“Di mana kamu?” suara berat terdengar.

“Plaza Nusantara. Lorong keamanan lantai dua.”

“Kondisi?”

“Aman. Mereka sudah bergerak.”

“Identitas?”

“Dua orang menggunakan atribut kepolisian. Ada keterlibatan pengamanan internal.”

Hening satu detik.

“Aku sudah kirim tim.”

Aku memutus sambungan.

Pria berjas menatapku.

Untuk pertama kalinya, kesombongan di wajahnya hilang.

“Kamu siapa?”

Aku belum menjawab.

Suara sirene terdengar samar dari luar gedung.

Lalu radio Ratna berbunyi.

“Bu, ada rombongan polisi masuk dari lobby utama. Banyak.”

Ratna menatapku.

Aku menghela napas.

“Sekarang kita kembali ke tempat tadi.”

“Untuk apa?” tanya pria berjas.

“Karena kalian mempermalukan saya di depan umum.”

Aku mengambil kantong belanjaku.

“Jadi kita selesaikan juga di depan umum.”

Kami kembali menuju area toko.

Kerumunan ternyata belum bubar.

Jumlahnya justru bertambah.

Video penangkapanku sudah menyebar. Beberapa orang bahkan sedang melakukan siaran langsung.

Begitu aku muncul, suara-suara kembali terdengar.

“Itu dia.”

“Belum dibawa polisi?”

“Katanya maling jam tangan.”

Aku berdiri tepat di depan toko.

Siska masih berada di sana.

Tubuhnya gemetar.

Aku menatapnya.

“Siska.”

Air matanya langsung jatuh.

“Maaf, Bu.”

Pria berjas membentak, “Diam!”

Siska menangis semakin keras.

“Pak Damar yang suruh saya.”

Kerumunan mendadak sunyi.

Pria berjas itu ternyata bernama Damar.

“Apa yang dia suruh?” tanyaku.

“Masukkan kotak jam ke kantong belanja Ibu.”

Damar maju.

“Dia bohong!”

“Kenapa?”

Siska menutup wajahnya.

“Katanya cuma untuk menahan Ibu sebentar. Saya tidak tahu akan seperti ini.”

“Berapa dia bayar kamu?”

“Lima juta.”

Suara gaduh langsung pecah.

Ponsel semakin banyak diarahkan kepada kami.

Damar mencoba mundur.

Namun suara langkah serempak terdengar dari arah eskalator.

Belasan polisi datang.

Di tengah mereka berjalan seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun dengan rambut yang mulai memutih.

Komjen Armand.

Kerumunan otomatis membuka jalan.

Dua pria berseragam palsu yang tadi menangkapku langsung pucat.

Salah satunya mencoba berdiri tegak.

“Jenderal.”

Armand tidak menjawab.

Dia berjalan melewati mereka.

Lalu berhenti di depanku.

Semua kamera merekam.

“Amanda.”

“Pak.”

“Kamu terluka?”

“Tidak serius.”

Armand menghela napas lega.

Kemudian dia berbalik.

“Siapa yang memborgol Kepala Inspektorat Khusus saya?”

Tidak ada suara.

Bahkan orang-orang yang sejak tadi berbisik langsung diam.

Aku melihat ekspresi mereka berubah.

Ada yang menurunkan ponsel.

Ada yang menutup mulut.

Damar seperti kehilangan kekuatan di kakinya.

Seorang perempuan dari kerumunan berbisik, “Kepala apa?”

Armand mendengarnya.

Dia menjawab tanpa menatap perempuan itu.

“Komisaris Besar Amanda Pradipta. Kepala tim khusus yang selama enam bulan terakhir menyelidiki jaringan pemerasan, penyalahgunaan kewenangan, dan kebocoran operasi internal.”

Kedua pria yang menangkapku langsung menunduk.

Armand menunjuk mereka.

“Amankan.”

Polisi yang baru datang bergerak cepat.

Salah satu pria itu panik.

“Pak, kami cuma menjalankan perintah!”

Aku menatapnya.

“Perintah siapa?”

Dia menggigit bibir.

“Bicara,” kata Armand.

Pria itu menunjuk Damar.

Damar langsung berteriak.

“Bohong! Saya cuma manajer toko!”

Aku menggeleng.

“Bukan dia.”

Semua mata tertuju kepadaku.

Aku mengambil ponsel, membuka sebuah foto, lalu menunjukkannya kepada Armand.

Foto itu memperlihatkan pria yang tadi menyamar sebagai petugas keamanan mall.

Pria yang kukenali dari rapat tiga bulan lalu.

Namun dia sudah menghilang dari lorong.

“Namanya AKBP Reno Mahardika,” kataku. “Pengamanan internal.”

Wajah Armand mengeras.

“Aku tahu.”

“Dia ada di mall ini.”

Armand segera memberi perintah melalui radio.

Semua akses keluar ditutup.

Namun lima menit kemudian kabar datang.

Reno tidak ditemukan.

Aku justru tersenyum.

Armand melihatku.

“Kamu tahu sesuatu?”

“Dia tidak berniat kabur.”

“Lalu?”

“Dia ingin saya mengejarnya.”

Aku melihat ke lantai tiga.

Di balik pagar kaca, seorang pria berdiri.

Reno.

Dia menatapku.

Kemudian berbalik.

Aku langsung berlari menuju eskalator.

“Amanda!” teriak Armand.

Aku naik dua anak tangga sekaligus.

Reno memasuki area parkir.

Ketika aku tiba, dia sudah berdiri di samping sebuah mobil hitam.

Tangannya berada di saku.

“Berhenti, Reno.”

Dia tertawa kecil.

“Masih sama seperti dulu.”

Aku berhenti sekitar lima meter darinya.

“Kenapa?”

“Karena kamu terlalu dekat.”

“Dengan apa?”

“Dengan nama yang seharusnya tidak kamu temukan.”

Aku menatapnya.

“Siapa?”

Dia menggeleng.

“Kalau aku bicara, keluargaku mati.”

“Kalau kamu tidak bicara, kamu yang akan menanggung semuanya.”

Reno menunduk.

Kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Bukan pistol.

Flashdisk.

Dia melemparkannya kepadaku.

Aku menangkapnya.

“Semua ada di situ.”

Suara langkah polisi semakin dekat.

Reno mengangkat kedua tangannya.

“Borgol aku.”

Aku mengerutkan dahi.

“Kenapa kamu membantu mereka menangkapku?”

Matanya merah.

“Karena itu satu-satunya cara membuatmu sadar bahwa timmu sendiri sudah bocor.”

Aku membeku.

“Mereka tahu kamu datang ke mall karena informasi dari orang yang sangat dekat denganmu.”

“Siapa?”

Reno menatap ponselku.

Aku langsung memahami maksudnya.

Adikku.

Pesan yang kubaca sebelum ditangkap berasal dari adikku, Raka. Dialah yang meminta bertemu di mall.

Namun ketika flashdisk diperiksa malam itu, kenyataan yang muncul jauh lebih buruk.

Raka bukan pengkhianat.

Namanya sengaja digunakan.

Pesan yang kuterima dikirim dari perangkat kloning.

Di dalam flashdisk terdapat rekaman transaksi, daftar rekening, nama pejabat, pengusaha, dan anggota aparat yang selama bertahun-tahun menjalankan jaringan pemerasan terhadap perusahaan-perusahaan besar.

Nama terakhir membuat tanganku dingin.

Komjen Armand.

Aku membaca file itu berkali-kali.

Tidak mungkin.

Pria yang datang menyelamatkanku.

Pria yang menjadi mentorku selama sebelas tahun.

Pria yang kuanggap seperti ayah sendiri.

Dialah nama paling atas.

Keesokan paginya aku masuk ke ruangannya.

Armand sedang berdiri menghadap jendela.

“Kamu sudah melihat isinya?” tanyanya tanpa berbalik.

“Sudah.”

Dia mengangguk pelan.

“Jadi Reno berhasil.”

Aku membeku.

“Bapak tahu?”

“Tentu.”

Dia berbalik.

Tidak ada rasa bersalah di wajahnya.

“Reno bekerja untuk saya.”

Aku menggenggam flashdisk di saku.

“Jadi penangkapan di mall itu?”

“Tes.”

“Tes?”

“Aku perlu tahu seberapa jauh kamu sudah mengetahui jaringan ini.”

Dadaku terasa sesak.

“Siska? Damar? Dua orang itu?”

“Bidak.”

“Dan penghinaan di depan ratusan orang?”

Armand tersenyum tipis.

“Efek samping.”

Aku menatap pria yang selama bertahun-tahun kupercayai.

Aneh, aku tidak merasa marah.

Justru tenang.

“Bapak melakukan satu kesalahan.”

Senyumnya menghilang.

“Apa?”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Bapak mengira saya datang sendirian.”

Pintu terbuka.

Enam anggota Divisi Profesi dan Pengamanan masuk bersama penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi.

Wajah Armand berubah.

Aku meletakkan ponsel di meja.

Percakapan kami sejak aku masuk sudah direkam dan dikirim langsung ke tim gabungan.

“Komjen Armand Prasetyo,” kata salah seorang penyidik, “Anda diminta ikut bersama kami.”

Armand menatapku lama.

“Kamu menjebakku.”

Aku menggeleng.

“Tidak, Pak.”

Aku berdiri tegak.

“Saya hanya membiarkan Bapak merasa masih memegang kendali.”

Enam bulan kemudian, kasus itu menjadi salah satu skandal terbesar tahun tersebut. Puluhan orang ditangkap. Beberapa pejabat dicopot. Damar dijatuhi hukuman karena keterlibatannya dalam rekayasa barang bukti. Siska mendapat perlindungan setelah bersedia menjadi saksi.

Video penangkapanku di mall masih beredar.

Namun bagian yang paling sering dibagikan bukan ketika tanganku ditahan atau ketika orang-orang menuduhku pencuri.

Melainkan ketika identitasku diumumkan dan semua orang mendadak terdiam.

Suatu sore aku kembali ke Plaza Nusantara.

Bukan untuk penyelidikan.

Aku hanya ingin mengambil sepatu yang dulu tidak sempat kubawa pulang.

Yudi melihatku dan tersenyum canggung.

“Bu Amanda.”

“Pak Yudi.”

Dia menggaruk kepala.

“Saya masih malu kalau ingat hari itu.”

“Kenapa?”

“Saya hampir tidak membantu Ibu karena takut.”

Aku tersenyum.

“Tapi akhirnya Bapak membantu.”

Dia mengangguk.

Aku mengambil kantong belanja dan berjalan menuju eskalator.

Sebelum pergi, Yudi memanggilku.

“Bu.”

Aku menoleh.

“Waktu semua orang mengira Ibu pencuri, kenapa Ibu bisa tetap tenang?”

Aku terdiam sebentar.

Kemudian menjawab.

“Karena kebenaran tidak selalu menang paling cepat.”

Aku melihat kerumunan yang bergerak di bawah cahaya mall.

“Tapi kalau kita cukup berani menjaganya, kebenaran biasanya punya cara sendiri untuk membuat semua orang akhirnya diam.”

Aku pergi tanpa menoleh lagi.

Hari itu aku belajar sesuatu yang jauh lebih penting daripada membongkar sebuah jaringan besar.

Seragam bisa dipalsukan.

Jabatan bisa disalahgunakan.

Barang bukti bisa ditanam.

Bahkan orang yang kita percayai selama bertahun-tahun bisa berubah menjadi orang yang paling ingin menjatuhkan kita.

Namun ada satu hal yang jauh lebih sulit dipalsukan.

Keberanian untuk tetap berdiri ketika seluruh ruangan sudah lebih dulu memutuskan bahwa kita bersalah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang